Raja Untuk Ellena

Raja Untuk Ellena
Bab 26


__ADS_3

“Ellena.”


Gadis itu menghentikan langkahnya lalu menoleh. Diujung lorong, Axelio dengan langkahnya yang sedikit berlari mendekati Ellena.


“Lo ada waktu? Gue mau ngomong.”


“Apa? Aku mau keruang rektor dulu.” Ucapnya


“Ya udah gue temenin.”


“Kamu ada urusan juga diruang rektor.”


“Gak, gue cuman temenin lo.”


“Nggak usal kamu tunggu aja dikelas, aku cuman sebentar ko Xel.”


“Gue tenenin.” Ucap laki-laki itu singkat dan Ellena tidak bisah menolak. Gadis itu mulai melangkah ber-iringan dengan Axelio, Tak sedikit dari mahasiswa menatapnya sinis. Bahkan beberapa dari mereka mengatakan dengan Jelas ketidak sukaan mereka.


Jujur Ellena merasa gelisah sedari tadi. Untuk pertama kalinya gadis itu merasa tidak nyaman berada didekat Axelio, padahal sebelumnya mereka sering jalan berdua sebelum Ellena menikah. Entah bagaimana cara gadis itu mengusir ketuanya itu, jujur dia sedikit takut jika Raja melihatnya jalan bersama laki-laki lain. Sudah cukup Ellena dibuat pusing karena kejadian tempo hari, lagi pula sepenuhnya bukan salah dia juga kan? Salah Raja yang menurungkannya di tengah jalan. Pikir Ellena


“Lo udah jarang ke bengkel kenapa?”


Ellena menoleh. “Apa?”


“Belakangan ini gue perhatiin juga lo udah jarang walau sekedar ngumpul sama anak-anak. ingetkan, lo wakil ketua? Anak-anak sering protes sama gue tentang lo.” Ellena terdiam. Jujur gadis itu begitu dilema saat ini, disisi lain dia begitu ingin ikut kumpul sama teman-temannya seperti dulu namun Ellena sadar statusnya kini adalah seorang istri dari seseorang.


“Maaf Xel, belakangan ini aku sibuk.” Balas gadis itu. Ia bisa meliht ketidak puasan jawaban melihat dari sorot mata Axelio. Namun, pada akhirnya laki-laki itu mengangguk. “Besok gue mau lo datang ke markas. Nggak ada alasan nggak datang Ellena, nggak lupakan besok pertmuan rutin Aerox?”


Gadis hanya mengangguk sebagai jawaban. Ellena terus melangkah melihat kedepan. Namun, itu tak bertahan lama ketika perhantiannya teralih pada objek lain. Ellena melihat sosok Raja yang baru saja keluar dari ruang rektor. Melangkah ber-iringan dengan Zaka yang masih seangkatan dengan Ellena, tampak berbicang ringan.


Sembari berjalan, Ellena tak melepas menatap suaminya disana. Hingga kemudian, pandangan mereka bertabrakan. Raut wajah Raja berubah kaku juga dingin, menatap datar ke arah Ellena yang memandangnya nanar, lalu beralih ke arah Axelio laki-laki itu menatap istrinya begitu dalam. Raja bukan laki-laki bodoh jika tidak tahu tatapan seperti apa yang Axelio berikan pada Ellena. Hingga kemudian, Raja memutuskan kontak mata mereka lebih dulu.


“Lo selesai jam berapa?


Ellena langsung menoleh, mengerjabkan mata. Exelio lebih senior setingkat dibangding Ellena, namun karena sempat menganggur lak-laki itu mengulang beberapa mata kuliah yang sama dengan gadis itu, seperti saat ini. Mata kuliah Mr. Lois yang sangat membosankan sepanjang sejarah.


“Mungkin soreh, aku selesai.”


Axel mangangguk. “Nanti gue anter pulang.”

__ADS_1


“Ehmm… memang kamu selesai jam berapa?”


“Setelah mata kuliah Mr. Lois. mata kuliah selanjutnya batal masuk. Tapi gue tetap nungguin lo. Belakangan ini gue liat lo nggak bawa motor, jadi bareng gue aja.” Ujarnya. Ellena langsung menggelang. “Nggak usah pak ketua. Kakak aku mau jemput kok.”


Axelio tertawa. “Sejak kapan lo manggil gue pak ketua, perasaan selama ini hanya lo yang paling berani manggil nama.”


Ellena hanya tersenyum.


“Benner nggak usah gue tunggu?”


Ellena mengangguk yakin.


“Benneran kakak kamu yang mau jemput?”


“Iya.”


“Ya udah, kalau dia telat datang atau nggak jadi jemput lo kabarin gue!”


•••


Suasana kelas begitu sepi, suasana yang tidak asing lagi untuk jelas Sejarah Kebudayaan. Hanya ada beberapa mahasiswa memilih duduk secara terpisah. Sama halnya dengan Ellena, gadis itu memilih menepi didekat Jendela hanya saja Axelio lebih dulu duduk didekat jendel. Sampai pada beberapa menit kemudian suara riuh mahasiswa salih berlomba masuk mencari tempat duduk yang masih kosong dan kejadian ini untuk pertama kalinya dalam sejarah, kelas Mr. Lois dipenuhi mahasiswa. mengingat Sejarah Kebudayaan adalah mata kuliah paling membosankan.


“Nggak, benner ini kelas Mr. Lois.”


Ellena menoleh kebelakang mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi, kelas ininbahkan dipenuhi gadis-gadis populer. “Hey, apa ada seminar di kelas Mr. Lois?”


Salah satu gadis yang duduk dibelakang Ellena menggeleng. “Lo nggak tau ya, kalau hari ini cowok tertampan di Athena masuk dikelas kita?”


“Cowok tertampan?” Gumam Ellena masih tidak mengerti.


Gadis itu tidak perduli, dia kembali menatap buku setebal kitab suci sun go kung didepannya. Sampai pada akhirnya ia kembali mengadah karena suara riuh kembali menggema, sorot matanya ikut tertuju pada seorang laki-laki yang baru saja masuk. Laki-laki kemeja hitam senada dengan celana katunnya, melangkah pelan dengan tatapan dingin. Sampai pada akhirnya laki-laki bernama Raja Oliver yang berhasil membuat keributan di kelas ini berhenti tepat di kursi istrinya sendiri, Ellena Roselin.


“Gue boleh duduk disini? Nggak ada orangkan?”Suara rendah laki-laki itu meleburkan lamuan Ellena.


“Lo bisa cari tempat duduk yang lain.” Tukan Axelio dengan tatapan ketidak sukaan.


Raja mengabaikan ucapan laki-laki itu, menatap istrinya dengan tatapan memaksa. “Iya.” Gadis itu menarik tas kecil miliknya dan bergeser memberi ruang untuk Raja.


Raja yang hendak duduk ketika matanya teralihkan pada sesuatu. Laki-laki itu berdecak , melemparkan jasnya lagi diatas paha Ellena. Axelio dibuat kaget, tanpa siapapun sadar dibawah sana tangan laki-laki itu terkepal.

__ADS_1


“Hey.” Bisik Ellena ketika suaminya sudah duduk. “Gimana kalau ada yang salah paham.”


“Salah lo sendiri, pake celana kependekan.” Balasnya dengan suara takkala kecilnya. “Raj…”


“Husss… kalau lo protes lagi gue cium mau?” Ancam laki-laki itu berhasil membungkam mulut Ellena, menuruti keinginan laki-laki gila ini adalah jalan satu-satunya untuk selamat.


Gadis itu merapikan jas Raja dibawah sana, kembali memperhatikan Mr. Lois menjelaskan pembelajaran kemarin. Sedari tadi Axelio terus memperhatikannya. Senyumannya juga tatapannya pada Raja begitu hangat, gadis itu bahkan tidak menolak saat Raja memainkan gantungan kunci berbentuk boneka ditasnya. Padahal gadis itu bukan tipe yang suka jika barang-barangnya di sentuh oleh orang asing. Namun, hal itu tidak berlaku untuk Raja. Laki-laki itu dengan leluasa menyentuh bahkan memegang apapun milik Ellena tanpa ada protes dari gadis itu.


Dai sudut yang berbeda, Bagas yang terus mengawasi Ellena merasakan ada hal yang aneh diantara mereka berdua. Terbilang saat kejadian dikantor polisi yempo hari.


“Lo kedinginan?”


Ellena menggeleng tanpa menoleh pada Axelio, gadis itu asik menulis apa yang tuan Mr. Lois katakan.


“Gue pinjam…”


“El.”


Gadis itu Langsung menoleh. “Gue bosen. Masih lama?” Tanya Raja pelan.


“Tiga puluh menit lagi.” Bisiknya


“Kabur aja yuk! Lo dari tadi juga belum makan.”


“Kamu gila, aku nggak mau ngulang hanya karena bolos 30 menit terakhor. Udah diem disitu!” Ellena kemudian meraih tas yang ada didepannya, mengambil miniatur boneka yang kepalanya bisa bergoyang. “Sabar ya, udah nggak lama.” Bisiknya kembali sambil mengawasi sekitarnya. Namun hal itu tidak berhasil mengusir rasa bosan seorang Raja, sampai pada akhirnya laki-laki itu hanya memainkan rambut Ellena yang sengaja diikat satu, bagian bawahnya agak ikal seperti mie rebus. Raja menyukai itu.


“Ellena…”


“Hemm…”


“Rambut lo cantik, kok lo nggak.”


“…”


“Gue suka rambut lo.”


“Iya…”


“Gue suka lo…”

__ADS_1


Ellena menoleh, terdiam kaku. Berusaha mencerna kalimat itu, kamera seperti menyorot mereka berdua yang saling menatap satu sama lain.


__ADS_2