Raja Untuk Ellena

Raja Untuk Ellena
Bab 28


__ADS_3

“Mau kemana? Aku kira kita bakal pulang.”


Raja mengangguk. “Iya ini mau pulang.”


Ellena bertambah bingung ketika, mobil suaminya masuk ke sebuah perumahan elit. “Raja… Jangan bikin aku taku ih. Kamu mau nyulik aku ya? Gimana kalau mama sama papa cari? Aku belum minta izin Raja.” Ucap gadis itu sedikit panik.


Raja menoleh, mengenyerit lalu mengulurkan tangannya mencubit pupi Ellena. “Lupa kalau udah nikah? Lo Sekarang bereng sama suami sendiri, terus izin kayak gimana lagi yang lo mau Ellena?”


“Ya tetep aja harus minta izin.”


Raja berdecik sambil mengulurkan tangan didepan Ellena. “Hp lo mana?” Ellena dengan polosnya memberikan posel miliknya kepada Raja, laki-laki itu kemudian menghubungi seseorang. “Beres.” Ucapnya.


Beberapa menit kemudian mobil mereka berhenti disalah satu rumah yang paling mewah di kompleks itu. Pelan-pelan Raja memencet sesuatu ditangannya lalu dengan otomatis gerbang didepan mereka terbuka. Ellena mengedarkan pandangan disekelilingnya, rumah ini begitu besar dan mewah. Namun sampai detik ini gadis itu belum tahu siapa pemilik rumah itu.


Setelah memarkirkan mobilnya Raja segera keluar, sementara Ellena masih Enggan beranjak dari dalam sana. Raja mengitari mobil, hendak membuka pintu untuk istrinya. Namun gadis itu menggeleng, semakin mengeratkan tangannya pada sabuk pengaman yang masih terpasang ditubuhnya


“Sampai kapan lo mau disitu? Nggak laper apa?” Tanya Raja dengan nada kesal.


“Sebelum aku tau kita dimana dan siapa pemilik rumah ini aku nggak mau turu.” Kukuhnya


Raja mengehelai nafasnya panjang, bukannya menjawab laki-laki itu malah meninggalkan Ellena seorang diri diluar sana. “Yakin masih mau disitu? Udah hampir gelap, lo nggak takut nanti ada ha…”


“Raja! Ia aku keluar.” Teriak gadis itu segera berlari kearah suaminya.


“Sebelum ke rumah ini , gue dengar kalau menjelang magrib banyak ha…”


“Diem nggak!” Gertak Ellena, gadis itu sungguh membenci ketakutannya pada kata Hantu, salahnya sendiri karena belakangan ini sering nonton hal-hal berbau horor kan jadi parno.


Raja tersenyum tipis, meraih tangan Ellena lambut lalu mengajaknya masuk kerumah itu. “Raja, ini rumah siapa? Bagus banget.” Tanya Ellena yang masih mengedarkan pandangannya kesetiap sudut ruangan.


“Rumah kita.”


Ellena terbelak. “Rumah kita? Maksudnya.”

__ADS_1


“Lo inget gue pernah bilang kalau rumah yang gue bangun sebelum kita nikah belum jadi. Memang beberapa ruangan belum beres tapi udah bisa ditempati.” Jelas laki-laki itu.


“Kenapa repot-repot bikin rumah sih? Kita bisa tinggal dirumah ayah atau kita kerumah aku.”


Raja berdecak menatap eajah istrinya yang terlampau polos. “Lo nggak tau apa memang bego sih El?”


“Bego? Dimana sisi bego aku? Aku hanya bertanya Raja. Kamu ya kebiasaan kalau aku nanya apa kamu jawab apa.”


“Kita udah nikah, dan sekarang gue kepala rumah tangga. Nggak mungkin dong sebagai kepala rumah tangga dan seorang suami, gue buat istri nggak nyaman. Iya sih emang rumah ini nggak seberapa tapi setidaknya lo bisa ngelakuin apapun senyaman mungkin di tuma ini.”


Rumah sebesar ini Raja katakan tidak seberapa? Lalu rumah yang dia maksud itu bagaimana?


“Nggak. Aku nyaman, dimana pun aku nyaman. Mau itu dirumah ayah atau dirumah aku. Aku tetap nyaman. Tapi kan pernikahan ini nggak akan berlangsung lama, pada akhirnya kamu akan ceraiin aku setelah apa yang kamu inginkan tercapai. Dan kamu masih mikir tentang kenyaman aku, apa aku salah kalau nanya kayak tadi?”


Untuk sesaat Raja terdiam, menatap sorot mata Ellena sedikit berkaca-kaca. Sampai helaan nafas panjang laki-laki itu terdengar. “Lo mau banget cerai sama gue? Apa karena cowok itu? Axelio? Lo beneran pacaran sama dia?”


“Nggak ada kaitannya sama Axelio, Raja. Kenapa sih bawa-bawa orang lain.”


“Kalau gitu nggak usah ngucapin kata cerai sampai gue sendiri yang cerain lo.” Setelah mengtakan itu Raja menaiki tangga menuju sebuah kamar.


•••


Sinar mentari yang masuk melalu celah tirai membuat Ellena terbangun dari tidur nyenyaknya. Kelopaknya bergerak-gerak dengan dahi mengerut. Perlahan Ellena membuka matanya, sedikit menyipit karena menyesuaikan cahaya yang masuk. Gadis itu sedikit tersentak kaget begitu nyawanya sudah terkumpul sempurna, Ellena mengedarkan pandangannya dan berusaha mengingat apa yang terjadi semalam.


“Perasaan semalam aku tidur dikursi, tapi kenapa…?” Gamamnya.


“Udah bangun? Lo mandi dulu, habis itu kita keluar sarapan.”


Ellena masih ditempatnya, pikirannya masih melayang-layang.


“El, mandi!”


Ellena mengangguk. “Memang kamu udah mandi?”

__ADS_1


“Udah.”


Bukannya bangundan turun dari ranjang, Ellena malah menari kembali selimut lalu menutupi seluruh tubuhnya dibawah sana. “Aku masuk siang, sarapannya pesan aja dulu. Aku tidur sepuluh menit lagi ya!”


Raja menggeleng. “Nggak, lo juga pernah bilang gitu eh mala ngelewatin sarapan. Bangun!”


“Kali ini nggak bohon. Beneran sepuluh menit doang.”


“Nggak. Bangun sekarang.” Ucap Raja kemudian mendekat pada sisi ranjang, lalu menarik selimut Ellena memaksanya bangun. Gadis itu berdecik namun tetap bangun dengan mata masih tertutup dan pad aakhirnya Ellena jatuh tertidur didekapan Raja. “Bentar lagi ya.” Untuk sesaat laki-laki itu membuarkannya dan sampai pad akhirnya dia berbisik.


“Beneran nggak mau bangun?”


Ellena mengangguk.


“Okey, kalau gitu gue yang mandiin lo.”


Sontak mata Ellena terbelak dan saat itu juga Raja sudah menggendongnya menuju kamar mandi. “Aaaa… Raja turunin!”


“Nggak, lo sendiri yang nggak mau bangun. Jadi gue yang mandiin.”


“Kamu gila? Aku bisa sendiri.”


“Tetep nggak mau.”


“Raja, turunin nggak aku marah nih!”


Ancaman Ellena tidak berhasil membuat seorang Raja takut, ia masih menggendong Ellena dalam dekapannya, kemudian meletakkan didalam bathtub yang sudah berisi air hangat.


‘Aku mohon jangan menatap ku seperti itu.’ Jerit Ellena dalam hati saat Raja melihatnya begitu ****.


“Yaudah, lo mandi! Gue tunggu dibawah. Jangan lama-lama.” ucapnya dengan suara yang serak dan seksi. Ellena bisa gila jika seperti ini.


__ADS_1



__ADS_2