
"Haisshh... Kakak gak tau lagi harus ngomong apa sama kalian. Entah apa yang ada di pikiran kalian sebenarnya sampe jadi seperti ini." Lesu Shifa memijit pelipisnya sendiri
"Kalo gitu kakak gak usah ngomong apa-apa, diem aja." Celetuk Via dengan watadosnya dan langsung mendapat injakan dari Yuki
"Awss... Apa sih Yuk?" Kesal Via
"Gak papa, tadi ada kecoa di kaki kamu." Balas Yuki dengan santainya
"Kecoa? Mana ada? Rumah sakit ini bersih, steril, mana mungkin ada kecoa berkeliaran disini." Bantah Via
"Buktinya tadi ada. Kecoanya bisa ngomong lagi."
"Ihh Yuki, otak kamu masih berjalan dengan baik kan? Gak mungkin ada kecoa bisa ngomong." Seru Via sangat polos yang mampu membuat Yuki geram
"Viaaaaa...." Geramnya
"Apa?"
"Hhhhhh... Au ah." Kesal Yuki
"Hahahaa...." Tawa Olive dan Shifa seketika pecah
"Ada apa sih? Ada yang lucu?" Tanya Via cengo
"Gak ada, pengin ketawa aja Hahaaa..." Balas Olive membuat Via ber oh ria
"Ck, oh doang dia." Cetus Yuki
"Lah terus?" Tanya Via
"Lupakan aja." Ketus Yuki
"Liv, temen kamu keknya perlu di periksa deh." Ucap Yuki
"Kamu aja yang bawa dia ke dokter." Balas Olive sedikit terkekeh
"Siapa yang sakit? Temen kamu ada yang sakit Liv?" Tanya Via
"Ada."
"Siapa?" Tanya Via lagi
"Kamu."
"Hah?! Aku? Aku gak sakit kok. Emang aku sakit apa coba?" Balas Via dengan tampang polos pake banget
Seketika Olive dan Yuki saling tatap penuh arti, kemudian mereka menatap Via secara bersamaan.
"Otak kamu yang sakit Viaaaa." Seru mereka serempak membuat Via refleks menutup telinganya
"Haisshhh... Aku gak budeg, gak usah teriak-teriak kali." Seru Via
"Hahahaa...." Tawa Yuki dan Olive
__ADS_1
"Haduuhh, kalian ini ada aja kelakuannya. Hahaa..." Seru Shifa di sela sela tawanya
Di tempat lain...
Lebih tepatnya di kantor kemiliteran, para tentara dengan jabatan masing-masing, bahkan ada beberapa anggota kepolisian yang saat ini sedang berkumpul di ruang rapat.
Mereka semua sedang membicarakan hal yang sangat serius, dan yang bertugas di depan untuk menjelaskan adalah Kapten Sean.
"Apa anda sadar apa yang anda ucapkan kapten sean?" Tanya komandan polisi setelah Sean selesai menjelaskannya
"Saya sadar, bahkan sangat sadar dengan ucapan saya barusan." Balas Sean datar
"Ini bukan masalah kecil kapten, ini menyangkut keamanan warga disini." Seru salah satu tentara
"Anda jangan gegabah dalam mengambil keputusan sebesar ini." Timpal salah satu polisi
"Saya hanya melakukan apa yang harus saya lakukan." Seru Sean
"Sekarang begini, saya tanya sama kepada kalian semua. Apa pernah mafioso Phoenix Devil melakukan tindak kejahatan yang merugikan rakyat?" Tanya Sean menatap semua orang di hadapannya dengan tatapan datar plus dingin
"........" Diam, hanya itu jawaban dari mereka
"Apa Phoenix Devil pernah membunuh orang yang tidak bersalah?"
"........." Diam lagi sembari menundukkan kepala
"Bukankah kemarin mafioso Phoenix Devil membantu para polisi mencari pelaku pembunuhan yang terjadi minggu lalu?"
"Anda benar. Tapi... " Seru komandan polisi
"Mereka membunuhnya karna memang dia sudah terbukti bersalah, mereka tidak pernah membunuh korbannya tanpa sebab yang pasti." Lanjut Sean
"Itu tetap merupakan tindak kejahatan kapten Sean, harusnya dia biarkan pelaku itu menebus kesalahannya di balik jeruji besi." Tukas tentara lainnya
"Yang anda ucapkan memang benar kolonel Azriel, tapi anda melupakan sesuatu." Balas Sean
"Apa?" Tanya Kolonel Azriel
"Dalam dunia permafiaan, mereka hanya percaya satu prinsip saja. Darah di balas dengan darah, Nyawa di balas dengan Nyawa." Seru Sean menekankan kalimat tertentu
"Prinsip itu terdengar sangat sederhana, tapi itu justru mengandung makna tertentu." Lanjutnya
"Bisa jelaskan lebih detail kapten Sean." Titah Jendral Buana datar
"Sangat bisa Jendral." Balasnya
"Saya rasa yang mereka inginkan hanyalah keadilan. Mereka berpikir jika melakukan kejahatan itu ada konsekuensinya yaitu sesuai dengan perbuatannya. Seorang pembunuh maka harus merasakan bagaimana rasanya di bunuh. Berani berbuat maka harus berani tanggung jawab. Hmm... Menurut saya kalian semua pasti tahu maksud dari ucapan saya barusan." Seru Sean tanpa keraguan sedikitpun
"Apa jaminannya jika suatu saat dia berkhianat?" Tanya Komandan polisi
"Saya." Seru Sean membuat mereka semua terkejut bukan main
Deg
__ADS_1
"Jika mereka berkhianat, maka saya akan keluar dari jabatan saya dan juga berhenti bergabung di anggota kemiliteran ini." Lanjutnya penuh keyakinan dan ketegasan di setiap ucapannya
"Kenapa kapten sangat membela Phoenix Devil? Bukankah anda belum mengenalnya, bahkan anda tidak pernah melihat wajah dari pemimpinnya, Queen Phoenix." Tanya polisi lain
"Mengenali seseorang itu baik atau buruk bukan dari wajahnya, tapi hatinya. Meskipun saya pribadi belum mengenalnya, tapi saya yakin seratus persen jika Queen Phoenix adalah orang baik." Balas Sean
"Dia terpaksa menjadi mafia karena alasan tertentu, entah itu karna apa saya tidak tahu. Tapi yang jelas, penilaian saya terhadap dirinya adalah 99 persen orang baik, dan satu persennya dia terpaksa melalukan tindak kejahatan." Lanjut Sean
"........" Semua yang disana terdiam sembari mencerna semua ucapan Sean
"Phoenix Devil. Nama itu bukan sembarang nama mafia biasa, karena nama itu memiliki arti." Seru Sean, sontak mereka pun kembali menatap Sean dengan mengernyitkan keningnya bingung
"Arti?" Ucap salah satu tentara bingung
"Ya, Phoenix sendiri merupakan arti dari kebangkitan, sedangkan Devil memiliki arti Iblis. Jika di gabungkan maka Phoenix Devil artinya adalah Kebangkitan Iblis." Ucap Sean membuat mereka tertegun karena tak menyangka jika Sean akan berpikiran sejauh dan sepintar itu.
"Dengan kata lain, dia sepertinya sedang menunjukkan kekuatannya di hadapan para musuh yang mungkin pernah melukainya." Tambah Sean
"Maksud kamu, Queen Phoenix mendirikan mafia itu untuk membalas dendam kepada seseorang?" Tanya Jendral Buana untuk memastikan pendapatanya itu
"Ya, saya sangat yakin akan hal itu." Balas Sean tegas
"Balas dendam? Siapa yang dia incar, kenapa harus sampai mendirikan mafia? Kenapa tidak menyerahkan masalahnya pada pihak berwajib?" Sarkas komandan polisi yang di angguki lainnya
"Dia tidak bisa melakukan itu, karna seperti prinsip dia sendiri. Jika kita yang menyelesaikan masalahnya, pasti kita hanya akan memenjarakannya sesuai dengan hukum yang berlaku. Tapi yang dia inginkan adalah.... Kematian musuhnya." Ujar Sean
Hening, itu yang terjadi sata ini karena mereka semua bergulat dengan pikirannya masing-masing sembari terus mencerna maksud dari semua ini.
"Hmm... Baiklah, saya sudah mengambil keputusan. Saya harap, keputusan ini adalah keputusan yang tepat." Seru Jendral Buana seketika semua yang disana menatapnya
"Saya menyetujui permintaan mereka." Lanjutnya penuh keyakinan dan membuat mereka semua terkejut bukan main
"Apa Jendral serius?" Tanya Sean untuk memastikannya kembali jika pendengarannya tidak salah
"Saya tidak pernah bercanda dalam hal seserius ini." Balas Jendral Buana dingin membuat Sean tersenyum senang
"Untuk kalian semua, jika ada yang tidak setuju silahkan angkat tangan dan jelaskan kenapa tidak menyetujuinya." Seru Jendral Buana menatap semuanya
"Kami setuju." Balas komandan polisi yang diangguki teman polisinya
"Kami juga setuju." Timpal Kolonel Azriel yang tentunya mendapat persetujuan dati tentara lainnya
"Terimakasih semuanya, saya akan buktikan jika mereka memang layak mendapatkannya." Ucap Sean
"Buktikan saja, saya percaya kamu sepenuhnya." Ucap Jendral Buana
"Sekali lagi terimakasih." Ucap Sean sedikit membungkukkan badannya.
**Bersambung...
...----------------...
Jangan lupa LIKE, COMMENT dan VOTE YAAA...
__ADS_1
Salam manis dari author**...