Raja Untuk Ellena

Raja Untuk Ellena
Bab 42


__ADS_3

Ellena menatap area parkir dari kaca jendela mobil ketika tiba. Gadis itu kemudian melepas sabuk pengaman yang terpasang ditubuhnya, lalu ia menoleh ke samping, ke arah Raja yang duduk dikursi kemudi.


“Nanti pulang jamberapa?” Tanya Raja seraya memberikan tas Ellena yang ada disampingnya.


“Sampai sore.”


Raja mengangguk. “Gue jemput nanti.”


“Hemmm… Apa nggak repot? Kamu harus bolak balik, rumah sama kampus berlawanan arah. Aku bisa naik ojek atau ngebeng…”


“Nggak! Nggak ada ngebeng-ngebeng.” Potongnya cepat. “Lagi pula nggak ada kata repot kalau menyangkut istri sendiri.”


Diam-diam Ellena tersipu, namun disisi lain gadis itu juga merasa miris. Raja seolah memberinya sebuah harapan namun pada akhirnya laki-laki itu akan meninggalkannya.


“Kalau kamu nggak mau aku ikut orang pulang aku bisa naik ojek, taksi atau...”


“Nggak! Lo dateng bareng gue, pulang juga harus bareng.”


“Udah masuk sana! Nggak debat sama gue.”


Ellena menghelai nasafanya. “Iya.”


“Eh tunggu!”


Ellena yang hendak membuka pintu mobil langsung ia urungkan, kembali menoleh pada Raja dengan tatapan bertanya. Ellena bingung, apa lagi laki-laki itu menatapnya penuh selidik.

__ADS_1


“Gue bener-bener ngawasin lo ya. Awas kalau lo berani-berani dekat sama cowok. Terutama sama Bagas.”


“Serius? Bagas temen aku, kita temenan udah lama. Kamu aneh banget tau.”


“Nggak ada sejarah cowok sama cewek berteman tanpa menimbulkan perasaan. Salah satunya pasti punya rasa suka.” Ucap Raja penuh penekanan.


“He? Teori dari mana lagi itu?”


Raja menilik lebih jelas wajah istrinya. “Atau lo yang punya perasaan sama dia?”


“Ngaco, aku ngga gak punya perasaan atau rasa suka sama Bagas kita beneran cuman temenan. Bersihin otak kamu!” Protes Ellena kesal.


Raja menatap ke arah Ellena tajam. “Oh ya? Kalau buk Bagas siapa? Axelio? Jawab gue!”


Ellena terdiam ia memalingkan tubuhnya namun Raja tiba-tiba menahan bahunya sehingga posisi mereka saling berhadapan. Laki-laki itu menuntut sebuah jawaban, matanya menggebu, rahangnya mengeras dengan kedua tangan mencengkram bahu Ellena. Entah belakagan ini emosi Raja gampang naik.


Ellena meringis, namun gadis itu masih diam. Keterdiaman itu semakin menyulutkan emosi Raja Oliver.


“Jawab gue ELLENA ROSELYN!”


Ellena terpejam, beberapa detik berlalu gadis itu membuka matanya yang sudah memerah, air matanya menganak lalu gadis itu tersenyum miris. Hingga sebuah kalimat membuat Raja perlahan melepaskan cengkraman dibahu Ellena, waktu seakan berhenti beberapa saat, seperti sebuah drama klosal mereka saling menatap dalam waktu yang lama.


“Bagaiaman Kalau aku bilang orangnya adalah kamu? Apa itu bisa menghapus keraguanmu?”


•••

__ADS_1


Ellena berjalan seperti zombi yang berkeliaran, raga dan jiwanya seperti terpisah. Sekali-kali ia memukul mulutnya yang dengan lancang mengakui perasaannya sendiri, tapi entah kenapa kalimat itu seperti refleks keluar dari mulutnya, tanpa bisa dia kendalikan.


Suara panggilan membuat fokus Ellena terpecah, gadis itu menoleh kesisi kanan lalu ke sisi kiri, mencari asal suara yang baru saja memanggil namanya. Dari sisi kiri terlihat Bagas sedikit berlari kearahnya.


“Hay…”


Ellena berusaha tersneyum meski begitu kaku. “Selamat ya!”


“Untuk?”


“Gue nggak nyangka lo akhirnya punya pacar.”


Ellena menghentikan langkahnya lalu menoleh pada Bagas yang juga menatapnya. “Lo sama Raja pacaran kan?” Gadis itu hanya menjawab dengan anggukan , tidak mungkin juga dia menjawab jika dia dan Raja sudah menikah.


“Sejak kapan? Apa sejak dia nebus lo di kantor polisi tempo hari?”


“Udah enam bulan.”


Satu alis Bagas terangkat saat menatap Ellena, dia menarik kembali memorinya saat ayah dari gadis itu datang menjemputnya di bengekel. Kemudian Bagas menarik turun tatapannya kejari manis Ellena, tiga tahun berlalu sejak mereka bertemu Bagas sangat tahu jika Ellena tidak menyukai memakai perhiasan yang berlebihan. Akan tetapi cincin berlian yang melingkar di jari manis Ellena begitu mewah bahkan dibilang sangat mewah untuk ia pakai setiap hari.


“Tapi aku minta tolong kamu jangan bilan apa-apa sama anak-anak! Terutama pada Axelio, nanti aku yang jelasin sendiri ke mereka.” Ucap Ellena.


“Kalau gitu aku diluan ya Gas, nanti kita ketemu lagi.” Lanjut Ellena melambai kemudian dia berlari ke arah berlawanan dengan Bagas, laki-laki itu menatap Ellena teduh hingga menghilang dari balik tembok bangunan.


***

__ADS_1


Waktu berjalan serasa bagitu cepat, Ellena merenggangkan tubuhnya yang terasa pegal ia menoleh kearah luar ternyata hari sudah soreh bahkan matahari hampir tenggelam. Ellena mengangkat tangan melirik jam tangan kecil yang melingkar di perglangannya. Menujukkan pukul setengah enam soreh, ia kemudian mengambil ponselnya dari dalam tas ternyata sudah puluhan pesan dari suaminya tidak satupun Ellena lihat. Ellena menarik senyuman kemudia sedikit mempercepat langkah untuk menemui Raja yang pasti sudah menunggunya diparkiran. Namun tiba…


“Mia???”


__ADS_2