
Sinar mentari menorobos masuk melalui jendela rumah sakit dan Perlahan membuat kelopak mata gadis cantik yang sejak semalam belum terbangun perlahan terbuka, meski pandangannya masih buram Ellena masih bisa mengenali laki-laki yang tengah duduk diatas sofa sambil memangku leptopnya. Sesekali laki-laki itu memijit pangkal hidungnya dengan mata tertutup, beberapa detik kemudian laki-laki itu mengankat wajahnya menatap istrinya yang sudah sadar beberapa menit yang lalu.
“El…”
Raja langsung mendekat, mengenggam tangan Ellena, membelai rambutnya. “Lo udah sadar.”
Ellenna mengangguk dengan tatapan sayu. “Ohh Tuhan terima kasih.” Laki-laki itu kemudian berlari keluar, beberapa menit kemudian Raja kembali dengan beberapa dokter dan langsung memeriksa keadaan Ellena.
“Tuan Raja, saya akan tetap memantau keadaan istri anda. Namun untuk saat ini anda tidak perlu menghawatirkan apapun! Nyonya Ellena dalam pemulihan yang baik.” Raja mengangguk mengerti setelah itu ruangan rawat inap Ellena kembali sepi dan hanya menyisahkan mereka berdua.
“Raja.”
“Hem” Laki-laki itu langsung mendekat pada istrinya.
“Untuk masalah ini jangan kasih tau siapa-siapa, Kak Vano juga nggak boleh tau.” Gumam Ellena pelan.
“Kenapa? Papa, ayah juga Elvano berhak tau El.”
Ellena menggeleng lemah. “Nggak kak, nggak usah. Lagian ini bukan masalah besar kok.”
“El…” Saanggahnya. “Lo bilang nggak apa-apa? Lo hampir celaka El.“
“Please…”
Raja menghelai nafasnya. “Jangan mikir apapun dulu, lo istirahat aja! Ucapnya terus membelai rambut istrinya lembut. Keheningan kembali bergelantung.
“Kapan bisa pulang?”
“Tunggu keputusan dari dokter.”
“Nggak bisa sekarang ya?”
“Udah mau pulang?”
“Hem… aku nggak suka rumah sakit. Sepi”
“Kan ada gue.” Katanya sambil menarik sebuah kursi dan duduk tepat disamping brankar tempat tidur Ellena. Ia menarik satu mangkuk bubur yang dibawah oleh seorang suster sebelumnya, ia kemudian mengaduk sambil meniupnya. Matanya sesekali menatap wajah gadis dihadapannya yang sejak tadi diam-diam mencuri pandang kepadanya
__ADS_1
“Aaaa… buka mulutnya!” Pinta Raja seraya mengarahkan sendok bubur kemulutnya. Ellena menurut sepanjang Raja menyuapinya, padahal gadis itu dangat membenci yang namanya bubur. Sepanjang Raja menyuapinya tak ada satupun yang mengeluarkan sepatah kata meski hanya sekedar mengobrol ringan.
Raja kemudian menyimpan mangkuk yang sudah kosong dan kembali menatap wajah Ellena. Tangannya terulur kemudian menyentuh pundak Ellena yang diperban.
“Siap yang ngelakuin ini?”
Ellena memalingkan wajahnya, enggan menjwab pertanyaan yang Raja lontarkan. “Kalau nggak mau dijwab nggak papa, tanpa lo bilang pun gue bakal nemuin orang yang buat lo celaka.”
“Raja please! Lupain masalah ini, aku udah nggak papa kok.”
Tiba-tiba sorot mata laki-laki itu berubah menajam, Rahangnya mengeras menatap Ellena. “Siapa dia yang berusaha lo lindungi El?” Tanya Raja dengan suara serak begitu rendah. “Dia udah nyakitin lo itu artinya dia berurusan dengan gue.”
“Aku nggak lindungin siapa-siapa, ya memang aku udah nggak apa-apa. Lagian aku yang di sakiti kok. Bukan kamu.”
Untuk sesaat Raja terdiam, ia kemudian memajukan wajahnya hingga jarak dengan wajah Ellena tinggal benera mili. “Dia nyakitin istri gue dan nggak ada yang boleh nyentuh bahkan sampai ngelukai yang sudah jadi milik gue.” Ucapnya tegas juga penuh penekanan.
Ellena terdiam memalingkan wajahnya, setiap kata dan perlakuan Raja membuat Ellena benar-benar lemah. Ia terlalu takut semakin jatuh terlalu dalam pada rasa yang dia ciptakan untuk suaminya sendiri sedangkan Raja masih mencintai wanita dari masalalunya.
Detik berikutnyat anpa kesiapan atau aba-aba Raja, laki-laki itu mengangkat sedikit tubuh Ellena, menyandarkan punggung gadis itu ke dadanya, kemudian memeluk Ellena dengan satu tangan. “Maaf.”
“Untuk?”
Ellena menggeleng. “Bukan salah kamu, ini musibah.”
Suasana kembali hening, Raja menopangkan dagunya pada pucuk kepala Ellena, mencium wangi melon dari rambut gadis itu. Dalam posisi yang sama Raja terdiam ketika melihat punggung wanitanya yang diperban, Raja tidak bisa membayangkan bagaimana jika ia terlambat sedikit menyelamatkan Ellena. Mungkin Raja akan tenggelam dalam penyesalan, untuk selanjutnya laki-laki itu hanya perlu menyelesaikan urusan ini. Laki-laki itu tengah memikirkan sebuah pembalasan, tentu dia tidak akan tinggal diam ketika satu-satunya dalam hidup Raja disakiti seperti ini.
Detik selanjutnya Ellena melepaskan pelukannya, mengadah menatap Raja yang juga menatapnya.“Kamu nggak kerja?”
“Nggak.”
“Kenapa? Apa karena aku? Aku nggak papa kok…”
“Gue bilang nggak. Gue tetap disini nemenin lo!” Potong Raja cepat. Sorot matanya menajam sebelum ia kembali duduk ingin membersihakan jari-jari Ellena dengan tisu.
Ellena meneguk slivanya, haruska Raja segalak itu pada seorang pasien sepertinya.
“Kau nggak capek? Semalam…”
__ADS_1
Raja kembali mengadah menatap Ellena membuat kata-kata gadis itu terpotong.
“Tapi kamu udah semalaman disini Raja, kamu juga belum ganti pakaian.”
Raja mengehentikan aktifitasnya, apa Ellena tidak mengerti sedikitpun tentang perasaan Raja? Laki-laki itu sangat menghawatirkan keadaannya sekarang.
Laki-laki itu kemudian mengulurkan tangannya, mengelus lembut pipi Ellena. “Lo nggak usah mikirin masalah gue, Leo bakal ngurus semua itu. Sekarang lo fokus sama pemulihan, gue nggak mau lo kenapa-napa lagi El.“ Laki-laki itu mengadah memutuskan kontak mata dengan istrinya, Raja berusaha mengusir rasa sakit dan bersalah ketika melihat kondisi Ellana. Satu-satunya gadis yang berhasil memenangkah hatinya bahkan dia dengan berani menendang nama gadis yang selama ini bertahta dihatinya. Gadis pembangkang penyuka motor itu juga berhasil membuat hidup seorang Raja Oliver kembali berwarna.
“Lo bisa janji sama satu hal sama gue!” Ellena tak menjab, gadis itu hanya melihat Raja dengan mata sendu. “Lo bisa Jangan buat gue khawatir lagi! Gue nggak bisa liat lo kayak gini.”
Ellena mengangguk, kemudian menarik tubuh jakung laki-laki yang sejak tadi merasakan sesak didadanya, sedikit lagi air matanya tumpah. “Aku janji.” Raja kemudian melepas pelukannya, menundukkan sedikit kepalanya sehingga sejajar dengan Ellena. Gadis itu bisa melihat wajah lelah suaminya, meski begitu Raja masih terlihat tampan bahkan ketampanannya meningkat bekali lipat dengan penampilan yang berantakan seperti ini. Dan jujur gadis itu semakin terpesona.
“El…”
“Hemm…”
Cup
Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir mungil gadis itu. Berfikir ini akan berakhir, Raja memajukan tubuhnya lebih dekat, mengulurkan tangannya menyentuh tengkuk ia kemudian menundukkan wajahnya sekali lagi hingga Ellena memejamkan mata dengan pasrah. Cukup lama Raja memperhatikan wajah cantik itu dan pada akhirnya ia mendaratkan bibir diatas milik istrinya, ciuman begitu dalam dan lembut. Beberapa kali raja mengulim bibir istrinya penuh kerinduan, keduanya tenggelam bahkan Ellena mulai memberanikan diri membalas ciuman suaminya. Namun tiba-tiba…
Ceklek
Ellena menoleh membuat aktifitas itu terhenti. Demi apapun Raja akan membunuh siapapun orang berdiri dipintu itu.
“Ekhmmm… Sepertinya tuan Raja sedang keluar, aku akan…” Pria dengan wajah super dingin tiba-tiba beubah pucat pasih saat sorot mata Raja menatapnya sangat tajam. “Aaaa… aku akan menunggu diluar.” Lanjutnya sambil menutup pintu
‘Keluar apanya? Laki-laki sebesar ini sedang duduk dihadapanmu Leo. Akhhh sangat memalukn.’ Batin Ellena sambil menyembunyikan wajahnya di dada bidang Raja.
“Malu?” Ellena mengangguk masih dalam posisi yang sama. “Mau dilanjutin?”
Plak.
“Udah ketahuan Leo masih mau dilanjutin, nggak malu apa?”
Raja menggeleng. “Nggak, dia udah pergi.”
Ellena menajamkan tatapnnya. “Sana, Leo nunggu kamu!”
__ADS_1
Raja mengulurkan tangannya lalu mengecup kening istrinya. “Tunggu, gue bakal nyuruh Bella jagain lo. Setelah ini kita pulang, Hemm…!”