
Di waktu yang sama namun berbeda tempat...
"HAHAHAAA... Sekarang mereka tahu akibatnya jika berani melawan kita." Tawa seseorang begitu menggelegarnya di sebuah ruangan. Orang itu tak lain dan tak bukan adalah Richard
Ya, Kini Richard sudah berkumpul bersama kedua rekannya yaitu Robert dan Lewis. Mereka saat ini sedang berada di ruangan yang cukup gelap karena hanya ada beberapa alat penerangan disana.
"Hahaa... Benar. Ternyata mereka sangat mudah diperdaya." Timpal Lewis dengan tawanya
"Mereka semua bukan tandingan kita." Seru Robert menyeringai
"Hmm... Tapi aku tidak menyangka, jika kalian merencanakan semua ini." Ujar Richard
"Awalnya aku tidak merencanakannya, tapi karna ada kesempatan, kenapa tidak coba?" Balas Robert
"Maksud kalian, kalian itu...."
"Ya, saat ini kami muncul dengan penyamaran yang baru." Seru Lewis dengan cepat memotong ucapan Richard
Memang benar, mereka selalu menyamar jika akan berbaur dengan masyarakat dan tentunya agar tidak ada yang mengenali jika mereka adalah seorang mafia. Tapi saat sedang menjalankan misi, mereka akan menggunakan wajah aslinya karena saat pertama kali menjadi mafia, mereka menggunakan wajah asli dan tanpa penyamaran sedikitpun, hal itu juga sudah di ketahui oleh semua abdi negara. Mereka sangat ahli dalam menyamar, bahkan mereka bisa membuat kartu identitas yang palsu untuk menyempurnakan penyamarannya.
"Sebagai apa?" Tanya Richard penasaran
"Sebagai guru di sma Garuda Bangsa." Balas Robert
"Guru? Apa aku tidak salah dengar?" Tanya Richard yang cukup terkejut mendengarnya
"Tidak. Kita hanya ingin mencoba sesuatu yang baru. Lagian penyamaran ini lebih baik daripada harus menjadi pedagang kecil, pelayan resto atau pekerja kantoran yang tentunya sangat menyita waktu. Selain itu juga, kita belum pernah menyamar sebagai guru dan pastinya semua orang tidak akan pernah menduga jika guru itu adalah seorang mafia, benarkan?" Ujar Robert panjang kali lebar
"Hmm... Benar juga. Tapi kali ini sepertinya aku tidak ikut kalian." Seru Richard
"Kenapa?" Tanya Lewis terheran karena biasanya richard akan ikut dalam penyamaran
"Satu minggu berada di tahanan sungguh membuatku lelah. Jadi aku ingin bersantai saja disini." Balas Richar sedikit santai
"Oke. Berarti kali ini hanya kita berdua yang menyamar." Seru Lewis menyimpulkan dan mendapat anggukan dari Robert
"Tapi kenapa kalian memilih sekolah itu?" Tanya Richard lagi dan lagi
__ADS_1
"Simple alasannya, karna sekolah itu paling dekat dengan markas kita." Balas Robert dengan santainya dan Richard hanya ber oh' ria saja
*****
Detik berganti dengan detik, menit pun silih berganti, hari haripun terus berubah dengan hari lain. Kejadian waktu itu juga membuat sekolahan diliburkan untuk sementara waktu sampai semuanya benar benar membaik.
Bahkan selama itu juga, Olive terus menerus mengurung dirinya di kamar karena ia masih merasa sedih telah kehilangan kedua orang tuanya dan dia hanya keluar jika akan makan saja, setelah itu dia akan langsung kembali ke kamarnya. Yuki dan Via juga sering mengunjungi Olive untuk menghiburnya dengan mengajak hangout bareng, tapi Olive selalu saja menolak untuk keluar. Hal itu tentu membuat Genta dan Shifa merasa sedih karena baru kali ini melihat keterpurukan Olive. Sedangkan Cakra dan Gerry sudah lama tidak menampakkan dirinya di hadapan Olive karena memang Olive tidak pernah keluar mansion meski hanya sebentar saja.
Saat ini Olive, Genta dan Shifa sedang melakukan rutinitas sarapan seperti biasanya. Hanya ada hening disana, padahal biasanya mereka akan selalu bersenda gurau tapi melihat Olive yang sepertinya enggan untuk bicara membuat Genta dan Shifa hanya bisa diam saja.
"Sampai kapan kamu seperti ini dek?" Batin Genta sendu sembari menatap Olive yang fokus dengan makanannya
"Ini bukan Olive yang aku kenal. Dulu dia periang, tapi sekarang bicara saja sangat jarang." Batin Shifa yang juga sendu
"Dek, abang sama kak Shifa sudah mengambil keputusan. Jika kita akan pindah ke luar negeri dan kamu juga harus ikut." Ucap Genta mulai membuka suaranya
"Aku gak mau." Balas Olive singkat dan masih terus menyendokkan makanan ke dalam mulutnya
"Tapi kamu harus mau. Abang melakukan ini agar kamu tidak bersedih terus karena mengingat mommy sama daddy." Ucap Genta
"Iya Liv, ini demi kebaikan kamu." Timpal Shifa ikut membujuk Olive.
Tanpa diduga, Olive malah membanting sendok makannya ke piring. Hal itu tentu membuat mereka berdua cukup terkejut karena mereka tidak menyangka jika Olive akan sekesal itu.
"Aku gak mau dan aku akan tetap disini. Kalau kalian mau pergi ya udah pergi aja, aku bisa sendiri." Kesal Olive tiba tiba dan langsung beranjak dari duduknya untuk kembali ke kamarnya
"Olive tunggu." Seru Genta sembari berdiri dari duduknya yang seketika membuat langkah Olive terhenti
"Sampai kapan kamu kayak gini terus? Sampai kapan kamu tidak bisa menerima kenyataan ini? Abang tahu kamu sedih, tapi tolong jangan seperti ini." Seru Genta sedikit kesal dengan sikap Olive yang berubah
"Apa kamu pikir, dengan kamu terus menerus bersikap seperti ini akan membuat mommy sama daddy kembali? Tidak Olive. Kamu justru hanya akan menyiksa diri kamu sendiri. Ini bukan Olive yang abang kenal, Mana Olive yang dulu sangat ceria, humoris, mana? Kamu berubah, dan abang seperti tidak mengenal kamu yang sekarang. Kamu bahkan jarang sekali bicara dan kamu selalu mengurung diri di kamar. Kamu tahu? Abang tidak suka melihat kamu seperti ini, abang tidak menyukainya." Lanjut Genta dengan sedikit meninggikan suaranya dan hanya menatap punggung Olive
"Mas sudah, jangan pakai emosi." Ujar Shifa lembut berusaha menenangkan suaminya, tapi sama sekali tak di hiraukan oleh Genta
Tanpa terasa tiba tiba saja Olive menitikkan air matanya tapi dia sepertinya masih enggan untuk berbalik menatap kedua kakaknya.
"Olive, Kamu tidak sendirian, disini masih banyak yang sayang sama kamu. Kita semua selalu ada buat kamu, tapi sikap kamu yang sekarang membuat kita juga sedih, apa pernah kamu memikirkan bagaimana perasaan orang yang sayang sama kamu? Kamu jangan egois Olive, jangan egois dengan hanya memikirkan diri kamu sendiri, pikirkan perasaan orang yang sayang sama kamu." Seru Genta lagi, seketika Olive pun berbalik untuk menatap lawan bicaranya
__ADS_1
"Ya, aku emang egois, aku sangat egois. Tapi apa abang tahu? Aku juga gak mau seperti ini, aku juga menyesali diri aku yang sekarang sangat menyedihkan ini. Aku ingin bangkit, tapi rasanya aku gak bisa, aku gak bisa bang." Seru Olive dengan air mata yang mengalir deras di pipi mulusnya, kemudian dia menarik nafasnya dalam untuk kembali melanjutkan bicaranya
"Hiks... Maaf, kalau sikap aku selama ini menyakitkan buat kalian. Hiks... Tapi aku benar benar belum bisa menerima semua ini, dan aku sendiri gak bisa memastikan kapan aku bisa mengikhlaskan semuanya." Lanjut Olive kemudian berbalik untuk kembali melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Genta dan Shifa yang masih terdiam mematung
"Dek, Apa yang harus abang lakukan supaya kamu bisa kembali seperti dulu lagi?" Ucap Genta sendu menatap kepergian Olive
"Mas, kamu harus lebih bersabar lagi menghadapi Olive. Dia hanya butuh waktu untuk menerima semuanya." Ujar Shifa lembut sembari mengelus punggung Genta dan hanya di balas anggukan dari Genta
*****
Kini di kamar terlihat Olive yang sedang menangis sejadi jadinya dengan posisi terduduk di samping kasur dengan bersender pada kasurnya sembari memandangi foto mendiang kedua orang tuanya.
"Hiks... hiks... Mom, dad, tolong katakan, apa yang harus Olive lakukan saat ini? Olive gak mau bikin orang yang Olive sayang menjadi sedih, hiks... tapi Olive juga rasanya masih sakit buat mengikhlaskan kalian, Olive gak bisa, hiks... hiks..." Isak Olive sembari terus memandangi foto tersebut
"Kenapa kalian harus pergi secepat ini? Olive kangen sama kalian, Olive kangen pelukan hangat mommy sama daddy Hiks... hiks..." Lanjut Olive semakin terisak sembari memeluk foto kedua orang tuanya
Hiks... hiks... hiks...
"Gak, aku gak boleh seperti ini terus. Bang Genta benar, dengan aku seperti ini tidak akan mengembalikan mommy sama daddy. Aku harus berusaha bangkit dari semua ini." Seru Olive tiba tiba sembari menghapus air matanya kasar
"Jika aku terpuruk, itu sama saja membuat mereka menang karena sudah berhasil dengan rencananya. Dan aku tidak boleh membiarkan itu terjadi." Lanjutnya
Kemudian dia membuka laci meja paling bawah yang berada di sampingnya, ternyata dia mengambil sesuatu dari dalam lacu tersebut. Benda itu tak lain dan tak bukan adalah Gelang pemberian Gerry dan Cakra.
"Mereka harus mempertanggung jawabkan semua perbuatan mereka. Mommy, Daddy... Maaf, karna Olive harus melakukan ini. Mungkin kalian akan kecewa dengan langkah yang akan Olive ambil, tapi yang namanya keadilan harus di tegakkan." Ucap Olive sembari memandang foto tersebut
Setelah itu dia meletakkan fotonya di atas kasur dan diapun berdiri dari duduknya, kemudian ia memegang gelang tersebut di hadapan wajahnya sendiri dengan menatapnya tajam seakan siap menerkam di hadapannya.
"Darah di balas dengan darah, Nyawa di balas dengan nyawa. Aku Olivia Grizelle Rafardhan, berjanji atas nama mendiang Daddy sama Mommy akan membalaskan dendam kepada kalian semua bahkan dua kali lipat dari apa yang kalian lakukan. Tunggu pembalasanku The Scorpion King." Seru Olive penuh penekanan di setiap katanya dan jangan lupakan sorot matanya yang di penuhi dengan kebencian yang mendalam. Setelah mengatakan itu, dia pun menggenggam erat gelang tersebut dihadapan wajahnya dan mengepalkan tangan satunya dengan sangat kuat.
**Bersambung...
...----------------...
Bagaimana episode kali ini?
Jangan lupa kasih Like dan Komentarnya yaa...
__ADS_1
Salam manis dari author**...