Raja Untuk Ellena

Raja Untuk Ellena
Bab 48


__ADS_3

Ting


Ting


Ting


Suara bel terdengar ditekan berkali-kali. Raja yang masih tertidur sambil memeluk Ellena punter bangun dengan mudah. Laki-laki itu masih berusaha mengumpulkan puing-puing nyawa yang masih berhamburan melirik pada Ellena yang masih tertidur, kemudian laki-laki melirik ke arah jam diatas nakas. Pukul 10 pagi.


Raja mengangkat kepala, langsung bangun dari posisinya yang berbaring disisi Ellena. Tidak lupa laki-laki itu menyibakkan helaian rambut sang istri yang menjutai mengenai wajahnya. Laki-laki itu menghelai nafas lalu meraih kaos hitam miliknya, turun dari ranjang, kemudian keluar dari kamar. Sesaat kemudian bel sudah tidak berbunyi, mungkin bibi Nur yang telah membuka kan pintu.


Tebakannya benar, begitu Raja menuruni anak tangga kemudin menuju pintu utama. Ia bisa melihat bibi Nur masih beridiri diambang pintu. Raja mengeyerit penuh tanya “Siapa bi?”


Bibi Nur menoleh selagi Raja melangkah.


“Temennya nyonya tuan.”


Mendengarnya, Raja tambah bingung. Namun kebingungannya itu langsung terjawab ketika bibi Nur menyingkir dari pintu, menampakkan sosok Bagas yang berdiri disana. Sama halnya dengan Raja, Bagas terlihat bingung. Bukan kah kediaman Julian Argantara berada di pusat kota ini? Tapi kenapa? Kenapa Raja berada di rumah ini bersama Ellena? Laki-laki itu bahkan kembali melirik alamat yang Hanin ibu Ellana berikan untuknya ketika mengunjungi rumah gadis itu. “Mau ngapain lo kesini?” Tanya Raja dingin.

__ADS_1


“Ini rumah Ellena kan?” Raja tidak menjawab laki-laki itu melangkah lebih dekat sambil memassukkan kedua tangannya kedalam saku celana pendek yang laki-laki itu kenakan. “Maksud gue, gue mau ketemu Ellena udah beberapa hari ini dia nggak masuk, gue juga nggak bisa hubungin dia. Dia baik-baik aja kan?” Ujirnya jujur.


Raja menaikkan salah satu alisnya. “Sebenarnya lo nggak usah segitunya sampai kesini.”


“Gue hanya khawatir sama dia, selama ini…”


“Lo ada hak apa khawatir?”


Bagas terdiam sejenak, menyadari tatapan tidak bersahabat yang ditujukan Raja pasanya dan memang tidak pernah bersahabat. Namun tak ayal ia melayangkan tatapan serupa. “Lo sendiri ngapain pagi-pagi kesini?” Bagas bahkan menilik penampilan Raja yang berantakan seperti habis bangun tidur dan memang itu faktanya. “Menurut gue Ellena pasti keganggu karena kedatangan lo sepagi ini kerumah dia, ya meskti gue tau kalian bersma…”


Bukannya kesal Raja malah terkekeh geli. “Kata siapa gue kesini pagi-pagi?”


“Gue tidur disini semalam, lebih tepatnya kita tinggal bersama.”


Ucapan Raja berhassil membuat Bagas terdiam kaku. Raut terkejutnya sangat kentara, masih berusaha mencerana kata-kata yang baru saja Raja ucapkan. Sementara laki-laki itu ingin sekali tertawa melihat reaksi Bagas, andai bisa Raja ingin sekali mengabadikan momen itu lalu mengunggahnya di sosial media. Entah mengapa Raja selalu ingin memukul wajah laki-laki itu setiap kali melihatnya.


“Lo pikir gue percaya?” Ujar Bagas setelah terdiam beberpa saat. “Ellena bukan tipe cewek yang gampang dekat sama cowok apa lagi kalian masih pacaran nggak mungkikn Ellena mau tinggal bareng sama pacarnya.”

__ADS_1


“Terserah, ini rumah gue juga , gue tinggal sama Ellena dan keluarganya nggak ada yang keberatan kita bersama. Lo bisa apa?”


Tampa sadar Bagas mengepalkan kesua tangannya disisi tubuh, tatapan laki-laki iru berubah tajam. “Gue tau om Arthur nggak mungkin ngebiarin itu. Apa lagi kalian belum ada ikatan pernikahan.”


“Itu kalau laki-lakinya lo.”


“Gue nggak ada waktu ngeladenin lo. Gue cuman mau liat Ellena.”


“Kalau gue nggak izinin gimana? Lo masih mau tinggal disini”


Bagas menggeleng tegas. “Nggak, gue nggak akan pergi sebelum mastiiin Ellena baik-baik aja dan gue mau denger langsung dari mulut Ellena sendiri.”


“Gue kan udah bilang lo mau mastiin apa lagi?”


“Lo budak? Gue udha bilang mau denger langsung dari mulut Ellena.”


Raja Berdecak kesal. “Lo…”

__ADS_1


“Raja? Siapa?”


__ADS_2