
“Loh Anne, kenapa turun sendiri? Ellena sama Raja kenapa tidak ikut.” Tanya Hanin ketika selesai menyiapkan makanan diatas meja.
“Ellena datang ma?” Tanya Elvano yang Entah sejak kapan sudah ikut duduk diatas meja. Pria itu melonggarkan dasinya setelah meneguk satu gelas air dingin, entah kenapa siang ini benar-benar panas.
“Iya, makanya mama masak banyak untuk mereka.”
“Terus mereka mana?” Elvano melemparkan tatapannya pada Anne gadis yang baru pertama kali pria itu temui.
“Nona Ellena dan Tuan Raja sepertinya sedang tidur nyonya.” Balas gadis muda itu pelan sambil menunduk.
“Ya sudah biarkan mereka, kamu bisa kekampus.” Balas nyonya Hanin yang hanya diangguki oleh Anne. Gadis itu berlalu namun sorot mata Elvano masih mengawsinya hingga Anne benar-benar menghilang dari balik pintu.
“Ma, dia siapa? Pembantu baru?”
“Kamu beneran nggak ingat? Dia Anne anak mendiang bibi Lela, nani kamu.” Balas Hanin setelah meletakkan sesendok nasi diatas piring putranya.
Laki-laki itu terdiam, sedikit menerawang. “Akhh… Vano inget. Dia gadis kecil itu kan? Yang pernah bibi bawa kesini sebelum meninggal?” Balanya meski sedikit ragu.
Hanin mengangguk mengiyakan.
“Terus ngapin dia dirumah kita?”
“Vano.”
“Ya , cuman nanya mama.” Balas laki-laki itu sedikit tersentak ketika Hanin menghadiakan cubitan kecil dilengan putranya.
“Minggu lalu Anne datang minta tolong, dia butuh tempat tinggal untuk sementara waktu sampai asramanya dibuka kembali. Ya mama tolong lah, dia Anne anak bibi kamu. Mama juga kesepian, papa lagi di London, kamu sibuk kerja, terus Ellena sama Raja jarang kerumah. Mama kesepian Elvano, kamu setuju ya untuk sementara Anne tinggal disini.” Jelas wanita paru baya yang masih terlihat cantik itu, merengek layaknya bayi kecil mengingankan sesuatu.
“Ya nggak setuju siapa mama?”
“Siapa lagi kalau bukan kamu, satu-satunya penghuni rumah ini yang paling nggak suka kalau ada orang asing masuk. Inget kan waktu papa tiba-tiba ganti tukang kebuh kamu marah, terus salah satu pelayan kita berhenti mama cari penggantinya kamu juga marah nggak jelas, pas malam tahun baru…”
“Kalau mama senang aku bisa apa? Dia juga nggak selamanya disini kan.”
Hanin mengangguk dengan senyuman. “Hanya sampai asrama kampus Anne dibuka, mama janji.”
“Emang dia kuliah?”
“Anne, namanya Anne sayang.”
“Siapapun itu.”
“Anne kuliah di universitas Gamma, dia mahasiswa hukum jalur beasiswa. Hebat kan?” Jelas Hanin, kedua matanya berbinar ketika menjelaskannya pada Elvano seolah memperkalkan Anne sebagai calon menantu idamannya.
“Mama suka banget sama dia.”
“Anne, Vano.”
__ADS_1
”Iya mama.”
“Siapa nggak suka sama Anne? Dia cantik, sopan, pintar masak, pintar di bidang pendidikan, baik lagi. Apa kurangnya coba?”
Elvano terbelak ketika mendengar penuturan Hanin. “Padahal mama baru ketemu minggu lalu, tapi kok kayak udah ketemu bertahun-tahun sih?”
“Insting seorang wanita nggak akan pernah salah sayang.”
“Terserah mama aja, yang penting cewek itu nggak ganggu privasi Vano.” Tekan laki-laki itu seraya meraih tasnya dan hendak beranjak dari meja makan.
“Ehh, mau kemana? Nggak makan dulu?”
“Makan Vano udah habis ma.” Balas Vano sambil menunjuk piringnya yang sudah bersih dengan anggukan kepala.
“Kapan kamu makan? Kok mama nggak liat?”
“Gimana mau lihat kalau mama ngoceh terus.” Balas Elvano, mulai berjalan menuju lantai atas dimana kamarnya berada. “Mama lanjutin makannya, Vano mau istirahat. Nanti sebelum jam tujuh malam bangunin Vano.”
“Mau kemana? Kamu baru sampe rumah Vano.”
“Akselio ulang tahun mama.”
“Akselio temen kampus kamu?”
“Hemm…”
Suara dentuman musik disebuah bar yang begitu ramai dengan pengujung kalangan elit, Elvano turun dari mobil porsche hitam dengan stelan kemeja hitam yang senada dengan celana berbaham katun milikya, laki-laki itu sengaja menggulung lengan bajunya sehingga menampakkan urat-urat seksi yang membuat laki-laki itu semakin tampan dan maskulin.
“Vano, sini!!!”
Elvano menoleh kesisi kanan dimana suara Akselio berasal, laki-laki itu tersnyum tipis ketika melihat Aksel yang sudah dikelilingi wanita cantik dan seksi dikedua sisinya.
“Selamat ulang tahun bro.” Kata Elvano setelah ikut bergabung dengan semua sahabatnya saat mereka masih duduk dibangku kuliah dulu.
“Lo tambah ganteng Van?”
“Tambah sibuk juga, gila gue mau ketemu dia aja susah banget bro.” Tukas Nico setelah meneguk sisa vodka di gelasnya.
Elvano hanya membalasnya dengan senyuman.
“Btw sekarang ipar gue siapa? Belum pernah gue liat lo gandeng cewek setelah kepergian mendiang istri lo.” Tanya Akselio setelah menyingkirkan gadis-gadis itu disisinya.
“Belum ada yang cocok.”
“Belum ada yang cocok atau belum bisa ngelupain?”
“Dua-duanya.”
__ADS_1
“Mau gue kenalin nggak temen gue.”
“Nggak usah.” Balas Elvano cepat. “Temen lo nggak ada yang beres, inget Markcus lo kenalin dia sama cewek yang punya laki.”
“Emang biadab nih Aksel.” Tukas Mark kesal.
“Ceweknya ngaku janda.” Belanya.
“Makanya gue nggak mau.”
Disela-sela percakapannya, seorang gadis pelayan datang dengan anggunya kemeja dimana Elvano dan kawan-kawannya duduk. Gadis itu kembali meletakkan minuman vodkan didepan Elvano.
“Silahkan tuan.” Kata gadis itu sopan.
Elvano yang serius mendengar pengalaman Aksel menoleh dengan senyuman, namun alangkah kagetnya ketika laki-laki itu mengetahui siapa gadis yang melayani meja mereka. Senyum diwajahnya sontak memudar.
“Dia???” Batinnya.
“Apa anda ingin sesuatu lagi?”
“Tidak, kau boleh pergi.” Pinta Akselio kembali melanjutkan ceritanya.
Dia Anne, gadis itu melangkah pergi, menggilang dari balik tembok. Di lorong yang sepi menuju dapur tiba-tiba sebuah tangan menarik pergelangannya menuju pintu darurat bar itu.
“Tuan?”
“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Elvano langsung pada intinya.
“Saya sedang bekerja tuan.”
“Ditempat ini? Bukannya kamu kuliah?”
“Saya kuliah sambil bekerja.” Balas Anne masih menatap lurus wajah Elvano yang masih bingung.
“Bukannya kamu dapat beasiswa dari kampus? Kenapa harus bekerja.”
Anne tersenyum tipis. “Saya tidak tahu apakan anda benar-benar tidak tahu atau banya pura-pura. Biasiswa yang saya dapat dari kampus hanya membayar biaya kuliah saya tuan bukan hidup saya.”
“Okey, tapi kenapa harus kerja di bar?”
“Karena di tempat ini tidak membutuhkan ijasah saya tuan. Mereka hanya ingin saya bekerja.” Balas gadis itu. “Saya minta maaf jika kehadiran saya disini menganggu anda tuan, anda tidak perlu khawatir! Saya tidak akan menampakkan wajah saya sampai anda keluar dari tempat ini.” Lanjut Anne. Gadis itu kemudian meninggalkan Elvano yang masih terdiam.
Elvano
Anne
__ADS_1