Queen Mafia And Handsome Army

Queen Mafia And Handsome Army
Kapten yang malang


__ADS_3

Skip esok hari...


Perlu diketahui, Sean bersama dengan kedua sahabatnya kini tinggal di sebuah kontrakan yang cukup jauh dari sekolahan. Di sekeliling kontrakan itu cukup sepi, jadi tidak ada yang tahu identitas asli mereka bertiga


Saat ini terlihat Sean sedang bersiap untuk berangkat kesekolah dengan memakai perlengkapan untuk penyamarannya seperti kumis palsu dan juga tompel.


"Apa ini beneran kau, Kapten Sean?" Tanya Sean kepada cermin di hadapannya seakan bisa menjawab


"Fiks... Ini bukan kapten Sean, Aku sangat yakin seratus persen." Finish Sean


Setelah dirasa sudah rapi, Sean pun memutuskan untuk keluar kamar dan ternyata dia berpas-pasan dengan kedua sahabatnya.


"Kemarin aku pinjem motor temen, dan dia ada dua. Satu untuk aku dan satunya lagi buat siapa nih?" Ujar Nicko sembari memegang sebuah kunci motor dengan posisi menggantung


"Ak..."


"Aku aja." Seru Sean langsung mengambil kunci itu dengan cepat sebelum David mengambilnya


"Yahh, terus aku pake apa coba?" Tanya David sedikit lesu


"Siapa cepat, dia dapat." seru Sean tersenyum penuh kemenangan


"Kau bareng aku aja." Tawar Nicko


"Iya tuh, bareng Nicko aja. Biar aku sendirian." Cetus Sean membuat David menghembuskan nafasnya kasar


"Berangkat sekarang?" Tanya Nicko


"Hmm..."


Tanpa basa basi lagi, mereka bertiga segera bergegas keluar dan saat berada di luar, Sean melihat ada sebuah motor sport. Tanpa pikir panjang lagi, dia langsung menaiki motor tersebut dengan tersenyum merekah.


"Wiihh... Cakep nih motor." Seru Sean memperhatikan motor yang di tumpanginya


"Eiittss... Itu motorku. Motor kamu ada disana." Ucap Nicko, seketika Sean dan David melirik ke arah yang di tunjukkan Nicko


Mereka berdua cukup dibuat melongo tak percaya saat mendapati sebuah sepeda motor Vespa, yang tentunya model lama dan juga terlihat sudah tua.


"Pfffttt... Hahaha... Itu motornya? Hahaha...." Tawa David seketika pecah


"Ga adil banget sih. Masa kamu pake motor sport, lah aku pakenya motor butut gini." Gerutu Sean sembari turun dari motor sport tersebut


"Kan aku ga nyuruh kamu buat ngambil kuncinya, kamu sendiri yang minta." Elak Nicko dengan watadosnya dan juga berusaha menahan tawa


"Tap-.."


"Udahlah, terima aja. Emang kamu mau naik bus, yang pasti nunggunya itu lama." Cetus David membuat Sean mendengus kesal


"Terima nasib saja yaa." Tukas Nicko terkekeh kemudian dia dan David segera menaiki motor sport itu


"Nasib sih nasib, tapi ga gini juga kali." Cetus Sean


"Hehee.. Bye bye kapten..." Ucap mereka berdua sedikit tertawa kemudian segera pergi dari sana dengan Nicko yang mengemudikan sepeda motornya dan David yang membonceng


"Huffftt... Temen lucknut." Ucap Sean mengerucutkan bibirnya sembari menaiki motor vespa tersebut


"Nyala dong, kalo sekali lagi masih mati. Aku kubur kau motor tua." Kesal Sean ketika menyalakan motor itu berkali kali namun tetap tidak mau menyala


Brrmm... brrmm... brrmm...


"Dari tadi kek." Ucap Sean sedikit lega karena akhirnya motor itu mau menyala


Tanpa menunggu lama lagi, Sean langsung mlajukan motornya untuk bergegas menuju sekolahan. Motornya melaju melintasi jalanan kota dengan kecepatan sedang.


"Eh.. eh.. ehh... Kenapa ini." Ucapnya saat tiba tiba motor tersebut berhenti sendiri, dengan kata lain motornya mogok


"Yaaahh... Pake mogok segala lagi. Dasar motor no have akhlak. Huffttt... Apes banget aku hari ini. Masa iya aku harus olahraga dorong motor pagi-pagi gini." Gerutu Sean, kemudian dia turun dari motor dan mulai menuntun motornya untuk mencari bengkel terdekat disana.


"Mana lagi bengkelnya." Tukas Sean


Tak butuh waktu lama, iapun sampai di bengkel.


"Gimana pak motornya? Apa bisa diperbaiki secepatnya?" Tanya Sean saat montir sedang meneliti kerusakan pada motornya


"Rusaknya cukup parah, jadi butuh waktu lama untuk memperbaikinya. Mungkin memerlukan waktu sekitar tiga sampai empat jam." Balas sang montir


"Hah?! Selama itu?" Pekik Sean


"Iya. Ini mesin tua, jadi cukup sulit untuk memperbaikinya."

__ADS_1


"Huuffftt... Sungguh malang sekali nasibmu kapten Sean." Batin Sean


"Jadi gimana? Mau tungguin atau ditinggal?" Tanya montir itu


"Tinggal aja."


"Oke. Silahkan isi data dulu, nanti kalo udah selesai diperbaiki, saya akan mengantarnya ke alamat anda."


"Hmm..." Kemudian Sean segera menuliskan data diri disertai alamatnya di kertas yang di berikan montir tersebut


"Kalau begitu, saya pergi dulu." Ucap Sean sembari menyerahkan kertasnya


"Ya." Setelah itu, Sean pun langsung melangkahkan kakinya untuk segera pergi kesana.


*****


Didalam mobil sport yang sedang melintas, terlihat Olive dkk sedang mengemudikan mobil masing-masing dengan kecepatan sedang.


"I-itu bukannya kak Santoso yah." Ucap Olive tanpa sengaja melihat Sean yang sedang berdiri di pinggir jalan seperti menunggu sesuatu


Tanpa pikir panjang lagi, Olive pun menghentikan mobilnya tepat di depan Sean dan itu membuat kedua sahabatnya sedikit kebingungan begitupun dengan Sean yang tidak tahu siapa pengemudi itu.


"Kenapa berhenti disini?" Ucap Yuki bertanya tanya kemudian ia segera turun dari mobil untuk melihat apa yang terjadi, hal itu juga di lakukan oleh Via


"Lagi ngapain kak?" Tanya Olive saat sudah berdiri di hadapan Sean


"Nunggu taxi Liv." Balas Sean


"Eh... Ada kak Santoso ternyata." Pekik Via begitupun dengan Yuki saat baru menyadari jika ada Sean disana


"Hmm... Iya." Ucap Sean sedikit tersenyum


"Kakak tahu nama saya?" Tanya Olive sedikit terheran


"Ahh.. I-itu... Ya kenal lah. Kan kamu murid saya, masa saya tidak kenal." Jawab Sean sedikit gugup


"Tapikan baru satu hari ngajar. Kok bisa kenal secepat itu?" Kini Yuki yang bertanya


"Ya saya punya daya ingat yang kuat, jadi bisa dengan mudah mengingat sesuatu." Balas Sean mencoba sesantai mungkin


"Lalu, apa kakak kenal sama kita?" Tanya Via


"Tidak." Jawab Sean singkat, padat dan jelas membuat mereka berdua mendengus kesal, sedangkan Olive malah berusaha menahan tawanya


"Gak usah ketawa." Cetus Yuki menatap Olive


"Siapa yang ketawa? Aku biasa aja tuh." Balas Olive datar, padahal dalam hatinya masih tertawa terbahak bahak


"Kenapa kenalnya cuma sama Olive?" Tanya Via


"Ya, Olive kan terkenal di sekolahannya. Bahkan semua siswa dan guru disana juga mengenalnya." Jawab Sean tak sepenuhnya berbohong


"Iya juga sih. Hmm... Kalo gitu kenalin, saya Yuki dan ini Via. Kami sahabat dan juga temen sekelasnya Olive." Seru Yuki tersenyum manis dan Sean hanya ber 'oh ria


"Ck... Oh doang?" Batin Yuki


"Dingin plus datar, kek Olive." Batin Via


Ting


"Yah, kok di cancel sih." Kesal Sean saat melihat notif di ponselnya yang ternyata taxi pesanannya membatalkan orderannya


"Kenapa?" Tanya Yuki


"Ini, tiba tiba drivernya main cancel saja." Balas Sean


"Eummm... Gimana kalo kakak ikut saya ke sekolah." Ajak Olive tiba tiba


"Ga usah. Nanti saya cari taxi lain saja." Tolak Sean


"Cari taxi susah loh kak. Ini juga udah cukup siang." Cetus Via membuat Sean berpikir sejenak


"Hmm... Oke, saya mau." Jawab Sean yang akhirnya setuju


"Ya udah, langsung naik aja." Ucap Olive


Dengan segera, mereka semua menaiki mobil masing-masing, dan Sean duduk disamping kursi kemudi mobil Olive. Tanpa menunggu lama lagi, mereka langsung menancap gas mobilnya untuk berangkat ke sekolah.


Didalam mobil Olive hanya ada hening yang terjadi karena keduanya sama-sama canggung untuk mulai membuka suara.

__ADS_1


"Kak/Liv." Panggil mereka tidak sengaja bersamaan


"Kakak dulu/kamu dulu."


"Hmm... Kamu dulu aja." Finish Sean


"Oke, aku dulu. Eumm... Apa sebelumnya kita pernah bertemu? Saya merasa pernah melihat kakak, tapi entah itu dimana?" Tanya Olive sekilas melirik Sean karena ia sedang fokus menyetir


"Hah?! Ti-tidak. Kita tidak pernah bertemu." Jawab Sean gugup


"Gitu ya, tapi wajah kakak terlihat tidak asing bagi saya."


"Wajah saya kan memang pasaran, jadi mungkin ada orang lain yang wajahnya hampir mirip dengan saya."


"Mungkin kali yah." Gumam Olive membuat Sean sedikit merasa lega


"Huuffftt... Selamat." Batin Sean


"Oh ya, tadi mau ngomong apa?" Tanya Olive


"Oh itu, gak jadi." Balas Sean


"Kenapa? Kalau mau ngomong, ngomong aja."


"Oke. Euumm... Saya pribadi turut berduka cita atas apa yang menimpa-..." Belum sempat Sean melanjutkan ucapannya, tiba tiba saja dipotong oleh Olive


"Jangan bahas itu sekarang." Seru Olive


"Ma-maaf, saya tidak bermaksud membuka luka lama kamu lagi." Ucap Sean penuh rasa bersalah


"Tidak masalah."


"Saya yakin, kamu itu orangnya kuat dan kamu bisa melewati semua ini. Percayalah, masih ada orang yang tulus menyayangimu." Ucap Sean tersenyum Tulus


"Terimakasih atas supportnya." Balas Olive yang juga tersenyum tulus


"Emang kamu gak malu semobil sama saya?" Tanya Sean tiba tiba


"Kenapa harus malu? Memangnya saya melakukan kejahatan? Tidak kan?" Balas Olive santai


"Kamu ternyata memang baik. Kamu beda dari cewek lain." Batin Sean menatap Olive intens dari arah samping


"Kenapa kak Santoso liatin aku gitu amat? Aku kan jadi risih sendiri." Batin Olive


Setelah percakapan itu, hanya ada hening di mobil mereka karena keduanya sibuk dengan dunia masing-masing. Olive fokus menyetir, sedangkan Sean kini hanya menatap ke depan.


Tak butuh waktu lama, mereka pun sampai di parkiran sekolah. Dengan segera Olive dkk turun dari mobil dengan aura kecantikan yang selalu mereka pancarkan.


"Mereka selalu terlihat perfect."


"Bidadari surgaku."


"Loh.. Kok ada Kak Santoso?" Pekik siswa disana saat melihat Sean turun dari mobil Olive


"Mereka semobil? Kok bisa?"


"Yaahh, Kalah cepet aku sama Kak Santoso."


Begitulah sekiranya bisikan semua siswa disana saat melihat mereka.


"Ingin rasanya aku robek mulut mereka satu persatu. Emang aku gak boleh semobil sama dia apa?!" Batin Sean kesal


"Tidak usah dengerin kata mereka. Anggap aja angin lalu." Seru Olive seakan tahu apa yang ada dipikiran Sean


"Kalau gitu, saya ke kantor dulu. Dan terimakasih untuk tumpangannya." Ucap Sean


"Sama sama." Balas Olive, kemudian Sean segera melangkahkan kakinya menuju kantor, sedangkan Olive dkk menuju kelasnya


"Hei... Kok bisa sih bareng dia?" Tanya David tiba tiba menyejajari langkah Sean saat berada di koridor sekolah, entah datang dari mana dia


"Kau mau tahu karna apa? Ini gara gara motor tua itu. Masa, baru pake sekali udah mogok aja." Balas Sean terus berjalan


"Hah?! Mogok? Pfffttt... Sabar yah, ini ujian." Ucap David menahan tawanya sembari menepuk pundak Sean kemudian dia melangkahkan kakinya lebih cepat dan meninggalkan Sean


"Dasar temen no have akhlak alias temen lucknut." Gerutu Sean mengerucutkan bibirnya.


**Bersambung...


...----------------...

__ADS_1


Jangan Lupa Like dan Komentarnya yaaa...


Salam manis dari author**...


__ADS_2