Queen Mafia And Handsome Army

Queen Mafia And Handsome Army
Menyalahkan


__ADS_3

Waktu terus berlalu, Kini di suatu tempat atau lebih tepatnya di area pemakaman terlihat banyak orang memakai pakaian serba putih yang sedang melakukan prosesi pemakaman untuk dua orang. Kedua jenazah tersebut tak lain adalah jenazah kedua orang tua Olive yaitu Adam dan Okta. Selama pemakaman berlangsung, Olive tiada hentinya menangis, meski Shifa sudah berusaha menenangkannya dengan cara mengelus punggungnya tapi itu tidak membuat tangisan Olive berhenti. Sedangkan Genta hanya berdiri disamping Olive dengan tatapan sendu dan berusaha tegar karena sebagai anak laki laki, dia harus tetap kuat meski sakit rasanya. Untuk Cakra dan Gerry seperti biasanya yaitu hanya mengawasi Olive dari kejauhan saja.


Tak lama kemudian prosesi tersebut telah usai. Para pelayat disana juga mulai membubarkan diri untuk meninggalkan area pemakaman tapi hal itu tidak dilakukan Olive, Genta, Shifa, Yuki, Via, Cakra dan Gerry, kerena mereka semua masih menemani Olive yang saat ini berjongkok di samping makam ibunya dengan sesekali mengelus nisan milik mendiang ibunya dan jangan lupakan pula air mata yang terus mengalir deras di pipi mulusnya.


"Hiks... Mom, dad.. Kenapa kalian tega ninggalin Olive? Kenapa? Hiks... Apa kalian gak sayang lagi sama Olive? Hiks..." Ucap Olive terisak


"Harusnya kalian ajak Olive untuk ikut bersama kalian. Hiks... Olive gak bisa menjalani semua ini sendirian, Olive gak bisa Hiks... hiks..." Isak Olive semakin menjadi, seketika Genta pun berjongkok di sampingnya


"Dek, Semua ini sudah takdir, kamu harus bisa mengikhlaskan semuanya. Abang tahu ini berat, abang juga sedih dengan kejadian ini. Tapi kita tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan, karena semua ini sudah kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa." Ujar Genta lembut sembari merangkul pundak Olive


"Hiks.. Tapi bang, kenapa semua ini bisa terjadi? Kenapa tiba tiba saja terjadi ledakan disana? Rasanya aku masih belum mempercayai semua ini, hiks... A-aku belum bisa menerima kenyataan pahit ini bang. Aku gak sanggup Hiks... hiks..." Balas Olive menangis sesenggukan sembari berhambur memeluk Genta. Semua yang disana juga mulai menitikkan air matanya melihat Olive yang saat ini benar benar terpuruk


"Kamu pasti bisa, abang yakin akan hal itu. Mungkin Tuhan itu lebih sayang sama mommy dan juga daddy, itu sebabnya Dia mengambil mereka duluan. Kamu harus percaya, jika mereka disana sangat bahagia dengan kehidupan barunya. Jadi kamu tidak boleh bersedih lagi, karena itu bisa membuat mommy sama daddy juga sedih." Ucap Genta dengan sangat lembut dan juga bijaksana


Saat Olive hendak berucap lagi, tiba tiba saja sudah di sela oleh seseorang yang kini sudah berjongkok di samping kanan Olive karena Genta berada di sebelah kiri Olive.


"Olive, yang dikatakan kakak kamu itu benar. Kamu boleh bersedih, tapi jangan terlalu larut dalam kesedihan. Ini adalah takdir Tuhan, kita sebagai manusia hanya bisa menerima ini dengan lapang dada. Percayalah, Tuhan tidak pernah memberi cobaan kepada diluar batas kemampuan hambanya." Ujar orang itu lembut sembari mengelus punggung Olive. Dia tak lain adalah Shifa, kakak iparnya


"Tapi aku butuh waktu untuk menerima semua ini kak. Ini terjadi begitu cepat, apalagi aku melihat dengan mata kepalaku sendiri saat mommy sama daddy terkena ledakan itu." Seru Olive yang mulai menitikkan air matanya kembali dan itu membuat mereka semua terdiam karena tidak tahu bagaimana untuk menenangkan Olive lagi, dan mereka juga mengerti bagaimana perasaan Olive saat di tinggal oleh dua orang yang sangat di sayanginya


Saat mereka hanya terdiam, tiba tiba saja ada beberapa orang yang menghampiri mereka dengan langkah sejajar, jalannya juga sangat tegap dan terlihat begitu bijaksana. Siapa lagi mereka jika bukan Sean dan keempat anggotanya.


Sebelum datang kesana, Sean beserta yang lainnya terlebih dahulu mengunjungi korban yang lain, setelah itu mereka pergi ke mansion Olive. Namun sayangnya, disana hanya ada beberapa orang saja dan mereka tidak mendapati orang yang mereka cari. Tanpa menunggu lama lagi, mereka akhirnya memutuskan untuk mengunjungi makam kedua orang tua Olive untuk menemui keluarga korban secara langsung.


Seketika mereka semua yang disana menatap Sean dkk dengan tatapan penuh tanda tanya. Cakra dan Gerry yang melihat itu juga mengeryitkan keningnya bingung, sedangkan Olive sepertinya belum menyadari kedatangan mereka karena dia sibuk memandangi nisan milik mendiang kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Dia bukannya pria yang waktu itu?" Tanya Cakra kepada Gerry untuk memastikan tebakannya itu.


Saat ini dia dan Gerry sedang berdiri di balik pohon yang cukup besar dan juga sedikit jauh dari tempat Olive berada


"Benar. Aku juga masih mengingat wajahnya." Timpal Gerry


"Sungguh tidak bisa di percaya, ternyata dia adalah seorang tentara." Ucap Cakra tersenyum miris


"Selamat sore tuan dan nona sekalian." Sapa Sean pada Olive dan yang lainnya, dan seketika membuat Genta berdiri untuk menghampirinya.


"Sore. Ada apa yah?" Tanya Genta kebingungan karena tidak tahu maksud dan tujuan mereka datang kesana


Olive yang mendengar suara itupun mengalihkan pandangannya untuk menatap sang empunya suara. Dia cukup terkejut ketika melihat orang yang cukup di kenalinya sedang berdiri disampingnya dengan jarak sekitar lima langkah, apalagi kali ini memakai seragam tentara.


"Maksud dan tujuan kami datang kesini adalah untuk meminta maaf secara langsung kepada keluarga korban ledakan yang terjadi di sekolah tadi pagi." Ujar Sean menjelaskan tujuannya


"Maksudnya minta maaf?" Tanya Genta mengeryitkan keningnya bingung


"Sebenarnya ledakan tersebut adalah ulah dari seseorang karena adanya tujuan tertentu. Kami sendiri sudah berusaha menggagalkannya, namun naas karena kami ternyata terlambat untuk datang kesana agar bisa menghentikan semuanya." Balas Sean penuh rasa bersalah begitupun dengan keempat anggotanya


Mendengar penuturan tersebut, tentu membuat mereka semua yang disana terkejut bukan main. Bagaimana tidak? Karena itu berarti jika ledakan tersebut sudah di rencanakan oleh pihak yang tidak memiliki rasa tanggung jawab. Padahal selama ini mereka tidak pernah memiliki musuh, tapi kenapa ada orang yang tega melakukan semua ini pada mereka? Pikir Olive dan yang lainnya.


"Apa?! Ja-jadi maksudnya ada pihak yang sengaja menyabotase acara itu dengan cara meledakkan panggungnya, begitu?" Tanya Olive dengan terbata


"Benar. Mereka melakukannya sebagai ancaman agar kami mau membebaskan rekan mereka yang selama ini sudah menjadi buronan kami selama bertahun tahun." Balas Sean datar

__ADS_1


"Ha?!" Pekik mereka semua sembari menutup mulutnya tak percaya, tapi untuk Genta hanya terkejut dalam diamnya


Olive pun melangkahkan kakinya untuk menghadap para tentara dengan tatapan penuh kekecewaan dan jangan lupakan dengan air mata yang berderai bagaikan air hujan yang turun dari langit. Seketika dia berhenti tepat satu langkah di hadapan Sean beserta anggotanya, karena Sean berdiri di tengah-tengah.


"Jadi kalian mengabaikan ancaman itu, meski tahu jika rakyat yang tidak bersalah akan menjadi korbannya? Apa kalian sama sekali tidak peduli dengan keselamatan warga? Hah?! Lalu, apa tugas kalian sebenarnya? Bukankah seorang tentara harus melindungi rakyatnya? Tapi kenapa kalian tidak bisa melakukan semua itu? Kenapa?" Tanya Olive bertubi tubi dengan meninggikan suaranya karena saat ini dia benar benar sudah tersulut emosi. Sedangkan Sean hanya bisa pasrah melihat kemarahan Olive karena ia juga merasa bersalah dalam hal ini


"Maaf nona, sepertinya nona salah menilai kami. Kami juga sudah berusaha semampu kami untuk mencegah agar semua itu tidak terjadi." Kini David yang angkat bicara, saat ini dia berdiri di sebelah kanan Sean


"Tapi kenyataannya apa?! kalian gagal kan? Kalian sudah gagal menjalani kewajiban kalian untuk melindungi rakyatnya." Balas Olive


"Dek, tenanglah." Ucap Genta berusaha menenangkan Olive sembari mengelus pundak Olive dengan lembut


"Bagaimana aku bisa tenang. Mommy sama daddy meninggal gara gara ulah orang yang tak punya hati, padahal mereka sama sekali tidak bersalah. Tapi kenapa mereka yang harus menerima semua ini." Seru Olive semakin tersulut emosi


"Abang tahu, tapi mereka juga tidak salah sepenuhnya dalam hal ini." Ujar Genta berusaha memberi pengertian pada Olive agar tidak terus menerus menyalahkan semua tentara disana.


**Bersambung...


...----------------...


Maaf yah author baru sempat update hari iniπŸ™πŸ™


Jangan lupa kasih Like dan Komentarnya yaa...


Salam manis dari author**...

__ADS_1


__ADS_2