
Skip pulang sekolah...
"Balapan kuy." Seru Yuki saat berada di parkiran sekolah bersama dengan kedua sahabatnya
"Setuju pake banget." Timpal Via bersemangat 45
"Gak ah, males." Cetus Olive
"Yahh... Kenapa sih? Lagian kita udah lama loh gak balapan." Tanya Yuki sedikit lesu
"Iya liv, bener kata Yuki. Emang kamu gak kangen balapan apa?!" Timpal Via ikut membujuk
"Gimana? Mau yah. Please." Pinta Yuki penuh harap
"Hmm... Oke. Tapi yang kalah harus kerjain pr selama seminggu, gimana?" Seru Olive yang akhirnya setuju karena ia sendiri tidak tega jika melihat kedua sahabatnya terus memohon
"Wokeh, dengan senang hati." Balas Yuki tanpa keraguan sedikitpun
"Jangan nyesel yah." Ucap Olive dengan nada sedikit meremehkan, tapi dia mengatakan itu hanya untuk bercanda saja
"Gak ada kata menyesal dalam kamus kita." Balas Via penuh keyakinan dan mendapat anggukan dari Yuki
"Kita liat nanti." Seru Olive tersenyum manis
Kemudian mereka bertiga langsung memakai kacamata hitamnya secara bersamaan, lalu mulai berjalan untuk masuk ke dalam mobil masing masing.
Kini mereka bertiga sudah bersiap menginjak gas mobilnya. Posisi mobil mereka, tentu Olive lah yang berada di tengah dan mereka juga membiarkan atap mobilnya terbuka lebar agar dapat menikmati udara bebas.
"Siap Guys... Satu... Du-..."
"Ehh, Enggak yah... Jangan kamu yang hitung, entar curang lagi." Seru Yuki memotong ucapan Via dengan cepat
"Yuki... Gak baik tau su'udzon sama orang. Entar ujung-ujungnya jadi fitnah, dan fitnah itu dosa tau." Ucap Via malah menceramahinya
"Bukan su'udzon, tapi itu fakta." Tukas Yuki dan hanya dibalas cengiran kuda dari Via
"Biar aku yang hitung aja Oke." Seru Olive
"Kalo ini aku setuju." Timpal Yuki
"It's oke." Ucap Via
"Siap?" Tanya Olive mulai bersiap menginjak gas mobilnya
Brrmm.... brrmm... brrmm...
"Satu (Brrmmm)... Dua (Brrmmm)... Go...." Seru Olive langsung menancap gasnya begitupun dengan kedua sahabatnya
Wushhh...
Mobil mereka melaju cepat untuk segera meninggalkan pelataran sekolah. Mereka memulai balapannya sekarang karena memang disana sudah cukup sepi, Jadi semuanya akan aman terkendali.
"Hei... Jangan kebut-kebutan." Teriak satpam saat melihat Olive dkk melaju kencang ketika keluar dari pagar sekolah.
"Maaf pak." Seru Via yang mobilnya berada di urutan kedua, sedangkan kedua sahabatnya hanya mengangkat satu tangannya ke atas dengan maksud minta maaf juga
"Anak zaman sekarang susah banget di aturnya." Gerutu sang satpam
"Emang kamu dari zaman apa? Zaman purba?" Tanya seseorang tiba tiba sudah berdiri disamping satpam tersebut
"Huh... Ngagetin banget sih, Kamu mau bikin aku serangan jantung apa?!"Pekik satpam itu sembari mengelus dadanya dan tanpa men
__ADS_1
"Siapa yang ngagetin coba? Aku kan cuma nanya." Ujar orang itu dengan watadosnya, Dia tak lain adalah pak Devan, eh... Maksudnya David yang juga bersama Sean
"Eh... Tadi kamu bilang apa? Aku dari zaman purba? Kamu pikir aku manusia purba apa?!" Ketus sang satpam.
Satpam itu sebenarnya adalah Nicko dan nama samaranya Nino (Please, jangan tanya author kenapa Nama samaran Kapten Sean tidak sekeren kedua sahabatnya. Karna apa? Athor pun tak tahu😂), Nicko menyamar dengan memakai tompel disebelah hidungnya dan dia juga memakai gigi palsu. Untuk satpam yang sebelumnya juga masih ada, namun saat ini dia sedang keliling kelas untuk mengecek keadaan disana, jadi yang berjaga di gerbang sekolah adalah Nicko.
"Hehee... Barangkali kan." Ucap David cengengesan membuat Nicko mendengus kesal
"Tadi kenapa?" Tanya Sean tiba tiba
"Oh, tadi ada murid yang kebut kebutan disini. Aku tegur tapi tak dihiruakan mereka, ya aku jadinya kesel dong." Jelas Nicko
"Kebut kebutan?" Ucap David pelan
"Pasti mereka lagi." Cetus Sean
"Maksud kamu, mereka..."
"Ya, Siapa lagi kalo bukan Olive dkk." Seru Sean memotong ucapan David
"Mereka selalu saja balapan. Padahal mereka tahu sendiri kalau itu bahaya." Tukas Nicko
"Mereka tidak pernah jera." Timpal David
"Dahlah, biarin aja. Mungkin dengan seperti ini, dia tidak lagi bersedih karna mengingat keluarganya. Lagian menurutku, mereka bisa jaga diri, jadi semuanya akan tetap aman." Ujar Sean panjang lebar
Kemudian Sean langsung melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana dan meninggalkan kedua sahabatnya yang sedang mematung mendengar penuturannya.
"Apa Aku tidak salah dengar?" Tanya Nicko kepada David tapi tatapan matanya menatap Sean yang sudah menjauh
"Tidak. Baru kali ini aku liat dia tidak menegur orang yang salah, apalagi alasannya hanya agar orang itu tidak bersedih lagi?" Timpal David terheran
"Kenapa aku merasa kalau dia sangat peduli dengan gadis itu?" Ucap Nicko menerka nerka
"Woii... Kalian gak pulang apa?! Diem-diem bae." Seru Sean tiba tiba memotong ucapan David
"Eh iya... Pulanglah, masa enggak!!" Balas David sedikit berteriak
"Kau ikut pulang gak?" Tanya David menatap Nicko
"Kayaknya aku pulang telat deh." Jawab Nicko
"Oke. Kita pulang dulu." Pamit David kemudian langsung melangkahkan kakinya untuk menyusul Sean
Markas Phoenix Devil
"Apa semuanya sudah berkumpul?" Tanya Olive datar kepada Cakra dan Gerry saat mereka baru memasuki markas
"Sudah." Balas Cakra singkat, padat dan jelas
Tanpa menjawab lagi, Olive beserta yang lainnya langsung bergegas menuju tempat yang biasa digunakan untuk para mafioso berkumpul. Untuk balapan tadi, jangan ditanyakan lagi siapa pemenangnya karna sudah pasti Olive lah sang pemenang sejati.
Ketika mereka semua sampai, seketika semua mafioso sedikit membungkukkan badannya sebagai tanda hormat. Olive pun membalasnya dengan mengangkat satu tangannya saja.
"Assalamu'alaikum wr.wb." Salam Olive membuat mereka semua saling pandang
"Wa'alaikumsalam wr.wb." Balas Yuki, Via, Cakra dan Gerry sedangkan mafioso yang lain hanya diam mematung
"Aku baru tahu, kalau mafia bisa mengucapkan salam juga." Bisik salah satu mafioso kepada temannya
"Mungkin mafia ini cukup alim dari yang lainnya." Balas temannya yang juga berbisik
__ADS_1
"Kan kita mafia yang sudah tobat." Timpal teman mafioso yang lainnya dan mendapat anggukan dari teman yang berdiri disekitarnya
"Hmm... Insyaf juga kita." Timpal yang lainnya
"Kenapa gak dijawab? Orang salam tuh di jawab. Disini muslim semua kan?" Seru Olive karena sedari tadi tak mendengar jawaban dari anggota mafianya kecuali temannya sendiri
"I-iya Queen. Wa'alaikumsalam wr.wb." Balas semua mafioso sedikit terbata
"Hmm... Soal beginian aja harus diajarin." Gumam Olive pelan dan hanya di dengar oleh semua sahabatnya
"Sabar Queen. Namanya juga Mafia." Cetus Cakra sedikit terkekeh begitupun dengan yang lainnya.
Cakra dan Gerry akan memanggilnya Queen karena memang mereka sepakat untuk bersikap profesional saat di hadapan para mafioso, tapi jika sedang bersama, mereka akan bersikap biasa saja.
"Emang kenapa kalo Mafia?" Tanya Via cengo
"Hhhh.... Gak usah banyak tanya. Tugas kamu hanya menyimak oke." Celetuk Yuki membuat Via menghembuskan nafasnya kasar
"Baiklah, tujuan saya mengumpulkan kalian disini karna ada sesuatu yang ingin saya sampaikan kepada kalian semua." Seru Olive menatap semua mafioso dihadapannya
"Akhir pekan nanti, kita akan menyerang Mafia Dragon Fire." Lanjut Olive penuh keyakinan dan tentunya membuat mereka semua terkejut bukan main, termasuk sahabatnya
"Liv, apa kamu serius?" Tanya Yuki untuk memastikannya sembari berusaha menetralkan rasa keterkejutannya
"Dua rius." Jawab Olive tegas
"Kalian ingatkan, saat aku mengatakan jika akan membuat mafia kita semakin maju? Dan inilah jawabannya. Untuk memajukan mafia ini, berarti kita harus bisa melumpuhkan semua mafia yang ada, dengan begitu mafia kita yang akan menjadi nomer satu." Lanjut Olive penuh keyakinan
"Tapi kita belum menyiapkan semuanya." Ujar Gerry dan mendapat anggukan dari yang lainnya
"Kalian tenang saja, aku sudah memikirkan semua ini dengan baik, dan aku juga sudah menyiapkan semuanya agar kemenangan ada di pihak kita." Balas Olive
"Hmm... Aku percaya sama Queen. Aku yakin, Queen pasti akan melakukan yang terbaik." Seru Cakra
"Ya. Aku juga percaya dengan rencana kamu Liv." Timpal Via penuh ketegasan
"Aku juga. Semua keputusan ada di tangan Queen dan aku siap mematuhinya." Seru Gerry
"Kalau aku jangan di tanya lagi. Tentu aku setuju seratus persen." Seru Yuki
"Terimakasih atas kepercayaan kalian. Aku janji, akan melakukan yang terbaik." Ucap Olive
"Hmm..." Mereka pun hanya berdehem sembari mengangguk setuju, kemudian mereka semua kembali menatap semua mafioso di hadapannya
"Dragon Fire, Mafia dalam urutan ke empat dan tentunya berada satu tingkat di atas kita. Seperti mafia yang lainnya, mereka terkenal cukup bengis dan kejam ketika menghadapi musuhnya. Mereka terkadang menerima tawaran sebagai pembunuh bayaran, akan tetapi sebenarnya mereka lebih memfokuskan pada kegiatan yang tentunya ilegal. Seperti transaksi obat obatan terlarang, penyelundupan barang ilegal dalam bentuk apapun, termasuk juga penjualan organ tubuh manusia. Mereka juga terkenal cukup epic dalam bermain, bahkan mereka selalu lolos dari incaran para polisi karena memang permainannya sangat halus dan cantik." Jelas Olive panjang kali lebar, sedangkan yang lainnya hanya menyimak saja
"Markas utama dari Dragon Fire ada di hutan bagian barat kota B. Jika kalian melihat denah di aplikasi tertentu maka kalian tidak akan bisa menemukan markasnya, karna memang penjagaannya cukup ketat dengan dilengkapi teknologi yang membuat markas tersebut tidak dapat di temukan oleh siapapun. Pasukan mereka sendiri berjumlah sekitar 1500, dengan satu ketua dan dua tangan kanan. Ketuanya cukup handal dalam beladiri dan untuk senjata yang sering digunakan adalah pistol." Seru Olive membuat para mafioso saling pandang dengan tatapan tak percayanya.
Bagaimana Queen bisa mengetahui tentang mereka sedetail ini? Padahal Queen baru mengenal tentang mafia. Pikir para Mafioso.
"Mungkin kalian bertanya, bagaimana saya bisa mengetahui semua ini? Padahal saya sendiri baru saja bergabung dalam dunia mafia ini, bukan? Untuk itu, tentu jawabannya sangat mudah. Bukankah teknologi sekarang sangat canggih, dan informasi seperti itu tentu akan sangat mudah di dapatkan. Bukankah begitu." Ucap Olive seakan tahu apa yang ada di pikiran semua mafiosonya
"Maaf Queen, kami tidak bermaksud meragukan Queen." Ujar salah satu mafioso mewakili semua temannya
"Tidak apa-apa, saya tidak mempermasalahkan soal itu." Balas Olive datar
"Lalu, Apa rencananya?" Tanya Gerry tiba tiba.
**Bersambung...
...----------------...
__ADS_1
Bagaimana episode kali ini? Jangan lupa kasih Like dan Komentarnya yaa...
Salam manis dari author**...