
Disinilah Ellena didepan gedung perusahanaan Athena, berulang kali gadis itu menarik nafas karena terlalu gugup. Meski ini bukan pertama kalinya ke perusahaan suaminya namun ini pertama kalinya dia datang seorang diri, Arabella yang tadinya ingin menemani tiba-tiba memiliki urusan lain.
Memasuki lobi kantor, Ellena terlihat sangat kecil juga lusuh ketika melihat penampilan elegan semua karyawan Athena. Gadis itu sontak berbalik mengahadap dinding yang dikeliling sebuah cermin panjang, menatap penampilannya saat ini. Memakai celana jeans, baju kaos oblong berwarna putih over size, rambutnya dikuncir bersih. Ragu-ragu tetap melangkahkan kakinya masuk, matanya mengedar berharap ada satu orang yang dia kenal. Seperti Leo misalnya.
“Permisi nona, apa ada yang bisa saya bantu?” Tanya salah seorang customer servis yang sejak tadi terus menatap Ellena waspada.
“Ah, maaf kak. Aku mau nanya kalau boleh tau ruangan Raja dimana?”
Kedua Wanita itu saling menatap satu sama lain lalu salah satunya kembali bertanya. “Apa yang anda maksud tuan Raja Oliver, CEO perusahaan ini?”
Ellena memgguk pelan.
“Apa kamu sudah membuat janji? Tidak sembarang orang bisa bertemu dengan CEO kami.” Tukas salah satu dari kedua gadis itu merasa tidak senang melihat Ellena.
“Ha, kenapa harus buat janji? Aku hanya ingin menemuinya. Pasti dia belum makan siang.” Ucap gadis iti sambil memperlihatkan sebuah paper back berisi makanan untuk suaminya.
“Memang kamu siapa? Soal makanan atasan kami kau tidak perlu mengkhawatirkannya! Jika tidak ada lagi silahkan pergi dari sini atau saya panggil sekuriti mengusirmu.” Jelas wanita dengan rambut panjang berwajah sinis menatap Ellena.
“Tapi…”
“Sekur…”
“Nyonya Ellena?” Suara panggilan seorang pria yang baru masuk dari pintu keluar, ketiga gadis itu sontak menoleh. Leo sedikit mempercepat langkahknya mendekati Ellena. “Nyonya apa yang anda lakukan disini?”
“Nyonya…” Gumam kedua wanita customer service itu.
“Sekertaris Leo siapa…”
“Apa kalian tidak tahu? Dia Nyonya Ellena Roselyn istri tuan Raja, kenapa membiarkannya berdiri disini?” Tanya Leo, mendelik tegas
Kedua gadis itu langsung menunduk ketakutan. “Maaf nyonya kami tidak tahu.”
__ADS_1
Ellena tersenyum memaksa meski gadis itu sangat jengkel dengan wanita bernama Loli itu, Ellena bisa melihat dari tag namenya.
“Leo, antar aku keruangan Raja. Dia pasti belum makan.”
“Mari saya antar nyonya.” Ellena mengikuti langkah Leo menuju lift yang biasanya hanya digunakan oleh suaminya. Silih berganti orang menatap Ellena dengan tatapan bertanya , berbisik dan beberapa juga menunduk menyapanya.
“Bisa panggil Ellena aja nggak sih Leo, nggak enak manggil nyonya. Aku Kayak tua banget.”
Leo hanya menaggapinya dengan senyuman. Apa nyonya muda ingin membuatku mati diusia muda? Kalau aku memanggil nama anda seperti seorang teman, tuan Raja akan sangat marah dan detik itu juga tamat lah riwayatku. Batinnya
Setibanya dilantai itu, didepan ruangan Raja, Leo mengeyerit ketika Citra sekertaris kedua Raja tengah mondar mandir gelisah didepan pintu. Ellena tersenyum kecil melihat perut buncit wanita itu, begitu indah.
“Citra apa yang kau lakukan? Apa kau akan meliharian?
Wanita itu langsung menoleh, menghebuskan nafas legah. “Hampir, aku hampir melahirkan bayiku secara prematur ditempat ini. Dari mana saja kamu Leo?” Tanyanya geram, namun seketika sebuah senyuman merekah tertarik diwajahnya, begitu melihat Ellena dibelakang sekertaris Leo.
“Nyonya Ellena?” Wanita itu menyapanya. Sekertaris Citra sudah tidak kaget lagi dengan kehadiran Elena, dia bahkan sudah tahu sejak awal jika gadis cantik yang kini berdiri dihadapannya adalah istri Raja Oliver, satu-satunya gadis yang berhasil memporak-porandakan hati atasannya. “Bagaimana ini?” Gumamnya
“Silahkan nyonya.” Leo mempersilahkan Ellena masuk, mendorong pintu bermaterial kaca diahadapannya, sedangkan Citra hanya bisa pasrah.
“Ellena?”
Gadis pemilik nama itu menghentikan langkahnya tepat didaun pintu. Menunduk merasakan ngilu dihatinya. “Maaf, aku tidak tau kalau kamu ada tamu.”
“Siapa wanita itu Raja?” Tanya wanita itu sedikit berteriak
“Pergi dari sini Jennie! Gue nggak ada urusan lagi sama lo. Ellena masuk!” Ellena terkejut saat menyebutkan nama gadis itu. Ellena masih mematuh didepan pintu. “Gue bilang masuk Ellena!”
Gadis itu menoleh, mengangkat wajahnya ke arah kedua orang itu. Masih terpaku di ambang pintu, sampai pda akhirnya Raja sendiri yang mendekati istrinya.
“Jawab Raja dia siapa?”
__ADS_1
“Dia istri gue!”
Untuk sesaat Jennie terdiam lalu menarik senyuman sinis. Menyilangkan tangannya didepan dada. “Kamu pikir aku percaya? Dia bukan tipe kamu, dan aku tau selama ini kamu menolak perjodohan semua gadis karena masih mencintaiku.”
Raja berdecih masih menatap wajah Ellena yang juga menatapnya, mata emerland gadis itu sangat cantik dan selalu membuat Raja tenggelam didalamnya. “Lo salah kalau berfikir kayak gitu.” Detik seanjutnya Raja melakukan apa yang tidak pernah Jennie pikirkan, laki-laki itu menarik pinggang Ellena lebih dekat. Menyentuh dagu sang istri menariknya lebih dekat. “Tutup mata lo El!!!” Bisik Raja kemudian mendaratkan ciuman lembut dibibir berisi semerah cery milik istrinya.
Dada Jennie bergemuruh memanas menyaksikan adegan yang sama sekali tidak pernah dilakukan oleh Raja selama mereka bersama.
“Sialan kau Raja!”
Raja melepas ciumannya, lalu berbalik mebatap Jennie. “Sekarang lo pergi, jangan sekali injekin kaki lo di tempat gue!”
Jennie yang merasa terhina, meraih sebotol air mineral yang belum sempat dia minum tadi, membukanya lalu menyiramkan kewajah Raja. Ellena yang terkejut juga tidak bisa menahan amarah karena ke kurang ajaran gadis itu, tanpa pikir panjang gadis itu mengambil air sup yang sudah dingin dari dalam paper back lalu…
Byuaaar…
Sekali hentak semua air sup itu kini membasahi wajah cantik Jinnie, Ellena menarik tubuh Raja lalu menjadakn tubuhnya sebagai perisai.
“What the ****? Apa kamu sudah gila? Apa yang kamu lakukan? Apa kau tidak tau siapa aku?” Teriak Jennie
“Aku tidak perduli siapa kau, kau lebih dulu memulainya.” Balas Ellena.
“Memangnya apa urusanmu? Ini masalah aku dengan mantan kekasihku?”
Untuk sesaat Ellena terdiam, mengeratkan genggamannya pada tangan Raja. Lalu tersenyum sinis. “Tentu itu menjadi urusanku, laki-laki yang kau siram dengan air itu adalah suamiku. Sekalipun tadi kamu memukulnya aku tidak akan segan membalasmu.” Ucap Ellena lantang.
Jennie mengeraskan rahang, menoleh kearah meja hendak meraih asbak ingin melemparkannya namun dengan cepat Raja merebut paksa lalu menghempaskannya kelantai. Keduan gadis itu menggelidik takut. “Apa mau mu Jen?”
“Katakan kalau itu bohong? Katakan kalau kau masih mencintaiku dan wanita itu bukan istrimu?”
“Nona mohon keluar!” Suara Leo memecah ketegangan diantara mereka, ketiganya menoleh ke arah pintu. “Tuan anda tidak apa-apa?”
__ADS_1
“Bawa dia keluar! Aku tidak ingin dia melukai istriku!”
Hanya sekali hentak Leo menarik Jennie keluar dari ruangan itu. Wajah dingin laki-laki itu berubah sangat menyeramkan. “Leo lepaskan! Aku akan memotong tangan mu jika masih menyentuhku!” Laki-laki itu tidak perduli tetap menarik lengan Jennie dengan kasar.