
Kini di taman belakang kantor kemiliteran terlihat Sean yang sedang merenung sendirian sembari kedua tangan melipat di perutnya dan duduk bersender di kursi panjang.
"Queen Phoenix... Kenapa aku merasa gak asing yah sama dia, apa mungkin aku mengenalnya?" Batin Sean berpikir keras
"Ah, rasanya mustahil jika aku kenal dia. Tapi dia benar-benar mirip sama seseorang, lebih tepatnya... Olive." Lanjutnya ngebatin
"Astaga, mikir apa sih aku ini. Bisa bisanya ngira Queen Phoenix itu Olive. Olive kan sifatnya unik, lucu, gemesin, walau kadang jutek dan dingin. Sedangkan Queen Phoenix itu kejam, sadis, keras kepala, pshyco lagi, tapi dia aslinya baik sih." Batinnya sembari menggelengkan kepalanya dengan cepat
"Queen Phoenix, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku sangat yakin kalau kau adalah orang baik, tapi kenapa kau jadi seperti ini? Apa masalahmu sangatlah berat? Coba aja kau jujur tentang semuanya, aku pasti akan membantumu jika memang kau tidak bersalah." Batinnya lagi dan lagi
Disaat Sean sedang bergulat dengan pikirannya sendiri, tanpa ia sadar di belakangnya ada Nicko dan David. Tadinya mereka berdua tak sengaja melihat Sean yang merenung, akhirnya merekapun memutuskan untuk menghampirinya.
Saat berjalan mendekat, Nicko memberi isyarat tertentu pada David. Setelah itu, Nicko menghitung mundur tapi tanpa mengeluarkan suara. Dan....
Dorrr
"He'eh Queen Phoenix." Kaget Sean melatah karena di kejutkan oleh kedua sahabatnya
Tadinya mereka berdua ingin tertawa, tapi mendengar nama yang di sebutkan Sean membuat mereka cukup terkejut dan tidak jadi tertawa.
"Apa?! Queen Phoenix? Kau sedang memikirkannya?" Tanya David sembari duduk di samping Sean
"Huh, bisa gak sih jangan ngagetin." Ketus Sean tapi tak di hiraukan mereka
"Jawab pertanyaanku tadi." Desak David karena Sean belum menjawabnya
"Ak-..." Belum sempat Sean menjawab tiba tiba di dela terlebih dahulu sama Nicko
"Jangan-jangan kau berpaling dari Olive ke Queen Phoenix lagi." Seru Nicko menatap Sean penuh selidik
"Huss... Ngawur kamu. Masa iya Sean berpaling dari Olive sih. Enggak mungkin lah." David yang menjawab sembari memukul bahu Nicko
"Ya lagian ngapain coba dia mikirin Queen Phoenix?" Tanya Nicko
"Aku penasaran siapa dia sebenarnya dan apa alasan dia sampai terjun ke dunia bawah yang pastinya sangat berbahaya." Balas Sean yang hanya menatap lurus ke depan
"Kalau dia memang terpaksa, terus siapa yang jadi musuh bebuyutannya?" Lanjut Sean berpikir keras
"Apa mungkin musuhnya juga mafia?" Celetuk David menebaknya
"Mafia?!" Gumam Sean
"Ya, mungkin aja. Itu hanya tebakanku saja, bisa benar bisa juga salah." Balas David menggidikkan bahunya, seketika hanya terjadi hening diantara mereka karena mereka semua bergulat dengan pikirannya sendiri-sendiri
Ting
Suara pesan masuk dari ponsel seseorang yang tak lain adalah ponsel milik Sean. Sean pun segera mengambil ponsel di sakunya dan mulai membaca pesan tersebut, sedangkan kedua temannya hanya memperhatikan saja.
...From 0833********...
...Jangan lupa besok malam pukul 9 pm di gudang kosong jln rrr. Kau hanya di perbolehkan membawa dua teman saja, tidak lebih....
...Jangan pernah berpikir untuk menjebakku atau kau tanggung akibatnya...
...*Dan b**ersiaplah, sepertinya kita akan kedatangan tamu spesial*...
...~ Queen Phoenix...
Seketika raut wajah Sean berubah dan membuat kedua sahabatnya mengerutkan keningnya bingung.
"Tamu spesial? Siapa?" Batin Sean kebingungan
__ADS_1
"Dari siapa? Kok muka kamu berubah gitu?" Tanya David penasaran
"Berubah gimana? Jadi monster gitu?" Balas Sean dengan entengnya
"Gak usah bercanda, aku nanyanya serius." Kesal David
"Dari Queen Phoenix." Jawab Sean
"Hah?! Queen Phoenix? Dia ngirim pesan apa?" Tanya Nicko cukup terkejut
"Dia cuma ngingetin kalo besok malam kita akan bertemu." Balas Sean
"Nanti kalian berdua ikut aku menemuinya." Lanjutnya
"Kita? Cuma kita bertiga aja?" Pekik Nicko
"Iya, kenapa?" Bingung Sean
"Ya ampun Sean, masa iya kita cuma datang bertiga, sedangkan kita aja gak tau dia bawa pasukannya apa enggak. Gimana kalo dia mau celakain kita, mau buat kita jadi samsaknya, mau jadiin kita tahanan, gimana kalo itu terjadi? Aku gak mau mati muda, aku belum punya gebetan apalagi pacar. Aku kan juga pengin nikah kali, Bla.. bla... bla..." Nyerocos Nicko gak jelas membuat Sean dan David merasa jengah mendengarnya
"Shuutttt... Kamu cerewet banget sih." Kesal David yang hanya di balas cengiran kuda dari Nicko
"Bukan cerewet, tapi waspada aja sebelum kejadian. Ini demi masa depanku." Balasnya menyengir gak jelas
"Tenang aja, Queen Phoenix gak mungkin berkhianat. Tapi..." Ucap Sean sengaja menggantung karena bingung untuk mengucapkannya
"Tapi apa?" Tanya David menatap Sean penasaran begitupun dengan Nicko
"Dalam pesannya dia mengatakan kalo kita akan kedatangan tamu spesial." Balas Sean
"Tamu spesial gimana maksudnya, aku gak ngerti." Cetus Nicko
"Menurutku maksud dia itu kemungkinan akan ada musuh yang datang saat kita bertemu dengannya." Jawab Sean
"Hmm." Balas Sean mengangguk
"Jadi maksudnya akan ada yang mengganggu pertemuan kita?" Tanya Nicko untuk memastikannya.
"Bisa jadi, tapi aku sendiri gak tau siapa yang ia maksud." Jawab Sean
"Tapi kenapa Queen Phoenix bisa tau tentang itu?" Tanya David
"Entahlah." Jawab Sean menggidikkan bahunya dan seketika mereka semua bergulat dengan pikirannya.
Di tempat lain
Kini Shifa sudah kembali ke mansion, sedangkan Genta kembali bekerja. Awalnya Genta menolak untuk kembali ke perusahaan, tapi Shifa memaksanya untuk bekerja. Karena Shifa tau jika saat ini banyak meeting penting di perusahaan, jadi dia tidak mau egois dengan menahan Genta disana.
Saat ini Olive dkk dan Shifa sedang berkumpul di ruang santai keluarga. Mereka hanya meluangkan waktu bersamanya dengan bercanda ria.
"Kak..." Panggil Olive
"Iya." Balas Shifa menatapnya
"Kakak gak akan jauhin aku sama anak kakak nanti kan?" Tanya Olive sedikit sendu
"Kamu mikir apa sih?! Masa iya kakak jauhin kamu sama ponakan kamu sendiri." Balas Shifa
"Aku kira kakak bakal lakuin itu karna aku..." Belum selesai Olive berucap tapi sudah di sela oleh Shifa
"Sudah kakak bilang, mau kamu jadi seperti apapun kamu tetep adik kakak yang baik, kamu tetep Olive yang seperti kakak kenal dulu dan kakak gak akan pernah merubah pendapat kakak tentang kamu sedikitpun." Ucap Shifa tersenyum tulus
__ADS_1
Greb
"Makasih kak, makasih. Aku beruntung banget punya kakak ipar seperti kakak." Ujar Olive tersenyum senang sembari memeluk Shifa
"Kakak juga beruntung punya adik seperti kamu." Balas Shifa
"Oh ya, aku mau minta izin sama kakak." Pinta Olive sambil melepas pelukannya
"Ijin? Buat?" Tanya Shifa
"Besok malam aku, Via sama Yuki mau keluar." Seru Olive yang diangguki kedua sahabatnya
"Kenapa minta ijinnya sekarang? Kan keluarnya besok." Tanya Shifa
"Ya pengin aja, dan aku juga minta kakak buat ijinin aku ke bang Genta. Soalnya kalo aku ijin keluar malam pasti gak di bolehin."
"Emang kalian mau kemana?"
"Ada urusan penting." Jawab Olive singkat
"Apa jangan-jangan kalian mau..." Seru Shifa menatap Olive penuh selidik dan menggantungkan ucapannya
"Ya enggak lah, orang tadi malam juga baru lakuin itu." Celetuk Via langsung mendapat tatapan tajam dari kedua sahabatnya
"Upss... Sorry, keceplosan." Ucap Vi menutup mulutnya sendiri membuat Olive memutar bola matanya malas
"Ember banget tuh mulut." Cibir Yuki
"Namanya juga keceplosan ya berarti gak sengaja." Seru Via membela dirinya sendiri
"Haiishhh... Kalian beneran lakuin itu?" Tanya Shifa memijit pelipisnya sendiri
"Iya kak." Jawab Olive cengengesan
"Kita tiap weekend nyerang mafia lain, biar kita bisa jadi yang nomor satu dan bisa melawan mereka (The Scorpion King)" Lanjut Olive pelan
"Hufftt... Sampe segitunya kamu pengin bales dendam." Ucap Shifa
"Kakak ngijinin kamu kalo mau lakuin apapun itu, tapi kamu harus janji. Jangan sampai terluka, kalo sampe terluka maka kakak akan maksa kamu buat berhenti." Seru Shifa penuh ketegasan
"Aku gak akan terluka, kakak tenang aja."
"Eh, kalo besok malam bukan untuk itu, lalu untuk apa kalian keluar?" Tanya Shifa lagi
"Kita ada janji sama seseorang."
"Siapa?"
"Kakak akan tau nanti. Yang pasti pertemuan ini akan merubah semuanya lebih baik lagi." Balas Olive tersenyum penuh arti
Shifa sebenarnya masih ingin bertanya, tapi dia tahu pasti jika Olive akan melakukan yang terbaik buat semuanya.
"Heh... Sepertinya kau akan jadi tamu spesial. Mari kita liat, siapa yang lebih cerdik dan licik. Kau atau aku... Queen Phoenix." Batin Olive mengeluarkan senyuman smirk khasnya
"Aku baru liat Olive tersenyum seperti itu. Hmm... Sebenarnya aku gak setuju jika Olive terjun ke dunia bawah karna itu sangat berbahaya, tapi jika aku larang pun akan percuma. Aku hanya bisa berharap kamu akan baik-baik aja Olive." Batin Shifa menatap Olive sedikit sendu.
**Bersambung...
...----------------...
Jangan lupa LIKE, COMMENT and VOTE
__ADS_1
Salam manis dari author**...