
“Wah… Keren banget.”
“Lo sih nggak perrcaya sama gue.” Sahut Bagas tepat dibelakang Arabella
“Pokoknya kali ini harus dirayaiin El, nggak boleh nggak.”
Ellena tidak menanggapi pujian apapun dari teman-temannya saat turun dari motor. Bahkan sorakan masih menggema meneriaki namanya, gadis itu langsung menyingkir, melepas sarung tangannya dan helmnya. Tepat saat Ellena berhasil melepas benda itu dari kepalanya, seorang laki-laki dengan kemeja hitam saat ini berdiri tepat didepannya, Silau cahaya lampu sorot menutupi wajahnya namun Ellena sangat tahu dan hafal meski hanya melihat postur tubuh laki-laki itu yang saat ini semakin mendekat kearahnya.
“Mampus…” Lirih Arabella ini lah hal yang paling gadis itu takutkan. Kemarahan kakaknya, tak perlu menjelaskan apapun gadis itu sudah bisa menebak saat ini kemarahan Raja sudah berada dilevel tertinggi.
Bola mata Ellena bahkan hampir meloncat keluar saat suaminya kini berdiri tepat tepat di hadapannya, sorot mata yang sangat sulit dimengerti Ellena hanya mampu menelan slivanya yang mulai lengket, lidahnya keluh bahkan hanya untuk menyapa.
“Raja, aaku…” Entah pembelaan seperti apa lagi yang gadis itu ingin keluarkan disaat sudah tertangkap basah seperti ini. “Maafkan aku, aku bersalah. Tapi ini pertama kalinya aku keluar, beberapa hari terkurung dirumah aku jadi bosan kalau kamu nggak percaya tanya aja sama Bel…”
SET
Tanpa aba-aba atu kesiapan Ellena, dan secara tiba-tiba Raja melakukan apa yang tidak pernah gadis itu pikirkan sebelumnya. Seorang Raja yang sekalipun tan pernah menyentuh atau memeluk seorang gadis didepan umum, menarik tubuh Ellena kedalam dekapannya.
Ellena terkunci dalam satu pusaran saat Raja memeluknya didepan semua orang bahkan didepan Bagas. “Raja kamu ngapain? Kita dilihat…”
“Ssstttt… Diem gue lagi marah sama lo. Jangan ngomong! Atau gue lebih ngelakuin hal gila dari ini.” Suara berat Raja berhasil membungkam mulut Ellena, entah bagaimana saat ini gadis itu bersikap semua orang melihatnya.
‘Ternyata seperti ini rasanya dipeluk oleh laki-laki.’ Batinnya konyol.
__ADS_1
“Raja lepasin, semua orang liat kita.” Bisik Ellena, berusaha melepaskan pelukannya namun kekuatan Raja lebih besar dari kekuatannya, gadis itu hanya bisa pasrah.
•••
Didalam mobil hanya ada kesunyian yang menggelantung, Ellena bahkan sangat sulit bernafas untuks saat ini dan kenapa juga Arabella memilih ikut bersama sekertaris Leo sedangkan nyawanya sedang terancam. ’Dasar tidak setia kawan.’ Lagi-lagi Ellena membantin. Diam-diam dia melirik suaminya tanpa ekspresi itu.
Setelah melewati kesunyian yang mencekam akhirnya mobil mereka memasuki pekarangan rumah Raja, sepertinya Arabella juga sekertaris Leo sudah tiba sejak tadi melihat mobil yang mereka tumpangi sidah terparkir di depan pintu utama.
Benar saja adik iparnya tiba lebih dulu bahkan sudah berganti pakaian, Ellena menatapnya penuh kepiluan saat mengikuti langkah suaminya yang panjang, memohon bantuan agar hidupnya bisa diselamatkan malam ini.
‘Bella tolong aku!’
‘Maafkan aku, Hidupku juga terancam kakak ipar.’
Sorot mata mereka seolah berbicara satu sama lain.
Raja memerangkap Ellenadengan kedua tangan kekar miliknya. “Kamu mau ngapain?”
Cup
Sebuah kecupan singkat mendarat Raja berikan pada bibir Ellena, cukup lama Raja memperhatikan wajah itu. Bulu mata lentik, hidung mancung, bibir berisi semerah ceri bahkan bola matan yang indah mampu memporak porandakan diding yang laki-laki itu bangun. Raja yang wajahnya sejengkal dari wajah sang istri, mengulurkan tangan lalu merapikan anak rambut yang menutupi wajahnya dengan tangan kanan.
Dan sekali lagi Raja mendaratkan bibir diatas milik istrinya. Ciuman penuh kelembutan berhasil menghanyutkan Ellena sehingga gadis itu menutup matanya. Dia menikmati bibir itu dengan cara yang seksi, pelan-pelan tanpa sadar dia membuat Ellena terjatuh diatas sofa. Namun, itu sama sekali tidak membangunkan keduanya dari fantasi.
__ADS_1
Raja melepaskan bibirnya dari bibir Ellena, saat melihat mata itu terpejam pasrah dia tersenyum. Raja kembali menundukkan kepalanya, perlahan-lahan menurungkan hidung mancungnya pada pundak Ellena hingga kedua mata gadis itu tiba-tina terbuka. Raja menyeret hidungnya hingg turung lebih rendah, menyisiri leher Ellena hingga nafas gadis itu benar-benar memburu. Ellena meremas pundak Raja yang terus membawa sentuhan hingga hampir saja turun.
“Kenapa?.” Bisik Raja setelah membawa wajahnya hanya sejengkal
dengan Ellena.
“Ini salah Raja, seharusnya kita tidak seperti ini.” Gumam Ellena dengan wajah yang memerah.
“Nggak ada yang salah, lo istri gue El. Gue berhak atas semua ini.” Raja kembali mengecup leher Ellena sehingga meninggalkan sebuah tanda disana. ”Anggap aja ini hukuman karena lo ngelanggar apa yang gue bilang.” Ucapnya masih menikmati leher Ellena.
‘Hukman macam apa ini? Aku bahkan…’
“Akhhh…” Suara ******* yang susah payah Ellena tahan akhirnya keluar juga, Raja begitu ahli dalam hal ini. “Tapi Raja…” Nafas Ellena semakin tertahan ketika tangan kekar suaminya menyusup kedalam kaos, menyentuh perutnya yang mulus. Tangan Raja semakin tidak terkondisikikan ketika mulai menyusup kelapisan terakhir pelindungnya. “Tidak apa kita udah nikah.”
“Tapi Raja!!!”
“Kenapa? Hemm…”
Ellena menatap penuh kepiluan. “Aku lagi datang bulan.” Ucapnya pelan. Ucapan yang berhasil membuat Raja putus asa.
Set
Ellena mendorong tubuh Raja hingga laki-laki itu beranjak dan terbaring paarah ditemap tidur. “Kapan dapetnya.”
__ADS_1
“Tadi pagi.”
Raja semakin frustasi, ia meletakkan tangannya diatas wajah dengan putus asa.