
Skip pulang sekolah...
Bel pulang sekolah berbunyi cukup nyaring yang seketika membuat para siswa berhamburan keluar kelas untuk segera pulang ke rumah masing-masing.
"Hufftt... Males banget tau. Masa iya bu Kinan ngasih tugas banyak banget. Emang di kira tugasnya hanya dia aja apa?!" Gerutu Yuki sembari berjalan keluar kelas bersama dengan kedua sahabatnya
"Biasalah. Kaya ga tau bu Kinan aja, kan hobi dia nyiksa batin muridnya." Timpal Via
"Bukan batinnya aja, tapi fisiknya juga. Kalo ga ngerjain pasti hukumannya lari keliling lapangan. Lapangan disini kan gedenya minta ampun." Cetus Olive dengan nada kesalnya
Saat mereka baru beberapa langkah dari pintu keluar, tiba tiba saja...
"Awaas.. Minggir.. minggir.." Seru seseorang menerobos jalannya Olive dkk, dan membuat mereka terpaksa menyingkir untuk memberinya jalan
"Haiishh.. Tuh anak main nyelonong aja." Kesal Via
"Sorry... Gak kuat nahannya." Balas orang itu sembari berlari menjauh, dia ternyata adalah Arkan
"Tuh anak kenapa coba? Perasaan dari tadi dia bolak balik ke toilet mulu." Ucap Yuki
"Ya mana aku tahu. Tanya aja sama orangnya langsung." Celetuk Via
"Males pake banget. Penting juga enggak!" Ketus Yuki
"Apa dia sakit perut gara gara tadi? Emang aku kelewatan banget yah ngerjainnya?" Batin Olive sedikit merasa bersalah
"Eummm... Guys, kalian jalan duluan aja. Aku mau ke toilet sebentar." Ucap Olive
"Gak mau kita antar?" Tawar Via
"Aku bukan anak kecil kali, aku bisa sendiri." Balas Olive memutar bola matanya malas
"Oh yaudah, kita tungguin kamu di parkiran. Jangan lama-lama, karna aku ga suka menunggu. Apalagi menunggu tanpa adanya kepastian Eeaaaa..." Seru Yuki mendramatisir
"Yaelah Yuk. Kenapa malah curhat sih?! Aku tau kamu tuh ga pernah di kasih kepastian, tapi ga gini juga kali." Tukas Via dengan nada mengejeknya
"Bukannya ga ada kepastian, tapi belum ada yang pasti aja Hehee.." Balas Yuki cengengesan gak jelas
"Ckck... Aku baru tau, ternyata sahabat aku bucin pake banget. Sedangkan satunya malah polosnya minta ampun." Cetus Olive
"Darimana aja kamu? Dia kan emang dari brojol udah bucin." Celetuk Via dengan entengnya
"Situ juga, polosnya kebangetan. Kerjaannya bikin orang greget." Seru Yuki
"Ga papa polos, tapi bukan budak cinta." Cetus Via
"Hahhaaa..." Tawa Olive dan Via namun sedikit pelan
"Hufftt... Keknya kalian puas banget yah ngejekin aku?" Tukas Yuki
"Emang. Hahahaa..." Balas Olive dan Via disertai tawa khasnya
"Udah ah, aku mau ke toilet sekarang. Bisa-bisa gigi aku kering karna ketawa terus." Seru Olive setelah menghentikan tawanya
"Ingat. G.P.L." Seru Yuki menekankan kata katanya
"Iya Yuki sayang. Bawel banget sih." Ujar Olive sembari mencubit pipi Yuki sebelah kanan
"Awwss... Kasian banget pipi chubby aku jadi merah kan." Kesal Yuki mengelus pipinya
"Hehee.. Aku ke toilet dulu." Ucap Olive menyengir kuda, setelah itu dia langsung bergegas pergi dari sana
"Yuk." Ajak Yuki dan mendapat anggukan kepala dari Via, kemudian merekapun segera menuju ke parkiran sekolah.
*****
__ADS_1
"Huffftt... Akhirnya lega juga." Ucap seseorang setelah keluar dari toilet. Dia tak lain dan tak bukan adalah Arkan
"Masa iya King dari segala King dalam mafia, di kerjain sama seorang badgirl?! Oh No. Mau taruh dimana muka ku ini? Ini sangat memalukan." Batin Arkan
"Ugghh... Haruskah lagi dan lagi?!" Saat hendak melangkah, tiba tiba saja Arkan merasa perutnya kesakitan lagi dan dia langsung kembali masuk ke dalam toilet tersebut
Beberapa menit kemudian...
Ceklek
Suara pintu toilet di buka oleh seseorang, siapa lagi kalau bukan Arkan orangnya.
"Sumpah, ini ke tujuh kalinya aku bolak balik ke toilet gara gara diare." Ucapnya menggerutu sembari mengelus perutnya sendiri
"Nih..." Tiba tiba saja ada seseorang yang memberikan sesuatu pada Arkan
"Olive. Apa ini?" Tanya Arkan cukup terkejut melihat kehadiran Olive disana
"Buat kamu." Balasnya singkat dan Arkan pun langsung menerima kresek hitam pemberian Olive
"Air minum? Obat? Untuk apa?" Ucap Arkan terheran setelah melihat isinya
"Hufftt... Masa iya harus aku jelasin kalo air minum ya untuk di minum, kalo obat ya untuk menyembuhkan penyakit. Gitu aja gak tahu." Ketus Olive menjelaskannya
"Aku tau lah. Tapi kenapa tiba tiba kamu memberikan ini sama aku?"
"Ya untuk mengobati diare kamu." Balas Olive membuat Arkan sedikit tersenyum senang
"Jangan Geer yah. Aku bukannya perhatian sama kamu, tapi aku hanya ingin bertanggungjawab karna sudah buat kamu makan bakso pedes pas istirahat tadi. Kamu diare karna itu kan?" lanjut Olive memasang wajah datarnya
"Tunggu, aku belum percaya sepenuhnya sama kamu. Bisa aja kan kalo kamu mau ngerjain aku lagi lewat minuman ini." Ucap Arkan menatap Olive penuh selidik
"Oh, jadi kamu nuduh aku yang enggak-enggak gitu?! Oke Fine, sini obat sama minumannya. Biar aku berikan sama orang yang lebih membutuhkan." Kesal Olive berniat mengambil kresek dari tangan Arkan
"Tapi kamu beneran gak ngerjain aku lagi kan?" Tanya Arkan lagi dan lagi membuat Olive merasa jengah
"Hmm..." Hanya deheman saja dari Olive
Setelah itu Arkan langsung memakan obatnya langsung dan juga meminum minumannya.
"Niatnya sih mau aku kasih racun tikus, biar gak ada hama lagi." Celetuk Olive dengan watadosnya sembari berjalan menjauh dari tempat Arkan berdiri
Uhuk.. uhuk...
Sontak Arkan yang mendengar itu langsung tersedak minumannya sendiri dan dia langsung menatap Olive dengan tajam, meskipun hanya terlihat punggungnya saja.
"Heii... Kau mau membunuhku yah?!" Seru Arkan tapi sama sekali tak di hiraukan Olive karena dia terus berjalan sembari tersenyum jail
"Hmm... Walaupun ngeselin tapi dia perhatian juga." Gumam Arkan tanpa sadar tersenyum tipis
Saat dia sedang mengedarkan pandangannya, ia melihat dua orang yang cukup di kenalnya sedang menatap dirinya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Ck... Ternyata ada yang menguntitku?" Batin Arkan tersenyum smirk kemudian dia berjalan menuju dua orang itu
"Selamat siang pak Devan, kak Santoso." Sapa Arkan setelah berada di hadapan mereka
"Siang. Kamu tau nama kami? Bukannya kamu siswa baru?" Tanya David terheran
"Tentu saja saya tahu. Bukankah pak Devan cukup terkenal di seluruh penjuru sekolah ini? Apalagi Kak Santoso. Benarkan?" Balasnya tersenyum penuh arti sembari menatap Sean
"Saya rasa saya tidak seterkenal itu." Balas Sean dengan santainya
"Tapi nama Kak Santoso begitu familiar disini, apalagi bagi Olive." Ujar Arkan
"Olive?"
__ADS_1
"Ya, Olive. Saya dengar dari siswa sini, kak Santoso sama dia cukup dekat, bahkan pernsh berangkat bareng. Eumm... apa kalian itu pacaran?"
"Hah?! Ti-tidak. Kita tidak pacaran. Waktu itu motor saya mogok, dan kita ga sengaja ketemu. Jadi dia berinisiatif memberikan tumpangan pada saya."
"Oh begitu yah. Berarti Olive belum ada yang punya dong. Hmm... Boleh juga. Kayaknya aku harus pdkt sama dia. Apalagi dia sangat cantik dan mempesona." Gumam Arkan yang sengaja untuk memanas manasi Sean
"Hufft.... Kenapa aku tidak suka mendengar dia ingin mendekati Olive? Ada apa denganku?" Batin Sean
"He eh... Bagaimana kapten? Permainannya semakin seru bukan?" Batin Arkan tersenyum smirk saat melihat ekspresi kecemburuan Sean
"Baiklah, kalau begitu saya mohon pamit." Pamit Arkan tiba tiba
"Ya. Kamu hati hati." Jawab David
"Tentu saya akan berhati hati pak. Saya kan akan bermain dengan teman saya." Balas Arkan tersenyum penuh arti dengan melirik Sean sekilas
"Hmm.. Saya permisi pak Devan, kak Santoso." Lanjutnya kemudian segera pergi dari sana dengan terus tersenyum penuh arti
"Kau kenapa? Kok kayaknya ga suka sama dia?" Tanya David tiba tiba
"Aku suka-suka aja kok." Balas Sean dengan santainya
"Ohh... Apa jangan-jangan kamu cemburu lagi sama dia?" Tanya David menebaknya
"Cemburu? Siapa yang cemburu coba? Lagian Olive bukan siapa-siapanya aku, jadi gak ada alasan buat aku cemburu." Tukas Sean sembari berjalan menjauh dari sana
"Kalo cemburu bilang aja kali, ga usah ngeles gitu." Goda David menyejajari langkah Sean
"Aku gak cemburu." Seru Sean tanpa menghentikan langkahnya
"Cemburu?"
"Enggak!"
"Iya."
"Enggak."
"Iya."
"Enggak."
"Enggak?!"
"IYA." Seru Sean tanpa sadar sembari menghentikan langkahnya dan menatap David
"Hah?! Beneran? Kamu suka sama dia?" Pekik David
"Haishh.. A-Apaan sih. A-Aku tuh tadi salah ngucap aja, lagian kamu yang jebak aku untuk mengatakan Iya." Balas Sean sedikit gugup
"Masa sih?!" Tanya David dengan nada tak percayanya
"Au ah... Terserah kau saja." Ketus Sean kemudian kembali melanjutkan langkahnya dengan langkah sedikit cepat daripada tadi
"Pfftt... Gengsi kamu kegedean. Awas, nanti di embat orang loh." Seru David menggoda dengan hanya melihat punggung Sean
Sean yang mendengar celotehan David hanya memasang wajah datarnya saja. Padahal dalam hatinya, ia sangatlah ingin menyumpal mulut sahabat lucknutnya itu agar berhenti menggodanya.
**Bersambung...
...----------------...
Jangan lupa LIKE, COMMENT & VOTE Yaaaa....
Salam manis dari author**...
__ADS_1