
Ellena masih dengan posisinya, matanya sedikit terbuka untuk mengintip apa yang terjadi saat ini. Suaminya sedang serius mendengar penuturan bawahannya, sesekali mengangguk mengiayakan laporan yang sama sekali tidak dia mengerti. “Kenapa aku bisa tertidur? Dimana urat malu mi ha? Ellena tamat lah riwayatmu. Untuk saat ini tetap seperti ini, menutup mata sampai semua berakahir.”
Raja menunduk, cepat-cepat Ellena menutup mata. Berpura-pura masih tidur meski sudah bangun sejak tadi malah sibuk memperhatikan wajah tampan laki-laki itu.
“Aku akan menjadwalkan kembali rapat selanjutnya dan untuk peluncuran produk kita yang baru aku ingin kau mengganti model wanitanya. Aku tidak setuju.”
“Tapi Tuan, saat ini Jennie Hani adalah model yang sedang naik daun. Apa tidak sebaiknya memikirkanya lagi?” Ucap Efendi salah satu tim yang bertanggung jawab dalam peluncuran produk kali ini.
“Sudah ku katakan ganti. itu artinya kalian harus mengganti.” Ketegangan tiba-tiba terjadi. Ellena bahkan sampai menahan nafas beberapa detik.
“Benar yang pak Efendi katakan Tuan , saat ini semua orang berlomba-lomba mendapatkan kontrak dengannya dan kita beruntung mendapatkan kontrak itu.” Timpal Leo sesekali mengawasi nona mudanya yang masih terlelap dalam tidurnya.
“Kali ini gue juga setuju sama yang lain. Gue harap kali ini lo mengerti dan menyampinkan masalah pribadi lo, dia hanya masa lalu.” Tiba-tiba sorot mata Raja menajam menatap Edwar, jantungnya berdetak lebih cepat dari bisanya, rahangnya mengeras menahan amarah yang hampir meledak. Raja terdiam.
“Jennie? Masa lalu? Apa dia gadis itu?” Batin Ellena.
“Kalau lo nggak nyaman, gue yang akan ngurus peluncuran produk ini.” Sambung Edward menyakinkn sahabatnya.
Meting siang itu berakhir dengan ketegangan, Ellena yang sebenarnya sudah bangun sejak tadi langsung terduduk di atas sofa setelah ruangan itu benar-benar sepi. Raja menyentak kaget.
“Lo udah bangun?”
“Menurut kamu?”
“Sejak kapan?”
Ellena terdiam, memikirkan sesuatu yang sejak tadi menganggu pikirannya. “Pas bawahan kamu keluar kenapa?”
Raja menggeleng. “Gak..”
Plak
“Awww…” Raja meringis, memegang pundaknya yang baru saja Ellena pukul sekuat tenaga. Sejak kemarin Raja heran kenapa pukulan gadis itu begitu kuat. “Masalah lo apa sih?”
“Seharusnya aku yang tanya kamu punya masalah apa sama aku.”
“Ha???”
“Bisa-bisanya kamu bawa aku yang lagi tidur ikut meeting. Kamu udah gila?” Protes Ellena, penuh emosi. Bukannya takut, Raja malah gemas sendiri dengan pipi bulat istrinya tang seperti buah tomat.
__ADS_1
“Turus maunya gimana? Ninggalin lo dimobil sendiri.”
“Masalahnya apa? Lagian nggak akan ada yang culik cewek segede aku.”
“Ya gimana kalau ada? Hem? Lo kalau tidur udah cosplay jadi mayat tau.”
“Kok kamu tau?”
“Ya gimana nggak tau. Setiap malam kita tidur sekamar Elena. Lo bahkan nggak sadar kalau gue disamping lo.”
Ellena terdiam, memalingkan wajahnya. Dia malu, sangat malu.
“Yyyy… yaudah. Maaf, lagian udah selesia juga kok percuma marah-marah nggak akan ada yang berubah.” Ucap Raja pelan. “Tapi, benner lo nggak denger apapun tadi?”
“Mau denger apa? Emang kamu bahas apa? Mantan?” Kata-kata Ellena memberi reaksi yang berbeda diwajah Raja. “Ya nggak mungkin juga kamu bahas mantan namanya juga meeting, ya bahas proyek lah.” Ucap Ellena sinis, entah sasanya berubah jdi lahar panas jika mengingat gadis bernama Jennie itu. Padahal gadis itu tidak salah tapi Ellena sudah tidak menyikainya.
Raja mengangguk dengan senyuman tertahan. “Jadi nggak marah lagi kan?”
Untuk sesaat Ellena terdiam, kembali mengingat kejadian memalukan itu. Tanpa aba-aba atau kesiapan Raja, gadis itu memeluknya. Mengenggelamkan wajahnya yang memerah didada sang suami sampai mereka terjatuh diatas sofa. “Aaa… Aku malu, jahat. Raja jahat.”
“Iya… gue jahat.”
“Hemm…”
“Jangan gitu, aku malu tau. Masa ia punya suaminya ganteng, tapi istrinya kayak gitu.”
“Jadi gue ganteng nih?”
Ellena tidak menjawab.
Detik selanjutnya tangan kanan laki-laki itu terangkat mengelus rambut istrinya, masih dengan posisi yang sama. “Kalau lagi marah lo manis El.”
“Emmm?”
Kepala Ellena terangkat, Untuk sesaat suasana kembali hening. Keduanya saling menatap dalam diam sampai pada akhirnya Ellena menarik tubuhnya untuk bangun namun Raja menahannya. Memeluknya erat. “Semenit aja posisi lo kayak gini.”
“Kenapa? Ada masalah?”
“Nggak, gue cuman capek.”
__ADS_1
“Kalau gitu nggak usah kekampus. Istirahat aja.”
“Ini lagi istirahat. Meluk istri juga termaksud istirahat El.”
Ellena berdecih, sikap suaminya seperti bunglong suka berubah-ubah. Kadang berubah jadi dingin, pemarah, menyebalkan dan manis seperti ini. Ellena menyukai semuanya, menyukai bagaimana Raja memperlakukannya selama ini.
•••
“Yakin nggak mau turun di depan kampus? Masih lumayan jauh El.” Ucapa Raja begitu menepikan mobilnya tepat didepan bengkel yang ada berhadapan langsung dengan jalan menuju kampus Athena.
“Nggak masalah, lagian nggak terlalu jauh juga.”
Gerakan Ellena terhenti ketika berusaha membuka safety beltnya. “Turunnya didepan kampus aja ya.”
Ellena menggeleng. “Nggak, orang bakal mikir aneh-aneh kalau kita kekampus bareng.”
“Orang nggak akan perduli El.”
“Kata siapa hem??? Dimana pun aku berada, anak kampus pasti menyebut nama kamu. Heran deh, ada aja ya orang dengan bangganya pengen miliki suami orang. Pengen peluk, cium. Aku aja istrinya nggak pernah tu kayak gitu.” Raja terdiam mendengar ocehan istrinya yang terdengar seperti sedang cemburu. Laki-laki itu tersneyum dengan tatapan begitu dalam.
“Jadi mau dicium?”
“Ha?” Ellena menggeleng cepat, wajahnya kembali memerah. Meruntuki kebodohannya. “Kata siapa gue nggak pernah cium dan peluk lo? Waktu itu…”
“Nggak usah dibahas Raja!!!” Potong Ellena cepat. Gadis itu mencebik kesal. Susah payah melupakan saat dimana Raja dengan gampangnya mencuri ciuman pertamanya beberapa hari yang lalu. Nyaris membuat Ellena tidak bisa tertidur.
“Kok marah lagi? Baru aja lo berhenti marahnya.”
“Ya ini juga karena kamu. Udah… ah aku mau tu…” Raja mencegat tangan Ellena. Lagi-lagi gadis itu tidak jadi keluar dari mobil suaminya. “Apa lagi? Mau bahas itu lagi.”
Cup…
Lagi-lagi Raja melakukannya, mencium Ellena tanpa aba-aba atau kesiapannya.
“Raj…”
“Ini hukuman karena kemarin lo boncengan sama cowok lain didepan gue. Sekali lagi lo kayak gitu, gue bakal hukum lo bahkan lebih dari ini.” Ancaman Raja berhasi membuat Ellena terdiam mematung, kaku, terkejud dengan serangan kedua kali dari suaminya
Diselah langkahnya Ellena terus memegang jantungnya yang memompa keras, seolah ingin meloncat keluar dari tempatnya. Dialah satu-satunya laki-laki yang berhasil menciumnya bahkan sebelum gadis itu jatuh cinta, namun saat ini seoertinya ada yang aneh dengannya setiap kali besama suaminya ada getaran aneh dijantungnya. Getaran yang begitu indah dan nyaman, getaran yang belum pernah Ellena rasakan.
__ADS_1
“Aku kenapa? Ada apa dengan jantungku?” Gumamnya.