
“El.”
Gadis itu menoleh diikuti sang suami setelah menutup pintu kamar Elvano. Ellena mengeyerit ketika melihat gadis yang membawa Elvano ternyata belum pergi dari rumahnya
“Mama…”
“Gimana keadaan Elvano?”
“Sudah tidur.” Balas Ellena singkat, dia melepaskan genggaman Raja ketika laki-laki harus mengangkat sebuah panggilan dari ponselnya “Vano punya masalah ma? Tumben banget dia minum-minum.”
“Mama nggak tau, kakak kamu baru pulang dari perjalanan dinas. Terus soreh tadi minta izin pergi acara ulang tahun teman kuliahnya. Mama juga nggak nyangka Vano bakal mabuk-mabukkan kayak gini.”
Untuk sesaat suasan menjadi hening, sampai pada akhirnya Anne menhelai nafasnya pelan. “Maaf nyonya, ini ponsel tuan muda.” Kata gadis itu mengulurkannya pada Hanin.
“Iya makasih Anne.”
“Ma…”
Hanin menoleh, ia tahu maksud putrinya meski hanya dengan menatapnya. “Ouh iya sayang, kenalin ini Anne anak mendiang bibi Lela, kamu ingatkan?”
Ellena terdiam, bayangan wanita paruh baya yang Hanin maksud begitu samar. Bibi Lela adalah pengasuh Elvano waktu kecil, meski wanita itu juga sempat mengasuh Ellena akan tetapi terbilang singkat karena kesehatan wanita itu memburuk.
“Untuk sementara Anne tinggal disini, sampai Asramanya selesai di renovasi. Hitung-hitu temenin mama El, selama papa tugas di London. Kamu nggak keberatan kan?” Tutur Hanin.
__ADS_1
“Nggak kok ma, Lena malah senang kalau mama punya temen.” Balas Ellena dengan senyuman.
“Ya udah kalau gitu, mama kekamar dulu.”
Hanin melangkah pergi dan kini hanya sisa mereka berdua, Ellena mendekat pada Anne. Mengulurkan tangannya sebagai tanda perkenalan. “Nama aku Ellena.”
Anne yang sejak tadi menunduk akhirnya mengadah, perlahan membalas uluran tangan Ellena. “Anne.” Balasnya pelan. Gadis itu menatap nona muda dihadapannya penuh kekaguman, wanita cantik dengan bola mata yang indah.
“Terima kasih sudah membawanya pulang kerumah, sebelumnya dia tidak pernah minum dan…” Ellena menggantung kalimatnya, sorot matanya menatap Anne lekat. “Kak Vano tidak pernah dekat dengan gadis manapun selama ini.”
“Anda jangan salah paham nona, saya dengan tuan Elvano tidak dekat sama sekali. Kami hanya tidak sengaja bertemu.” Ellena tersenyum tipis melihat kepanikan Anne.
“Kamu menyentuh tubuhnya, itu artinya kalian dekat.”
“Eh?”
“Anda salah paham nona, tuan muda benar-benar mabuk. Dia tidak tahu siapa yang memapahnya, jika hal adalah kesalahan saya benar-benar minta maaf.” Balas Anne sedikit takut, wajah mungilnya berubah takut.
“Tidak apa, kamu tidak salah. Aku harap kalian berdua bisa berteman dengan baik.” Kata Ellena sebelum meninggalkan Anne yang masih terlihat ketakutan.
Ellena berjalan hendak menuju kamarnya yang hanya berjarak beberapa langkah dari kamar Elvano, namun gadis itu berhenti tepat didepan balkon dimana suaminya sedang berdiri, tangan kananya masih mengitak atik ponselnya dan tangan sebelah kirinya terlihat memegang sebatang rokok yang masih panjang. Ellena mulai mendekat, menyentuh pundak Raja pelan.
“Sayang…” Raja buru-buru mematikan rokok yang sepertinya baru saja laki-laki itu bakar. “Kenapa, mau sesuatu?”
__ADS_1
“Kamu ngerokok?”
Raja tersenyum tipis. “Hemm… Cuman kalau lagi pengen.”
“Kamu ada masalah?”
Raja terdiam untuk beberapa saat, menatap lekat wajah istrinya. “Kenapa makin hari kamu makin cantik sih?”
“Baru nyadar?” Balas Ellena singkat. “Udah jangan ngalihin pembicaraan! Sekarang jawab pertanyaan aku, kamu ada masalah?!”
“Bukan masalah besar, kamu nggak usah mkirin apa-apa, aku bisa…”
“Masalah kantor?”
Raja mengangguk pelan.
“Kenapa?”
Raja terdiam, bukan ingin merahasiakan apapun dari wanitanya. Namun Raja tak ingin membebani apapun pada Ellena.
“Kenapa nggak mau bilang sih? Meski aku nggak akan ngerti, setidaknya kamu bisa cerita sama aku. Bisa jadi beban dan pikiran kamu bisa lebih ringan.”
Raja tersenyum, mengelurukan tangannya menyentuh pipi Ellena yang memerah. “Sejak kecil aku punya impian, membangun perusahaan yang bergerak dibidang game. Tapi, ayah nggak pernah setuju, sampai pada akhirnya ada jalan membangunnya dari awal. Beberapa bulan yang lalu Salah satu infestor yang sama sekali tidak memiliki hubungan kerja dengan ayah tertarik dan mereka setuju ber-infestasi diperusahaan kita. Tapi…“
__ADS_1
Raja menghelai nafasnya panjang. “Tiba-tiba orang itu memutuskan kontrak secara sepihak, aku sudah berusaha menghubunginya tapi tidak ada jawaban.”
Ellena mengangguk mengerti, detik selanjutnya diluar dugaan laki-laki itu. Ellena menarik tubuh suminya, memeluknya hangat. “Mulai sekarang, apapun masalahnya kamu harus cerita sama aku! Hemm.” Raja mengangguk, laki-laki itu membelas pelukan istrinya lebih erat lagi