
Ellena mengerutkan dahi dalam tidurnya, gadis itu terganggu dengan cahaya yang menerobos masuk, membuatnya terbangun. Perlahan dia membuka mata menyesuaikan dengan cahaya yang masuk melalui celah jendela. Namun sesaat kemudian Ellena dibuat membelu, tidak bisa bergerak saat merasa perutnya dipeluk erat
Ellena sedikit mendongak dengan puing-puing kesadaran yang belum terkumpul, ia terpku melihat wajah Raja yang sangat dekat. Otaknya berusaha memproses apa yang terjadi semalam, sepertinya ada yang aneh. Seingatnya tadi malam Ellena tertidur diatas sofa seperti biasanya namun, ketika terbangun ia malah berada diatas ranjang dalam pelukan suaminya.
Untuk sesaat gadis itu terdiam, memori tentang kejadian semalam dimana Raja menciumnya begitu lembut membuatnya tersenyum malu pipihnya yang putih tiba-tiba memerah.
Perlahan, Ellena melepas pelukan Raja. Sesekali menatap wajah suaminya yang masih terlelap, ia kemudian turun dari ranjang, berlari kecil menuju kamar mandi tampa bersuara sedikit pun. Beberapa menit berlalu Ellena keluar dari kamar mandi, sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Gadis itu langsung mengambil ponsel, membuka akun media sosial namun tiba..
“Akk…” Ellena menjerit seperti kejepit seekor kepiting. Raja yang masih tertidur lelap seketika bangun, ia mendongak menatap istrinya.
“Kenapa? Lo jatuh?” Tanya Raja takkala khawatirnya, meski sisa-sisa kesadarannya belum terkumpul Raja menarik istrinya, memeriksa tubuh gadis itu dari atas sampai ujung kaki. “Mana sakit? Berdarah?”
Ellena seketika merasa panik, saat melihat cuitan juga sebuah foto yang menapakkan Raja dan dirinya saling berpelukan . Ellena sudah menduga hal ini akan terjadi.
Raja kemudian merebut ponsel dari tangan istrinya, untuk sesaat dia terdiam kemudian meletakkan ponselnya diatas kasur. “Gimana? Anak-anak pasti sudah tau kalau kita…”
Raja berdecak, memotong kata-kata Ellena. “Yaudah lah, biarin. Pagi-pagi lo hebo gitu hanya karena foto.”
Ellena mengeyerit. “Kamu beneran nggak papa? Kamu nggak marah?”
Raja menaikkan satu alisnya. “Ngapain marah, toh gue nggak meluk cewek orang. Tapi bagus juga kalau gue meluk cewek orang.” Ujar laki-laki itu tampak santai sambail menarik selimutnya kembali.
“Raja…”
“Bercanda El, gue cuman meluk lo doang. Itupun lo harusnya merasa beruntung, sampai detik ini gue nggak pernah meluk siapapun kecuali lo.”
Ellena tersipu, wajahnya sedikit memerah. “Jangan alihkan pembicaraan, kan kamu sendiri yang nggak mau kalau ada yang tau hubungan kita?”
“Terus maunya gimana? Itu udah terlanjut juga?” Gumam Raja dari balik bantal.
Ellena terdiam. “Terus kalau ada yang nanya aku jawab apa?”
Raja mengerang ia bangun dari tidurnya, menyibak selimut menampakkan tubuh raja yang hanya menggunakan celana boxer hitam. Tidak bisa dipungkiri jika suaminya benar-benar tampan dipagi hari. “Biang Raja suami gue. Udah selesai. Ribet.”
“Nggak mau.”
“Terus lo kenapa nanya gue kalau lo juga nggak nerima saran. Cewek aneh.”
__ADS_1
“Ya gak harus bilang gitu juga Raja.”
Raja menggosok wajahnya frustasi. “Dari pada lo mikirnya aneh-aneh, mending lo bikinin gue minum.”
Setelah mengatakan permintaan suaminya mata Ellena tiba-tiba membola sempuran, gadis itu ingat sesuatu hal kemudian tersenyum.
“Raja.”
Raja yang sedang berjalan menuju kamar mandi langsung menghentikan langkah begitu Ellena memanggil. Laki-laki itu menoleh menaikkan satu alis, dengan tatapan bertanya tanpa menjawab.
“Semenjak kita pindah aku belum sempat beli bahan makanan dan keperluan lain. Kamu mau nemenin?”
Raja diam untuk beberapa saat, hanya ada keheningan dan Ellena cukup tau diri dengan posisinya saat ini. Ellena merasa ragu. “Ya udah kalau kamu nggak mau, nggak papa. Aku bis…”
“Nggak ada yang bilang nggak mau.”
“Hum?”
Ellena mengerjab, memastikan dia tidak salah dengar
•••
Raja terus merutuki kebodohanya dulu dia begitu mati-matian menolak gadis itu dan sekarang apa? Dia bahkan menemani Ellena berbelanja, mungkin saja jika gadis itu memintanya ke kutub utara Raja tidak akan bisa menolak.
“Kenapa ditaroh kembali?”
Ellena yang tengah memilih-milih bahan makanan sontak menoleh ketika ditanya. Sebelumnya dia memang mengembalikan sebungkus sosis kedalam frezer. Gadis itu kemudian menggeleng sejujurnya dia sangat ingin mengambilnya namun uang cashnya tidak akan cukup. “Aku nggak suka sosis.”
“Tapi gue suka.”
“Huh???”
“Dasar budeg, gue bilang, gue suka sosis.”
“Bukannya kamu mau pergi lagi?” Raja mengenyerit bertnya meski tak mengatakan apapun. “Bukan karena mau melanggar privasi kamu, aku nggak sengaja liat pesan sekretaris Leo.” Ujar gadis itu sedikit takut.
“Lo baca semua?”
__ADS_1
Ellena mengangguk pelan.
Raja menghelai nafasnya panjang “Gue nggak kemana-mana kok itu sidah diputuskan.”
“Aku nggak papa kok lagian itu kan kerj…”
“Kenapa ribet banget sih, padahal gue cuman mau makan sosis.” Potongnya, membuat kata-kata Ellena terpotong.
“Okey.” Detik berikutnya Ellena mengambil kembali kemasan sosis dari frezer, memasukkan kedalam keranjang yang hampir penuh. “Masih ada?”
Raja menggeleng. “Ngak ada.”
“Ya udah kekasir kalau gitu.”
“Ayamnya nggak jadi?”
Ellena menggeleng pelan. “Kan kamu mau sosis. Udah yuk!!!”
Gadis itu hendak mendorong keranjang menuju meja kasier, namun diambil alih oleh Raja. Alhasil Ellena hanya mengekor seperti anak itik dibelakang suaminya, setelah tiba dimeja kasir, Ellena mengambil dompetnya dari dalam tas selempang. Mengeluarkan beberapa lembar uang dan sebuah kartu. “Kalau nggak cukup bisa debet kan kak.”
Raja mengeyerit, langsung menghlangi kemudian menyerahkan kartunya sendiri. Laki-laki teringat satu hal sejak berbelanja tadi, pantas sejak tadi Ellena hanya mengambil keperluan seadanya.
“Selama ini lo pake duit siapa?” Tanya Raja sakras ketika masuk kedalam mobil, setelah meletakkan belanjaan didalam bagasi.
Ellena menelan ludahnya yang terasa lengket. “Uang aku. Tapi, itu beneran uang aku, bukan uang papa tau kak Vano.”
“Darimana lo dapat duit?”
“Raja, uang itu…” Ellena tidak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya begitu menatap mata suaminya.
Raja menatapnya nyalang. “Kenapa lo nggak ingetin gue sih ngasih lo uang? Gue tau pernikahan ini terjadi bukan karena kita saling cinta, meski begitu gue suami lo Ell. Lo berhak atas apa yang gue miliki selama kita masih sepasang suami istri. Kalau gini caranya lo nggak ngehargain gue sebagai kepala rumah tangga.”
‘Selama menjadi sepasang suami istri? Aku pikir kita akan selamanya bersama Raja.’
__ADS_1