
Skip istirahat sekolah...
Kini di surga sekolah, eh salah... Maksudnya kantin sekolah, terlihat sangat riuh karena semua siswa sedang menikmati waktu istirahatnya dengan menikmati jamuan makanan disana.
"Pesanan datang." Seru Via saat sampai di meja kedua sahabatnya sembari membawa nampan yang terdapat beberapa makanan dan minuman sesuai yang dipesan sebelumnya
"Thank you." Balas Olive dan Yuki bersamaan sembari menerima makanan yang disodorkan Via
Mereka bertiga pun mulai menikmati makanannya dengan diselingi perbincangan kecil.
"Kalian liat ini..." Titah Olive tiba tiba sembari meletakkan ponselnya di atas meja dengan tujuan agar kedua sahabatnya melihat layar ponsel tersebut
"Apa ini?" Tanya Via mengernyitkan keningnya bingung begitupun dengan Yuki karena mereka melihat seperti peta kecil yang terdapat titik merah besar sebagai tanda lokasi tertentu, tapi mereka sendiri tidak tahu lokasi apa itu.
"Markas Dragon Fire." Jawab Olive8 dengan santainya namun pelan agar yang mendengar hanya kedua sahabatnya saja
"Apa?!" Pekik keduanya sedikit meninggikan suaranya dan membuat semua siswa dikantin menatap ke arahnya
"Shuuttt... Jangan keras-keras." Tegur Olive sembari menempelkan jari telunjuknya di bibir mungilnya
"Hehee.. Iya, sorry gak sengaja." Ucap Via cengengesan
"Apa liat-liat? Jangan kepo yah." Ketus Yuki yang seketika semua siswa disana tidak lagi menatap mereka bertiga
"Eh... Kamu tahu darimana soal ini?" Tanya Yuki yang kini menatap Olive dengan memasang wajah seriusnya
"Soal ginian mah gampang." Balas Olive dengan nada sombongnya
"Hhhhh..." Mereka berdua hanya memutar bola matanya malas
Yupz, Olive memang sejak kemarin terus mencari informasi tentang beberapa komplotan mafia disana. Dia juga mengorek semua itu dari Cakra dan Gerry, namun mereka berdua hanya mengetahui nama mafianya saja, tidak dengan markas utamanya.
Olive sendiri bisa dengan mudah mencari informasi tersebut karena memang dia memliki IQ yang tinggi dan dia juga sangat pandai dalam hal meretas. Jadi tidak heran jika dia bisa mengetahui semua lokasi tersembunyi yang mungkin memang tidak dapat di baca oleh aplikasi denah tertentu.
Saat dia menemukan lokasi yang menurutnya sangat cukup aneh, dia pun mencari lebih detail tentang lokasi tersebut. Alhasil, dia berhasil mengetahui sebuah rahasia di tempat tersebut, bahkan dia sendiri bisa meretas cctv yang berada disana atau dengan kata lain, dia sudah berhasil meretas cctv keamanan dari markas mafia yang di temuinya.
"Lalu, apa yang akan kita lakukan?" Tanya Via
"Pulang sekolah kita ke markas dan nanti aku akan menjelaskan semuanya secara detail." Jelas Olive
"It's oke." Balas keduanya
"Kalian lagi apa sih? Serius banget." Seru seseorang tiba tiba menghampiri mereka dan langsung duduk disamping Olive, sedangkan temannya masih posisi berdiri
Seketika Olive langsung mengambil ponselnya sebelum mereka itu tahu apa yang ada di layar ponselnya. Mereka adalah Elvan, Gio dan juga Dion.
"Isshhh... Kayak jailangkung banget sih, tiba tiba nongol." Kesal Yuki
"Kalian aja yang terlalu serius sampe gak sadar kita dateng." Cetus Gio
"Emang kalian lagi ngomongin apa sih?" Tanya Elvan penasaran
"Kepo." Tukas Olive dkk bersamaan membuat Elvan menghembuskan nafasnya kasar
"Euummm.. Beb, aku.."
"Sekali lagi manggilnya itu, aku robek mulut kamu." Ancam Olive tiba tiba memotong ucapan Elvan, karena dia merasa jengah dengan Elvan yang terus memanggilnya 'Beb' Atau 'sayang'
"Eh... I-iya, Aku gak manggil itu lagi." Ucap Elvan gelagapan, sedangkan yang disana malah berusaha menahan tawanya
"Aku mau ngajak kamu hangout pulang sekolah nanti. Kamu mau kan?" Ajak Elvan
"Aku gak mau." Balas Olive
__ADS_1
"Ayolah, kita udah lama gak jalan bareng. Lagian emang kamu gak bosen apa di mansion terus." Bujuk Elvan
"Kata siapa aku cuman diem diri di mansion aja? Aku juga mau jalan kok." Balas Olive datar
"Ya ayo, kita jalan bareng aja." Ajak Elvan terus menerus
"Gak yah, Olive mau jalan sama kita." Kini Yuki yang angkat bicara
"Eh, aku nanyanya sama Olive, napa situ yang jawab." Tukas Elvan
"Lagian mau kamu ajak Olive seribu kalipun, dia gak akan mau, ngerti!" Cetus Via
"Emang kalian mau kemana?" Tanya Dion
"Ke suatu tempat." Balas Olive
"Hhh... Kalo itu mah aku juga tau kali. Maksudnya tempatnya itu dimana?" Tukas Dion menghembuskan nafasnya kasar
"Kalian kayak wartawan aja sih, dari tadi nanya terus gak kelar-kelar." Kesal Via yang mulai merasa jengah
"Gimana mo kelar kalo dari tadi kalian jawabnya gak jelas banget." Gerutu Gio
"Dahlah, makanan aku dah habis. Aku kelas dulu." Pamit Olive tiba tiba kemudian langsung melangkahkan kakinya untuk kembali kekelas karena dia merasa jengah jika terus berada disana
"Kalian sih. Ganggu orang aja. Liv, tunggu..." Kesal Yuki kemudian beranjak untuk segera menyusul kepergian Olive dan juga di ikuti Via
"Napa mereka jadi jutek banget? Perasaan kita gak ada salah deh." Ucap Dion terheran sembari duduk disana
"Gak tahu. Lagi pms kali." Cetus Gio yang juga sudah duduk disana
"Eh Van, kenapa kamu masih ngejar Olive terus sih? Ya, Aku tahu Olive tuh emang paling cantik dan tajir disini, tapi diakan sama sekali gak respeck sama kamu. Kenapa gak coba cari yang lain aja?" Tanya Dion menatap Elvan penuh selidik
"Entahlah, aku sendiri gak tau. Yang aku tau, Olive dkk tuh beda dari cewek lain. Aku memang bod*h sudah menyia nyiakannya, dan sekarang aku sadar kalo dulu aku tuh udah salah langkah." Ujar Elvan sedikit merasa bersalah
"Ya karna emang itu kenyataannya. Olive dan sahabatnya itu berbeda dari cewek pada umumnya. Kalian tahu sendirikan, aku sangat mudah mendapatkan cewek manapun hanya dengan gombalan dan juga uang. Tapi sepertinya semua itu gak berpengaruh sama Olive dkk, bahkan mereka terlihat tidak tertarik dengan semua itu." Balas Elvan tersenyum miris
Di tempat lain namun diwaktu yang sama...
Terlihat Sean yang sedang berjalan dengan santainya di koridor sekolah dan tentunya masih dengan penyamarannya sebagai guru disana.
"Kamu tenang saja, semuanya akan aman."
Tiba tiba saja terdengar ucapan seseorang dari dalam ruangan yang cukup sepi, seketika langkah Sean terhenti dan berniat untuk melihat siapa yang sedang berbicara disana. Diapun mendapati seseorang yang sedang berbincang lewat ponsel genggamnya kepada seseorang yang jauh di sebrang, entah itu siapa.
"Dia... Siapa yang ditelfonnya?" Batin Sean yang memang mengenal pria itu
"Iya, saya pastikan kita akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar dari biasanya." Ucap orang itu, panggil saja Robby
"........."
"Nanti biar rekan saya yang mengaturnya." Ucap pak Robby lagi
".........."
"Oke. Jadi kita sepakat?"
".........."
"Iya, lusa di pelabuhan xxx pukul 9 malam."
".........."
"Ya, terimakasih atas kerjasamanya." Ucap Robby kemudian dia langsung mematikan sambungan telfonnya
__ADS_1
"Akhirnya, aku sukses besar hahaha..." Tawa pak Robby pelan
"Pasti mereka akan melakukan transaksi lagi. Aku harus menggagalkannya." Batin Sean
Puk
Tiba tiba saja ada yang memegang bahu Sean, seketika dia berbalik untuk menatap orang tersebut.
"Kau sed- mmmpphhh..." Belum sempat orang itu menyelesaikan ucapannya, tiba tiba Sean langsung membekap mulutnya
"Kayak ada orang. Siapa disana?" Ucap Pak Robby menerka nerka kemudian dia melangkahkan kakinya untuk melihat apa yang terjadi diluar ruangannya
Sean yang tidak mau ketahuan pun langsung membawa orang itu pergi dari sana dengan posisi dia masih membekap mulut orang tersebut.
"Tidak ada siapa-siapa. Mungkin aku hanya salah dengar." Ucap Robby saat sampai di luar dan tidak mendapati siapapun disana.
Kemudian diapun kembali masuk kedalam dengan senyum merekah, entah apa yang membuatnya sangat bahagia saat ini.
*****
"Mmpphhh... Lepasin. Huh.. huh.. huh..." Orang yang tadi dibawa Sean seketika memberontak dan berhasil melepaskan bekapan Sean saat mereka berada di taman sekolah, seketika dia langsung mengambil udara sebanyak banyaknya
"Gila kamu. Kamu mau bikin aku koit karna sesak nafas Hah?!" Kesal orang itu masih berusaha menetralkan nafasnya
Dia tak lain adalah David yang juga menyamar sebagai guru disana. Berbeda dengan Sean, dia hanya menyamar dengan memakai kumis tipis, kacamata dan rambutnya di sisir sangat rapi. Hal itu justru membuatnya terlihat berwibawa dan juga bijaksana. Nama dia saat menyamar adalah Devan.
"Tapi sekarang masih hidup kan?" Tanya Sean dengan nada mengejeknya
"Iya, tapi kalo telat satu detik saja. Udah tinggal nama akunya." Ketus David dan hanya dibalas cengiran dari Sean
"Eh... Tadi kamu ngapain disana?" Tanya David yang kini memasang wajah seriusnya
"Tadi aku gak sengaja denger pembicaraan dia dengan rekannya via telefon." Balas Sean sedikit pelan
"Hah?! Terus apa yang mereka bicarakan?" Tanya David
"Aku sendiri belum tahu pasti. Tapi sepertinya mereka akan melakukan transaksi ilegal." Ujar Sean menjelaskan apa yang ia ketahui
"Kita harus menggagalkannya." Seru David
"Benar. Aku akan melaporkan ini pada Jendral terlebih dahulu dan kita akan segera menyusun rencana." Ucap Sean
"Oke. Apapun rencananya, pasti aku siap." Seru David penuh keyakinan
"Euummm... Ngomong-ngomong, penampilan kamu oke juga." Puji David menatap Sean dari atas sampai bawah, yang padahal pujiannya itu tak lain adalah sebuah ejekan, bahkan dia sendiri berusaha menahan tawanya
"Iya. Sangkin oke-nya sampai aku tidak bisa mengenali diriku sendiri." Balas Sean sedikit ketus
"Aku rasa Jendral punya dendam pribadi sama aku. Masa aku di suruh nyamar pake ini, ini lagi, sedangkan kau hanya pakai itu saja." Lanjut Sean sembari menunjuk kumis tebal dan juga tompel dipipinya
"Ini namanya rezeki anak sholeh." Cetus David tersenyum merekah membuat Sean memutar bola matanya malas
"Maaf, sepertinya guru teladan ini harus pergi karena akan kembali mengajar." Ucap Sean dengan nada sangat formal
"Baiklah. Selamat bertugas Pak Santoso." Balas David menekankan kata tertentu dan tentunya berniat mengejek
"Siapa dia? Aku tidak kenal dengan pemilik nama itu." Tukas Sean langsung melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana dan meninggalkan David sendirian yang sedang terkekeh.
**Bersambung...
...----------------...
Hallo Readers... Jangan lupa kasih Like dan Komentarnya yaa...
__ADS_1
Salam manis dari author**...