Raja Untuk Ellena

Raja Untuk Ellena
Bab 12


__ADS_3

Pukul sebelas Ellena baru saja tiba setelah menempuh perjalanan lumayan lama menuju kampus, gadis itu masih memakai pakaian yang Raja berikan padanya. Akan tetapi bukan hal itu yang membuat Bagas Aditia sahabat Ellena terperangah saat gadia itu tiba di kampus. Melaiankan untuk pertama kalinya dalam sejarah Ellena Roselyn kekampus menggunakan taksi online, siapapun tahu jika selama ini Ellena hanya menggunkan sepeda motor


“Ini lo kan?” Pertanyaan Bagas membuat Ellena mengerutkan keningnya begitu turun dari mobil. “Serius ini Ellena? Ellena Roselyn.”


“Menurut kamu siapa? Lisa Black pink?”


Bagas tersenyum lebar. “Tau aja lo kalau gue habis nonton konsernya?”


“Bagaimana nggak tau, kalau tuh story udah kayak titik-titik kehidupan. Semuanya sama, Lisa, Jennie, Rose, Jisoo.” Keduanya melangakah menuju kantin yang berada tepat di samping area parkir.


“Bilang aja iri, lo nggak dapet tiket kan?”


Ellena memutar bola matanya kesal. ‘Bukan nggak dapat tiketnya monyet, hari itu aku nikah.’ Batinnya


“Soal konser nggak penting, motor lo mana? Tumben kekampus naik ojol? Lo Jadi kan ikut yang gue bilang ke…” Kata-kata Bagas terpotong pada saat Ellena menghentikan langkahnya bahkan sebelum gadis itu benar-benar masuk ke dalam kantin. “Kenapa?” Bagas mengangkat pandanganya, lebih terkejud lagi


“Aksel?” Gumam Ellena.


“Kaget ya?”


“Banget.” Kata itu keluar bukan dari mulut Ellena, melainkan Bagas. Sedangkan Ellana masih mematung tidak percaya. Laki-laki yang selama ini tidak ingin lagi menginjak Athena tiba-tiba muncul dan kini berdiri dihadapan Ellena.


“Kesini ngapain? Cari aku sama bagas.


Aksel menagngguk pelan. “Kalau nyari monyet nih, nggak. Gue nyari lo. Tapi…” Aksel menjeda ucapannya sejenak. “Mulai hari ini gue juga mulai aktif lagi kuliah?”


Ellena melirik Bagas yang juga menatapnya, menuntut penjelasan sebenarnya apa yang terjadi selama gadis itu menghilang. Bagas menggeleng tidak tahu menahu, seingatnya terakhir bertemu kemarin Aksel hanya diam setelah aksi balapannya dengan Khey berakhir dengan kemenangan.


“Kenapa diem aja? Mau kekantin kan?”


“Iya.”


Kemudian ketiganya melangkah mencari tempat yang kosong. Sedikit risih , tak ayal kedatangan Aksel mengudang perhatian beberapa mahasiswa yang mengenalnya, bahkan beberapa mengambil gambar mereka lalu mengunggahnya di salah satu akun media sosial kampus.


“Ngomong-ngomong lo dari mana El? Seminggu lo menghilang. Ada masalah?” Tanya Aksel


Untuk sesaat Ellena terdiam, sorot mata kedua pria itu seolah menyudutkannya. ‘Mereka nggak tau kalau aku nikah, itu artinya nggak ada berita apapun tentang pernikahan aku. Kok bisa? Padahal kemarin seramai itu.’


“El.” Bagas menyentak meleburkan lamuan Ellena.


“Aku nggak budek Bagas. Kemarin ada acara keluarga, sorry karena nggak ngabarin.” Ucap Ellena.


“Gue kira lo nikah.” Kata-kata Bagas berhasil membuat sorot mata Aksel menajam, sedangkan gadis itu dibuat gugup. Wajahnya tiba-tiba berubah pucat pasih.


“Aaa… Apaan sih, tu mulut dijaga ya.”


“Ya kali, soalnya hari itu bokap lo jemput kebengkel. Kali aja dijodohin.”


“Sok tau…”


“Vibesenya kayak gitu Ellena.”


“Bagasss…”


“Salah gue dimana?”


“Salah lo itu asal ngomong.”


“Lagian kalau nggak benner ngapain marah El?”

__ADS_1


Gadis itu terdiam.


“Lo berdua kalau ketemu udah kayak tikus sama kucing tau nggak? Brisik.”


Suara dingin Aksel berhasil membungkam mulut keduanya, disaat yang bersamaan suasana kantin tiba-tiba dibuat heboh oleh salah seoarang mahasiswi. Dia Anet masih sengkatan juga sekelas dengan Ellena.


.


.


.


“Dia datang woi.” Teriaknya berhasil membuat kerumunan di sekitar meja Ellena. “Raja… Raja datang, dia kembali.”


“Serius?” Sahut salah satunya.


Anet mengangguk penuh kesungguhan. “Gue nggak sengaja ketemu di ruang rektor tadi. Busyet beda banget, makin ganteng aja. Hidungnya, matanya, bibirnya, jidatnya. Ya ampun, gue hampir mimisan, apalagi pas dia nengok kearah gue Jul. Udah kayak mau ngajak kepelaminan tau.” Teriak gadis itu semakin membuat keriuhan kantin.


“Gimana lo liat jarinya nggak?”


Anet mengeyenrit. “Maksud lo?”


“Ya ampun Net. Lo lupa, sama artikel kemarin? Itu sempat trending lo.”


Anet terdiam, bagaimana bisa dia melupakan hal itu. “Gue nggak liat anjir, cuman fokus ke visual dia. Aaaaaahk… kok gue jadi bego sih?”


Seseorang gadis ikut prihatin, meranggkul Anet menenangkannya. “Bukan hanya lo ko Net yang akan bego kalau berhadapan langsung sama Raja. Tenang aja, lo nggak sendiri.”


“Kayaknya boong de Net, soalnya sampai detik ini nggak ada tu kabar kalau Raja udah nikah. Ataupun siapa calon istrinya.” Sahut Marsha juga sahabat sekaligus satu geng dengan Anet


“Iya juga ya. setelah artikel soal dia mau nikah kemarin, belakangan ini gue ngeburu artikel pernikahannya. Tapi nggak ada.” Kata Julia, setelah meletakkan ponselnya diatas maja.


“Yakin bisa?”


“Ngeremehin gue lo ya, liat aja. Raja bakal takluk dipelukan gue.”


“Cih.” Julia berdecih kemudian meninggalkan Anet dengan semua omong kosongnya. “Raja nggak suka sama cewek pirang.”


“Tau mana lo Tai.”


“Cih, gitu aja lo nggak tau.”


.


.


.


Diam-diam Ellena menelan ludahnya yang lengket, bukan hanya Mia, ternyata Anet gadis lumayan populer di Athena juga menyukai suaminya. Akan tetapi kata ‘cewek itu’ siapa dia? Ellena semakin penasaran.


.


.


.


“Wah, luar biasa. Athena di hujani dengan kejutan hari ini, Aksel ketua geng Aerox muncul secara tiba-tiba di Athena dan Sekarang Raja Oliver calon penguasa Athena juga ikut muncul, ini bukan peperangan kan? Secara mereka saling membenci karena satu hal yang semua orang tau.”


“Kata-kata lo Janet udah kayak sutradara Mahabrata. Memangnya Raja sama Aksel mau perang rebutin apaan? Ratu Rukayyah? Ratu Jodha? Soal masalah itu bukannya udah selesai?”

__ADS_1


“Tau nih, lagian Mia nggak bakal bisa naklutin Raja. Cewek itu masih bertahta dihati Raja.”


Kata Cewek itu lagi-lagi menganggu pikiran Ellena. “Kenapa mereka nggak sebut nama sih?” Batinnya


.


.


.


“Raja?” Gumam Bagas, laki-laki itu masih mencerna kata-kata segerombolan gadis yang membuat heboh seisi kantin. “Kok bisa kebetulan, Lo yang hari ini mutusin mau aktif kuliah lagi eh tiba-tian Raja juga muncul di Athena. Kalian nggak janjian kan?”


“Bisa diem nggak lo!”


“Ini hanya pemikian gue Xel. Lo…”


“Sekali lagi lo ngomong, tu rahang gue pindahin ke kaki.”


Bagas kembali mengunci mulutny, jika sekali lagi suaranya terdengar di telinga Aksel. Bukan hanya rahangnya yang dipindahkan melainkan nyawanya juga ikut pindah alam.


Keduanya terdiam saling membuang pandangan, sampai pada akhirnya sebuah panggilan diponsel Ellena membuat kedua pria itu menatapnya.


Drrrtt


Drttt


Drtt


“El.”


Gadis itu tersentak kaget bahkan hampir menumpahkan minuman didepannya.


“Kenapa?“


“Ponsel lo”


Untuk sesaat Ellena terdiam saat melihat hanya sebuah nomor kontak yang menghubunginya, sampai kemudian gadis itu mengangkatnya pada panggilan ke dua.


“Hal…”


“Ini gue?” Mata Ellena membola.


“Iiii… iya, kenapa?”


“Lo dimana? Gue dikampus.”


Ellena menelan ludahnya yang sedikit lengket. “Iya aku dikampus.”


“Iya gue tau, lo dibagian mana? Gue kesitu sekarang.”


“Tidak, aku yang kesana. Kamu diamana?”


“Parkiran, buruan kesini.”


Dia mematikan sambungan teleponnya bahkan sebelum berpamitan, lalu bergegas mengambil tasnya diatas meja.


“Aksel Aku diluan ya, Gas.” Ellena langsung berlari, mengabaikan teriakan Bagas.


“Tu anak kenapa? Benner-bener aneh.”

__ADS_1


Axel hanya diam menatap punggung Ellena yang kian menjauh dari jangkauannya.


__ADS_2