
“Raja? Siapa?”
Kalimat Raja terpotong ketika tiba-tiba saja suara Ellena terdengar dari arah dalam. Kedua laki-laki irtu yang awal mulanya berdebat itu sontak menoleh, mengalihkan pandangannya ke arah Ellena yang sedang melangkah mendekat. Diluar dugaan ketika melihat siapa tamu mereka, Ellena tidak bisa berkata-kata matanya membukat sempurna, sedangkan Raja langsung meraih pinggag istrinya agar tidak jatuh. Hal itu mengundang tatapan ketidak sukaan yang dilayangkan Bagas.
“Kenapa kesini? Kan masih sakit?”
Ellena tidak menanggapi. Gadis itu menatap Bagas yang berdiri diluar pintu. “Bagas? Ada apa? Tidak maksud aku kamu kesini?” Tanyanya, sebelum melirik ke arah Raja yang tampak sangat kesal.
Sedari tadi menatap wajah Ellena dengan sedikit lebam dibagian sudut bibirnya bagas terlihat tidak tenang. “Lo sakit apa? Beberapa hari ini lo jarang kelihatan, susah dihubungi. Itu buat gue khawtir.”
Pelan-pelan Ellena menelan slivanya setelah merasakan pelukan sang suami semakin erat, ia kemudian melirik kearah Raja sejenak. “Iya aku sakit, tapi udah sembuh kok, besok udah mau masuk kampus.”
“Kenapa nggak bilang sama gue?”
“Maaf Gas, aku benner-bener nggak sempet, keluar dari rumah sakit aku banyak istirahat beberapa hari ini, jarang buka hp.” Jawab Ellena seadaany, Bagas mengangguk pelan kemudian menatap Raja yang masih terdiam. “Gue boleh nanya?”
“Apa?”
“Dia bilang kalau kalian tinggal bareng apa benar?”
“Huh?”
Sontak saja Ellena melihat kearah Raja dengan tatapan bertanya.
“Dia juga bilang kalau om Adams nggak keberatan kalian tinggal bersama. Setau gue Papa lo bukan orang seperti itu, jangankan tinggal bareng. Liat lo bareng cowok aja dia nggak suka.”
Ellena mengerutkan kening, tambah merasa bingung. Raja benar-benar mengatakan itu? Namun, keterdiaman juga sorot mata Raja semakin membuat Ellena yakin jika laki-laki itu benar mengatakan Semua hal itu. Bukan?
“Lo mau ngong apapun itu pun, Ellana bakal bilang iya. Gue nggak bohong”
Bagas menatap kearah Ellena seakan menuntut penjelasan. “Benner?”
“Ahh… Iya!! Papa nitipin aku sama Raja, karena beberapa bulan ini mereka sibuk di luar kota. Jadi kita tinggal bareng.”
Sedangkan laki-laki itu menampakkan senyum penuh kemenangan ditengah keterdiaman Bagas. “Tuh kan apa gue bilang, gue nggak bohong. Karena lo udah dapat jawabnnya langsung dari Ellena lo udah nggak ada alasan lagi untuk tetep disini.”
“Jadi benner?” Guaman Bagas miris.
“Ya udah. Karena gue udah mastiin lo baik-baik aja, gue pergi dulu El.” Ucap nya dengan senyuman memaksa.
__ADS_1
“Kamu nggak masuk dulu? Biar aku bikinin minum dulu.”
Bagas menggeleng pelan masih dengan senyuman memaksa. Niat ingin menjenguk dan menghibur Ellena , dirinya malah diberi kejutan besar. Berhasil membuatnya terkejut hingga tidak tahu lagi bereaksi seperti apa.
“Nggak usah, sejam lagi ada pertemuan di markas. Gue kesini cuman mau mastiin lo baik-baik aja. Gue cuman khwatir. Sekarang guue udah lihat lo dan bisa sedikit tenang.”
Raja berdecih. “Mulai sekarang lo nggak usah khwatirin Ellena, dia aman sama gue.” Ujarnya sinis. Lagi-lagi Ellena hanya bisa memejamkan mata karena kesal dengan sikap suaminya, tatapan tajam gadis itu lemparkan namun sialnya Raja hanya memasang wajah polos
“Jangan didengerin Gas. Masuk dulu yuk!
“Nggak usah gue pergi dulu.” Balasnya. Bagaimana cara sahabtnya itu menatap membuat Ellena merasa sangat bersalah. Apa Bagas sekecewa itu, beberapa tahun mereka lalui bersama tak sekalipun Ellena berbohong namu kali ini gadis itu tidak punya pilihan lain.
Sudah seharian setelah kepulangan Bagas, Raja lagi-lagi bersikap dingin pada Ellena. Setiap kali gadis itu bertnya Raja hanya menjawab seadanya tidak ada drama arau perdebatan, laki-laki itu bahkan tidak memaksanya untuk makan atau minum obat seperti biasanya
“Raja kamu marah?” Kesabaran Ellena benar-benar sudah habis karena ulah suaminya itu.
“Nggak.”
“Terus kenapa diamin aku?”
Raja yang masih fokus dengan leptonya membuat Ellena semakin geram. Gadis itu mendekat langsung merampas benda pipih itu lalu menyingkirkannya.
“Lo apa-apaan sih? Gue kerja.”
Raja menghelai nafasnya panjang, jujur saja sejak tadi laki-laki itu berusaha menahan diri, mengabaikan Ellana adalah kelemahan terbesar bagi Raja. Namun tetap saja rasa cemburu laki-laki itu lebih besar ketika melihat Bagas datang jauh-jauh hanya untuk menemui istrinya.
“Balikin El, gue mau kerja.”
“Kalau kamu mau kerja kenapa nggak dikantor?”
“Ya karena gue maunya dirumah.” Balasnya sambil bangkit dari tempatnya duduk namun teriakan Ellena menghentikan pergerakan laki-laki itu.
“Raja, kalau kamu marah ngomon.”
“Ya Gue marah.” Ucapnya dengan nada suara yang tinggi.
Ellena mengenyerit. “Lo benner, gue marah. Gue marah karena cowok itu jauh-jauh datang kesini hanya mau mastiin istri gue nggak kenapa-napa. GUE MARAH ELLENA.” Sorot mata Raja menajam sedikit memerah, rahangnya mengeras, tangannya mengepal membuat urat-urat seksin pada lengannya terlihat jelas.
“Itu nggak berdasar Raja dia datang hanya mau jenguk teman…”
__ADS_1
“Bulshitw. Gue cowok Ellena, gue tau tatapan seperti apa yang Bagas berikan sama lo, itu tatapan cinta Ellena. Dia suka sama lo.” Diakhir kalimat Raja mengatakan dengan kelembutan.
Untuk sesaat keheningan bergelantungan, keduanya saling menatap satu sama lain. Ellena bisa melihat tatapan kepiluan untuk pertama kalinya di mata suaminya.
Drap
Drap
Drap
Ellena mendekat pada Raja, tanpa aba-aba gadis itu memeluknya, menenggelamkan seluruh wajahnya didada bidang hangat sang suami. Ellena semakin mengeratkan pelukannya, menyesapi aroma maskulin yang begitu dia sukai
“Maaf!!! Maaf kalau aku udah buat kamu marah. Kalau kamu nggak suka aku dekat lagi sama Bagas, Aku usahain jaga jarak sama dia.” Gumam Ellena, detik selanjutnya gadis itu mengadah melihat wajah suaminya.
“Janji?”
Ellena mengangguk, kembali melingkarakan tangannya di tubuh Raja erat. “Jangan gitu lagi ya! Aku nggak suka kamu cuek, serem.”
Laki-laki tersenyum tipis, kemudian membalas pelukan istrinya dengan hangat, menumpukkan dagunya diatas pucuk kepala Ellena lalu menciumnya lembut. “Ayo makan! Tadi lo makannya sedikit.”
“Gimana mau makan banyak kalau kamu dari tadi cuekin aku.”
Raja terkekeh, menepuk pelan pucuk kepala Ellena. Kemudian mencubit pipinya yang tembem, Ellena mengaduh kecil namun dia tidak protes. “Perasaan pertama nikah pipi lo kecil kenapa sekarang jadi tembem?”
Ellena memencingkan mata. “Maksdnya aku gendut?”
“Nggak ada yang bilang gitu El.”
“Mau gendut biarin, yang penting kenyang. Kalau kamu nggak suka cewek gendut, kamu tinggal cari cewek lain.” Jawabnya sakras.
Raja mengerutkan dahi. “Kok malah gitu? Gue udah Susah payah nolak semua cewek yang ayah pilihkan untu gue, nah lo malah nyuruh nyari cewek lain. Nggak mau.”
“Terus kenapa nerima perjodohan kita.”
Raja terdiam untuk sesaat. “Karena kamu gendut.” Balasnya.
“Hemmm.” Ellena mengangguk. “Jadi, kalau aku kurus kembali kamu udah nggak mau sama aku.”
“Nggak gitu Ell…”
__ADS_1
“Udah, aku malas ngomong sama kamu.”
“El…” Gadis itu mengabaikan panggilan suaminya, dia terus melangkah menapaki anak tangga lalu masuk kedalam kamar. “Jadi serba salah deh gue.”