Queen Mafia And Handsome Army

Queen Mafia And Handsome Army
Rasanya ingin Mati


__ADS_3

"WHAT?! Dia guru barunya?"


"Kalo gini sih, jadi males olahraga."


"Kirain kayak oppa-oppa korea, ternyata oh ternyata."


Pikiran semua siswa yang tadinya membayangkan jika guru barunya sangat cool dan tampan, seketika menjadi buyar karena penampilan guru tersebut berbanding terbalik dari pemikiran semua siswa disana.


"Silahkan perkenalkan diri bapak sekarang." Titah pak Yanto menatap guru baru tersebut


"Semuanya perkenalkan, nama saya adalah Santoso. Saya yang akan mengajar olahraga disini. Apa ada pertanyaan?" Ucap sang guru dengan ramah


"Sepertinya dia gak asing, tapi apa aku pernah bertemu dengannya?" Batin Olive menatap guru tersebut dengan intens


"Tempat tinggalnya dimana pak?" Tanya salah satu siswa


"Saya tinggal di jalan xxx. Oh ya... Panggilnya Kakak saja, saya belum terlalu tua jadi tidak enak jika di panggil bapak, selain itu juga biar lebih akrab aja." Pinta guru itu tersenyum manis


"Haaa?!!!"


Mendengar permintaan guru tersebut, seketika semua siswa menatap sang guru dari atas sampai bawah dengan tatapan tak percayanya. Sedangkan sang guru malah mengernyitkan keningnya bingung karena tak mengerti maksud dari tatapan semua siswa.


Satu detik


Dua detik


Tiga detik


"Bapak emang tua kali pak." Seru semua siswa bersamaan kecuali Olive yang hanya memasang senyuman tak percayanya


Jawaban semua siswa tentu membuat guru tersebut kesal setengah mati, sedangkan pak Yanto malah berusaha menahan tawanya dan seketika langsung mendapat tatapan tajam dari guru tersebut yang langsung membuat pak Yanto kicep.


"Tuhan... Sepertinya Kapten Sean, pria tertampan yang di akui planet mars telah mati saat ini juga." Batin guru tersebut menjerit yang ternyata adalah Sean, sang kapten tentara.


"Oke deh pak, kita sepakat akan manggilnya dengan sebutan Kakak, Kak Santoso. Iyakan guys?" Cetus Elvan sembari menekankan kata tertentu kemudian dia beralih dengan meminta persetujuan semua temannya


"Iya." Balas semuanya sembari menahan tawanya


"Ck... Bilang aja gak ikhlas manggil kakak. Dasar murid lucknut." Batin Sean


"Hmm... Terimakasih atas persetujuannya." Balas Sean dengan fake smilenya


"Apa Kak San sudah punya istri?" Tanya salah satu siswa lagi


"Belum. Saya masih single." Jawab Sean


"Waahhh... Kebetulan banget. Itu Yuki katanya mau daftar kak." Celetuk Elvan berniat menjaili Yuki


"Heh... Ngapain bawa-bawa aku sih." Kesal Yuki


"Jadi dia di kelas ini." Batin Sean yang baru menyadari kehadiran Olive di kelas tersebut karena memang Olive duduk disamping Yuki dan tadi dia sedang menatap Yuki


"Ya kan kamu jomblo, mending sama kak Santoso aja. Ya nggak?" Balas Elvan dengan santainya membuat Yuki menatapnya tajam, sedangkan yang ditatap hanya memasang wajah tak berdosanya saja


"Ngaca dong... Situ juga jomblo, pake ngatain orang segala lagi." Balas Yuki ketus


"Eittss... Kata siapa jomblo? Bentar lagi juga akan rujuk sama yayangnya aku." Bantah Elvan tersenyum manis

__ADS_1


"Emang dianya mau?" Tanya Yuki dengan nada mengejek


"Maulah, iyakan bebeb Olive?" Seru Elvan menatap Olive


"Idiihhh... Ogah." Jawab Olive menggidikkan bahunya yang seketika membuat Elvan kicep


"HAHAHAA.... Mamam tuh..." Tawa pecah semua siswa disana melihat kekesalan Elvan, bahkan Sean dan pak Yanto juga berusaha menahan tawanya


"Gimana rasanya? Enaaakk? Hahaa..." Ejek Yuki di sela tawanya


"Pfffttt... Hahaha.... Sabar bro. Semua akan indah pada waktunya." Cetus Dion sembari menepuk pundak Elvan karena dia duduk disampingnya dan itu tentu membuat sang empunya mendengus kesal


"Huffttt.... Dasar temen lucknut." Gerutu Elvan


"Hmm... Baiklah. Itu saja yang ingin saya sampaikan, selebihnya saya serahkan sama pak Santoso. Saya permisi dulu. Assalamu'alaikum wr. wb." Pamit pak Yanto tiba tiba


"Wa'alaikumsalam wr.wb." Balas mereka semua


Kemudian pak Yanto segera melangkahkan kakinya keluar ruang kelas tersebut, tapi sebelum keluar, dia mengatakan sesuatu pada Sean dengan sangat pelan dan hanya bisa di dengar Sean.


"Selamat bertugas kapten. Awas, murid kelas ini terkenal bandelnya." Ucap pak Yanto sedikit terkekeh karena memang dia tahu identitas asli dari pak Santoso yang tak lain adalah Kapten Sean. Kemudian setelah itu, pak Yanto pun kembali melanjutkan langkahnya.


"Baiklah, saya rasa perkenalannya sudah cukup. Jadi, sekarang kalian bisa berganti pakaian untuk melaksanakan olahraga sebelum jam pelajaran selesai." Seru Sean


"Yahhh, gimana sih kak. Masa baru perkenalan udah pelajaran aja." Gerutu Dion


"Iya nih. Nyantai dulu lah kak." Timpal Gio yang duduk didepan Elvan


"Ini sekolah untuk belajar bukan tempat untuk bersantai. Saya tidak menerima penolakan, sekarang kalian ganti dan saya akan tunggu dilapangan. Waktunya 15 menit, jika terlambat maka akan dikenakan hukuman." Tegas Sean langsung pergi dari sana tanpa menghiraukan gerutuan semua siswanya


"Jangan menilai orang dari penampilan luarnya saja." Cetus Olive yang mulai melangkahkan kakinya untuk keluar ruangan tersebut begitupun dengan kedua sahabatnya


"Hmm..."


*****


Setelah berganti, siswa kelas XI IPA 1 terlihat sudah berkumpul dalam satu lapangan yang sama.


"Apa semuanya sudah berkumpul?" Tanya Sean tegas menatap semua siswa dihadapannya


"Ada yang belum kak." Seru Gio


"Siapa?"


"Olive dkk." Balas Dion karena memang tak melihat kehadiran Olive dkk


"Olive?" Sean mengulang ucapan Dion dengan pelan karena ia tahu siapa yang dimaksud barusan


"Itu my Queen, calon masa depannya aku." Seru Elvan tiba tiba ketika melihat Olive dkk berjalan menghampiri mereka semua dengan posisi di belakang Sean


"Maaf, telat." Ujar Olive dingin mewakili kedua sahabatnya


"Untuk sekarang tidak apa-apa. Tapi lain kali jangan telat lagi." Balas Sean tegas


"Hmm..." Hanya deheman dari Olive kemudian diapun berjalan untuk bergabung dengan semua teman kelasnya


"Aiisshh... Tuh anak main nyelonong aja." Gerutu Via pelan melihat tingkah Olive

__ADS_1


"Ya ampun, yayangnya aku kok jadi dingin banget sih? Kayak kutub utara tau gak?" Celetuk Elvan ketika Olive sudah berdiri disampingnya


"Masalah?" Ketus Olive membuat Elvan bungkam seketika


"Kalau gitu, kami izin gabung sama mereka dulu." Lanjut Ucap Yuki meminta izin karena dia dan Via belum bergabung dibarisan temannya


"Hmm..." Hanya deheman disertai anggukan sebagai jawaban dari Sean, kemudian mereka berdua segera melangkahkan kakinya untuk bergabung di barisan Olive dan yang lainnya.


"Baiklah, sekarang kita lakukan pemanasan terlebih dahulu sebelum memulai olahraga intinya." Seru Sean


Sean melakukan berbagai gerakan pemanasan mulai kepala, tangan, kaki dan semua anggota tubuhnya. Hal itu juga di ikuti oleh semua siswa disana.


"Sekarang, untuk putra silahkan bermain basket, sedangkan untuk putri bola volly." Titah Sean tegas


"Iya." Jawab semuanya


Tanpa basa basi lagi semua siswa disana mulai melaksanakan olahraga sesuai perintah gurunya, sedangkan Sean hanya berdiri dipinggir lapangan Volly untuk memperhatikan semua muridnya. Jika ada yang merasa kelelahan, maka siswa diperbolehkan untuk istirahat sejenak dipinggir lapangan karena Sean juga tidak mungkin memaksa muridnya untuk melakukan olahraga lebih kerasa lagi.


"Ayo semangat. Fokus pada bolanya." Seru Sean menyemangati siswi putrinya sembari bertepuk tangan


"Eh... Kalian sadar gak sih? Semenjak kejadian itu, Olive jadi dingin banget." Ujar siswi 1 kepada kedua temannya sembari menatap Olive yang sedang bermain Volly


Seketika Sean yang mendengarnya berusaha untuk menyimak pembicaraan mereka karena memang mereka sedang duduk tak jauh dari tempatnya. Dia ikut menyimak karena dia juga penasaran dengan apa yang terjadi pada gadis yang cukup dikenalnya itu.


"Bener, aku juga merasakannya. Padahal dulu dia orangnya sangat periang dan murah senyum. Tapi sekarang malah berubah 180 derajat." Timpal siswi 2


"Menurut aku wajar sih. Dia kehilangan kedua orang tuanya dalam waktu yang sama, pasti sangat sulit untuk mengikhlaskan semuanya." Ucap siswi 3


"Malahan yang aku denger, semenjak kejadian itu, dia terus mengurung dirinya di kamar dan sama sekali tidak keluar mansion meski hanya sebentar." Ujar siswi 2


"Aku juga mengetahuinya. Eh... Apa kalian tahu? Ternyata ledakan itu ulah dari seseorang yang sengaja menyabotase acara itu tau." Seru siswi 1


"Beneran? Kok aku baru tahu sih." Seru siswi 3 yang cukup terkejut


"Kamunya aja yang kudet. Beritanya udah menyebar kali." Ejek siswi 2


"Yeee... Bukannya kudet, tapi ketinggalan cerita aja hehee..." Balas siswi 3 cengengesan membuat kedua sahabatnya memutar bola matanya malas


"Tapi kalau boleh jujur, aku lebih suka Olive yang dulu ceria, periang bukan yang dingin seperti sekarang. Ya meski dulu dia badgirl, tapi menurutku dia baik begitupun dengan Yuki dan Via." Ujar siswi 1 sendu sembari menatap Olive


"Iya, dia jadi badgirl hanya untuk kesenangan semata. Walaupun kadang dia melawan perintah guru, tapi dia tetap menghormati gurunya." Timpal siswi 3


"Biasanya anak pemilik sekolahan akan menggunakan kekuasaannya untuk menindas yang lemah, tapi dia tidak. Bahkan berkat dia, disekolahan ini tidak pernah ada kasus bullying." Seru siswi 2


"Hmm... Aku jadi kangen dengan kejailan Olive dkk." Ucap siswi 1


"Sama." Timpal kedua temannya bersamaan


"Sebegitu terpukulnya kamu dengan kejadian itu. Maaf, karna aku tidak bisa mencegah semuanya agar tidak terjadi. Semua ini sungguh diluar kendali aku, sekali lagi maaf." Batin Sean sendu karena dipenuhi perasaan bersalah sembari menatap Olive intens.


**Bersambung...


...----------------...


Bagaimana episode kali ini? Jangan lupa kasih Like dan Komentarnya yaa...


Salam manis dari author**...

__ADS_1


__ADS_2