Queen Mafia And Handsome Army

Queen Mafia And Handsome Army
Badmood


__ADS_3

"Apa pendapatmu tentang Queen Phoenix?"


Uhukk... Uhuk...


Pertanyaan Sean barusan sontak membuat Olive terkejut dan dia malah tersedak minumannya sendiri.


"Haiishh, Minumnya pelan-pelan dong." Ucap Sean memperingati


"Q-Queen Phoenix? Kenapa nanya itu?" Tanya Olive tanpa mempedulikan ucapan Sean barusan


"Ga papa, pengin tau aja." Balas Sean dengan santainya


"Aku sendiri belum pernah melihatnya, jadi ya aku ga tau dia orangnya kek gimana."


"Tapi kamu pasti sudah denger cerita dari orang-orang bahkan di berita sekalipun, jika Queen Phoenix yang menyelamatkan para sandera Dragon Fire. Jadi apa menurutmu dia itu orang baik?"


"Euummm... Dia baik." Balas Olive berpura pura berpikir


"Plus Cantik, imut, gemesin, ngangenin lagi." Lanjutnya ngebatin sembari tersenyum


"Iya juga sih, tapi dia tetep seorang mafia. Dan mafia itu terkenal akan kejahatannya."


"Aku tahu, mafia itu memang penjahat, pembunuh berdarah dingin. Tapi kita ga bisa menyimpulkan dia itu penjahat, karna yang aku denger dari orang lain, dia udah sering membantu para polisi memberantas kejahatan. Jadi mungkin dia orang baik. Ini hanya pendapatku aja, bisa bener dan bisa juga salah." Jelas Olive, sedangkan Sean hanya mengangguk mengerti


"Lagian, Bukankah kamu pernah bertemu dengannya langsung? Jadi kamu pasti lebih paham dengan karakter Queen Phoenix ketimbang aku yang sama sekali belum pernah melihatnya." Lanjutnya


"Kalo menurutku, dia orang baik." Balas Sean membuat Olive tersenyum tipis, bahkan tidak bisa dilihat oleh siapapun


"Ya iyalah, Olive gitu loh." Batin Olive menyombongkan dirinya


"Tapi dia sangat misterius, bahkan dia dan anggotanya memakai topeng saat menjalankan misi." Ujar Sean, seketika senyuman Olive memudar dan dia malah memutar bola matanya malas


"Hadehh, Ya pake topeng lah. Kalo ga pake topeng, pasti identitas dia langsung terbongkar dan akan jadi buronan para polisi dan kamu juga." Tukas Olive dan hanya dibalas cengiran gak jelas dari Sean


Sean mengatakan itu juga sebenarnya hanyalah candaan semata, dengan tujuan untuk mencairkan suasana agar tidak terlalu canggung diantara keduanya.


"Hufftt... Udah ah, aku mau pulang. Lagian udah ga ada yang mau di bicarain lagi kan?" Ucap Olive tiba tiba pamit


"Hmm, Aku anterin kamu pulang." Tawar Sean


"Ga usah, aku bisa naik taxi." Tolak Olive secara halus


"Jangan nolak. Aku yang ajak kamu, jadi aku juga yang harus ngenterin kamu pulang."


"Tap-..."


"Ga ada tapi tapian." Tukas Sean membuat Olive menghembuskan nafasnya kasar


Kemudian Sean mengeluarkan dompetnya dan dia meletakkan beberapa lembar uang di atas meja untuk membayar semua pesanan dia dan Olive.


"Yuk." Ajak Sean sembari beranjak dari duduknya


"Hmm..."


Saat baru berbalik untuk melangkah keluar, Olive melihat sekilas ada orang yang sepertinya sedang memperhatikan mereka berdua.


Pria itu sedikit menunduk, memakai topi yang mampu menutupi wajahnya, dan dia sedang melihat lihat menu makanan tapi dengan sesekali melirik ke arah Olive dan Sean. Saat sang pria merasa jika Olive mencurigainya, dia langsung beranjak pergi dari sana dengan terus menundukkan kepalanya.


"Apa dia memata mataiku? Siapa dia?" Batin Olive menatap seseorang yang duduk cukup jauh darinya.


"Kenapa ngelamun?" Tanya Sean membuyarkan pikiran Olive


"Ah.. Eng-gak, Ga papa. Ayo kak." Balas Olive, lalu mengajak Sean untuk segera melangkah keluar cafe


"Ha?! Kak?" Pekik Sean dengan sebutan yang Olive berikan

__ADS_1


"Kenapa? Ga suka? Apa maunya di panggil bapak hmm?" Balas Olive sedikit menggoda


"Ya enggak lah. Enak aja panggilnya bapak. Emang aku udah tua apa?!" Tukas Sean


"Mungkin." Cetus Olive dengan entengnya, kemudian dia pun berjalan mendahului Sean


"Hufftt... Sabaaarrr." Ucap Sean lalu berjalan menyusul kepergian Olive


*****


Diperjalanan pulang menuju mansion Olive. Dalam mobil Sean hanya terjadi hening saja, Karena Sean fokus menyetir sedangkan Olive bergulat dengan pikirannya sendiri.


"Aku yakin banget, pria di Cafe itu terus memperhatikan ke arah meja aku sama kak Sean. Apa mau dia sebenarnya? Apa jangan-jangan dia tahu kalo aku itu Queen Phoenix? Akh... kayaknya ga mungkin deh. Tapi kalo dia bukan memata mataiku, itu berarti dia... Hah?! Dia memata matai.... Kak Sean." Batin Olive menerka nerka, seketika ia pun menatap Sean dari arah sampingnya


"Jangan diliatin terus. Aku tau, aku ganteng." Celetuk Sean menggoda Olive


"Aishh.. Ge-er amat jadi orang. Siapa juga yang liatin?!" Kesal Olive langsung memalingkan wajahnya untuk tidak menatap Sean lagi


"Udah ketangkep basah, gak ngaku lagi." Goda Sean terus menerus tapi masih fokus menyetir


"Udah dibilangin aku ga liatin kamu. Aku tuh tadi..." Ucapan Olive menggantung karena ia hampir saja keceplosan jika tadi di cafe ada mata-mata


"Tadi apa?"


"Gak, ga papa. Ga penting juga." Jawab Olive dengan cepat


"Hufftt... Serah kamu dah."


"Huh... Kenapa coba aku harus berurusan sama tentara tengil ini? Mana PDnya tingkat dewa lagi. Tuhan, berikan hambamu kesabaran untuk menghadapinya." Batin Olive menggerutu ga jelas


Sesampainya di Mansion Olive...


Sean hanya memarkirkan mobilnya di depan pagar mansion karena atas permintaan Olive.


"Sama bang Genta dan kak Shifa." Balas Olive


"Oh, yaudah. Aku pergi dulu." Pamit Sean tiba tiba


"Euummm... makasih atas tumpangannya."


"Ga usah makasih. Lagian aku juga yang nawarin."


"Aku pulang yah." Lanjut Sean dan mendapat anggukan dari Olive. Sean pun segera masuk kedalam mobilnya.


"Dah, jangan rindu yah. Kata Dilan, Rindu itu berat." Goda Sean di dalam mobilnya sembari melambaikan tangan pada Olive


"Ck... Ternyata kakak tentara satu ini jago banget gombalnya." Tukas Olive


"Siapa yang gombal. Aku cuma mengingatkanmu apa kata Dilan." Balas Sean dengan watadosnya membuat Olive memutar bola matanya malas


"Udah sana pergi. Katanya mau pergi." Usir Olive


"Idih ngusir lagi."


"Emang."


"Hufttt... Oke. Bye." Tukas Sean kemudian dia langsung menancap gas mobilnya untuk segera pergi dari sana


"Hahaa... Kak Sean lucu juga. Aku kira tentara itu dingin plus datar, tapi dia beda." Ucap Olive terkekeh geli ketika mengingat kelakuan Sean


"Cie.. ciee.... Ada yang jatuh cinta nih." Goda seseorang tiba tiba sudah berdiri disamping Olive


"Hah?! Kak Shifa. Sejak kapan kakak disini?" Pekik Olive


"Sejak kamu bilang kalo dia itu beda dari tentara lain." Balas Shifa datar

__ADS_1


"Eng-enggak kok. S-Siapa yang bilang itu? Aku ga pernah mengatakannya." Elak Olive kemudian langsung berjalan melewati pagar untuk masuk ke dalam mansion


"Ck... Ga ngaku." Seru Shifa mulai melangkah untuk menyusul Olive dan menyejajari langkahnya


"Euumm... Dia pacar kamu yah?" Tanya Shifa tiba tiba


"Ya enggak lah, mana mungkin aku pacaran sama dia." Bantah Olive


"Serius? Tapi kok kamu bisa deket sama dia? Bahkan sampai di anterin ke rumah." Goda Shifa terus menerus


"Tadi tuh ga sengaja ketemu di jalan." Balas Olive tanpa menghentikan langkahnya


"Gak sengaja ketemu? Jangan-jangan jodoh lagi." Goda Shifa tiada hentinya


"Iihh kak Shifaaa apaan sih.." Kesal Olive, seketika Shifa berlari kecil dan Olive juga langsung mengejarnya karena kesal terus digoda


"Ciee... Gebetan baru nih yee..." Ejek Shifa


"Dia bukan gebetan aku kak. Sini gak? Jangan lari..." Bantah Olive berusaha mengejar Shifa


"Oh ya? Masa?!"


Ya begitulah mereka berdua, jika bersama memang selalu bercanda ria. Bahkan kedekatan mereka berdua sudah seperti sebuah keluarga yang sangat harmonis.


"Ini ada apaan sih? Kayaknya seru banget." Seru Genta tiba tiba, seketika Shifa pun berlindung di belakang tubuh Genta agar Olive tidak lagi mengejarnya


"Kak Shifa tuh bang yang mulai." Ujar Olive mengadu


"Emang ada apa?" Tanya Genta lembut


"Tadi kan aku pulangnya di anterin sama cowok, eh.. Kak Shifa malah godain aku terus, kalo cowok itu gebetan aku. Ya aku ga terima dong." Jelas Olive


"Mobil kamu kemana?"


"Mobil aku lagi di pinjem sama Yuki dan Via. Jadi cowok itu nganterin aku pulang."


"Ohh, siapa cowoknya?" Tanya Genta lagi


"Cowoknya itu tentara yang waktu itu ada di pemakaman mommy sama daddy." Bukan Olive yang menjawab melainkan Shifa, seketika Genta berpikir sejenak untuk mengingat wajah tentara yang di maksud


"Hah?! Cowoknya salah satu tentara itu? Bagaimana bisa kamu dekat dengannya? Kenapa kamu tiba tiba di antar pulang? Kalian kenal darimana? Perasaan kamu ga pernah dianterin cowok pulang. Apa kalian berdua jadian? Pacaran? Kamu beneran pacaran sama dia yah? Kok abang gak tau?" Pekik Genta langsung menghujani Olive dengan berbagai pertanyaan


Hal itu tentu membuat Olive semakin kesal setengah mati. Bagaimana tidak? Bukannya membelanya, kakaknya itu malah ikut ikutan menggoda dirinya. Sedangkan Shifa malah terkekeh geli melihat semua itu.


"Iihhh... Bang Genta mah, sama aja kayak Kak Shifa." Kesal Olive menghentakkan kakinya dan langsung bergegas pergi menuju kamarnya


"Loh, kenapa? Kalo pacaran beneran juga gak papa dek." Goda Genta yang hanya melihat punggung Olive


"Au ah..." Tukas Olive sembari menaiki tangga


"Hahhaa... Kamu ini. Udah tau dia lagi kesal, malah dibikin tambah badmood." Tawa Shifa seketika pecah setelah Olive sudah memasuki Kamar


"Kamu juga. Iseng banget sih godain dia." Balas Genta terkekeh


"Habisnya dia lucu kalo lagi badmood gitu. Hahaa.."


"Hahah.. Iya juga yah."


**Bersambung...


...----------------...


Jangan lupa kasih Like dan Komentarnya yaa...


Salam manis dari author**...

__ADS_1


__ADS_2