
Di Rooftop sekolah...
Olive dkk menghabiskan waktu bolosnya disana. Yuki dan Via terlihat asik berbincang dengan sesekali tertawa bersama, sedangkan Olive malah sibuk memainkan ponselnya.
"Liv, sibuk bener sama tuh ponsel. Sampai kita di cuekin gini." Celetuk Yuki setelah saling lempar pandang dengan Via dengan sesekali melirik Olive
"He em... Emang lagi ngapain sih? Serius amat." Timpal Via
"Kalian berdua curiga sama pak Lutfi gak?" Tanya Olive tiba tiba setelah mengalihkan pandangannya dari ponsel dan menatap kedua sahabatnya dengan intens
"Curiga? Curiga gimana maksudnya?" Balik tanya Via yang tak mengerti maksud Olive
"Ya curiga. Masa iya dia bilang kalo pak Robby kecelakaan di jalan fff, jelas-jelas disana gak pernah ada kecelakaan." Ujar Olive
"Mungkin kamu aja yang gak tahu kali. Kan bisa aja kalo disana ada kecelakaan." Ujar Yuki berpendapat
"Enggak. Semalam memang gak ada kecelakaan disana. Coba kalian liat ini." Titah Olive sbari menyodorkan ponselnya kepada Yuki
Dengan segera Yuki menerimanya dan langsung melihat layar ponsel tersebut begitupun dengan Via.
"I-ini..."
"Itu adalah rekaman cctv di beberapa tempat yang ada di jalan fff. Aku sudah mempercepat waktunya, dan disana sama sekali ga ada kecelakaan bahkan sampai pagi ini." Ujar Olive
Memang di ponsel Olive ada beberapa video cctv yang berhasil Olive retas saat mereka baru sampai di rooftop. Dia bahkan mempercepat semua rekamannya agar bisa melihat semua kejadian dengan cepat.
"Kalau memang benar seperti itu, kenapa pak Lutfi berbohong atas kematian pak Robby?" Tanya Yuki terheran
"Aku sendiri gak tahu. Tapi aku rasa, kematian pak Robby pasti ada yang menjanggal. Apalagi yang ku dengar, dia dengan pak Lutfi sangat dekat. Jadi bisa saja pak Lutfi menyembunyikan sesuatu dari kita semua." Ujar Olive menerka nerka
"Tapi untuk apa?" Tanya Via yang belum mengerti apa yang terjadi saat ini
"Pasti ada sesuatu di balik semua ini." Ucap Olive penuh keyakinan
"Aku akan menyelidiki siapa pak Robby dan pak Lutfi sebenarnya." Seru Olive memutuskan semuanya
"Apa itu perlu? Aku rasa mereka tidak terlalu penting." Tanya Yuki
"Bener Liv, menyelidiki mereka itu hanya akan membuang waktu saja. Lebih baik kita fokus pada rencana yang sudah kita susun untuk membalaskan dendam kamu." Timpal Via
"Tapi aku sangat curiga dengan mereka, apalagi..." Ucap Olive sengaja menggantungkan ucapannya, karena ia sendiri bingung bagaimana mengungkapkan isi hatinya itu
"Apa?" Tanya Via sangat penasaran dengan kelanjutannya
"Apalagi aku merasa wajah pak Lutfi dan pak Robby itu hampir mirip dengan ketua TSK karna aku pernah melihat foto ketiga ketuanya. Kalian tahu sendiri kan, ledakan waktu itu ulah siapa. Jadi itu tidak menutup kemungkinan jika mereka menyamar di sekolahan ini,dan yang aku tahu dari bang Cakra sama bang Gerry, mereka semua sangat ahli dalam hal menyamar dan mereka selalu menyamar dengan berbaur pada masyarakat sekitar. Hal itu pasti membuat semua orang di sekitarnya tidak curiga jika mereka tak lain adalah mafia." Ujar Olive panjang kali lebar
"Dan tadi pak Lutfi mengatakan jika kecelakaan itu terjadi pukul sebelas malam. Bukankah waktu itu adalah waktu kita berhasil mengalahkan salah satu ketua TSK?" Lanjut Olive kembali teringat dengan kejadian semalam
"Kenapa bisa kebetulan sekali." Gumam Yuki
"Tapi kalau di pikir-pikir lagi, aku setuju dengan pendapat kamu. Apalagi pak Robby sama pak Lutfi adalah guru baru, dan mereka mendaftar secara bersamaan. Dan seingat aku, mereka juga menjadi guru disini tiga hari sebelum insiden itu." Ucap Via yang menyetujui pendapat Olive
"Bener juga sih. Dengan mereka menyamar, maka otomatis mereka akan lebih mudah menyabotase acara itu." Timpal Yuki
"Berarti fiks, jika ada rahasia yang mereka sembunyiin." Seru Olive penuh dengan keyakinan dan diangguki oleh kedua sahabatnya
"Lantas, Bagaimana dengan beberapa guru baru itu?" Tanya Via tiba tiba
"Guru baru siapa?" Balik tanya Olive mengernyitkan keningnya bingung
"Iihh.. Masa kamu lupa sih. Itu loh, pak Devan guru matematika, pak Nino satpam itu dan kak Santoso guru olahraga gebetan kamu." Cetus Via asal ceplos
"Coba ulang lagi kalimat yang terakhir." Titah Olive dengan wajah datarnya
"Kak Santoso guru olahraga gebetan kamu." Ucap Via mengulang ucapannya dengan tampang tak berdosanya
Pletak
"Awwwss... Sakit tau." Rintih Via karena mendapat jitakan dari Olive, sedangkan Yuki malah mencoba menahan tawanya
__ADS_1
"Enak aja kamu bilang gebetan. Sejak kapan kak Santoso jadi gebetan aku? Lagian ya, Masa iya aku sama guru aku sendiri. Ngaco banget kamu." Omel Olive panjang kali lebar
"Bhahaha.... Mangkanya, kalo ngomong tuh di saring dulu, jangan asal ceplos aja. Gimana? Enak kan jitakannya?" Tawa Yuki seketika pecah membuat Via mendengus kesal
"Dasar temen lucknut. Seneng banget sih liat sahabatnya susah." Ketus Via
"Itu salah kamu sendiri." Balas Yuki dengan santainya
"Yaudah, sekarang kamu jawab pertanyaan aku tadi." Ucap Via menatap Olive penuh selidik
"Aku gak akan menyelidiki tentang mereka." Balas Olive
"Kenapa begitu?" Tanya Via penuh selidik
"Menurutku mereka orang baik-baik. Jadi kita tidak perlu mencurigainya." Tukas Olive
"Baru juga kenal Liv, tapi udah bilang mereka baik." Cetus Yuki
"Ya kalo orang jahat pasti ketahuan karena aura yang mereka pancarkan pastinya berbeda dari yang lain. Dari sorot matanya saja sudah keliatan, siapa yang jahat dan siapa yang baik." Ujar Olive
"Kamu kayak pakar ekspresi aja. Bisa baca ekspresi seseorang." Celetuk Via
"Itu hanya pendapatku saja, bisa jadi itu benar dan bisa juga salah." Seru Olive
"Gimana kalo salah?" Tanya Yuki
"Tapi sayangnya aku gak pernah salah dalam menilai orang, gimana dong?" Balas Olive sedikit menyombongkan dirinya
"Oh yah? Lalu mantan kamu gimana?" Tanya Yuki
"Yeee... Itu lain cerita. Kan dari awal aku udah bilang, kalo dia memang playboy dan aku hanya iseng aja dengannya." Balas Olive
"Tapi kalo kalian mau menyelidiki mereka ya silahkan aja, aku gak akan larang kok." Lanjutnya karena tak ingin jika Yuki bertanya tentang mantannya kembali
"Gak ah, males pake banget ngurusin hal yang gak penting." Balas Yuki
"Sama. Aku juga ogah ngurusin gituan." Timpal Via
Mereka bertiga terus berbincang dengan asik sembari di selingi canda dan tawa.
Kring... Kring... Kring...
"Cepet bener, perasaan baru keluar tadi, kok udah bel istirahat aja." Ucap Yuki
"Kita yang lupa waktu karna keasikan ngobrol." Tukas Olive
"Kantin yuk. Cacing perut aku udah demo dari tadi soalnya." Ajak Via sembari mengelus perutnya
"Dasar tukang makan." Cetus Yuki
"Kalo gak makan, mati dong." Balas Via dengan entengnya membuat Yuki mendengus kesal
"Kuy lah, kantin." Ajak Olive berdiri dari duduknya begitupun dengan kedua sahabatnya
Tanpa basa basi lagi, mereka bertiga langsung bergegas menuju kantin sekolah. Saat sampai disana, mereka pun langsung duduk di tempat yang belum di duduk oleh siswa disana.
"Biar aku yang pesenin. Kalian mau apa?" Tawar Yuki setelah kedua sahabatnya duduk
"Samain aja." Balas Olive
"Aku juga." Timpal Via
"Oke" Kemudian Yuki pun langsung berjalan menuju para pedagang disana untuk segera memesankan makanannya
"Eh... Kalian tahu gak? Aku denger-denger, kak Santoso hari ini gak masuk karna sakit." Celetuk salah satu siswi yang duduk di samping meja Olive bersama dengan kedua temannya
Olive yang tidak sengaja mendengar percakapan itu pun berniat untuk menyimaknya, sedangkan Via fokus memainkan ponselnya.
"Kak Santoso sakit?" Batin Olive cukup terkejut
__ADS_1
"Emang sakit kenapa?" Tanya siswi 2
"Katanya sih kemarin kecelakaan saat pulang dari sekolah." Balas siswi 1
"Tapi yang aku denger, katanya kak Santoso kemarin di hadang preman dijalanan." Seru siswi 3
"Preman? Kok bisa?" Tanya siswi 2
"Ya mana aku tahu. Itu hanya gosip aja, bisa jadi salah kan?" Balas Siswi 3 mengangkat bahunya sendiri
"Sebenarnya kasihan sih. Tapi ada bagusnya juga kak Santoso gak berangkat, jadi kan kita gak perlu di ajar dia. Hahaa..." Cetus siswi 1 dengan tawa kecilnya
"Bener kata kamu. Meski kak Santoso cukup tegas, tapi rasanya malas aja gitu di ajar dia. Apalagi penampilannya itu sungguh membosankan." Timpal siswi 2
"Dan anehnya, dia sama sekali ga mau di panggil bapak, masa maunya panggil kakak. Itukan sangat lucu. Hahaha..." Timpal siswi 3 dengan tawa khasnya
"Berarti ada untungnya ya dari kejadian itu." Seru siswi 1
"Hahaha...." Seketika mereka bertiga lepas
Olive yang merasa geram dengan tingkah ketiga siswi itu langsung berdiri dari duduknya, seketika Via pun menatapnya dengan mengernyitkan keningnya bingung karena ia melihat perubahan raut wajah Olive.
"Mau ngapain?" Tanya Via tapi tak di hiraukan Olive karena ia malah berjalan menuju meja ketiga siswi itu, dan...
BRAK
Tanpa dapat diduga, Olive langsung menggebrak meja itu dengan kedua tangannya yang seketika membuat semua siswa disana menatap ke arahnya.
"Dia kenapa?" Tanya Yuki pada Via yang berdiri saat sampai di meja Olive sembari meletakkan nampan makanannya disana
"Gak tahu aku." Balas Via
"Ke-kenapa Liv? Kita salah apa?" Tanya Siswi 2 sedikit gugup sembari berdiri dari duduknya begitupun dengan kedua temannya
"Kalian tanya salah kalian apa?" Kecam Olive menatap tajam ketiga siswi itu secara bergantian
"Ka-kami beneran gak tahu." Balas siswi 3
"Bisa bisanya kalian seneng diatas penderitaan orang lain, apalagi itu adalah guru kalian sendiri. Apa kalian tidak punya otak hah?!" Hardik Olive
"Ma-maaf Liv. Kami gak bermaksud seperti itu." Ujar Siswi 1 semakin ketakutan melihat tatapan Olive yang begitu tajam seperti siap menerkan mangsa dihadapannya
"Meski penampilan dia seperti itu, tapi dia tetap guru kalian. Harusnya kalian bisa lebih menghargainya, jangan malah menghinanya." Seru Olive
Meskipun Olive badgirl dan sering mengerjai gurunya, tapi ia tidak pernah mengolok-olok penampilan orang lain meski itu terlihat culun. Jadi tidak heran jika Olive sangat tidak suka jika ada yang menghina seseorang.
"Kalian tuh anak sekolahan, harusnya bisa menjaga lisan. Jangan gunakan lisan itu untuk menghina orang lain terutama orang yang lebih tua dari kalian." Lanjutnya
"Kami minta maaf, kami salah." Ujar siswi 3
"Gak ada gunanya minta maaf sama aku. Minta maaf tuh sama orang yang kalian hina barusan." Tukas Olive
"Liv, udah. Jangan pake emosi, kendalikan diri kamu." Ucap Yuki berusaha menenangkan Olive setelah berdiri disampingnya, karena ia tidak mau jika Olive sampai kelewat batas
"Iya Liv. Mereka juga udah ngaku salah kan." Timpal Via yang juga berdiri di samping Olive
"Kali ini, kalian boleh bebas. Tapi tidak untuk lain kali jika aku mendengar kata-kata itu lagi." Ancam Olive kemudian langsung bergegas pergi keluar dari kantin dengan di ikuti oleh kedua sahabatnya dan meninggalkan ketiga siswi itu yang sedang terdiam mematung.
"Kenapa dia sangat marah?" Ucap Dion terheran karena ia melihat semua kejadian itu dari jarak jauh
"Baru kali ini aku liat dia sangat marah." Seru Gio
"Wajar sih. Dia kan emang gak suka dengan orang yang suka menghina." Ucap Elvan yang di angguki kedua sahabatnya.
**Bersambung...
...----------------...
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan kasih Like dan Komentarnya yaa...
__ADS_1
Salam manis dari author**...