
“Apa yang mereka lakukan?”
Raja menoleh pada tuan Wilson yang tengah gugup, wajahnya pucat pasih saat menatap sorot mata tajam Raja begitu mengitimidasinya.
“Itu…“ Tuan Wilson terbata-bata dengan kepala menunduk, pria itu bahkan tak sanggup lagi menatap wajah laki-laki yang tengan mengintrogasinya.
“Apa anak-anak itu sering belapan ditempat ini?”
Melihat tuan Wilson teridam dengan sorot mata ketakutkan, cukup menjawab pertanyaan Raja. Laki-laki itu kembali melempar pandangnnya pada segerombolan anak remaja yang sudah siap melakukan aksi balapan. “Saya tidak ingin melakukan kerja sama jika pada akhirnya menimbulkan masalah tuan Wilson, itu akan memberikan kesan buruk pada perusahan saya nantinya. Jadi, maa…”
“Tuan Raja…” Pria paruh baya itu langsung berlutut di hadapan Raja memohon. “Saya akan bereskan masalah kecil ini, saya mohon jangan tarik kerja sama kita!!!”
Raja mengangguk, memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana berbahan katun. “Edwar aku ingin detik ini juga area itu bersih dari bocah-bocah itu dan…” Kata-kata Raja terputus saat sorot matanya menagkap objek seseorang begitu ia kenal. Meski wajahnya tertutup dengan helm full face Raja masih bisa mengenal postur tubuh orang itu.
.
.
.
Entah dilihat dari manapun Ellena begitu cantik, bahkan saat ini gadis itu sudah memakai helm full fice. Untuk sesaat Ellena terdiam memerhatikan sekelilingnya, arena balap ini terlihat ramai dari biasanya. Lebih banyak motor yang terparkir, gadis itu memutar kepalanya mencari keberadaan Bagas juga Arabella.
“Lo butuh seseuatu?” Tanya Bagas yang entah muncul dari arah mana. Laki-laki itu memberikan sarung tangan untuk Ellena.
“Kak El, semangat.”
Ellena tertawa kecil, gadis itu memasang kedua sarung tangan hitamnya. Mempersiapkan diri setelah melihat kode dari salah satu rekannya, pertanda beberapa saat lagi pertandingan akan dimulai. Begitu pula dengan seseorang menjadi lawan Ellena yang sampai ini gadis itu tidak tau siapa dia. Jika dilihat dari postur tubuhnya yang sedikit kecil juga kurus dia tidak terlihat seperti seorang pria.
Disela-sela akan dimulainya pertandingan, ponsel Ellena berbunyi. Gadis itu terdiam saat melihat nama yang tertera didalam sana, Cowok Aneh. Batin Ellana seraya menonaktifkan ponselnya.
Sesaat kemudian seorang wanita berpakaian minim datang dengan bendera ditangannya, berdiri ditengah-tengah lintasan mereka. Kemudian, mesin motor dinyalakan, memacu gas hingga menimbulkan bunyi deruman yang bersahut-sahutan
“Three…”
__ADS_1
Wanita itu muluai menghitung mundur. Pacuan gas semakin terdengar nyaring, sorakan penonton melontarkan seruan antusias. Panggilan untuk Ellena, Queen of Rise terdengar nyaring namun gadis itu tidak menghiraukan tatapannya menatap tajam kedepan.
“Twoo…”
Beberapa saat lagi…
“Bagas, aku jadi takut. Yakin kak El menang?” Tanya Bella dengan nada sedikit berteriak.
“Percaya sama dia! Lo nggak denger semua orang nyorakin namanya. Santai Bel!!” Balas Bagas kembali fokus pada Ellena.
“Tetep aja aku takut, kalau Kak El kenapa-napa hidup aku pasti akan berakhir.” Bagas seketika menoleh pada Bell yang benar-benar tampak khawatir, gadis itu terlihat gelisah sejak tadi.
“One! Go!”
Bendera dilepaskan, sorakan penonton semakin menjadi-jadi.
“Kita ikutin kak El yuk!”
“Lo gila? Tunggu aja disini, 10 menit Ellena udah disini kembali.” Ucap Bagas kesal. “Gue nanya serius sama lo, sebenarnya lo siapa sih? Gue nggak pernah tau Ellena punya temen cewek sedekat ini dan lo orang pertama yang Ellena bawa ikut balapan.”
Gadis itu terenyum tipis. “Kamu lupa tadi kak Ell bilang apa? Aku adiknya.”
.
.
.
“Wah, Kak Ell yang tadi keren banget.” Puji Arabella begitu kakak iparnya sampai lebih dulu digaris finish.
“Malam ini kita pesta.”
“Lo beneran Queen Of Rise El.”
__ADS_1
Ellena tidak menanggapi punjian teman-temannya begitu turun dari motor, bahkan sorakan untuknya masih terdengar. Sorot mata gadis itu masih menatap ke arah lawannya yang masih belum ia ketahui ssiapa dia, sampai pada akhirnya orang itu membuka helm full fice hitam yang sejak tadi menjadi penghalang pandangan Ellena.
Mata Ellena membola penuh bahkan hampir meloncat keluar saat tahu siapa lawan yang baru saja ia kalahkan.
“Mia???” Gumam Ellena
Gadis itu dengan wajah datar mendekati Ellena, diluar dugaan Mia mengulurkan tangan untuk pertama kali selama Ellena ikut bergabung di geng motor Aerox. “Selamat lo hebat.” Ucapnya datar
“Sama kamu juga hebat.” Balas Ellena.
Detik kemudian semua dibuat kaget saat Arabella menarik tangan Ellena lalu menyembunnyikan gadis itu dibelakangnya.
“Bella kenapa?” Tanya Ellena bingung.
“Hay Bella apa kabar, lama tidak bertemu.” Sapa Mia dengan senyumannya. “Aku tidak menyangka kita akan bertemu disini dengan situasi yang berbeda.”
“Kalian saling kenal?” Ellena kembali melayangkan pertanyaan untuk kedua gadis yang saling melempar tatapan yang sulit dimengerti. “Mia, kenalin ini Bella, dia adik aku. Bell dia…”
“Aku tau dia.”
“Adik? Sejak kapan kamu punya saudara perempuan Bell setauku kau hanya memiliki seorang saudara laki-laki.”
“Itu bukan urusan kamu, memang tau apa kamu tentang kakak-kakak aku?”
“Aku tau semuanya bahkan dari hal sekecil apapun aku tau.”
Arabella mengepalkan tangannya, tanpa siapapun tau. Gadis itu berusaha terlihat tenang meski saat ini dadanya bergemuruh ingin menanpar wajah gadis didepannya itu.
“Aku dengan Ra…”
Niung… niung…
Suara serine mobil polisi berhasil membuat keruman berhamburan di are balap itu berhamburan.
__ADS_1
“Sial…” Mia gadis yang terlihat polos itu mengumpat kasar. “Sampai ketemu Bel, di lain waktu aku akan bertanya tentang hubungan persaudaraan kalian.” Mia tersenyum sinis sambil menyalakan mesin motornya kemudian meninggalkan ress area melalui jalur lain namun, sepertinya hal buruk benar-benar terjadi malam ini. tempat yang merekan gunakan sebagai arena balap dalam sekejap terkepung oleh puluhan polisi.