Queen Mafia And Handsome Army

Queen Mafia And Handsome Army
Comeback


__ADS_3

Di tempat lain...


BRAAKK..


Tiba tiba saja terdengar suara gebrakan meja yang cukup keras hingga menggema dalam ruangan tersebut. Hal itu membuat beberapa orang di hadapannya menunduk ketakutan setengah mati.


"Bagaimana mungkin kalian bisa gagal hah?!" Bentak orang itu


Dia tak lain adalah Richard dan dia juga bersama dengan Lewis, dihadapan mereka ada empat mafioso TSK yang memang baru saja pulang ke markas setelah dari pelabuhan tersebut.


"Para tentara menyergap kita King." Ujar Mafioso 1


"Kenapa transaksi ini bisa bocor sampai ke telinga mereka?" Tanya Lewis dengan nada sedikit meninggi


"K-Kami tidak tahu King." Balas Mafioso 2 sembari menunduk takut


"Mustahil jika kalian kalah melawan mereka, bahkan sampai Robert pun tewas." Seru Richard yang belum bisa mempercayai kegagalan semuanya


"Ada yang membantu mereka King." Ujar mafioso 3


"Membantu mereka? Siapa?" Tanya Lewis


"Me-mereka mafia Phoenix Devil." Jawab Mafioso 2 sedikit gagap


"Apa?! Phoenix Devil? Berani sekali mereka menggagalkan semuanya, apa mereka tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa." Pekik Lewis


"Mereka hanya mafia pecundang, dan kalian bisa kalah hah?!" Bentak Richard


"Jumlah mereka banyak King." Jawab Mafioso 4 sangat ketakutan


"Aku rasa ada yang aneh dari semua ini." Ucap Richard pelan


"Benar, aku juga merasa seperti itu." Timpal Lewis


"Kalian pergi sekarang atau saya bunuh kalina semua." Ancam Richard menatap para mafiosonya


"Ba-baik King." Balas mereka semua kemudian segera keluar dari ruangan tersebut


"Ini pertama kalinya transaksi kita gagal, bahkan Robert tewas di tangan mereka." Ujar Lewis


"Menurutku, Robert tewas bukan di tangan para tentara, melainkan oleh ketua Phoenix Devil." Seru Richard menerka nerka


"Kenapa berpikiran seperti itu?" Tanya Lewis


"Jika tentara yang menghadapinya, pasti akan menahannya terlebih dahulu, sedangkan Robert tewas karena ledakan di kapalnya." Balas Richard


"Jadi maksudnya yang meledakkan kapal itu tak lain adalah Phoenix Devil." Seru Lewis memastikannya dan mendapat anggukan dari Richard


"Tapi bagaimana mereka bisa tahu tentang transaksi ini?" Tanya Lewis


"Aku sendiri tidak tahu. Tapi, entah kenapa aku merasa kebocoran ini karena adanya mata mata di sekitar kita." Ucap Richard


"Disini? Di markas kita?" Tanya Lewis terus menerus


"Bukan, tapi di sekolahan tempat kalian menyamar." Tebak Richard


"Apa?! Itu tidak mungkin. Selama ini tidak ada yang tahu jika aku sama Robert menyamar disana." Pekik Lewis


"Itu bisa saja terjadi. Bukankah Robert pernah mengatakan, jika dia menerima client saat dia sedang berada di sekolah, Itu berarti saat itu juga ada seseorang yang menguping pembicaraannya." Ujar Richard menebak


"Kalau memang benar seperti itu, kita harus bertindak cepat, dan aku akan berhenti menyamar disana." Seru Lewis


"Jangan. Mereka sudah membuat semuanya kacau, dan mereka harus menerima akibatnya. Hmm... Aku punya rencana lain." Larang Richard karena tiba tiba menemukan rencana yang baru


"Apa rencananya?"


"Aku akan ikut menyamar di sekolahan tersebut, untuk mengetahui siapa mata-mata itu." Seru Richard


"Apa kau serius?"


"Kapan aku tidak serius? Akan ku pastikan, mata-mata itu menerima akibatnya karena sudah berurusan denganku." Ucap Richard penuh amarah sembari mengepalkan kedua tangannya dengan sangat kuat


"Hmm... Rencana yang sangat bagus." Seru Lewis kemudian mereka berdua sama-sama tersenyum smirk


Skip esok hari...

__ADS_1


Kini terlihat mobil Olive dkk baru memasuki pagar sekolahan yang menjulang tinggi. Dan seperti biasa, mereka akan menjadi sorotan penuh kekaguman dari semua siswa disana.


"Hari yang sangat menyenangkan." Gumam Olive tersenyum manis saat mereka bertiga sudah keluar dari mobil dam berkumpul menjadi satu dengan Olive yang berada di tengah


"Hmm... Sepertinya Olive yang dulu akan kembali lagi." Cetus Via berpendapat karena ia merasa jika saat ini Olive sangat berbeda. Jika biasanya dia akan memancarkan aura dingin, tapi kali ini dia terlihat sangat bahagia, bahkan Olive memasang senyum termanisnya


"Itu karna aku lagi seneng, akhirnya satu benalu sudah dibereskan." Balas Olive sekilas menatap Via


"Ya, kita juga ikut seneng atas keberhasilan kamu." Ujar Yuki yang diangguki Via


"Oke. Girls, are you ready?" Tanya Olive tiba tiba tanpa menatap kedua sahabatnya karena ia menatap ke depan


"Of course." Balas keduanya


Seketika mereka bertiga langsung memakai kacamata hitamnya secara bersamaan, lalu mereka melangkahkan kakinya dengan gerak langkah yang sejajar dan tentunya sama. Mereka bertiga terlihat sangat sempurna, apalagi dengan senyuman manis yang mereka pancarkan, ditambah hembusan angin yang membuat rambut mereka berterbangan ke belakang. Sungguh, hal itu membuat para kaum adam yang melihatnya akan meleleh bagaikan ice cream yang terkena sinar matahari langsung.


"Apakah Olive dkk yang dulu sudah kembali?"


"Rasanya sudah lama gak liat senyuman manis para bidadari disini."


"Akhirnya Olive dkk Comeback."


"Please, cukup kemarin yang dingin. Sekarang, jangan lagi."


"Senyuman langka itu, sudah kembali terlihat. Sungguh bahagianya."


"Wahai bidadari abang, tunggu abang di KUA."


Begitulah sekiranya pujian semua siswa yang terdengar di telinga Olive dkk saat berjalan menelusuri koridor sekolah. Sedangkan yang puji hanya memasang senyum termanisnya saja .


"Wahh... Bidadari aku kayaknya seneng banget hari ini, cerita dong kenapa?" Seru Elvan tiba tiba saat berada di hadapan Olive dkk, seketika mereka bertiga pun menghentikan langkahnya. Elvan juga saat ini bersama kedua sahabatnya.


"Seneng dong. Karna ini adalah hari yang sangat spesial." Ujar Olive dengan tersenyum


"Emang kenapa? Perasaan ini bukan hari ulang tahun kamu." Tanya Elvan mengernyitkan keningnya bingung begitupun dengan kedua sahabatnya


"Ada lah, kamu gak perlu tahu dan kamu jangan buat mood aku hancur hari ini." Balas Olive sembari menunjuk Elvan


"Guys, cabut." Tambahnya


"Aneh banget mereka. Perasaan kemarin masih dingin dan ketus, sekarang malah keliatan seneng banget." Ujar Gio terheran sembari menatap punggung Olive dkk yang mulai menjauh


"Apa yang membuat mereka seseneng itu? terutama Olive." Ucap Dion bertanya tanya


"Apapun itu, yang jelas aku seneng banget, akhirnya dia kembali ceria dan gak dingin lagi." Seru Elvan tersenyum merekah


"Hmm... Apakah nanti akan ada kejailan mereka lagi?" Tanya Dion sembari membayangkan beberapa kejailan Olive dkk saat di sekolah


"Aku rasa ada. Kapan sih mereka gak usil sama guru? Paling cuma beberapa hari kemarin aja, saat Olive lagi terpuruknya." Timpal Gio berpendapat


"Yes. My love is comeback." Seru Elvan tersenyum senang


"Tunggu aku bebep Olive, I'm coming..." Lanjutnya kemudian langsung bergegas menyusul Olive ke dalam kelas dan meninggalkan kedua sahabatnya disana


"Dia gila lagi." Gumam Gio melihat tingkah Elvan yang kekanak kanakan


"Biasalah." Tukas Dion terkekeh, setelah itu merekapun memutuskan untuk menyusul kepergian sahabatnya itu.


Kring... kring... kring...


Bel masuk berbunyi, semua siswa memasuki kelas masing-masing untuk mengikuti pelajaran yang akan di ajarkan oleh guru mapel.


"Assalamu'alaikum wr.wb." Salam seseorang saat memasuki ruang kelas Olive dkk


"Wa'alaikumsalam wr.wb." Balas semuanya


"Sebelum pelajaran di mulai, bapak ingin memberitahukan kabar duka yang datang dari salah satu guru kita." Ujar guru itu yang tak lain adalah pak Lutfi, alias Lewis yang menyamar


"Kenapa pak?" Tanya Dion mewakili semuanya


"Tadi malam pak Robby meninggal dunia." Ucap Lewis


"Innalillahi wa'inna ilaihirojiun." Ucap semua siswa disana dengan cukup terkejut begitupun dengan Olive dkk


"Apa yang terjadi pak?" Kini Via yang bertanya

__ADS_1


"Dia mengalami kecelakaan." Jawab Lewis


"Kecelakaan dimana pak?" Tanya Elvan


"Di-di jalan fff." Jawab Lewis sedikit gugup dan akhirnya dia menjawabnya dengan ngasal


"Hufftt... Semoga mereka gak curiga." Batin Lewis


"Liv, itukan jalanan deket mansion kamu. Emang ada kecelakaan disana?" Tanya Yuki sedikit berbisik


"Setahu aku gak ada deh, kalau ada pasti bang Genta atau kak Shifa cerita sama aku. Kan semalam juga aku telfonan sama mereka." Balas Olive yang juga sedikit berbisik


"Pak, kecelakaannya pukul berapa?" Tanya Olive penuh selidik setelah mengangkat tangannya terlebih dahulu


"Tengah malam, sekitar pukul sebelas malam." Jawab Lewis sesantai mungkin


"Sebelas malam?" Ucap Olive pelan sembari berpikir keras


"Kenapa aku merasa ada yang menjanggal yah." Batin Olive


"Apa bapak yakin, kecelakaannya pukul sebelas malam?" Tanya Olive lagi dengan menatap Lewis penuh selidik


"Ya-yakin. Kenapa? Kamu tidak percaya sama bapak?" Balas Lewis


"Ohh... Tidak. Saya percaya sama bapak." Seru Olive membuat Lewis merasa sedikit lega


"Bagus kalau begitu. Hmm... Baiklah, sekarang kita mulai pelajarannya." Seru Lewis karena tak ingin siswanya terus menerus bertanya


"Yaaahhh... Kenapa gak bebas sih pak? Kan kita lagi berduka." Keluh Elvan


"Yang ingin bebas silahkan keluar dari kelas bapak." Ancam Lewis membuat semuanya terdiam


"Guys... Apa kalian kangen sesuatu?" Tanya Olive tiba tiba dengan pelan agar yang mendengar hanya kedua sahabatnya


"Tentu. Sudah lama kita tidak melakukannya." Balas Via tersenyum penuh arti


"Ya udah, sekarang aja." Timpal Yuki, seketika mereka bertiga pun berdiri dari duduknya


"Pak, kita bertiga mau keluar, soalnya kita ingin bebas." Seru Olive


"Berani kalian bolos di kelas saya." Kecam Lewis


"Kita tidak membolos pak, kan kita izin. Iyakan guys?" Balas Yuki dengan tampang tak berdosanya


"Bener tuh pak. Kalau bolos tuh diem-diem." Timpal Via


"Huffttt.... Saya sedang malas meladeni kalian bertiga. Sekarang, kalian boleh pergi. Tapi kalau sampai ulangan minggu depan nilai kalian anjlog, maka bapak akan hukum kalian." Ucap Lewis yang merasa jengah jika harus berdebat dengan Olive, karena ujung-ujungnya pasti kalah. Mau pakai kekerasan pun tidak bisa ia lakukan, karena ia sedang menyamar jadi sebisa mungkin harus menjaga sikap, meski di hatinya sangatlah geram dengan tingkah Olive dkk.


"Tidak masalah." Balas Olive tak merasa takut sedikitpun


"Uuhh... Bapak pengertian banget deh. Makin love sama bapak." Ucap Yuki tersenyum sedikit genit


Tanpa menunggu lama lagi, mereka langsung bergegas pergi keluar kelas untuk menuju rooftop sekolah, karena kalau ke kantin pasti akan ketahuan oleh guru BK disana.


"Enak banget mereka di bolehin bolos. Aku juga mau kali." Cetus Elvan sedikit pelan tapi masih dapat di dengar oleh Lewis


"Apa?! Kamu mau bolos juga? Silahkan aja." Seru Lewis


"Beneran boleh pak?" Tanya Elvan sumringah


"Tapi kalau nilai kamu udah bener. Nilai kayak lahar gunung aja, sok sok'an bolos." Ketus Lewis membuat Elvan kicep seketika


"Hahhaaa...." Tawa seisi kelas


"Haha... Makanya benerin tuh nilai, biar gak kebakaran semua." Celetuk Gio dengan niat mengejek Elvan


"Kayak nilai kamu bener aja." Ketus Elvan tapi tak di hiraukan Gio karena di terus menertawai sahabatnya itu


**Bersambung...


...----------------...


Jangan lupa kasih Like dan Komentarnya yaa...


Salam manis dari author**...

__ADS_1


__ADS_2