
Sudah dua hari suasana di kantor cabang saangat mencekam setelah kedatangan Raja, sekalipun pria itu tak pernah senyum atau membalas sapaan dari siapapun. Sorot mata Raja begitu tajam hingga tak ada siapapun yang berani menjadi sekertaris pria itu untuk sementara waktu.
“Sampai kapan lo nahan gue disini Leo?” Tanyanya dengan wajah gusar
“Sampai tuan Rudolf mau menemui kita tuan, saya sudah berusaha menghubungi sekertarisnya namun mereka tidak merespona apapun.”
Raja menghelai nafasnya panjang, ia menatap lurus ponselnya yang sejak tadi tidak ada satupun notif pesan atau panggil yang masuk. “Semua gara-gara pria brens** itu.” Gumam Raja, pandangannya terangkat menatap Leo. “Gadis gue ngapain sekarang?”
Kedua alis Leo terangkat penuh tanya. “Gadis anda? Maksdunya nyonya Ellena?”
“Apa gue punya gadis selain dia?” Balas Raja, kembali meraih ponselnya sejak tadi dia menunggu satu pesan dari Ellena. “Nyonya sedang dirumah bersama Nona Arabella. Sudah seharian mereka tidak kemana-mana tuan.”
“Terus kenapa dia nggak hubungin gue?”
“Sepertinya Nyonya Ellena masih masa pemulihan tuan, mungkin dengan alasan itu dia tidak sempat mengirim pesan pada anda.” Leo mencoba membela Ellena agar mood atasnnya itu tetap stabil.
“Dia itu sakit, bukan mati. Memang dia nggak sempat hanya sekedar mengirim pesan? Apa gue nggak sepenting itu dalam hidupnya?” Kalimat Raja yang satu ini, membuat Leo mengangkat wajahnya cepat. Memandang Raja yang masih fokus dengan ponsenya.
Dalam hidup, Raja tidak mudah diluluhkan hatinya oleh gadis manapun. Meski sempat menjalin hubungan dengan seorang gadis namun tidak pernah seperti ini sebelumnya. Dia pria dingin, tidak akan ramah dan berlaku lembut pada siapa pun. Untuk sementara tidak ada yang bisa Leo katakan. Hanya satu telah ia sadari, perlahan Raja sudah berubah menjadi pria hangat, mulai menunjukkan sikap kepeduliannya pada sang istri.
“Bagaiamana kalau tuan diluan yang menghubungi nyonya.”
Raja mengangguk. “Sebenarnya gue nggak mau, tapi lo yang maksa gue.”
Leo tercengang, menghelai nafasnya panjang. Dalam harinya dia benar-benar gemas sendiri dengan tingkah konyol atasannya itu. ‘Iya tuan saya yang memaksa anda. Itu kan yang anda ingin dengaar?.’ Batinnya
•
•
•
“Bagaimana keadaan kak Ellena?”
Ellena terkekeh geli ketika Arabella dengan raut wajah khawatir menyentuh dahinya, memeriksa suhu tubuh gadis itu. Arabella benar-benar melakukan apa yang suaminya perintahkan, ini sudah yang kedua kalinya gadis itu menerobos kekamar lalu memeriksa keadaannya.
“Aku sudah sembuh Bella. Seratus persen.”
__ADS_1
Arabelle memencingkan mata. “Tapi muka kak El masih pucet. Itu artinya belum sembuh.” Ucapnya Ellena berdecak. “Kamu ya, nggak papa nggak Raja semuanya sama. Aku beneran udah sembuh cuman nggak pake lipglous aja makanya pucat.”
“Aku harus tetap kontrol kak, taukan suami kakak gimana?”
“Memang dia gimana? Seharian aku tunggu kabarnya dia nggak ngabaarin.”
Arabella membelakkan matanya. “Serius?”
“Iya, memang kenapa sih?
“Liat ini!!!” Arabella memperlihatkan sederetan pesan yang Raja kirimkan untuk adiknya, semua hanya tentang dirinya. Bahkan ada beberapa foto Ellena sedang tidur didalam sana. “Dia udah kayak ngejajah aku kak, semua butuh pembuktian.”
Ellena hanya membalas dengan senyuman, waktu terus berjalan kedua gadis itu saling berbincang sampai Arabella tertidur dikamarnya. Ellena melirik jam diatas nakas ternyata sudah pukul satu dini hari. Bukannya ikut tidur gadis itu memilih keluar, menyibukkan diri diruang tengah. Leptop menyala dipangkuannya, menampilkan beberapa tugas kuliah yang harus dia selesaikan malam ini.
Bunyi dering ponsel membuat fokus Ellena terpecah. Gadis itu menoleh kesisi kiri dan kanan mencari dimana ia melatakkan ponselnya. Ellena merain benda pipih itu, melihat nama suaminya dilayar yang menyala. Ellena menarik nafas kemudian menggeser tombol hijau, menempelkan ditelinganya.
Sesaat kemudian suara Raja terdengar.
“Belum tidur? Kenapa?”
“Kenapa baru nelpon?”
“Kalau gue nanya jawab, kenapa nanya balik?”
“Masih ada tugas kuliah.”
“Kenapa nggak dikerjain lain waktu? Lo masih sakit.”
“Tapi besok harus dikumpul.”
“Istirahat dulu El, gue nggak ada didekat lo, jagain lo. Nggak usah kekampus dulu.”
Ellena tersenyum tipis, untuk pertama kalinya dia merasa sangat di cintai oleh seseorang. “Aku udah sembuh, perwat Arabella sangat pandai merawatku, jadi kamu nggak usah khawatir.”
“Tetep aja nggak ada yang anterin kamu.”
“Ada kak Vano, katanya besok yang nganterin aku. Kamu yang nyuruh ya?”
__ADS_1
Raja terdiam diseberang sana beberapa saat kemudia dia berdehem. “Gue kangen El?”
“Kenapa? Aku nggak denger.” Balas gadis itu.
“Gue kangen.”
Suara berat Raja menggetarkan jantung Ellena, seperti ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan di perutnya.
”Pulang! Obat kengen itu ketemuan Raja.” Balas gadis itu sedikit terkekeh. “Aku ngantuk.”
“Tidur!”
“Aku matiin ya!”
“Jangan! Gue temenin tidur.”
“Tapi…”
“Tidur aja nggak usah banyak protes!!!”
•••
Raja memutuskan sambungan teleponnya setelah merasakan nafas istrinya mulai terdengar teratur. Beberapa menit berlalu laki-laki itu terus menatap foto istrinya yang sengaja Leo simpan pagi tadi. Melihat Raja terus uring-uringan merindukan gadisnya.
”Kayaknya gue beneran kagen deh.” Pandangan Raja terangkat, seolah begitu nyata saat ini Ellena sedang duduk dipangkuannya, menatap Raja teduh, teraenyum begitu hangat. Perlahan tapi pasti gadis itu memajukan kepalnya semakin dekat. Kemudian berbisik. “Aku juga sangat merindukanmu.”
Raja tersentak ketika seseorang tiba-tiba membuka pintu ruang kerjanya. Seorang gadis berambut panjang masuk dengan segelas kopi ditangannya.
“Selamat malam Pak, saya lihat anda masih dikantor jadi saya membawakan secangkir kopi untuk anda.” Gadis itu melangkah penuh drama dalam setiap langkahnya.
“Kau minum sendiri, saya tidak minum kopi.” Ucapnya. Reva langsung menghentikan langkahnya bahkan sebelum mencapai meja Raja. Gadis itu masih berusahan tersenyum meski ditolak untuk pertama kalinya.
“Ah.. Maaf pak saya tidak tau, kalau begitu saya buatkan teh hangat itu dangat cocok dicua…”
“Tidak perlu. Silahkan keluar!”
Gila.. Jadi rumor itu benar jika seorang Raja yang tampan itu sangat dingin dari Es terlebih pada seorang wanita? Kenapa? apa dia gay? Dia bahkan tidak sekalipun menatap Reva yang memiliki tubuh yang sangat indah. Sejauh ini tak ada satupun pria yang mampu menolak pesonanya kecuali pria didepannya, pria yang sangat Reva inginkan.
__ADS_1