Queen Mafia And Handsome Army

Queen Mafia And Handsome Army
Pertolongan


__ADS_3

Di tempat lain...


Drrtt... Drrtt... Drtt...


Suara dering ponsel di tengah malam membuat sang empunya merasa terganggu aktifitas tidurnya.


"Siapa sih?!" Kesal pria itu yang tak lain adalah Sean sembari mengerjapkan matanya dan berusaha meraih ponsel yang ada di atas meja sampingnya dengan posisi tengkurap


"Hallo, Siapa?! Ganggu orang tidur banget tau gak." Ketus Sean mengangkat telfonnya dengan setengah kesadarannya, bahkan ia masih memejamkan mata


^^^"Berani kamu bicara seperti itu sama saya?!" Marah orang di sebrang sana^^^


Seketika Sean di buat terkejut bukan main dengan suara yang baru saja ia dengar. Sontak hal itu membuatnya mengubah posisi menjadi duduk dan juga langsung melihat nama yang tertera dalam ponselnya.


"Waduuhh... Mati aku." Batin Sean merutuki kebodohannya sendiri sembari menepuk jidatnya sendiri


"Ma-maaf jendral, saya tidak bermaksud lancang seperti tadi." Ucap Sean penuh rasa bersalah


^^^"Hmm... Sekarang, kamu beserta anggota kamu pergi ke suatu tempat. Nanti akan saya kirim lokasinya." Titah Jendral dingin^^^


"Apa yang akan kami lakukan disana?"


^^^"Saya sendiri tidak tahu, tapi ada seseorang yang mengirimi lokasi tertentu dengan memberi pesan singkat."^^^


"Pesan?"


^^^"Dia mengatakan jika ada yang membutuhkan bantuan kita."^^^


^^^"Sudah, sekarang kamu bersiap begitupun dengan yang lain." Lanjut Jendral Buana memberi perintah^^^


"Baik Jendral."


Tut tut..


"Bantuan? Siapa?" Ucap Sean bertanya tanya pada dirinya sendiri setelah telepon terputus


Ting


Bunyi pesan masuk di ponsel milik Sean, dengan segera ia pun membuka pesan tersebut.


"Ini lokasinya? Hutan? Apa ada yang tersesat?"


"Hmm... Aku harus segera kesana." Finish Sean


Dengan segera, Sean mengotak atik ponselnya untuk memberi tahu beberapa anggotanya yang saat ini tidak tinggal bersama. Setelah itu dia keluar dari kamarnya untuk membangunkan kedua sahabatnya.


Tok... tok... tok...


Sean mengetuk pintu kedua kamar sekaligus dengan sangat keras karena memang pintu tersebut berdekatan

__ADS_1


"DAVID, NICKO BANGUUNN... WOII, BANGUN. JANGAN NGEBO MULU." Teriak Sean dengan terus mengetuk pintunya


"Hoaammm.. Apa sih?! Malam-malam gini teriak-teriak gak jelas. Ganggu tau gak?! " Ketus seseorang dengan suara khas bangun tidur setelah keluar dari salah satu kamar itu, dia adalah David


"Kita ada-..."


"Woii... Berisik banget sih. Lagi mimpi indah juga jadi ke ganggu kan. Hoaamm..." Seru seseorang lagi yang keluar dari kamarmya, dia ternyata Nicko


Bukannya menjawab, Sean dan dan David malah menatap Nicko dari atas sampai bawah dengan tatapan yang tak dapat di artikan. Hal itu tentu membuat Nicko mengernyitkan keningnya bingung.


"Pffttt... HAAHAHAHA...." Seketika tawa Sean dan David pecah, entah itu karna apa


"Kenapa? Ada yang lucu?" Tanya Nicko


"Hahaa... Sean, kok aku ragu yah kalo temen kita itu seorang tentara." Ujar David berhenti tertawa


"Sama. Mana ada tentara yang pake boxer... Pink." Timpal Sean menekankan kata terakhirnya


"Ha?!" Pekik Nicko langsung berusaha menutupi celananya sendiri dengan kedua tangannya


"HAHAAHA..."


"Gak usah di tutupi, orang udah keliatan daritadi." Cetus Sean terkekeh


"J-jangan salah paham. A-ku pake ini, karna ini merupakan pemberian nenekku." Tukas Nicko gugup


"Iya iya, cucu kesayangan nenek. Hahaa..." Ucap David sembari mengacak rambut Nicko dan membuat Nicko mendengus kesal


"Siap-siap untuk?" Tanya David


"Kita ada tugas dari Jendral. Sekarang kita harus bersiap memakai pakaian seragam lengkap dan kita akan bertemu dengan yang lainnya di tempat tertentu. Setelahnya kita akan bergegas untuk menjalankan tugas." Jelas Sean dengan wajah seriusnya


"Siap." Balas keduanya tegas tanpa banyak bertanya lagi, karena mereka tahu jika ada tugas dari Jendral maka sudah pasti itu adalah hal yang sangat penting


"Bersiap sekarang dan kau jangan lupa ganti boxernya." Titah Sean sedikit mengejek Nicko dengan tampang tak berdosanya, lalu ia kembali ke kamarnya untuk segera bersiap


"Pfftt... Cowok kok pake Pink." Ejek David yang juga kembali masuk kedalam kamarnya


"Hei... Ini tuh namanya menghargai pemberian orang tau gak." Cetus Nicko mengerucutkan bibirnya kemudian ia ikut bersiap seperti kedua sahabatnya.


*****


Kini di tempat lain atau lebih tepatnya berada di dalam hutan namun sedikit jauh dari jalan raya dan juga markas Dragon Fire, terlihat banyak tim medis yang sedang mengobati para tahanan Mafia DF sedangkan mafioso yang terluka sudah dibawa ke markas Phoenix Devil untuk di obati disana.


Disana juga masih ada Olive dkk, Cakra, Gerry dan juga beberapa mafioso PD. Olive beserta yang lainnya belum pulang ke markas, karena mereka sedang mengawasi beberapa tahanan yang sedang di obati tim medis.


"Siapa mereka?"


"Sebenarnya mereka penjahat atau bukan?"

__ADS_1


"Apa tujuan mereka menyelamatkan kami?"


"Sepertinya gadis di tengah itu pemimpin mereka."


"Mereka seperti orang jahat, tapi kenapa menolong kami?"


"Apa mereka juga mafia seperti yang sudah menyekapku?"


Begitulah sekiranya isi pemikiran dari para tahanan disana melihat Olive dkk. Sebenarnya mereka ingin bertanya langsung, tapi sejujurnya sangatlah takut dengan aura yang Olive dan yang lainnya pancarkan, apalagi para tahanan itu sempat menuduh mereka yang tidak-tidak. Bisa jadi jika mereka bertanya maka bukan mendapat jawaban, melainkan hanyalah Kematian, Pikir para tahanan.


"Kenapa kita gak pulang? Kita bisa menyuruh para mafioso mengawasi mereka sebelum bantuan datang." Tanya Gerry kepada Olive dan mendapat anggukan setuju dari yang lainnya


"Aku ingin memastikannya sendiri, jika mereka baik baik aja." Balas Olive dengan santainya


"Hmm... Bagaimana keadaan mereka?" Tanya Olive dingin pada salah satu tim medis disana setelah menghampirinya terlebih dahulu


"Keadaannya cukup memprihatinkan, karena banyak luka dibagian tubuh mereka." Balas dokter itu sembari sesekali melirik pasien yang di periksa dokter lain. Panggil saja dia dokter Zidan


"Luka?" Ucap Yuki dengan maksud bertanya


"Iya, luka seperti bekas cambukan, sayatan bahkan sampai luka hasil bedah secara ilegal. Mereka hanya memperbannya secara asal, jadi tidak menutup luka secara keseluruhan." Jelas dokter Zidan


"Dan satu lagi, sepertinya mereka sudah mengambil ginjal dari gadis kecil itu. Itu terlihat dari bekas bedahannya." Lanjutnya


"Ck... Mereka benar-benar sadis, tidak berperasaan." Kesal Olive


"Mereka harus dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang lebih intens. Selain itu juga, agar gadis itu bisa secepatnya mendapat donor ginjal." Saran dokter Zidan


"Tapi tidak mungkin membawa mereka ke rumah sakit secara langsung. Identitas kita bisa terbongkar." Tukas Cakra yang ikut nimbrung pembicaraan Olive dan dokter Zidan


"Abang gimana sih. Masa gitu aja gak tahu apa yang akan kita lakukan." Cetus Olive


"Maksud kamu? Emang apa yang harus kita lakukan?" Tanya Cakra sedikit kebingungan begitupun dengan yang lain


"Bukan kita yang akan membawanya, tapi orang lain." Balas Olive tersenyum penuh arti


"Aku belum mengerti semuanya." Ucap Via menggaruk tengkuknya yang tak gatal


"Hmm... Bentar lagi juga akan tahu." Seru Olive terus tersenyum penuh arti dan tentunya membuat mereka semua mengernyitkan keningnya bingung.


Setelah mengatakan itu, hanya terjadi hening disana. Tiba tiba saja...


"JANGAN BERGERAK!!!"


**Bersambung...


...----------------...


Jangan lupa kasih Like dan Komentarnya yaa...

__ADS_1


Salam manis dri author**...


__ADS_2