Raja Untuk Ellena

Raja Untuk Ellena
Bab 41


__ADS_3

Tok


Tok


Tok


Ellena langsung mengalihkan pandangannya kearah pintu hingga ciuman mereka terlepas. “Ada orang.”


“Biarin aja.” Ucapnya dengan suara serak. Raja tidak menghiraukan, aktivitasnya sekarang sedang berada dititik puncak kali ini dia ingin menyelesaikannya sampai tuntas, menjadikan Ellena satu-satunya gadis yang berhasil menyentuhnya.


Raja menjatuhkan tatapannya lagi pada bibir Ellena yang terbungkam. Dia menurunkan bibirnya pada Ellena, sedikit lagi dan…


Tok


Tok


Tok


Raja terpejam kesal.


“Buka dulu ya itu pasti Leo.”


Raja bangun dengan kesal, dia melirik tubuh istrinya yang setengah tela***g kemudian ia meraih selimut untuk menitupinya lalu mengangkat Ellena keatas ranjang. “Tunggu gue! Hem!”


Ellena menagguk.


“Demi Tuhan kalau hal' ini nggak penting, gue bakal bunuh lo Leo” Gumam laki-laki itu diselah langkahnya.


Habislah riwayat seorang Leo ditangan Raja, laki-laki itu membuka pintu dengan kasar. Leo bisa menebak jika saat ini tuannya sedang menahan amarah meski hanya melihat dari sorot matanya, sepertinya proyek besar telah terjadi didalam sana.


“Apa?” Ucapnya membentak


“Maaf tuan saya menganggu anda.”


“Lo benar-benar ngeganggu.”


“Sesuatu hal terjadi, mau tidak mau saya harus membawa anda keperusahaan sekarang.” Kening Raja mengeyerit, melihat wajah Loe sangat gusar. Dia kemudian melirik kearah dalam dimana Ellena berbaring. “Tunggu gue!”


Raja kemudian berlari, meraih jaket lalu mendekat kearah Ellena yang sudah duduk menyambut suaminya. “Kenapa? Apa ada masalah?”


“Hem, tapi lo nggak usah khawatir.” Raja menyentuh pipi istrinya dengan lembut kemudian melabukan kecupan dibibir Ellena. “Maaf, gue harus ninggalin lo lagi.” Ellena mengangguk pelan dengan senyumam membuat Raja sedikit tenang.





Drap

__ADS_1


Drap


Drap


Langakah panjang Raja menggema memasuki perusahaan disambut oleh beberapa petinggi disana, seperti biasa laki-laki itu sangat terlihat berbeda jika bersama Ellena. Raja seperti orang yang berbeda, tanpa senyuman atau tatapan keramahan.


“Bagaiman keadaannya apa kalian sudah mengendalikan virus yang menyerang sistem perusahaan?” Tanya Raja dingin.


“Nona Arabella sedang berusaha tuan.” Seketika langkah laki-laki itu terhenti, dia menatap pria yang saat ini menuduk ketakutan.


“Bella?” Tanya Raja. “Siapa yang membawanya kesini?”


“Saya sudah menahannya namun nona Arabella memaksa.” Tukas Leo menunduk.


Raja tak mengatakan apapun, dia kembali melangkah menuju pusat sistem perusahan yang berada dilantai 32, sesampainya disana Raja sedikit tertegun melihat sang adik dikepung beberapa benda elektronik didepannya.


“Apa separah itu?”


Arabella menoleh. “Aku sudah mengendalikannya kak, sekarang sisah merebut kembali sebagian data yang mereka ambil.” Raja menghelai nafas legah. “Terus ngapain kakak disni? Kak Ell mana?” Tanya Arabella panik.


“Aku meninggalkannya di hotel.”


“Realy? Aku disini agar kakak berhasil membuat proyek keponakan untukku.” Arabella bangun dari kursinya. “Tau begini aku tidak perlu datang.”


“Kamu ngomong apa? Duduk!”


“Kakak nggak ngapa-ngapain.” Elak Raja sedangkan lip Ellena dibibirnya menjelaskan semuanya.


“Kakak nggak bisa bohong, lip kak Ellena masih ada bibir kak Raja. Serius.” Sontak Raja menarik tangan menyentuh bibirnya, sedikit malu. Dia melirikk Leo dengan tajam


“Maaf tuan saya pikir itu tanda cinta dari nyonya Ellena.”


“Gagal deh rencana ku sama mama Hanin.” Gumam Arabella namun Raja masih bisa mendengarnya.


“Apa?”


Sedikit menjuh Arabella menatap kakanya dengan senyuman sedikit memaksa. “Tadi aku nggak sengaja ketemu mama Hanin di hotel. Hemmm..” Ucapnya takut


“Lanjut!!!”


“Aku sama mama Hanin liat kakak masuk hotel, terus mama Hanin tiba-tiba nyuruh aku beli gaun tidur…” Arabella mengangkat pandangannya. “Itu alasan aku ada disini, supaya rencana aku sama mama Hanin berhasil tau-taunya kakak malah kesini juga, ninggalin kak Ell.”


“Jadi baju itu kamu yang beli?”


Arabella mengangguk pelan.


Dikuar expektasi Raja akan marah, laki-laki itu malah tersenyum lalu memeluk adiknya. “Bilang kamu mau apa? Apapun itu kakak bakal ngabulin semua keinginan kamu.”


Kedua matanya membola sempurna. “Semuanya.”

__ADS_1


Raja mengangguk mengiyakan.


“Asssa… Kakak janji ya, apapun itu.”


“Hemmm!!!”


•••


Ellena mengerutkan dahi dalam tidurnya. Gadis itu tergagu dengan cahaya matahari yang menerobos masuk, hari ini sangat cerah, warna birunya membawa ceria. Masih sangat pagi burung berkicaudan menari diluar sana. Desiran angin meniup tirai-tirai kamar hotel tempatnya menginap. Ellena yang terlelap perlahan membuka matanya sedikit menyipit. Beberapa detik kemudian ia tersenyum, melihat suaminya masih terlelap.


Perlahan, Ellena melepas pelukan Raja, memindahkan lengannya pelan-pelan namun laki-laki itu malah semakin mengeratkan pelukanny, menarik tubuh Ellena lebih dekat dengannya.


“Kau sudah bangun?”


“Hem…” Gumam sambil menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Ellena.


“Raja, mau mandi. Aku ada kelas pagi.” Ucapnya sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan laki-laki itu.


“Hemm…” Laki-laki itu mengada, menatap wajah polos istrinya yang mulai memerah. “Kita punya sesuatu yang harus diselesaikan bukan?” Pertanyaan ambigu yang Raja lontarkan berhasil membuat Ellena membatu bahkan gadis itu menahan nafasnya untuk sesaat, perlahan Ellena menarik selimutnya menutupi sebagian wajahnya. Dia malu.


“El…”


“Aku ada kuliah, kamu juga mau kekantor kan? Kita bisa menyelesaikannya lain kali.”


“Lain kali ya?” Gumamnya.


“Nggak gitu, maksud aku…”


“Okey gue stuju.” Potongnya cepat.


“Raja bukan gitu maksud aku…”


Laki-laki itu malah tersenyum melihat wajah istrinya yang terihat lucu. “Sana mandi terus itu gantian, gue anter kekampus.”


Tiba-tiba Ellena terdiam, terlihat berfikir. Raja yang beberapa saat tidak mendapat jawaban pun sontak mengakat kepala, mengadah, menatap bagaimana ekspresi Ellena saat ini. Seketika Raja mengerutkan dahi. “Kenapa?”


“Kamu mau nganterin aku? Mungkin orang sudah tau kalau itu kamu, orang akan curiga sama hubungan kita. Kamu nggak maukan kalau hubungan kita sampai…”


“Siapa bilang?” Potong Raja.


“Huh?”


“Memang kenapa kalau orang tau tentang kita, bukannya itu lebih bagus. Supaya si bagas sama Axelio nggak deketin kamu lagi.” Raja setengah bangun menjadikan tangan kanannya sebagai tumpuan. “Mulai sekarang gue nggak mau kita bertingkah kayak orang asing lagi didepan semua orang.”


Ellena mengeyerit bingung. “Beneran kamu nggak papa?”


“Gue malah senneng, supaya semua orang tau kalau cewek bernama Ellena itu milik Raja Oliver.” Ellena terdiam, terhenyak. Gadis itu berusaha mencerna kalimat Raja yang baru saja dia dengar.


“Udah jangan dipikirin, sana mandi! Bukannya lo ada kelas pagi? Nanti telat.”

__ADS_1


__ADS_2