
“Dasar anak nakal.”
Suara seorang pria ber-umur menggelegar ketika sambungan telepon dari sebuah pangilan terputus. Julian Oliver pangusaha ternama di negara itu melangkah cepat menuju ruang kerja, mengambil sebuah stik golf yang ada disisi lemari brangkasnya. Kemudian pria itu melangkah keluar dengan terburu-buru.
Arabella gadis cantik dengan rambut sebahu pemilit manik indah itu berapapasan dengan ayahnya di pintu utama mengenyerit penuh tanya, setiap kali gadis itu pulang setelah perjalanan jauh Julian sang ayah akan memeluknya penuh kerinduan. Tapi, hari ini sangat berebeda pria itu berjalan melewatinya dengan wajah penuh amarah
”Ayah…”
Julian mengabaikan panggilan putrinya lalu masuk kedalam mobil.
”Pak Sam, ada apa? Ayah mau kemana?” Tanya Arabella, ia memutar langkahnya bahkan sebelum ia masuk kedalam rumah.
”Nona? Maaf. Tuan besar ingin kekantor.”
“Kekantor? Sejak kapan kantor kita ada lapangan golfnya ?”
Gumam Arabella.
”SAMUEL!!!”
Teriakan Julian berhasil membuat sang asisten terkejut setelah beberapa detik menghentikan langkanya saat sang nona muda bertanya. “Maaf nona Bella, saya harus pergi.”
Untuk sesaat Bella terdiam memikirkan sebenarnya apa yang sedang terjadi saat ini, detik selanjutnya gadis itu dengan cepat menoleh pada mobil yang Julian tumpangi saat hendak meninggalkan pekarangan rumah.
“Kak Raja. Bella ikut pak Sam!.” Teriak gadis itu disela langahnya, dalam sekejab kini Ellena duduk disisi pak Sam-sekertaris ayahnya.
”Tapi Nona…”
“Jalan pak Sam.”
Keheningan berlanjut Sepanjang perjalanan menuju perusahaan, sesekali Bella melirik ayahnya yang tampak menahan amarah, rahangnya mengeras bahkan wajahnya belum juga kembali normal ke warna aslinya.
“Pak Sam, apa Kak Raja membuat ulah lagi?” Bisik Bella, sedangkan Pria hampir seumur dengan pamannya itu hanya diam, fokus pada jalan yang sangat sepi dihadapannya.
“Khmm aya…”
“Diam Arabella.”
Arabella langsung mengunci mulutnya, bahkan melirik Julian pun tak berani. Gadis itu tahu jika ayahnya sudah memanggil namanya dengan lekap pria berumur itu benar-benar marah.
Mobil mewah hitam pekat berhenti tepat di depan grup Athena, perusahan raksasa yang dipimpin langsung oleh Julian Oliver. Pintu Mobil bagian belakang terbuka bahkan sebelum Samuel turun membukanya, pria tua dengan stik golfnya turun dengan tergesa-gesa, mengabaikan semua sapaan dari staf perusahaan itu. Beberapa dari mereka saling melirik dan berbisik, tuan Julian yang selama ini selalu ramah terlihat sangat berbeda hari ini.
”Ayah, apapun masalahnya ayah tidak boleh seperti ini.” Ucap Arabella frustasi. “Jika kakak melakukan kesalahan, biar Bella yang ngomong sama dia?”
Julian lagi-lagi mengabaikan ucapan putrinya, ia bahkan mempercepat langkahnya menuju pintu lift yang hampir tertutup.
__ADS_1
“Ayah!”
Sial, pintu lift tertutup bahkan sebelum Arabella dan Samuel ikut masuk.
“Pak Sam tangga, lewat tangga!”
“Tapi nona…”
“Apa pak Sam mau kalau dedline koran besok pagi memuat berita tentang ayah dan kak Raja? ‘terjadi pertumpahan darah antara ayah dan anak grup Athena? Apa pak Sam akan baik-baik saja?”
Pak Sam menggeleng, kali ini pria itu setuju dengan pemikiran nona muda-nya.
”Kalau begitu lewat tangga darurat saja.”
”Lalu anda bagaimana?”
Dengan wajah polos dan tak berdosa Bella menunjuk lift didepannya. “Kakiku pendek pak Sam kalau aku naik lewat tangga, pertempuran diatas selesai baru aku tiba.”
...****************...
Brak…!!!
Julian menabrakan tubuhnya dengan penuh amarah, menerobos masuk ke ruangan putranya yang sedang melakukan meetingk. Sontak seluruh petinggi perusahaan meninggalkan kursinya, menyambut kedatangan Julian.
“Ayah ada apa?”
”Selamat datang tuan Julian maaf kami…”
“Keluar, aku ingin bicara dengan putraku.”
Tak ada yang berani membantah atau menyanggah kata-kata yang keluar dari mulut pemilik grup Athena. Bahkan Raja sekalipun sebagai seorang anak.
”Ayah ada ap…”
”Kau…”
Brak!
Pahatan dari kayu jati berserakan dilantai setelah terkena stik golf milik Julian. Untung saja Raja sudah menduganya dari awal sehingga laki-laki itu bisa menghindar.
Raja, melihat ayahnya mengamuk seperti orang gila, mengayunkan senjata kearahnya. Raja sudah tahu kesalahan apa yang saat ini dia perbuat sampai-sampai Julian melakukan hal diluar nalar. “Ayah. Tenangkan dirimu! Kita bicara baik-baik.” Laki-laki itu berusaha membujuk ayahnya yang terlihat sangat emosi
”Kamu masih ingin bicara baik-baik setelah apa yang kau lakukan pada putri tuan Willian HA?” Tanyanya dengan sorot mata berapi-api
Brak.
__ADS_1
Sekali lagi ayunan stik golf itu mengenai figura yang berjejer di meja Raja.
“Apa yang aku lakukan?”
“Kau masih pura-pura tidak tau? Sini ayah akan mematahkan kakimu hari ini juga, agar kau tetap dirumah dan tidak menyakiti hati siapapun.”
Tuan Julian hanya memiliki dua orang anak, seorang putra yang tampan dan putri yang cantik. Keduanya memilki sifat yang sangat jauh berbeda, Raja Oliver putra pertamanya calon pewaris grup Athena itu pria yang tampan , berkharismatik namun memilik sifat yang cuek, dingin, tertutup dan sangat keras kepala. Berbeda dengan Arabella Adinda Oliver, sifatnya turun dari Rossa-ibunya jauh lebih hangat ceria dan penyayang.
...****************...
Fiuu.
“Kenapa menyalahkan Raja? Bukannya ayah sendiri yang memintanya menemuiku?” Laki-laki itu terus menatap stik golf yang sudah terangkat keatas, tangannya sejak tadi terangkat berusaha melindungi kepalanya dari serangan brutal samg ayah. “Sejak awal Raja sudah bilang pada ayah, jika Raja tidak menginginkan perjodohan ini. Tapi, ayah tetap dengan pendirian ayah.”
”YAA, AYAH YANG SALAH RAJA OLIVER.” Suara Julian menggelegar, pria itu benar-benar marah sekarang. “Meski tidak menyukainya kenapa membuat seorang gadis menangis? Apa ayah dan Ibu pernah mengajarmu seperti itu?”
Raja mengehelai nafasnya lega, saat ayahnya menurunkan stik golfnya.
”Raja tidak melakukan apa-apa padanya, Raja hanya mengatakan kalau dia tidak menarik. Dandannya norak, potongan rambutnya seperti Dora, terus akhhh… Raja tidak mau ingat gadis itu lagi ayah.”
Kesabaran Julian benar-benar habis, rahangnya kembali mengeras. “Kau, bocah sialan. Hari ini ayah benar-benar akan menghabisimu Raja.”
Julian kembali mengangkat stik golf yang menjadi senjatanya. Siap memukul putra sialan yang berhasil membuatnya naik pitam, namun… Tangan kecil menahannya dengan sekuat tenaga.
“Ayah, hentikan ayah! Ayah bisa terluka nanti.” Lirih Bella memohon.
“Minggir Bella, hari ini ayah akan mengahabisi kakak mu yang kurang ajar ini.”
“Ayah kendalikan diri Ayah” Tahan Arabella, disituasi seperti ini kemana perginya pak Sam? Apa lantai ini begitu jauh sampai-sampai dia terlambat melerai pertengkaran ini?
“Kakakmu pantas mendapatkan, jalan satu-satunya ayah akan menghabisinya hari ini juga.”
Arabelle menggeleng cepat. “Tidak, tidak boleh. Jika ayah menghabisi kakak bagaimana dengan perusahaan? Bella nggak mau mengurus perusahaan jika kak Raja kenapa-napa nanti.”
Bola mata Raja hampir saja meloncat keluar saat mendengar apa yang baru saja terlontar dari bibir adiknya. Pikirnya bocah itu meng-khawatirkannya namun salah.
“Hey. Kau bocah tengil.” Teriak Raja marah.
“Apa aku salah? Kalau kakak mati siapa yang mengerus perusahaan? Aku? Ohh tidak bisa.” Balas Arabella.
“Apa hanya itu yang ada dikepalamu? Aku ini kakakmu.”
“Maka dari itu kau kakaka jadi harus bertahan hidup dan ber-umur panjang.” Arabella kembali menatap ayahnya penuh kepiluan. “Ayah…”
“Kalian berdua? Aaaauuuu… Akhhh!!!” Julian tiba-tiba menjatuhkan stiknya, memegang tengkuknya yang menegang.
__ADS_1
”Ayah. Kan Bella bilang apa? Nanti ayah terluka.” Sungut gadis itu menuntun julian untuk duduk di kursi.
...****************...