
Skip esok hari...
Kini di SMA Garuda Bangsa, terlihat beberapa siswa yang sedang melakukan olahraga di lapangan sekolah. Mereka tak lain dan tak bukan adalah kelas XI IPA 1, kelas Olive dkk.
"Sebelum olahraga, kita pemanasan terlebih dahulu. Agar tidak terjadi hal hal yang tidak di inginkan. Mengerti?" Tegas Sean
"Mengerti kak." Balas mereka serempak
"Ikuti gerakan saya dengan benar, jangan pernah menyepelekan pemanasan ini." Seru Sean
Mereka semua pun mulai melakukan pemanasan dengan di pimpin oleh Sean secara langsung.
"Baiklah, sekarang untuk siswi putri silahkan untuk bermain bulutangkis, sedangkan putra basket." Titah Sean setelah selesai pemanasan
"Kak..." Seru salah satu siswa mengangkat satu tangannya
"Iya, kenapa Arkan?" Tanya Sean
"Saya mau duel sama dia, apa boleh?" Balas Arkan menunjuk siswa
"Wahhh... Dia nantangin kamu tuh Van." Cetus Dion
"Siapa takut? Ayo." Tantang Elvan tanpa keraguan sedikitpun dan hanya di balas senyuman sinis dari Arkan
"Oke, kalian boleh duel." Seru Sean memutuskan
"Tapi bermainlah dengan sportif, jangan sampai melakukan kecurangan atau berusaha mencelakai lawan. Bagaimana?" Lanjut Sean
"Tak masalah." Seru Arkan
"Kalau saya tentu sportif, tapi kalau dia... Kayaknya susah." Ucap Elvan berniat mengejek
"Kita liat nanti." Seru Arkan penuh keyakinan
"Sekarang kalian berdua bersiap. Dan bagi yang ingin menonton silahkan saja, tapi jangan terlalu membuat kegaduhan." Seru Sean
"Baik kak." Balas mereka
Kemudian Elvan dan Arkan pun mulai mengambil posisi masing-masing untuk memulai pertandingan. Sedangkan siswa disana lebih memilih untuk menonton ketimbang berolahraga sendiri.
"Liv, kita nonton atau..." Belum sempat Yuki bertanya, tapi sudah di sela oleh seseorang
"Kantin aja. Males banget liat gituan, kek anak kecil tau gak?!" Seru Olive
"Tapi kan mereka bukan anak kecil Liv." Cetus Via cengo membuat kedua sahabatnya menatapnya penuh arti
"Apa? Yang aku katakan, benerkan?" Tanya Via
"Iya bener. Benernya kebablasan." Balas Yuki menahan kekesalannya
"Udah ah, kantin kuy." Seru Olive kemudian ia hendak pergi menuju kantin sekolah
"Eh.. Gak ijin dulu sama kak Santoso?" Tanya Yuki
"Kamu aja yang minta ijin." Titah Olive
"Gak ah. Kamu aja Vi." Tolak Yuki
"Kok aku? Ga mau ah. Kamu aja Liv, kamu kan deket tuh sama kaka Santoso." Balas Via menunjuk Olive dengan dagunya
"Deket dari mananya? Perasaan biasa aja deh." Tukas Olive
"Ya deketlah. Buktinya aja, kak Santoso punya nomor kamu. Kalo bukan kamu yang ngasih, terus siapa lagi?" Seru Via
"Ya mana aku tau. Aku aja agak kaget waktu semalam dia nelfon." Seru Olive menggidikkan bahunya
"Jadi gak nih ke kantin? Kok malah ribut terus?" Celetuk Yuki
"Jadi lah." Balas Olive dan Via bersamaan
"Hufftt... Oke, aku yang minta izin." Pasrah Olive
"Gitu kek dari tadi." Seru Yuki
Tanpa menunggu lama lagi, Olive langsung bergegas menghampiri Sean yang saat ini sedang berada di pinggir lapangan basket untuk memperhatikan pertandingan antara Elvan dan Arkan.
"Kak..." Panggil Olive setelah berada di sampingnya
"Iya, kenapa Liv?" Tanya Sean
__ADS_1
"Aku, Yuki sama Via minta izin buat ke kantin. Apa boleh?" Pinta Olive
"Kan belum waktunya istirahat." Jawab Sean
"Tapi kami jenuh disini, apalagi cuma merhatiin mereka aja. Bosen."
"Huffftt... Oke, kalian boleh ke kantin." Seru Sean
"Beneran kak?" Tanya Olive untuk memastikannya
"Iya, beneran. Masa bo'ongan." Balas Sean
"Makasih kak. Kalo gitu, aku pergi dulu." Seru Olive tersenyum senang kemudian langsung pergi dari sana
"Senyumannya manis banget." Batin Sean tanpa sadar tersenyum tipis
"Guys... Udah di bolehin sama kak Santoso. Jadi kita bisa ke kantin." Ucap Olive menghampiri kedua sahabatnya
"Kuy lah." Ajak Via
"Eh.. Tunggu deh." Seru Yuki tiba tiba
"Apalagi sih Yuk? Kita kan udah minta ijin." Kesal Olive
"Tau nih Yuki. Tadi suruh minta ijin, giliran udah di kasih malah bingung lagi. Kenapa sih." Timpal Via
"Aku heran aja." Ucap Yuki kebingungan
"Heran kenapa?" Tanya Olive
"Sejak kapan kita minta ijin? Biasanya juga main cabut aja. Kalo enggak ya, paling drama dikit lah." Ujar Yuki menerka nerka
"Iya juga yah. Kenapa harus minta ijin?" Timpal Via
"Gak papa lah, sekali kali sopan dikit sama guru." Cetus Olive
"Sekali kali? Berarti besoknya..." Seru Yuki tersenyum penuh arti dengan menggantungkan ucapannya
"Main lagi." Seru Olive dkk bersamaan
"Hahahaaa..." Tawa kecil Olive dkk
Di lapangan basket terlihat pertandingan antara Elvan dan Arkan berlangsung sengit. Kini bola basket berada di tangan Arkan yang melakukan dribbling untuk melewati Elvan.
"ARKAAANN Wuuuhhhh....." Seru beberapa siswa disana sembari bertepuk tangan
"ELVAAANN GOOO....." Seru beberapa siswa lainnya
"Heh... Kau pasti akan kalah." Sinis Arkan sembari memantulkan bolanya dan menatap tajam Elvan
"Ck... Kau terlalu percaya diri." Balas Elvan tak kalah sinis
Dengan gerak cepat, Elvan berhasil merebut bolanya dari tangan Arkan.
"Shiitt..." Kesal Arkan, kemudian dia bersiap menghadang Elvan
"Sepertinya kau memang sengaja menantangku. Apa karna Olive?" Tanya Elvan terus memantulkan bolanya
"Heh... Kau cerdik juga." Balas Arkan berhasil merebut bolanya
"Akhh..." Kesal Elvan
"Hm... Bagaimana jika kita taruhan?" Usul Arkan
"Taruhan?"
"Ya, yang kalah harus jauhin Olive selamanya. Bagaimana?" Jawab Arkan tersenyum smirk
"Kau sangat terobsesi yah sama Olive." Seru Elvan yang kini bolanya berada di tangannya
"Kau juga. Bukankah kau selalu mengejarnya Hmm?" Balas Arkan
"Baiklah, aku setuju." Seru Elvan tanpa keraguan sedikitpun
"Heh... Kau akan menyesal." Seru Arkan dan langsung merebut bola dari tangan Elvan kemudian mendribblingnya sampai mendekati ring
"Apa apaan ini? Kenapa tiba tiba mereka taruhan? Pake bawa-bawa Olive lagi." Batin Sean cukup terkejut
"Wahh... Kayaknya semakin seru."
__ADS_1
"Rupanya mereka mengincar Olive."
"Kira kira siapa pemenangnya yah?"
Begitulah sekiranya bisikan para siswa yang berada di area lapangan bola basket saat mendengar percakapan Arkan dan Elvan.
"Hei... Kalian tanding ya tanding aja, jangan pakai taruhan segala." Seru Sean tapi tak di hiraukan mereka berdua
"Ck... Mereka susah benget di aturnya." Batin Sean kesal
Di kantin...
Olive dkk sedang bersantai memakan makanan yang di pesannya di kantin sekolah.
"Hahaa... Mukanya jangan kek gitu, gak pantes tau." Tawa Via pecah ketika melihat Yuki yang manyun karena dibuat kesal oleh kedua sahabatnya
"Jangan manyun, entar ada cogan lewat jadi ilfil lagi. Heheh..." Ejek Olive
"Aisshh... Di sekolah ini gak ada cogan, adanya playboy semua." Tukas Yuki
"Eh... Menurut kamu siapa pemenangnya? Elvan atau Arkan?" Tanya salah satu siswa pada temannya sembari berjalan ke kantin
"Gak tau juga sih, tapi aku gak nyangka, mereka jadiin Olive taruhan." Balas temannya
"Maksud kalian apa? Kenapa nyebut nama aku?" Tanya Olive tiba tiba mendengar ocehan siswa tersebut meski samar
"O-Olive... Maaf, kita ga bermaksud ghibahin kamu." Ucap siswa itu cukup terkejut karena tak menyadari keberadaan Olive dkk disana
"Terus, tadi maksudnya apa?" Tanya Via
"I-itu, Arkan sama Elvan tanding basket dengan menjadikan kamu taruhannya." Ujar siswa 2
"What?!" Pekik Olive dkk
"Yang kalah harus jauhin kamu." Ujarnya lagi
Tanpa menunggu lama lagi, Olive langsung bergegas menuju lapangan basket dengan muka merah padam karena menahan amarah.
"Liv...Tunggu." Seru Yuki dan Via kemudian langsung menyusul kepergian Olive
******
"Hentikan ini." Seru Olive saat berada di lapangan bola basket
"Olive..." Pekik Sean, Arkan dan Elvan
Seketika, Arkan dan Elvan langsung menghentikan permainannya dan menghampiri Olive.
"Kalian apa apaan Hah?! Maksudnya apa jadiin aku bahan taruhan?" Marah Olive
"Liv, aku bisa jelasin semuanya." Seru Elvan
"Apa yang perlu di jelasin? Kalian pikir, aku barang apa?! Dengan seenak jidat kalian menjadikan aku barang taruhan. Kalian itu udah dewasa, jangan berpikiran kek anak kecil gini." Seru Olive tersulut emosi
"Aku minta maaf, aku ga bermaksud seperti itu." Seru Arkan
"Olive..." Seru Sean menghampiri mereka semua
"Kak Santoso juga, kenapa gak melerai mereka? Udah jelas mereka salah, tapi kakak malah membiarkannya begitu saja?" Kesal Olive
"Maaf." Hanya itu yang bisa di ucapkan Sean
"Harusnya kakak menghentikan mereka, bukannya malah menonton dengan santai kek gini. Kak Santoso itu guru, jadi berilah contoh yang baik buat muridnya." Seru Olive berusaha menahan amarahnya agar tidak kelewatan
"Aku tau aku salah, dan aku minta maaf." Balas Sean penuh rasa bersalah
"Kalian berdua, mulai sekarang jangan pernah deketin aku lagi." Seru Olive menunjuk Elvan dan Arkan
"Tapi Liv..."
Olive tak menghiraukan mereka, malahan dia langsung pergi dari sana bersama dengan kedua sahabatnya.
**Bersambung...
...----------------...
Jangan lupa LIKE, COMMENT dan VOTE Yaaaa...
Salam manis dari author**...
__ADS_1