
Disaat yang bersamaan, ketiga orang yang berdiri dikamar mereka saling menatap satu sama lain saat tak ada suara apapun yang keluar dari kamar. Arabella semakin gelisah menggigit jarinya, melihat wajah kakaknya juga teriakan barusan membuat pikirannya menjadi kacau.
“Apa kita tidak masuk saja, bagaiamana kalau terjadi sesuatu didalam sana?”
Tuan Lois membulatkan matanya sedikit terkejut. “Itu tidak sopan nona, sebaiknya anda istirahat saja dulu! Ini sudah larut malam.” Ucap pria tua itu penuh bijak sana.
“Tapi…”
“Ada saya dan tuan Lois nona, anda tidak perlu khawatir.” Tukas sekertaris Leo.
“Hemm… Okey! Kalau terjadi apa-apa bangunkan aku. Sebelmnya aku tidak pernah melihat kaka Raja seperti itu pada istrinya.” Gadis itu segera berlalu, sekali lagi dia menoleh ke arah kamar kakaknya sebelum benar-benar masuk kedalam kamar.
“Anda juga tuan Lois sebaiknya anda istirahat, saya tahu tuan Muda. Dia tidak mungkin mencelakai nyonya Ellena.”
Pria tua itu mengangguk dan ikut beranjak pergi dari kamar Raja, kini hanya Leo yang berjaga seorang diri disana. Laki-laki itu merebahkan dirinya diatas sofa, mengadah, menatap langit-langit rumah hingga subuh kembali menyapa laki-laki itu tidak tidur sedikitpun meski rasa kantuk menyerangnya.
Tepat pukul empat subuh knok pintu Raja terputar, lalu beberapa detik kemudian pintu kamarnya terbuka. Betapa terkejudnya laki-laki itu saat melihat sekertarisnya hanpir jatuh karena menahan kantuk sedari tadi.
“Leo ngapain kamu disini?”
Leo melonjak kaget, laki-laki itu langsung berdiri sedikit menguap.
“Maaf tuan, nona Arabella khawatir tentang anda dan nyonya Ellena jadi saya…”
“Kamu disini sejak tadi malam?” Tanyanya lagi
Leo tidak mengatakan apapun sudh menjawab pertanyaan laki-laki itu. Raja menghelai napas panjang tidak percaya. “Memang kalian khawatir apa tentang aku dan istriku ha?”
Lagi-lagi Leo hanya bisa diam.
“Kau boleh istirahat dikamar tamu tidak usah pulang malam ini.”
“Baik tuan. Lalu anda?”
__ADS_1
“Aku ingin menyelesaikan beberapa kerjaan.”
“Kalau begitu saya akan membantu an…”
“Hiksss…” Raja mengerang kesal, menatap tajam wajah sekertarisnya. “Pergi kekamar dan istirahat, besok pagi kita selesaikan semua dan…” Raja menjedah kalimatnya. “Ada yang perlu kita selesaikan besok.”
“Baik tuan.”
Raja berlalu melewati Leo, menuruni tangga menuju ruang kerjanya. Laki-laki itu duduk dikursninya, menatap foto Ellena yang tersenyum dalam pelukannya. “Berani-beraninya dia menyentuh wanitaku.” Gumam laki-laki itu pelan
...****************...
Raja terus tersenyum menyentuh pelan wajah istrinya, gadis itu tertidur begitu pulas padahal hari sudah pagi. Telunjuknya seakan menjelajah diwajah mungil itu, bulu mata yang lentik, hidung mencung, bibir berisi semerah cery. Ingatan semalam kembali muncul, dimana Raja begitu menikmati bibir ini penuh dengan sensual. Dia tersenyum.
“Sayang, kalau kamu tidak bangun aku benar-benar akan melakukannya sekali lagi.” Bisiknya pelan. Sontak gadis itu memiringkan tubuh, menyembunyikan wajahnya di dada bidang hangat suaminya.
“Manggil apa tadi?” Tanyanya ulang dengan sura serak sedikit mendongak.
“Sayang.”
“Jangan gini sayang, aku bangun.”
Ellena semakin mengeratkan pelukannya. “Panggil Ellena, Lena, atau El aja! Jangan manggil sayang!”
“Kenapa?”
“Aneh.”
“Tapi aku udah mulai suka sayang.”
“Raja.”
“Kamu yang harus ngubah panggilan kamu ke aku.”
__ADS_1
“Kenapa emang.”
“Aku suami kamu.”
“Terus?”
“Harus spesial dong. Manggil sayang ke, suamiku atau papa...”
Plak, Ellena langsung bangun. Tangannya masih berusaha menahan selimut agar menitupi tubuhnya yang tidak memakai apapun. “Jangan ngasal, mau dipanggila papa? Emang udah jadi papa?”
“Kan bentar lagi.”
Ellena terdiam memikirkan sesuatu. Sesuatu hal yang selalu menganggu pikiran gadis itu selama ini.
“Mikiran apa?”
Ellena menggeleng hendak beranjak dari tempatnya, namun Raja kembali menariknya untuk kembali berbaring. Laki-laki itu nengukungnya “Nggak mau bilang?”
“Nggak ada, aku mau mandi Raja.” Ucapnya sembari berusaha mendorong tubuh laki-laki itu dari atasanya, namun sia-sia Raja tak bergeming sedikit pun. “Aku mau kekampus?”
“Emang bisa?”
“Apanya?”
“Nggak sakit?”
Blushhhh wajah gadis itu memerah, buru-buru dia menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya. “Nggak usah dibahas.” Gumamnya membuat Raja tertawa
“Cium dulu.”
“Nggak, minggir sana aku mau mandi.”
“Mandi bareng yuk!”
__ADS_1
“Nggak mau.” Dorong Ellena sekuat tenaga, membuat laki-laki itu terlentang diatas kasur.