
"Siapa kalian sebenarnya?" Tanya sang dokter menatap Olive dkk yang saat ini sudah melepas kacamatanya
"Siapa saya itu tidak penting. Karna ada yang lebih penting dari identitas saya." Balas Olive sangat datar
"Apa?"
"Oke, To the point saja. Karna saya tidak suka basa basi." Seru Olive mulai membuka suara sembari melepas kacamatanya begitupun dengan kedua sahabatnya
"Saya ingin bernegosiasi sama kalian." Lanjutnya
"Negosiasi?" Ucap dokter dan pria itu terheran
"Ya. Saya akan memberi kalian dua pilihan dan kalian harus memilih salah satunya, terutama untuk anda tuan Willy Anderson." Balas Olive menatap datar pria dihadapannya
"Saya?" Tanya tuan Willy menunjuk dirinya sendiri
"Siapa lagi? Itu nama anda bukan?" Tukas Olive
Seketika Olive melirik Cakra, Gerry dan dua mafiosonya dengan memberi isyarat tertentu. Mereka yang tahu pun langsung meletakkan koper yang dibawanya ke atas meja disana dengan posisi terbuka. Hal itu tentu membuat dokter dan tuan Willy cukup terkejut bukan main. Bagaimana tidak? Semua koper itu berisikan uang yang tentunya dalam seratus ribuan semua. Mungkin jika semuanya di jumlah akan mencapai beberapa Milyar rupiah.
"Oke, pilihan pertama adalah kalian harus mengembalikan hak milik gadis kecil bernama Raya Evangelista dan kalian akan mendapatkan semua ini sebagai imbalannya." Seru Olive menunjuk koper di hadapannya
"Dan yang kedua yaitu kalian tetap melakukan operasi transplantasi ginjal untuk putri tuan Willy, tapi jangan harap akan mendapatkan sepeserpen dari semua ini dan saya juga tidak akan mengganggu kalian lagi." Lanjut Olive sembari tersenyum penuh arti
"Pikirkan baik-baik, karna saya tidak akan memberikan kesempatan untuk kedua kalinya." Seru Olive saat melihat tuan Willy berpikir keras
"Kau harus pilih pilihan pertama tuan Willy." Batin dokter itu penuh harap
"Pikirkan dengan baik tuan Willy, atau kau akan menyesal." Batin Yuki
"Pilihanmu akan menentukan nasibmu sendiri." Batin Via tersenyum penuh arti
"Aku pilih yang pertama." Seru tuan Willy tanpa keraguan sedikitpun
"He eh... Sudah ku duga." Batin Olive tersenyum sinis
"Apa anda yakin dengan pilihan anda?" Tanya Olive untuk memastikannya
"Sangat yakin." Balasnya
"Lalu, bagaimana dengan operasi anak anda?" Tanya Olive lagi
"Saya bisa mencari pendonor lainnya, lagian bukankah peluang emas seperti ini tidak akan datang untuk kedua kalinya?" Seru tuan Willy sangat bersemangat
"Tentu saja. Tapi, apa anda tidak akan menyesal dengan keputusan yang anda ambil?" Tanya Olive lagi dan lagi
"Tidak ada kata menyesal dalam hidup saya." Jawab Tuan Willy dengan tegas
"Baiklah. Jadi sekarang kita deal?" Seru Olive berniat menjabat tangan tuan Willy
"Deal." Balasnya menerima jabatan tangan Olive, begitupun dengan dokter itu yang melakukan hal yang sama
"Dokter, segera lalukan operasinya sekarang juga." Titah Olive saat mereka semua sudah berdiri
"Baik Nona."
Setelah mengatakan itu, mereka semua segera keluar dari ruangan tersebut. Olive beserta yang lainnya mengikuti sang dokter untuk menuju ruangan Raya, sedangkan tuan Willy ke arah lain dengan membawa dua buah koper besar yang diberikan Olive, karena dua koper lainnya itu untuk dokter tersebut.
Saat sampai di ruangan, mereka mendapati seorang anak laki laki disana yang sedang berdiri disamping ranjang anak perempuan. Mereka tak lain adalah Rey dan Raya.
"I-ini adik saya mau di bawa kemana?" Tanya Rey kebingungan saat melihat beberapa perawat hendak mendorong brankar Raya
"Kamu tenang saja. Adik kamu akan segera di operasi agar cepat sembuh." Bukan diantara yang mereka yang menjawab, melainkan Olive
"Operasi?" Tanya Rey
"Iya. Hmm... Silahkan dok." Titah Olive menatap dokter itu
__ADS_1
"Baik." Balasnya, kemudian mereka pun mulai membawa Raya menuju ruang operasi
Di luar ruang operasi
"Dia pasti baik-baik aja. Kamu harus yakin itu." Seru Olive tiba tiba saat mendapati Rey yang sedang berdiri didepan pintu dengan rasa penuh kecemasan
"Sebenarnya kakak siapa? Dan kalian juga siapa?" Tanya Rey yang sedari tadi terheran melihat beberapa orang asing di sekitarnya, tapi mau bertanya juga harus menunggu moment yang pas
"Aku Olive, dan mereka semua temanku. Ini Yuki, Via, bang Cakra dan paling ujung itu bang Gerry." Ujar Olive memperkenalkan semuanya, sedangkan dua mafioso tadi sudah diperintahkan untuk pulang ke mansion
"Hai... Namamu siapa?" Tanya Via tersenyum manis
"Aku Rey, dan tadi itu adik aku, Raya." Jelas Rey
"Tapi, kenapa tiba-tiba Raya di operasi?Bukannya mereka membatalkan operasinya?" Tanya Rey terheran
"Soal itu kamu ga perlu tahu. Yang penting adik kamu bisa secepatnya sembuh." Balas Olive santai
Setelah percakapan itu, hanya ada hening diantara mereka semua.
"Liv, bagaimana dengan dia? Apa kita membiarkannya begitu saja?" Tanya Yuki tiba tiba dengan sedikit berbisik
"Ya gak dong. Dia harus menerima akibat dari sifat tamaknya itu." Balas Olive yang juga sedikit pelan
"Bener juga. Lagian mana ada orang tua yang lebih mementingkan harta daripada keselamatan anaknya. Dia sangat gila harta." Cetus Yuki
"Tadinya jika dia memilih pilihan kedua, maka aku akan memberi keringanan, tapi rupanya ini malah sebaliknya. He eh... Miris sekali." Ucap Olive tersenyum miris
*****
"Hahaha... Gadis itu sangat bod*h. Bisa bisanya dia memberikan uang sebanyak ini secara cuma-cuma." Seru tuan Willy yang saat ini berada di ruangan tempat anaknya di rawat.
Jadi di ruangan itu ada tuan Willy, anaknya yang tak sadarkan diri dan juga istrinya.
"Tapi kenapa kamu lebih memilih uang itu? Kenapa bukan operasi untuk anak kita? Kenapa pah?" Tanya istrinya karena tak mengerti apa yang ada dipikiran suaminya itu
"Sayang, kamu tenang dulu. Aku pasti akan mencarikan pendonor lain, kamu tenang oke." Ujar Willy membuat istrinya hanya bisa pasrah saja meski dalam hatinya sangatlah kesal
"Selamat siang, dengan tuan Willy Anderson?" Sapa salah satu orang itu yang tak lain adalah seorang polisi
"Iya, saya sendiri. Ada apa ya pak?" Tanya Willy kebingungan
"Anda kami tahan atas kasus penyuapan terhadap seorang dokter dan juga kasus penggelapan uang perusahaan." Sahut polisi 1 sembari menyodorkan sebuah amplop coklat yang bertuliskan tentang surat tahanan
Willy yang menerimanya pun langsung membacanya dan kper yang ia bawa sudah diletakkan di atas brankar putrinya yang saat ini tak sadarkan diri.
"Apa?! I-ni tidak benar pak. S-saya pasti di jebak. Ini kesalahan." Elak Willy
"Anda bisa menjelaskannya di kantor polisi." Seru polisi 2 langsung memborgol kedua tangan Willy dan kopernya juga sudah di ambil oleh polisi 1
"Pah, Bisa bisanya papah korupsi uang perusahaan. mamah tidak menyangka semuanya." Kesal istrinya yang kini sudah mulai menitikkan air matanya
"Mamah jangan percaya. Papah tidak pernah melakukannya." Bantah Willly berusaha memberontak dari pegangan polisi tersebut
"Mamah kecewa sama papah. Papah bahkan tidak peduli dengan keselamatan anak kita. Selama ini mamah sudah sabar menghadapi sikap papah yang selalu kasar sama mamah, tapi sekarang mamah tidak tahan lagi hidup sama papah. Hiks.. hiks..." Ucap istrinya terisaj
"Saya akan segera mengurus surat cerai kita." Lanjutnya penuh keyakinan
"Hah?! Gak, enggak mah. Jangan lakukan itu, papah ga mau pisah sama mamah." Tolak willy
"Pak polisi, bawa saja dia ke penjara untuk menebus kesalahannya." Titah istrinya
"Baik. Ayo..." Balas polisi kemudian mulai membawa Willy pergi dari sana
"Akhhh... Ini pasti ulah gadis itu. Sial aku sudah di jebak. Dasar gadis sial*n." Batin Willy sangat kesal
*****
__ADS_1
Ceklek
Sebuah pintu ruangan operasi oleh seseorang, yang tak lain adalah dokter yang mengoperasi Raya.
"Bagaimana keadaan adik saya dok?" Tanya Rey sangat khawatir
"Syukurlah, operasinya berjalan dengan lancar." Balas sang dokter tersenyum lega
"Terimakasih dok." Ucap Rey tersenyum senang
"Dek, akhirnya kamu akan sembuh." Ucap Rey pelan tapi masih bisa didengar oleh semuanya
"Dok." Panggil Olive tiba tiba
"Iya." Balasnya singkat
"Sebelumnya saya berterimakasih karna sudah berhasil mengoperasi dia, tapi saya juga minta maaf." Ujar Olive memasang wajah sok sendunya
"Untuk?" Tanya Dokter
Bukannya menjawab, Olive malah tersenyum penuh arti. Tiba tiba saja ada dua anggota kepolisian yang menhampiri mereka semua.
"Selamat siang." Sapa polisi 1
"Siang. Ini ada apa ya?" Balas sang dokter terheran
"Apa anda dokter Eros Wijaya?" Tanya polisi 2
"Benar. Itu saya." Balasnya
"Ini surat penangkapan anda. Anda ditahan atas kasus penerimaan uang suap dari tuan Willy Anderson untuk persekongkolan dalam melakukan tindak kecurangan dan juga anda dikenai pasal atas beberapa kegiatan malpraktek yang anda lakukan secara ilegal." Ujar polisi 1 memberikan surat tahanannya dan langsung dibaca dengan teliti oleh dokter Eros
"Pak, saya tidak pernah melakukan semua ini." Elak dokter Eros.
"Semua buktinya sudah ada, dan anda tidak bisa mengelak lagi." Seru polisi 2 langsung memborgol kedua tangan dokter Eros meski dokter itu terus memberontak
"Pak, saya di jebak. Saya tidak melakukan itu." Bantah dokter Eros terus menerus
"Masih berusaha mengelak? Bukankah anda sering melakukan malpraktek? Benarkan?" Seru Olive tiba tiba tersenyum smirk
"Kau... Pasti kau yang melakukan semua ini, iyakan, Hah?!!" Geram dokter Eros
"Saya hanya melakukan apa yang harus saya lakukan." Balas Olive dengan santainya
"Bedeb*h kau."
"Ayo, ikut kami." Seru polisi 2 mulai mencoba membawa Dokter Eros pergi dari sana meski selalu berusaha memberontak
"Pak, saya tidak salah." Seru Dokter Eros namun sama sekali tidak dihiraukan oleh kedua polisi itu
"Bye... Jangan lupa kasih fotonya saat dipenjara nanti yah." Seru Via melambaikan tangannya dengan maksud mengejak dokter Eros
"Hahhaa... Kasihan banget dia. Maunya untung malah Buntung." Cetus Yuki
"Penjahat pasti kena karmanya." Timpal Cakra
"Hmm... Rencana kamu selalu sempurna." Puji Gerry menatap Olive
"Pasti." Balas Olive tersenyum penuh kemenangan
"Sebenarnya ada apa?" Tanya Rey tiba tiba, karena dia merasa bingung dengan semua ini
"Kamu akan tahu sendiri nantinya." Balas Olive yang tak ingin menjelaskan semuanya pada Rey.
**Bersambung...
...----------------...
__ADS_1
Jangan lupa kasih Like dan Komentarnya yaa...
Salam manis dari author**...