
“Apa?”
Suara Raja menyeruak keseluruh ruangan Rapat, ketika laki-laki itu menerima sebuah panggilan dari ponselnya,Wajahnya memucat dengan raut panik yang kentara sangat jelas, menimbulkan perhatian semua orang yang berada disana. Mengira-ngira apa apa yang menyebabkan laki-laki dingin itu terlihat khawatir. Raja kemudian melirik ke arah Leo yang juga tidak mengerti situasi saat ini.
“Keluar! Rapat hari ini selesai.” Titah Raja langsung diangguki oleh semua orang disana.
“Ada apa tuan?” Tanya Leo ketika mendekat.
“Istriku menghilang.” Balasnya masih berusaha menghubungi Ellena dari sambungan teleponnya. “Ellena, aku mohon.” Guman laki-laki itu
Kening Leo mengerut, kedua matanya menajam. Ingatakannya kembali terputar dimana terakhir kali dia melihat istri atasannya itu. “Tapi tuan… Nyonya Ellena kembali beberapa jam yang lalu.”
Raja Menoleh pada Leo, kemudian mengambil langkah panjang mendekati laki-laki itu. “Maksudnya pa Leo?”
Laki-laki itu menunduk sesaat tak berani menatap wajah atasannya. “Maafkan saya tuan! Saya tidak memberi tahu anda soal ini.” Leo kemudian mengangkat wajahnya. “Beberapa jam yang lalu nyonya Ellena kembali ke kantor dan meminta kunci mobil anda.”
“Apa?” Sontak, Raja menarik kerah baju Leo membuat laki-laki itu tertarik kedepan. “Terus kamu kasih?”
“Maafkan saya tuan.”
__ADS_1
Raja menutup matanya kesal, rahangya mengeras, kedua tangannyanya terkepal setelah melepaskan cengkraman dileher sekertarisnya itu. “Cari keberadaan istriku detik ini juga, jika sesuatu terjadi padanya aku akan membunuhmu Leo.” Ucap Raja pelan namun penuh penekanan.
“Saya pastikan nyonya Ellena akan baik-baik saja Tuan.” Ucap laki-laki itu sebelum meninggalkan ruangan Raja.
Ruangan Raja kembali hening, kedua tangannya tertumpu pada meja kerjanya. Sorot matanya menatap lurus kedepan, laki-laki itu terlihat tenang melangkah ke sebuah lemari tepat disamping meja kerjanya, menarik gagang pintu lalu mengambil sebuah kotak didalam sana. Laki-laki itu mengeluarkan Sebuah pistol Desert Eagle berwarna hitam lalu memasukkan beberapa peluru kedalamnya.
“Tuan, saya sudah menemukan keberadaan nona Ellena.”
...****************...
Ellena menghempaskan tubuh Mia ke tanah, kemudian ikut menjongkok didepan Mia yang sedang mengatur nafasnya. “Aku tidak perduli apa yang kamu lakukan ke aku tempo hari tapi hari ini aku tidak membiarkan suamiku terluka karena obsesimu”
“Hmmm… Raja suami aku.”
Mia menggeleng. “Nggak mungkin.” Gadis itu menyangkal dengan air mata yang berjatuhan, faktanya dia sudah tahu semuanya. Namun ketika Ellena mengaktakan hal itu lebih menyakitkan.
“Hentikan kegilaan mu Mia!” Ucap Ellena sebelum meninggalkan Mia
Satu detik. Dua detik. Tiga detik kemudian
__ADS_1
“ELL!!! Awas!!!”
DORRRRR
Sebuah tembakan terlepas keudara, kedua gadis itu mematung. Mia yang lebih dulu sadar jika itu sebuah tembakan kosong hendak mengayungkan pisaunya untuk menikam Ellena namun tarikan Raja lebih cepat menjadikan tubuhnya sebagai benteng untuk sang istri disaat yang bersamaan lagi-lagi sebuah tembakan lepas seketika membuat mata Ellena membulat. Semakin mengeratka pelukannya pada Raja.
“Ellena kamu tidak apa-apa?” Tanya Raja setelah melerai pelukannya, memriksa semua tubuh sang istri.
Ellena menggeleng. “Nggak, aku baik-baik saja.”
Raja menghelai nafas legah, kembali menarik tubuh Ellena lalu memeluknya. Sesekali mencium pucuk kepala gadis itu. “Syukurlah.”
“Akhhh…” Ringisan itu membuat Raja menoleh kebelakang, menatap Mia datar. ”Raja gue…” Gadis itu menagadah dengan menyedihkan, air matanya mengalir deras.
“Gue udah peringatin lo dari awal jangan pernah ganggu Ellena, apapun yang sudah jadi milik gue, gak ada yang boleh nyentuh atau sakitin dia.” Bahkan sampai detik ini Raja tidak sakalipun melihat cinta Mia. Bertahun-tahun memberikan hatinya untuk laki-laki yang membuatnya merasakan cinta untuk pertama kalinya, sorot mata laki-laki itu bahkan berubah saat pertama kali mereka bertemu. Saat Raja memberikan plaster luka untuknya di lapangan basket hari itu. “Andai hari itu lo ngebiarin gue kayak anak-anak lain, mungkin gue nggak akan ngerasain sakit seperti ini.” Batin Mia masih menatap Raja, lalu mengalihkannya pada Ellena yang juga menatapnya.
Raja melangkah mendekati Mia, duduk dihadapan gadis itu. Tatapan Raja berhasil mengintimidasi Mia.
“Lo nggak tau versi lain dari gue Mia, hari itu gue ngelepsin lo karena Ellena. Gue udah cukup muak liat kelakuan sampah lo. Betapa susahnya gue ngenahan diri buat bunuh lo detik ini tapi nggak gue lakuin.” Raja menyeringai licik. “Sebagai gantinya lo akan ngerasain kayak hidup dineraka, satu persatu orang yang sayang lo aka pergi dan lo sendiri yang memutuskan untuk mengakhiri hidup lo.” Ucap Raja pelan yang hanya bisa didengar oleh Mia.
__ADS_1