Raja Untuk Ellena

Raja Untuk Ellena
Bab 65


__ADS_3

Drtt


Drtt


Drtt


Ellena tersadar dalam tidurnya, gadis itu mendongak melirik jam diatas nakas. Ia kembali menarik tatapannya pada laki-laki yang masih terlelap memeluknya, pelan-pelan Ellena melepas pelukan itu sembari menahan selimut untuk menutupi tubuhnya.


Drtt


Drtt


Drtt


“Raja, bangun! Ada yang nelpon.” Kata Ellena membangunkan suminya, bukannya bangun laki-laki itu malah memindahkan kepalanya diatas pahan Ellena lalu menyembunyikan wajahnya diperut rata gadis itu. “Kamu nggak mau angkat dulu? Siapa tau penting.”


Raja tak bergeming sedikit pun.


“Raja”


“Iya sayang.” Gumamnya dengan suara serak.


“Hp kamu bunyi, nggak mau diangkat dulu?”


“Siapa?”


“Nggak ada namanya.”


“Hemm… angkat aja.”


“Beneran?”


”Iya sayang.”


Tanpa pikir lama, Ellena langsung mengangkat panggilan itu. Kemudian menyalakan mode spiker agar Raja juga bisa mendengarnya. Belum sempat Ellena bersuara, suara seorang gadis terdengar diseberang sana.


“Raja.”


Tidak hanya Ellena, Raja yang mulanya terpejam tiba membuka matanya. Suara yang terdengar dan bagaimana cara gadis itu beberbicara membuat Raja sadar siapa yang ada diseberang sana.


“Aku mau langsung keintinya! Malam ini kita ketemu, aku akan jelasin semuanya Raja. Kalau kamu nggak suka aku kerja di dunia modeling, aku akan berhenti demi kamu. Agar kita bisa balikan lagi kayak dulu.”


Ellena langsung melirik kearah Raja yang sudah mengubah posisinya menjadi duduk. Menyadari ekspresi Ellena laki-laki itu kemudian menggelengkan kepala, menghelai nafasnya.


“Raja, kamu denger aku kan? Please, aku mohon. Aku nggak bisa kita kayak gini.”


Raja langsung mengambil alih ponselnya dari tangan Ellena.


“Aku..”


Sambungan teleponnya terputus, kalimatnya terpotong. Raja melempar asal ponselnya disisi lain ranjang, kemudian menatap Ellena lekat. Gadis itu hanya diam menatap Raja dengan tatapan yang sulit diartikan.

__ADS_1


“Sayang…”


Raja menangkup wajah Ellena dengan kedua tangannya, menatap lurus kearah istrinya. “El, jangan mikir aneh-aneh. Apapun yang ada dipikiran kamu itu nggak benner.”


Untuk sesaat gadis itu memasang wajah datar, detik kemudian tersenyum tipis. Menarik turun tangan Raja lalu menggenggamnya. “Emang kamu tau aku mikir apa?”


“Kamu mikir kan aku masih berhubungan sama Jen?”


Ellena diam.


“Nggak sayang, itu nggak benner. Kamu lihatkan nomornya aja nggak aku simpan. Nggak tau kenapa dia tiba-tiba nelpon.” Raja kemudian menyentuh kedua pipi istrinya lembut. “Percayakan sama aku?”


“Iya.”


Raja menatap lekat wajah Ellena masih ragu.


“Ell…”


“Iya aku percaya.“


“Beneran?”


“Iya beneran. Lihat nih kamu sampai keringetan.” Ellena menghampus butir-butir keringat yang ada didahi Raja.


“Gimana nggak keringetan, kejadian tadi aja belum ilang diingatan aku. Ngeri kalau kamu marah, langsung hilang dari perdaran.”


“Tapi kan tetep ketemu.”


“Hem..” Raja menatap lekat wajah Ellena. “Bagaimana pun cara kmu untuk bersembunyi, aku akan tetap menemukan mu Ellena. Karena kau adalah milikku.” Bisik Raja, perlahan laki-laki itu memajukan wajahnya hendak meraup bibir Ellena yang memerah. Namun belum sampai keduanya bertemu Ellena terlebih dahulu memalingkan wajah, kemudian berdiri dari tempat tidur.


“Ell, jangan lari!” Peringat laki-laki itu.


Namun Ellena hanya membalasnya dengan senyuman, detik seanjutnya Ellena dibuat lebih kaget ketika melihat bagian lehernya penuh dengan bercak merah. Ellen mengerang. “Aneh, kenapa dia suka sekali mengisap ha?”Beberapa menit beralalu, Ellena keluar dari kamar mandi. Sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk, gadis itu melirik ke arah balkon melihat punggung suaminya yang tidak mengenakan baju. Laki-laki itu sednag menelpon seseorang, entah siapa Ellena tidak ambil pusing.


“Udah selesai?”


Ellena tak menjawab atau menoleh, dia fokus menatap cermin, menutupi kemerahan di lehernya dengan congsiler.


“Kenapa di tutupi?”


“Menurutmu?”


“Apa? Itu hal yang wajar.”


“Wajar apanya? Mau seisi rumah ini tahu kalau kita…” Kalimat itu terpotong sesaat. “Ahh sudah lah, kamu nggak mau mandi?”


“Kita sudaha apa, hemm?” Goda Raja


“Raja.”


“Iya sayang.”

__ADS_1


“Mandi dulu, dari siang kamu belum makan.”


“Kata siapa? Aku udah makan kok.”


“Hemm?” Ellena menoleh dengan tatapan bertanya.


“Kan tadi udah makan kamu.”


“Raja…” Ellena yang hendak melayangkan pukulan namun Raja lebih dulu menahannya, lalu menarik Ellena kedalam pelukannya.


“Kenapa? Ada masalah?” Tanya gadis itu sedikit mengadah.


“Nggak.”


“Nggak ada atau nggak mau ngomong?”


Raja melepaskan pelukannya, kemudian mencubit ujung hidung gadis itu. “Kenapa curigaan banget sih istri aku? Mandi dulu ya.” Balas laki-laki itu lalu berjalan menuju kamar mandi.


****


Brak


Raja dan Ellena menoleh saat pintu utama terbuka secara kasar, gadis itu segera berlari diikuti suaminya dari belakang. Dan betapa terkejudnya Ellena saat melihat Elvano datang dalam keadaan mabuk bersama seorang gadis.


“Maaf nona saya membuat keributan.”


Ellena tidak menjawab apapun, sorot matanya menatap gadis itu penuh tanya. Sedangkan Raja mengambil alih tubuh Elvano yang setengah sadar.


“Kamu siapa?”


Bruk…


Ellena menoleh pada kakaknya, yang sudah ambruk diatas lantai. “Ikhhh… Udah tau nggak bisa minum alkohol, pake minum segala.” Gumam Ellena kesal.


“El…”


Gadis itu menoleh saat hendak meninggalkan kamar Elvano bersama suaminya. Ia menetap kakanya yang berusaha duduk diatas ranjang.


“Apa?”


“Perut kamu kok belum besar?”


Ellena menuduk menatap perutnya yang rata. “Disana belum ada ponakan kakak ya? Belum kamu buat ya?” Ellena membelakkan matanya.


“Udah gue buat Van, tunggu aja!” Tukas Raja seraya mengenggam erat tangan Ellena.


“Lo?” Kali ini Elvano menunjuk tepat didepan wajah Raja. “Awas buat adik gue nangis, gue pukul lo.”


Raja terkekeh. “Terlambat kak, cowok rese ini udah bikin Lena nangis.”


“El…” Seru Raja sedikit melotot.

__ADS_1


“Emang benar kok.”


“Jangan kayak gue… Semasa hidup, gue..” Elvano mendongak. “Gue buat istri gue nangis dan sekarang… Gue nyesel Raja.” Kata-kata Elvano membuat suasana tiba-tiba hening, Ellena membeku. “Hidup gue penuh dengan penyesalan. Bahkan gue belum sempat ngungkapin perasaan gue… Kalau Gue cinta sama dia.” Lagi-lagi Elvano merancau.


__ADS_2