
“Kenapa lo diam aja?”
Suara berat Raja seperti goncangan yang merobohkan sisa-siaa kesadaran. Ellena malu-malu masuk ke mobil menahan canggung yang luar biasa setelah kejadian di UKS. Dia tidak bisa menahan untuk melirik laki-laki yang berhasil memporak porandakan hatinya. Dia sembunyi-sembunyi melirik wajah itu lalu tersenyum tipis
Raja yang pandangannya fokus kedepan, sebenarnya menyadari ini. Namun laki-laki itu membiarkannya, melihat Ellena malu-malu seperti itu membuatnya gemas sendiri. Raja bahkan menutupi bibirnya dengan tangan kanan, menyembunyikan senyumannya dari Ellena.
Setelah melewati banyak rasa sunyi dan diam akhirnya mobil mereka memasuki pekarangan rumah mewah yang Raja buat, dia menolak saat Julian menyarakan sebaiknya untuk saat ini mereka tinggal di rumah utama sampai kondisi Ellena membaik.
Didepan pintu utama Leo juga Arabella menunggu kedatangnnya, gadis kecil itu bahkan langsung berlari sebelum Raja benar-benar menghentikan mobilnya.
“Kak El baik-baik aja kan?” Tanyanya penuh kecemasan.
Raja mengangguk pelan sebelum membuka pintu mobil dimana Ellena duduk. “Bibi sudah datang?”
“Iya kak.”
“Suruh siapkan makan malam untuk Ellena!”
Raja membuka pintu mobil, membawa Ellena kedalam genggamannya
“Aku bisa sendiri.” Bisik Ellena pelan, tatapannya melihat kearah sekertaris Leo sedikit malu. “Kamu nggak malu diliatin Leo?” Sambungnya
“Memangnya kita ngapain, gue cuman pegang tangan lo El.”
“Ya tetap aja aku malu.” Bukannya melepaskan Raja malah semakin menggenggam erat tangan Ellena, menarik pinggangnya yang ramping lebih dekat lagi. “Raja…”
“Selamat datang tuan dan nona Ellena.”
Raja mengenyerit melihat wajah asisetannya yang sedikit gusar. “Apa ada masalah dikantor?”
Laki-laki itu tidak menjawab sudah cukup menjawab pertanyaan Raja. “Bukannya selama ini semua masalah bisa lo selesikan?”
“Tapi tuan kali ini saya harus melaporkannya pada anda.”
“Kalau begitu besok kita selesaikan, Ellena sakit Leo.”
“Tapi Tuan…”
“Raja, aku bisa sendiri kok.” Timpal Ellena menghentikan langkah mereka. “Lagi pula ada Bella kok nemenin aku…”
“Gue anter kekamar” Potongnya cepat.
“Kasian Leo dari tadi nunggu kamu, aku benneran nggak papa.” Raja ragu namun pada akhrinya laki-laki itu mengalah, meski sedikit berat hati dia melepas genggamannya. Memutar badan melangkah ke arah Leo sedang berdiri.
“Katakan, ada masalah apa Leo?”
__ADS_1
“Pembangunan di pulau J terhambat, beberapa pekerja melakukan aksi mogok kerja tuan, hal ini baru saya dapatkan setelah salah satu keluarga buruh datang ke perusahaan melayangkan protes.” Raja mengepalkan kedua tangannya disisi tubuh, rahangnya mengeras menahan amarah sorot matanya menajam dengan luapan api yang hampir meledak
“Lalu yang kedua…” Leo menggantung kata-katanya lalu melirik Ellena yang masih berdiri diujung tangga. “Masalah kontrak kerja sama kita dengan model yang ditunjuk dalam peluncuran produk, Jennie menolak menjalin kera sama jika bukan tuan sendiri yang menemuinya.”
Raja tertegun, ia tampak gelisah saat menoleh kearah Ellena yang malah terlihat santai.
•••
Ellena memperbaiki duduknya di atas ranjang ketika Arabella masuk dengan segelas susu juga sup hangat yang dia buat sendiri tadi. Dia menatap adik iparnya dengan rasa penasaran yang sudah diubun-ubun.
“Ada apa kak? Apa ada sesuatu di wajahku ku?” Arabella berusaha mencairkan suasana yang tanpak mencekam
“Ahh… hmmm!!! Tidak aku hanya…”
Arabella mengenyerit kemudian ikut duduk dihadapan Ellena.
“Apa? Kak El mau nanya sesuatu?”
Tanpa ras canggung Ellena mengangguk cepat.
“Soal?”
“Jennie.”
“Tidak, aku hanya sering mendengar namanya. Dikampus semua orang membicarakannya bahkan dikantor.” Jelas Ellena semakin antusias
“Jennie mantan kak Raja.”
“Mantan?”
“Raja Oliver Argantara, pemuda dengan ketampanan bak dewa yunani bahkan itu terpancar semenjak dia masih bayi. Meski kak Raja punya wajah yang tampan tapi dia tidak mudah jatuh hati pada gadis manapun, tapi diluar dugaan semua orang dia menyukai seorang gadis yang dia temui di bangku SMA. Semenjak hari itu tiada hari mereka habiskan tak berdua sampai kak Raja berubah sangat posesif padanya, siapapun yang mendekati Jennie pasti akan ber-urusan dengan Raja Oliver sampai-sampai ayah harus keluar masuk kantor polisi hanya karena hal sepele.” Arabella menghentikan ceritanya sesaat, ia meraih ponselnya dibalik saku kemudian meperlihatkan sebuah foto di salah satu sosial mediany. “Dia Jennie.”
“Anj*r cantik banget Bell.” Seorang gadis yang sangat cantik tengah tersenyum manis memegang sebuah buket bunga mawar merah disebuah restoran mewah. Hal ini membuat dirinya menciut
Arabella tersenyum tipis. “Tidak!!! Kak Ellena jauh lebih cantik, buktinya kak Raja setuju menikah tanpa ada drama memalukan.”
“Ah.. lanjut! Kenapa mereka berpisah?” Timpal Ellena
“Awalnya ayah tidak merestui mereka tapi kak Raja tidak petus asa meyakinkan ayah sampai pada akhirnya mereka mendapat restu. Tapi… Jennie menghianati kak Raja.”
Ellena mengerutkan dahi. “Dia selingkuh?”
“Aku tidak tahu pasti soal itu tapi setauku dia pergi mengejar impiannya, tepat dimana kak Raja ingin melamarnya malam itu.”
Arabella terkekeh geli. “Mukanya biasa aja kak.” Ucapnya ketika melihat bola mata Ellena seakan ingin meloncat keluar. “Semenjak kejadian itu kak Raja berubah menjadi dingin juga menyebalkan. Dia menolak semua gadis yang ayah jodohkan untuknya dengan cara apapun.”
__ADS_1
“Itu karena dia belum melupakan mantan kekasihnya.” Timpal Ellena dengan senyuman. “Terus kenapa dia setuju menikah denganku?” Lanjutnya
Arabella menggelang, mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban tidak tau. “Mungkin karena kalian berteman waktu kecil.”
“Itu bukan alasan Bell.”
“Memikirkan tentang itu, aku juga penasaran kenapa kak Raja tiba-tiba membangun rumah dan mengajak kaka Ellena tinggal bersama. Padahal dulu Ayah mati-matian menyuruhnya membeli apartemen didekat kantor berharap dia tidak terlalu lelah. Akantetapi kak Raja selalu menolak.”
“Dia hanya ingin membuatku nyaman.”
“Itu juga bukan alasan kak El.” Balas gadis itu sambil menyuapi Ellena sup yang mulai hangat.
“Apa Raja masih mencintai Jennie?”
“Dia bodoh jika masih mencintainya karena___”
Kalimat Arabella terpotong ketika terdengar suara pintu yang dibuka. Sontak kedua gadis itu menoleh ke arah yang sama. Menatap sosok Raja yang muncul dari balik pintu, membawa sebuah obat milik Ellena ditangan kanannya.
Detik berikutnya Arabella meletakkan sendoknya kemudian berdiri dari atas ranjang. “Bella keluar dulu, mau kupasin kak El buah ya!” Lantas gadis itu keluar meninggalkan Raja dan Ellena didalam kamar.
Perlahan laki-laki itu duduk berhadapan dengan Ellena, ia mengambil sendok lalu mulai menyuapi sup yang masih tersisa dimangkok. “Hemm… tiga hari kedepan gue mau keluar kota, ada sedikit masalah sama proyek disana. Setelah itu gue harus keluar negri karena sesuatu hal.” Ujar Raja, laki-laki itu sudah selesai menyuapi Ellena selanjutnya ia membuka beberapa obat yang dia bawah dari rumah sakit tadi. “Minum!”
“Lama nggak?”
Raja mengerutkan keningnya. “Kenapa emang? Lo udah kangen.”
“Ihh… aku cuman nanya lama atau nggak? Tinggal kamu dijawab apa susahnya sih.”
“Gue balik secepat mungkin El.”
“Kalau gitu aku kerumah papa aja ya.”
“Nggak! Lo diem dirumah aja.”
“Nggak mau. Aku takut sendirian.”
“Ada Bella.”
“Tapi aku…”
“Udah nggak usah ngebantah! Dan satu lagi, jangan sekali-kali lo keluar ikut balap-balapan lagi.” Ucapnya Final.
“Tapi sekedar nonton boleh kan?”
Lirikan mata setajam anak panah yang baru saja di lepas dari busurnya berhasil membuat Ellena bungkam.
__ADS_1