Queen Mafia And Handsome Army

Queen Mafia And Handsome Army
Perjanjian


__ADS_3

"Hei... Apa kau tau apa yang ingin aku lakukan saat ini?" Tanya Nicko pada David dengan berbisik


"Apa?" Balas David yang juga berbisik


"Memenggal kepala Queen Phoenix. Bisa bisanya dia bilang kita akan mati dengan begitu entengnya." Bisik Nicko menatap tajam Queen Phoenix yang tak lain adalah Olive


Mendengar gerutuan Nicko tentu membuat David terkekeh geli, dan mungkin hatinya juga ingin melakukan hal yang sama seperti Nicko.


"Kau tidak pandai memenggal kepala orang, bagaimana jika ku ajarkan tapi kau yang menjadi targetnya." Celetuk Olive mengeluarkan aura yang begitu mencekam bahkan suaranya begitu dingin


"M-maaf." Gugup Nicko sedangkan David hanya menahan tawanya saja


Seketika Nicko langsung kicep bahkan ia sangat susah menelan salivanya sendiri. Bagaimana tidak? Dia sama sekali tidak menyangka jika Queen Phoenix akan menyahuti ucapannya itu. Padahal dia mengira jika Olive tidak mendengar ucapannya. Tapi ternyata pendengaran Queen Phoenix sangatlah tajam.


"Sudahlah, tak perlu banyak basa basi lagi. Kau serahkan bukti persetujuan atas permintaanku dulu." Lanjut Olive menatap Sean


"Ini berkasnya." Ucap Sean menyerahkan berkas yang ia bawa kepada Olive. Setelah menerimanya, Olive pun langsung membuka dan membacanya dengan seksama.


Surat itu berisikan tentang perjanjian antara mafia Phoenix Devil dengan Tentara.


Inti dari isi suratnya :


1. Mafia Phoenix Devil di perbolehkan untuk berorganisasi dan kami tidak akan mengganggu ataupun menangkap anggota dari Mafia Phoenix Devil yang berkeliaran disini.


2. Mafia Phoenix Devil diwajibkan untuk membantu kami dalam menuntaskan kejahatan yang ada.


3. Mafia Phoenix Devil di perbolehkan berorganisasi tapi tetap tidak di izinkan melakukan sesuatu yang bersifat ilegal atau bahkan merugikan rakyat dan negara.


4. Mafia Phoenix Devil di perbolehkan melakukan sesuatu meski harus menghilangkan nyawa orang, tapi hal itu tetap harus di pertimbangkan terlebih dahulu dan korbannya adalah seseorang yang memang sudah divonis sebagai tersangka dalam sebuah kejahatan yang sudah sangat fatal.


5. Jika Mafia Phoenix Devil melanggar ketentuan yang ada, maka kami akan menjadikan semua anggota mafia Phoenix Devil sebagai daftar dalam buronan yang ada.


6. Mafia Phoenix Devil tidak boleh semena-mena terhadap rakyat atau mungkin main hakim sendiri terhadap musuh yang ada. Dengan kata lain, setiap akan bertindak maka harus meminta persetujuan terlebih dahulu kepada kami.


...*****...


Seketika senyuman manis mengembang di bibir mungil Olive karena ia sangat senang akhirnya permintaan dia benar-benar di setujui sama mereka semua.


"Akhirnya apa yang aku inginkan bisa terwujud. Dengan adanya persetujuan ini, aku tidak perlu khawatir lagi saat identitas asliku terbongkar. Karna apa? Karna aku tidak akan menjadi buronan para polisi ataupun tentara, dan bang Genta sama kak Shifa gak akan marah sama aku karna sudah bergabung dalam dunia bawah." Batin Olive tersenyum senang


"Aku seneng bisa membantu Queen Phoenix, meski aku siapa dia dan apa tujuan dia sebenarnya, tapi aku yakin jika Queen Phoenix memang orang yang baik, meski ia menggunakan cara yang salah." Batin Sean


Olive menatap semua sahabatnya dengan senyuman yang mengembang dan di balas senyuman juga dari mereka semua.

__ADS_1


"Apa kau senang?" Tanya Gerry


"Hmm... Sangat." Balas Olive dengan senyuman yang tak pernah luntur


"Aku harap ini awal yang baik untuk semuanya, terutama buat kamu." Ucap Yuki tersenyum tulus


"Makasih, karna selalu support aku dalam keadaan apapun." Ujar Olive


"Itu sudah pasti. Seorang sahabat tidak akan meninggalkan sahabatnya mengalami kesusahan sendiri." Ucap Via begitu tulusnya


"Makasih guys, aku sangat beruntung bisa mengenal dan menjadi sahabat kalian." Ucap Olive berhambur memeluk Via dan Yuki bersamaan


"Kita juga." Balas Via dan Yuki serempak.


Mereka bertiga berpelukan layaknya teletubbies, bahkan sepertinya mereka melupakan kehadiran Sean dkk disana, mungkin sangkin bahagianya hati Olive saat ini jadi dia meluapkan apa yang ada dalam hatinya tanpa memperhatikan keadaan sekitar.


Sean dkk cukup di buat kagum dengan apa yang mereka lihat. Bagaimana tidak? Yang mereka tahu Queen Phoenix itu bengis dan kejam. Tapi rupanya hal itu sama sekali tidak benar, karena kenyataannya Queen Phoenix tidak menganggap tangan kanannya sebagai bawahan melainkan sebagai sahabat.


"Ekheem... " Cakra sengaja berpura pura batuk dengan kerasa untuk menyadarkan Olive dkk


Seketika Olive dkk melepaskan pelukannya dan kembali menatap Sean dkk dengan tatapan tajam bak elang yang siap menerkan siapa saja di hadapannya.


"Terimakasih." Ucapnya tersenyum tipis


"Tidak masalah, aku rasa kau memang sangat membutuhkannnya." Balas Sean datar namun begitu tulus


"Aku setuju. Selama itu tidak merugikanku, kenapa aku harus menolaknya?" Balas Olive santai


"Jadi kita sepakat dengan perjanjian ini?" Tanya Sean sembari mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Olive


Olive menatap tangan Sean dengan datar, Sean yang merasa jika Olive tidak akan membalas uluran tangannya pun berniat menarik kembali tangannya. Tapi tiba tiba...


"Deal." Seru Olive membalas jabatan Sean dan membuat Sean tersenyum senang


"Yeah, Deal." Balas Sean


"Baiklah, aku rasa pertemuan kita cukup sampai disini. Kalau begitu, kita akan pergi sekarang juga." Ujar Olive


"Ya, silahkan." Jawab Sean menatap Olive intens


"Boleh kita pergi?" Tanya Olive


"Tentu saja."

__ADS_1


"Aku akan pergi." Ucap Olive


"Iya. Aku tidak melarangnya." Balas Sean


"Hei... Bagaimana dia bisa pergi kalau kau tidak melepaskan tangannya." Celetuk David


Sontak hal itu membuat Sean tersadar dengan apa yang dilakukannya. Ya, dia belum melepaskan jabatan tangannya dengan Olive. Itu sebabnya Olive terus bertanya 'Apa dia boleh pergi?' Karena Sean sepertinya enggan melepaskan tangannya dari tangan Olive.


"Ahh... M-maaf, aku lupa." Gugup Dean melepaskan tangannya yang tentunya membuat semua yang disana hanya bisa terkekeh geli


"Kenapa aku seperti ini sih? Gak mungkin kan aku suka sama dia, aku hanya menyukai Olive seorang, bukan yang lain." Batin Sean merutuki kebod*hannya sendiri


"Tidak masalah. Kami pergi sekarang." Ucap Olive


"Silahkan Queen Phoenix." Balas Sean


Olive pun menatap semua temannya seakan memberi isyarat tertentu untuk segera pergi. Tak perlu menunggu lama lagi, Olive dkk pun segera melangkahkan kakinya menuju keluar gudang.


"Kau ini sangat bod*h Sean, bisa bisanya kau bertingkah seperti itu di depan Queen Phoenix." Cetus David memukul pundak Sean cukup keras


"Aku bukan bod*h, tapi tadi aku kelupaan." Balas Sean


"Kau tidak menyukainya kan? Kau masih setia sama Olive kan?" Tanya Nicko bertubi tubi


"Ya iyalah, yakali aku menyukai dia. Wujud bidadari tapi jiwanya bagaikan iblis yang tak bisa disentuh sama orang lain." Jawab Sean mendramatisir


"Dengan kata lain, kamu menyadari kecantikan dia, iya?" Tanya David menebak


"Iya." Jawabnya santai sembari berjalan keluar meninggalkan sahabatnya


"Apa aku ga salah denger nih?" Tanya Nicko pada David


"Enggak. Queen Phoenix adalah cewek kedua yang menurutnya cantik. Padahalkan selama ini dia anti sama cewek, kecuali Olive tentunya." Balas David, saat Nicko hendak membuka suaranya lagi, tiba tiba terdengar seruan seseorang


"Hei... Kalian gak mau pulang? Apa mau ngineo disini?" Seru Sean sedikit berteriak karena jaraknya cukup jauh


"Pulanglah, masa enggak." Jawab Nicko berteriak


Setelah mengatakan itu, David dan Nicko segera pergi untuk menyusul Sean yang sudah menjauh.


**Bersambung...


...----------------...

__ADS_1


Jangan lupa LIKE, COMMENT and VOTE YAAA...


Salam manis dari author**...


__ADS_2