Raja Untuk Ellena

Raja Untuk Ellena
Bab 18


__ADS_3

Brak


Suara pintu dibuka secara paksa, terpakasa menghentikan gerakan tangan Raja menandatangani berkas yang sudah seperti gunung menjulang diatas mejanya. Sesaat ia mengadah menatap Edwar lalu kembali menunduk melanjutkan aktifitasnya.


“Emang lo teman biadab. Bisa-bisanya lo nikah saat gue diatas langit Eropa. Lo sengaja ngelakuin ini?” Protes Edwar langsung duduk didepannya dengan wajah memerah. Dia sangat marah. “Padahal gue udah anggap lo saudara sendiri, tapi lo setega itu nggak ngundang gue ke acara lo. Pernikahan sekali seumur hidup, dan gue nggak akan liat lo nikah lagi.” Lanjutnya.


“Yang nggak undang lo siapa? Lo sendiri yang ninggalin negara ini, malah nyalahin gue.”


“Yang nyuruh gue ke Eropa siapa? Lo kan. Sekarang gue nanya sama lo, sebenarnya lo anggap apa persahabatan kita ha? Lo tau, demi lo gue rela jadi babu disini dibanding ngejalanin sendiri perusahaan gue.”


Raja tiba-tiba menghentikan kembali gerakan tangannya, laki-laki itu mengangkat kepalanya dengan anggukan kecil. “Lo bisa resain sekarang, meja gue masih luas nampung surat pengunduran diri lo kok.”


Adwar membelakkan matanya terdiam seribu bahasa. “Lo.. Lo serius?


Raja mengangguk cepat. “Atau mau gue buatin surat….”


“Khmmm” Edwar berdehem memotong kata-kata laki-laki laknat yang sialnya adalah bos juga sahabatnya. “Tuan Willson udah setuju tentang perombakan ress area yang terbengkalai di puncak. Rencananya hari ini kita meninjau lokasinya, lo bisakan?” laki-laki itu mengalihkan pembicara. Bisa tamat riwatanya jika Raja benar-benar memecatnya, mengingat saat ini perusahaan ayahnya benar-benar bergantung pada perusahan keluarga Julian.


“Hemm… akhir tahun gue mau semuanya rampung.” Balas laki-laki itu seraya meraih jasnya yang tergantung di sudut ruangan. “Setelah bertemu tuan Wilson gue mau pulang.”


Edwar terperangah, sejak kapan seorang Raja Oliver si gila kerja pulang lebih awal diakhir bulan. “Serius? Malam nanti kita ada pertemuan dengan Tuan Hengky , lo nggak lupakan?”


Raja menghentikan langkahnya setelah membaca pesan singkat dari ponselnya.


‘Aku pulang telat jangan ditunggu!’


Raja menarik ujung bibirnya tersenyum, lagi-lagi membuat Edwar mengeyirit bingung.


‘Pulang tepat waktu atau gue laporin lo sama papa.” Balas laki-laki itu mengancam

__ADS_1


“08.30.”


Raja kemudian menaruh ponselnya kedalam saku, lalu melanjutkan langkahnya diikuti Edwar dibelakang. Semua orang berbinar takjub, tidak ada seorangpun yang mampu berkedip saat sosok itu menginjakkan kaki di lobi perusahaan. Semua mata tertuju padanya dengan senyuman keramahan berharap Raja membalasnya, namun laki-laki itu tidak sama sekali perduli dengan sapaan ataupun senyuman keramahan yang ia dapat.


“Demi tuhan bagaimana bisa laki-laki sesempurna itu ada dibumi ini.” Gumam salah satu karyawan perempuan yang kebetulan berpapasan dengan Raja setelah jam istirahat berlalu.


“Kabarnya tuan Raja telah menikah, apa kau tau siapa gadis paling beruntung mendapatkannya.” Ucap salah satu gadis lainnya.


“Selama itu bukan kamu aku tidak masalah.”


“Sialan.”


“Hentikan gosib kalian, tuan Raja belum menikah buktinya perusahan belum mengkofirmasi apapun.”


Kedua gadis yang sejak tadi menganggumi katampan Raja menatap sinis gadis berambut pendek dengan pakaian **** itu. “Kau sungguh tidak tau apa-apa Mel.”


.


.


.


“Kak El, beneran kak Raja nggak bakal marah kalau kita kesini?” Tanya Arabella ketika Ellena menghentikan motornya, gadis itu kemudian membuka helm full face miliknya.


“Selama dia nggak tau aman kok.” Balas Ellena santai, berulang kali ia melarang Arabella untuk ikut tapi gadis itu merengek seperti bayi koala tidak ingin ditinggal sendiri dirumah. Untung saja Elvano membawa motor Ellena ke rumah Raja sehingga tidak repot harus pulang balik, apalagi saat ini ada Arabelle yang terus mengekori Ellena seperti anak ayam.


“Hay El.”


Suara Bagas membuat kedua gadis itu menoleh bersamaan, laki-laki itu mengerutkan dahi ketika melihat kehadiran gadis asing yang sudah menyiram Ellena dengan sekaleng soda

__ADS_1


“Lo bawa temen? Tumben.”


“Akhh… Kenalin, ini Arabella. Dia…” Ellena melirik Arabella yang tersenyum dengan kopolosan. “Dia adik aku.” Sambungnya.


“Bella.” Gadis itu mengelurkan tangan dibalas dengan baik oleh bagas.


“Bagas, teman Ellena.”


“Jadi, malam ini aku lawan siapa?” Tanya Ellena seraya menguncir rambutnya yang terurai.


“Campur. Gue juga nggak nyangka banyak yang ikut.”


Ellena menyeringai tipis. “Iya.. iya.. kamu lagi butuh duit? Hemm…”


“El… ini nggak seperti yang lo pikir, gue…”


“Terus yang nyebarin Queen of Rise siapa? Axel?”


Bagas terdiam, wajahnya pucat telah tertangkap basah. “Awalnya gue cuman iseng, tapi banyak yang antusias mau liat siapa Queen Of Rise”


“Terus kamu naikin taruhannya.”


Bagas berdecik. “Ya udah terima aja uangnya, gue tau ini nggak seberapa buat lo yang punya banyak duit. Lebih tepatnya orang kaya yang kurang kerjaan mau ikut balapan kampung kayak gini, lagian gue juga heran tumben lo setuju, biasnya juga nggak mau.”


Ellena hanya berdehem. Selanjutnya gadis itu menoleh kearah samping, tepat didekat lintasan, ia bisa melihat ada beberapa lawannya malam ini. Namun ada satu motor yang baru pertama kali Ellena lihat selama beberapa kali ikut bertanding.


“Lo kesana bentar lagi mulai. Biar gue yang bawa motor lo ke arena.”


\~\~\~\~

__ADS_1


__ADS_2