
Langit masih sangat gelap. Angin masih kencang berhembus hingga seluruh halaman dikediaman Adams mungkin sudah banyak sampah dedaunan, sejak semalam hujan turun dan pagi ini juga tidak berhenti.
Ellena mengerutkan dahi dalam tidurnya, perlahann matanya terbuka, sedikit menyipit. Gadis itu merasakan sebuah tangan sedang memeluknya erat. Ia sedikit mendongak dengan sisa-sisa kantuknya, terpaku ketika meihat wajah Raja dengan jarak yang sangat dekat. Otak ya memproses apa yang terjadi semalam, bukan kah sebelumnya gadis itu berada di lantai lalu kenapa sekarang tiba-tiba berada diatas sofa dan lebih parahnya dia dengan suka rela dipeluk oleh Raja.
“Aaakkkk…” Ellena berteriak sekencang-kencangnya saat puing2 kesadarannya sudah terkumpul kembali.
“Brisik, lo kenapa sih?” Protes Raja sembari memengang kupingnya yang berdengung akibat teriakan makhluk ajab itu.
“Kamu…” Ellena melihat bajunya sedikit eneh, kemeja yang Raja kenakan semalam berpindah ketubuhnya sedangkan laki-laki itu kini bertelanjang dada. “Apa yang terjadi, tidak apa yang kamu lakukan padaku ha?” Ellena membalas tatapan Raja, pndangannya menyelidik.
“Ha? Lo lupa? Lo sendiri yang naik ke samping gue, terus maksa buka baju gue. Sehrusnya gue yang nanya kayak gitu.” Balas Raja
Ellena berpikir keras, dia tidak mungkin melakukannya. Tapi, bukti semua mengarah padanya. “Tidak mungkin, kamu pasti bohongkan. Aku tidak memiliki kelainan berjalan saat tidur. Pasti ada kesalah pahaman disini.”
“Jadi menurut lo gue yang angkat lo naik ke sofa kecil ini, terus ngebuka baju gue demi lo sedangkan gue kedinginan semalam?”
Ellena terdiam, memikirkan kata-kata Raja sungguh tidak mungkin dia memberikan pakaian untuknya.
“Tapi, semalam kita nggak ngapa-ngapain kan? Gue nggak…” Ellena menggantung ucapannya dengan wajah merona.
“Aneh, seharusnya pertanyaan itu untuk lo. Secara semalam lo ngapksa gue buka baju.” Ucap Raja seraya melewati Ellena dengan seringai tipisnya. Saat laki-lakinitu hendak membuka pintu garasi lagi-lagi Ellena melakukan sesuatu membuat Raja mengerutkan kening.
“Apa lagi? Mau celana gue juga.”
Ellena menggeleng cepat. ”Nggak, enak aja.”
“Yaudah kalau gitu.” Raja hendak keluar sari garasi akan tetapi Ellena menahan pergelangannya.
“Mau kemana?”
“Keluar? Kita harus kekampus Lena.”
“Seperti itu?” Tunjuk Lena pada tubuh bagian atas Raja yang sangat indah, Ellena yakin jika suaminya keluar dengan model seperti itu seluruh pelayan dirumahnya akan menjerit histeris.
“Mau gimana lagi, baju gue ada sama lo.”
“Tunggu! Aku buka.”
Raja membalikkan tubuhnya, berjalan mendekati sang istri yang masih berdiri menatapnya. Raja menyeringai tipis semakin dekat pada Ellena.
__ADS_1
“Maunya sekarang?”
“Iya.”
“Yakin udah siap?”
Ellena mengenyerit penuh tanya saat sorot mata Raja menatapnya sangat dalam, ia menarik langkahnya sedikit menjauh namun laki-laki itu tak juga berhenti mendekatinya.
“Makasud aku baj…”
Tak
Ellena terejebak sekarang, saat sejuta bintang terjatuh bahkan tidak bisa mengalahkan betapa berdebarnya Ellena saat Raja menetapnya begitu.
Tangan itu perlahan mengangkat Wajah Ellena yang tertunduk untuk mereka saling bertatap, padahal gadis itu sudah susah payah memutuskan kontak antara mereka. Cukup lama Raja menatap wajah sang istri, menelusuri seolah memotret lalu menyimpan seorang diri.
“Cantik.”
“Apa katanya?” Batin Ellena
“Kalung lo. Cantik.”
“Oh… Ahhh!! Hahahha!” Ellena memaksa tawa meski sedang sangat kesal. Laki-laki itu membuatnya berdebar sekaligus ingin meledakkan antariksa sekarang.
“Ini kalung dari seseorang aku sudah lupa siapa yang memberinya tapi kata mama ini pemberian dari orang yang sangat aku sayangi. Makanya tidak aku lepas.” Sambungnya
“Sial, dia yang membuatku melayang sampai ke langit ke tujuh dia juga yang ngebuat aku terhempas ketanah lapisan ke tujuh. Dasar bodoh, kenapa memuji kaling ini sedangkan didepannya ada bidadari tak bersayap begini?” Ellena terus membatin merasa frustasi.
“Pacar lo?”
Ellena merasa kepalanya akan pecah, ia kemudian berjalan menjauhi Raja, melewati suaminya begitu saja
Tapi tiba-tiba.
Set!!!
Raja menarik tangan Ellena dengan cepat, hingga tubuh mungil itu mendarat begitu dekat pada dada bidang hangat Raja dalam keadaan tak memakai baju.
“Ellena, Mau kemana urusan kita belum selesai.” Napas Raja saat mengtakan itu, beradu dengan nafas Ellena yang sesak. Semakin hari sikap Raja membuat Ellena hampir saja gila, gila karena debaran yang selalu datang setiap mereka bersama.
__ADS_1
“Urusan? Memangnya apa lag…”
Deg
Deg
Deg
Sebuah kecupan manis, kecupan tak terduga yang datang di pagi hari, membuat nafas Ellena seolah berhenti. Raja Oliver melabuhkan ciuman hangatnya pada bibir Ellena untuk pertama kalinya dalam durasi yang cukup lama hingga Ellena tersadar kemudian menoleh. Dia malu sangat malau bahkan untuk sekedar menatap suaminya.
“Ellena, keluar! Sebelum gue ngelakuin hal lebih dari ini.” Tambah Raja setelah ciuman mereka terlepas
Buk!
Ellena mendorong tubuh Raja, lalu membuka kemeja suaminya kemudian dengan cepat berlari keluar, meninggalkan sang suami yang tersenyum dengan seringai tipis yang mematikan sembari memegang bibirnya yang basah.
“Manis.”
Elvano yang baru saja ingin membuka pintu garasi ditabrak oleh Ellena begitu saja. Beberapa detik kemudian Raja juga keluar, didepan kakak iparnya Raja mengancing kemeja yang baru saja Ellena berikan padanya.
“Kalian ngelakuinnya di garasi?” Tanya Elvano dengan tatapan menyelidik.
“Mulai ya otak lo, udah nggak benner. Ya kali gue ngelakuinnya di garasi.”
“Terus ngapain lo pake buka baju segala?”
Raja mendekat pada Elvano, menepuk pundaknya pelan. “Kakak ipar, seharusnya kamu bertanya pada istriku apa yang dia lakukan padaku semalam. Disini aku adalah korban.” Ucap Raja kemudian melangkah melewati Elvano begitu saja.
“Korban?” Gumamnya, selanjutnya Elvano merasakan seluruh tubuhnya meremang. “Kakak ipar? Berhenti nggak lo manggil gue kakak ipar. Geli.” Protes Elvano
“Salahnya dimana kakak ipar? Aku suami dari adikmu.”
“Tapi faktanya lo lebih tua sebulan dari gue.”
“Kakak ipar.”
“Raja!!!”
“Iya kakak ipar.”
__ADS_1
Seketika Harga diri Elvano seakan sangat ternoda saat ini. “Adik ipar sialan