
Ellena kembali memasuki gedung perusahaan Athena namun kali ini gadis itu langsung menuju area parkir, didepan sana sudah ada Leo yang menunggunya.
“Nyonya apa ada sesuatu yang terjadi?”
Ellena tersenyum. “Tidak Leo, taksinya mogok ditengah jalan. Untung saja tidak jauh dari perusahaan jadi aku kembali.” Ucap Ellena tenang.
“Apa perlu saya antar pulang nyonya, saya takut tuan akan marah jika saya membiarkan anda bawa mobil sendiri.”
Ellena menggelang. “Tidak usah. Mana kuncinya?”
Leo memberikan kunci mobil yang sering Raja gunakan tanpa rasa curiga sedikit pun. “Ini mobil Raja kan?”
“Iya.” Balas Leo sedikit waspada. “Nyonya…”
“Kembali ke dalam Leo, Raja nanti nyari kamu.”
“Tapi nyonya…”
“Tidak udah khawatir, masalah Raja biar akh yang urus nanti.” Pada akhirnya Leo mengalah, laki-laki itu mengangguk kemudian melangkah pergi.
“Oh iya Leo?” Laki-laki itu kembali menoleh saat hendak memasuki lift yang ada di area parkiran. “Raja nggak tau kan aku kesini lagi?”
“Tidak nyonya.”
__ADS_1
Ellena mengangguk, kemudian masuk kedalam mobil, mulai meninggalkan gedung Athena. Tatapan Ellena berubah tajam, wajah yang sedari tadi menghangat tiba-tiba berubah dalam sedetik menjadi menakutkan.
“Ada apa dengan wanita-wanita gila ini begitu menginginkan priaku HA?.” Ellena menginjak pedal gas menuju ujung kota, matanya langsung teralihkan pada spion depan, benar saja dibelakang sana ada sebuah motor sport hitam mengikutinya dari belakang. Ellena berdecih.
Gadis itu menambah kecepatan mobilnya menuju sebuah tempat yang benar- benar jauh dari kota, bekas peternakan yang sepi. Ellena membanting stir mobil hingga menabrakkannya pada tumpukan jerami yang menjulan.
Sedangkan diluar sana Mia langsung turun dari motornya, mangambil sebuah jerigen berisi bahan bakar minyak. Tanpa pikir panjang gadis itu langsung menyiram mobil milik Raja, namun detik selanjutnya Mia dibuat kaget kemunculan Ellena yang entah dari mana datangnya kini perlahan mendekat padanya.
“Ellena? Lo?”
“Hemm… Kenapa kaget?” Gadis itu semakin mendekat ke arah Mia tanpa rasa takut, sorot mata Ellena mendominan membuat Mia sedikit ketakutan.
“Apa yang kamu mau lakukan?” Ellena melirik sebuah jerigen di tangan Mia. Gadis itu terdiam.
“Apa dengan melakukan ini kamu akan memiliknya Mia?”
“Ha? Itu yang aku harapkan, jika gue nggak bisa milikin Raja siapapun nggak bisa dapetin dia termaksud lo.” Ucap Mia sembari mengeluarkan sebuah pisau dari balik sakunya, namun anehnya Ellena masih terlihat santai. “Alangkah baiknya gue habisin lo, supaya Raja menjadi milik gue seutuhnya.”
“Menjijikkan.”
“Apa? Lo bilang apa?”
”Dimana harga diri kamu Mia? Harga diri yang selalu kamu banggakan sebagai wanita terhormat? Setelah melihat kamu yang seperti ini aku jadi tau kenapa Raja menolakmu. Karena kamu hanya gadis rendahan yang tidak memiliki mahkota.” Ucap Ellena memprofokasi gadis itu, dari sudut manapun Ellena terlihat begitu berbeda, gadis itu seperti bukan Ellena yang biasanya begitu hangat dan ceria.
__ADS_1
“Sialan.”
Mia mengayungkan pisau ke arah Ellena namun gadis itu dengan gampangnya menyibak tangan Mia sehingga pisau kecil mengkilap itu terlempar jauh. Sekali hentakan Ellena mencengkram leher gadis itu, menyeretknya ke dinding gudang tua. Sedangkan Mia begitu keras melepas cengkraman Ellena namun sia-sia gadis itu jauh lebih kuat dari sebelumnya.
“Le…. Pp.. aaaa”
Brak!!!
Ellena menghempaskan tubuh Mia ke tanah, kemudian ikut menjongkok didepan Mia yang sedang mengatur nafasnya. “Aku tidak perduli apa yang kamu lakukan ke aku tempo hari tapi hari ini aku tidak membiarkan suamiku terluka karena obsesimu”
“Suami?”
“Hmmm… Raja suami aku.”
Mia menggeleng. “Nggak mungkin.” Gadis itu menyangkal dengan air mata yang berjatuhan, faktanya dia sudah tahu semuanya. Namun ketika Ellena mengaktakan hal itu lebih menyakitkan.
“Hentikan kegilaan mu Mia!” Ucap Ellena sebelum meninggalkan Mia
Satu detik. Dua detik. Tiga detik kemdian
“ELL!!! Awas!!!”
DORRRRR
__ADS_1