Raja Untuk Ellena

Raja Untuk Ellena
Bab 23


__ADS_3

Arabella menatap tidak percaya jika kakaknya menghabiskan sepiring nasi goreng yang Ellena buat, tidak hanya gadis itu, Bibi dan beberapa pelayan saling melirik saat tuan muda mereka makan dengan lahap, andai mereka punya keberanian lebih mungkin saja salah satunya mengabadikan momen langkah ini.


“Jam berapa lo masuk kampus?”


Ellena yang tengah berdiri hendak meninggalkan meja makan menoleh kearah Raja yang masih fokus dengan tab kecil ditangannya. “Nanti siang, kenapa?


Raja berdehem. “Bareng gue.”


“Huh?”


“Budeg.”


Ellena berdecik. “Bareng kamu? Nggak, nanti diturunin kayak kemarin.” Ujar gadis itu


Raja meletakkan tabnya. “Gue juga masuk siang, lagi pula gue mau ketemu Mr. Lois. Dia ngajar dikelas lo kan nanti.”


“Iya. Tapi nggak mau sama kamu, aku bareng Arabella aja.” Gadis itu melirik kearah adik iparnya yang masih asik dengan ponsel gemggam ditangannya. “Bella.”


Pelan-pelan Arabella mengangkat pandangannya, berusaha tersenyum meski saat ini posisinya sangat tidak menguntungkan. Ditambah tatapan Raja seolah ingin menelannya hidup-hidup. “Ehhh?”


“Kita bareng kekampus ya nanti, motor aku masih ditahan.”


“Nggak ada motor-motoran lagi.”


“He?” Kedua gadis itu bersuara secara bersamaan. “Maksud kamu apa? Nggak ah!!! Itu hobbi aku.” Protes Ellena.


“Mulai hari tidak ada yang boleh menggunakan motor dirumah ini. Bahkan siapapun tidak boleh menyebut kata motor lagi.”

__ADS_1


“Kok gitu? Tau kan aku suka sama motor Ja.”


“Kak Kalau soal kamarin kita ngaku salah dan minta maaf, karena nggak pamit sampai ketangkep polisi. Meski begitu apa tidak berlebihan ngelarang kak Ell nggak boleh naik motor lagi?” Timpal Arabella berusaha membela sang kakak ipar.


Untuk sesaat Raja terdiam, raut wajahnya begitu datar hingga membuat Arabella menunduk. Meski gadis itu adalah anak kesayangan keluarga Argantara namun Arabella ttatap takut pada kakaknya. Keputusan laki-laki itu adalah mutlak.


“Ini keputusan kakak yang mutlat Arabella. Tidak ada penolakan.” Nada suara laki-laki itu berubah dingin, Ellena bisa merasakan jika saat ini suaminya seperti orang yang sangat berbeda.


“Tapi Raja…


“ELLENA.” Bentak laki-laki membuat semua terdiam bahkan sepertinya detak jam-pun ikut berhenti untuk sesaat. “Tidak ada penolokan.” Laki-laki itu menekan.


Ellena terdiam, dia tahu situasi saat ini bukan waktunya mengajak laki-laki itu berdebat. Untuk sesaat ia memilih bungkam tanpa ada perlawanan meski dadanya terasa ingin meledak saat Raja mengeluarkan perintah yang tidak masuk akal.


Raja kemudian menoleh pada Ellena. “Lo siap-siap kita kekantor dulu baru kekampus.” Ucapnya sambil meninggalkan meja makan


“Kak.” Kata-kata Ellena terhenti bahkan belum sempat keluar dari ujung bibirnya. “Udah kak siap-siap aja!” Pinta Arabella.


Ellena hanya menghelai nafas panjang lalu membalasnya dengan anggukan dan menyusul suaminya kelantai atas dimana kamarnya berada.


Pelan-pelan Ellena membuka pintu kamar yang sedikit terbuka, didalam sana suaminya sudah lengkap dengan stelan jas hitam jetblack menoleh begitu gadis itu masuk kedalam kamar. Sesaat Ellena mematung didepan pintu sampai akhirnya dia melihat Raja sedikit kesusahan dengan dasinya.


“Mau Aku bantu?”


Tak ada jawaban, Raja hanya mengikuti langkah sang istri sampai gadis itu berdiri dihadapannya.


“Emang bisa?”

__ADS_1


Elena tersenyum sambil mengulurkan tangan memegang kedua sisi dasi suminya. “Ketinggian.” Pandangannya langsung mengedar kesetiap sudut kamarnya, mencari benda yang bisa membuat tubuhnya setara dengan laki-laki itu.


“Gue aja yang duduk!”


Jarak yang hanya tersisa beberapa centi membuat Raja leluasa menatap wajah gadis yang begitu cantik tanpa polesan makeup, dia hanya tau jika saat ini gadis itu hanya memakai lipglous pink agar kulitnya tidak terlihat pucat.


“Kak Vano payah kalau soal ikat mengikat dasi, makanya aku sampai belajar tutorialnya. Ternyata tidak sesusah yang aku bayangkan.” Tatapan Ellena masih tertuju pada dasi suaminya sampai ia tidak sadar saat ini laki-laki itu sajak tadi menatapnya begitu dalam. “Aku sering menyuruhnya untuk menikah, agar ada yang membantunya kalau aku tidak ada.” Gadis itu masih mengoceh.


“Kedepannya aku akan menyimpul semua dasimu, nanti kalau aku nggak ada kamu bisa make sendiiri. Aku melakukan hal yang sama pada kak Vano sebelum kesini.”


“Memangnya mau kemana, ini rumah lo juga”


Tiba-tiba Ellena menghentikan aktifitas tangannya, pandangan mereka saling bertemu. Gadis itu bisa melihat bola mata grey milik Raja, bola mata yang berhasil membuatnya berdebar setiap kali melihatnya.


“Bukannya akhir pernikahan kita adalah perceraian. Kamu akan menceraikan ku setelah apa yang kau inginkan sudah kau dapatkan.” Entah hatinya sedikit ngilu ketika mengatakan kata cerai. “Tapi aku harapnya kamu sudah bisa ikat dasi saat waktu itu tibal


Menit kemudian gadis itu selesai dengan aktfitasnya. “Udah. Kan udah rapi.” Ia mengangkat pandangannya hingga Keduanya saling menatap, hanyut dalam pemikiran masing-masing.


“Tas sama jam kamu ada diatas meja, leptop di laci kerja bagian bawah. Semalam aku simpan disana.” Ucap Ellena lebih dulu memutuskan kontak mata dengan suaminya, keadannya benar-benar sangat tidak baik jika Raja terus memandangnya seperti itu.


Raja tersenyum tipis, sepertinya gadis itu mulai hafal semua barang-barang yang sering dia bawa. Laki-laki itu bangun dari duduknya hendak mengambil sepasang sepatu namun, gerakannya terhenti saat suara istrinya kembali terdengar.


“Sepatu pake yang hitam aja, nggak usah banyak warna kan mau kekampus nanti.” Raja menoleh kebelakang, pikirnya gadis itu melihatnya namun tidak. Ellena masih memunggunginya, sibuk merapikan tas juga buku-buku yang akan dia bawa hari ini.


“Mau aku bawaiin baju ganti, nggak? Nanti gerah kalau pake jas terus.”


“Nggak usah, jas gue mahal nggak mungkin gerah kalau dipake.”

__ADS_1


“Cih…” Ellena berdecih. “Dasar sombong.” Gumamnya.


__ADS_2