
Sepuluh menit berlalu setelah menerima panggiln dari Bagas, Ellena masih berdiam diri diatas sofa dengan tatapan masih menatap lurus kedepan.
‘Jadi seperti ini gambaran sebuah pernikahan? Hanya memanfaatkan satu sama lain. Hufttt… memang apa yang ku harapkan? Cinta? Fuiiihhhh bulshit.’ Setelah pembicaraan mereka semalam Pertanyaan itu terus berkecamuk dipikiran Ellena sampai suara seorang laki-laki yang baru saja sah menjadi suaminya meleburkan lamuan Ellena.
“Buruan sarapan terus mandi! Papa nyuruh pulang.”
Ellena masih berusaha memulihkan kesadarannya sebelum bergeser dari tempatnya duduk untuk meraih sepiring nasi goreng yang baru saja Raja bawakan untuknya. Sementara laki-laki itu sudah duduk kembali diatas kasur dan membuka mackbook. Memeriksa beberapa balasan Email dari kolega bisnis laki-laki itu. Ellena memperhatikan sosok pria yang kini resmi menjadi suaminya, gadis itu tidak bisa memungkiri jika Raja adalah pria yang sangat tampan dan berkharisma. Pantas saja gadis secantik Mia sangat tergila-gila padanya.
Raja yang menyadari bahwa dirinya sedang menjadi pusat perhatian langsung menghentikan aktifitasnya, ia lalu mengadah, menatap lurus ke arah istrinya. “Ngapain liatin gue? Lo udah suka?” Tanyanya dengan alis terangkat.
Ellena menggeleng. “Nggak, aku cuman penasaran tentang satu hal.”
Raja semakin tidak mengerti, laki-laki itu memajukan tubuhnya agar lebih dekat dengan Ellena. “Apa?”
“Kalau pulang dari sini, apa kita tinggal bersama? Seperti orang yang sudah menikah.” Pertanyaan Ellena yang sangat polos sungguh menggelitik laki-laki itu. “Menurut lo? Kita pisah rumah gitu, kalau lo lupa gue ingetin. Emang iya kita udah nikah dan serumah adalah salah satu poin penting dalam pernikahan.” Raja menggeleng kemudian kembali fokus dengan mack book atas pahanya.
“Emang kamu mau serumah sama cewek asing?”
“Lambat lo kalau nanya soal itu. Kita udah nikah, mau Asing, manis kecut jalanin aja.”
“Emang bisa?”
Raja mengerang frustasi, pria yang memiliki kesabaran setipis tissu itu, mendekat kearah istri kecilnya. Menarik baju bagian punggung Ellena seperti anak kucing. “Dari pada lo banyak bacot, mending mandi habis itu kita pulang.”
“Tapi pembicaraan kita belum selesai Raja.”
“Nggak ada, mandi! Mulut lo udah kaya bau jigong tau nggak!”
__ADS_1
“Khhaa…” Ellena semaki bertindak diluar keanggunan seorang gadis terlebih didepan laki-laki yang menjadi rebutan para gadis dikota ini. “Tidak kok, wangi. bau stro…”
Brak
Raja menutup paksa pintu kamar mandi, mengabaikan teriakan Ellena yang mulai setengah waras. “Raja cium mulut aku. Kalau nggak percaya, wangi.” teriaknya.
“Dasar cewek gila.”
Dua puluh menit kemudian, Ellena sudah selesai mandi dan keluar menggunakan sehelai handuk putih sebatas paha juga handuk kecil yang melilit rambutnya. Ellena melirik kearah Raja sesaat, laki-laki itu sibuk dengan ponsenya. Sepertinya sedang melakukan panggilan telepon. Setelah yakin laki-laki itu tidak akan berbalik, pelan-pelan Ellena melangkah menuju sisi ranjang dimana paper back berisi pakaian gantinya. Namun semua diluar dugaan pada saat Ellena hendak masuk kembali kekamar mandi Raja berbalik.
Dia laki-laki dengan seratus persen kenormalan sebagai seorang pria yang sudah cukup umur dan telah menikah. Tubuhnya tiba-tiba meremang, jantungnya berdebar tidak karuan saat sorot matanya tertuju pada bongkahan dada bocah yang sialnya adalah milik istrinya, wanita yang sangat boleh dia sentuh.
Napas Raja tersengal, kali ini lidah laki-laki itu benar-benar keluh. Bagaimana bisa tubuh setipis itu memiliki dada sindah yang tidak pernah Raja bayangkan.
“Sorry kalau aku ganggu. Aku cuman mau ambil baju kok, kamu lanjutin lagi ya.”Ucap gadis itu dengan polosnya ia kemudian mempercepat langkahnya menuju kamar mandi.
Bagaimana bisa melanjutkannya jika gadis gila itu membuat konsentrasi seorang Raja buyar seketika.
“Sial.” Umpatnya.
“Kenapa?” Suara Ellena tiba-tiba membuat laki-laki itu mengubah posisinya, menyembunyikan sesuatu yang tidak boleh Ellena lihat.
“Lo lama banget tau.” Balas Raja setelah menyadari kehadiaran Ellena yang sudah lengkap dengan celana jeans juga baju kaos oblong putih polos.
“Ini udah selesai.”
“Ya udah ayo.”
__ADS_1
“Kok marah sih? Kan preparenya nggak sampai sejam. Hanya sepuluh menit.”
“Ya pokoknya gue nunggu lo lama.”
Reja mendengus kemudian bangun dari kursi lalu menarik koper yang sudah sejak tadi bertengger didekat pintu keluar. Keduanya keluar secara beriringan namun setibanya di lobi Ellena membiarkan Raja berjalan lebih dulu, ia hanya mengekor dibelakang seperti anak ayam kecil mengikuti induuknya. Hal ini Ellena lakukan agar tidak ada yang curiga tentang hubungan mereka berdua, mengingat suaminya orang yang lumayan dikenal.
Hal yang Ellena khawatirkan benar-benar terjadi, sepanjang lobi hotel orang-orang melihat Raja kemudian saling berbisik. Semua mengenali lelaki tampan dengan pakaian kasual serba hitam juga sepatu kets abu-abu itu adalah Raja Oliver Argantara calon pewaris grup Athena yang wajahnya selalu menjadi sampul bisnis dan beberapa majalah fashion bergensi. Sekali lagi Ellena membiarkan Raja berjalan lebih dulu ketika beberapa gadis pelajar mengambil foto suaminya secara diam-diam.
Raja yang masih berjalan terlihat cuek dan tidak perdulu, sepertinya fenomena ini sering terjadi dilihat dari sikap raja yang sama sekali tidak perduli.
“Sombong udah kayak artis internasional, ngalahin ketenarannya ayank Jin (BTS).” Gumam Ellena yang kesal sendiri dibelakang.
Gadis itu kemudian berlari ketika Raja benar-benar sudah keluar dari hotel, mengikut masuk kedalam mobil yang sejak tadi menunggu mereka. Kemudian gadis itu duduk jok samping kemudi berseblahan dengan suaminya.
“Kok mereka ngeliatinnya sampai segitunya?” Tunjuk Ellena pada beberapa gadis yang masih menatap senang mobil yang mereka tumpangi. bahkan ketika Raja mulai menginjak pedal gas meninggalkan area perhotelan.
“Itu karena suami lo calon pewaris tunggal grup Athena juga pria tertampan dan menjadi rebutan semua gadis dinegara ini.” Ucap Raja lalu menoleh pada Ellena yang juga menatapnya. “Jadi seharusnya lo berterima kasih karena gue udah setuju nikah.”
Ellen memutar bola metanya jengah,“Aku punya tebak-tebakan.” Ucap gadis itu tib-tiba
“Apa?”
“Binatang apa yang suka manggil namanya sendiri.”
Raja terdiam memutar otaknya kemudian… “Tokek.”
“Nah, nggak sadar kamu kayak tokek? Nyebut diri sendiri ganteng?” Ellena menggeleng prihatin, lali memalingkan wajahnya ke arah luar.
__ADS_1
“Loo… Lo bilang apa? Tokek? Gue?”