Raja Untuk Ellena

Raja Untuk Ellena
Bab 17


__ADS_3

“Sumpah gue nggak ngerti sekarang, lo suami kakak ipar. Tapi yang bonceng dia malah cowok lain, kok bisa? Dia nggak suka lo ya?” Azka berusaha meredam suaranya pada kalimat terakhir, namun begitu Raja masih bisa mendengarnya. Dia menoleh dengan tatapan yang mampu menghunus jantung siapapun.


“Lo bisa diam nggak? Gue nggak peduli dia mau dibonceng sama siapa. Lagi pula gue yang buang dia dijalan.”


Azka seketika menarik tangan menutupi mulutnya yang terbuka lebar. “Lo buang cewek secantik itu? Serius? Lo nggak nyesel?”


Raja terdiam.


“Sial, kenapa juga hari ini gue datang kekampus cepat-cepat. Kan gue bisa jemput Ellena ke ka…”


Kata-kata Azka terpotong tepat ketika Raja menarik kerah baju laki-laki itu. “Mau mati lo?”


Tak…


Azka terkekeh geli sembari membenarkan kerah kemejanya yang kusut karena cengkraman laki-laki yang sednag menahan cemburu. “Turunin gengsi lo Raja! Jangan sampai lo nyesel saat cewek yang lo buang diambil sama musuh lo sendiri.”


Raja mengenyerit bingung.


“Se-Athena tau kalau Axelio sama Ellena dekat, bahkan saat ini istri lo menjabat jadi wakil di AEROX.”


Raja sedikit bingung, ia menatap Azka dengan tajam. “Ellena anggota AEROX? Bocah tengil itu masuk ke geng-geng seperti itu? Kok gue nggak tau?”


“Ya mana gue tau, lo kan suaminya.” Tukas Azka cepat. “Bro… gue cowok. Gue paling tau tatapan seperti apa yang Axelio berikan untuk Ellena. Cinta, keinginan untuk memiliki. Lo nggak takut apa?”


Untuk sesaat Raja diam, melihat ekpresi Azka sok puitis membuatnya ingin muntah. “Sekali lo ngomong gue tampar juga lo.”


Azka menggeleng. “Yang ada lo yang harus di gampar supaya sadar. Udah jangan banyakk bacot, cari istri lo jangan sampai diambil Axelio.”


Kali ini Raja tak mengeluarakan sepatah katapun dari mulutnya. Dia mengambil tasnya untuk segera berlalu dari kantin itu, namun tiba-tiba gerakannya berhenti saat seorang gadis kini berdiri dan memblokir langkahnya.


“Hay Raja.”


Pelan-pelan laki-laki itu mengangkat pandangannya. Gadis itu masih sama seperti terakhir kali ia temui, mulai dari tatapannya juga senyumannya setiap kali ia muncul di kampus ini. Raja tidak menyahut, dia menarik langkahnya untuk menghindar, melewati Mia tanpa menatapnya sedikit pun.


“Ra…”

__ADS_1


“Mia” Azka langsung menarik lengan gadis itu menghentikannya. “Lo nggak ada sadar-sadarnya ya.”


Tak


Mia melepas paksa genggaman Azka di lengannya. “Sialan, maksud lo apa?


“Nggak capek ngejar Raja? Saran gue lo sebaiknya berhenti, sampai kapan pun Raja nggak bakal bisa lo dapetin. Lo bukan tipenya.”


“Siapa lo yang nyuruh-nyuruh gue?”


“Azka. Azka Aditia yang nyuruh lo.” Balas laki-laki itu tegas…


“Kalau gue nggak mau kenapa? Lo nggak tau bagaimana usaha gue buat dapaten perhatian Raja.”


Azka tertawa miris. “Mau bunuh diri lagi? Dulu sebagai sikap kemanusian Raja datang buat nyelematin lo dan kali ini gue yakin dia nggak akan pernah beduli sama lo.”


Mia terkekeh kecil. “Kita liat aja nanti, gue pasti dapetin Ra…”


“Hey bocah tengil.” Teriakan Raja menghentikan kata-kata Mia, dia berbalik menatap objek yang sangat tidak mengenakkan didepannya. Raja dengan santainya menarik rambut Ellena yang sengaja gadis itu ikat bersih dan itu adalah hal paling mustahil bagi seorang Raja untuk melakukannya pada seorang gadis.


“Mereka saling mengenal…?” Lirih Mia.


“Lo nggak tau?”


Mia terdiam


“Mereka kenal, bahkan jauh sebelum lo tau kalau ada cowok yang namanya Raja Oliver didunia ini.”


Azka meraih tas ransel miliknya kemudian dengan cepat ia berlalu dari hadapan gadis itu.


.


.


.

__ADS_1


“Lena.” Panggil Raja seraya mengejar langkah istrinya yang semakin cepat. “Ellena, jalan lo cepat banget sih.”


Ellena tidak menghiraukan suaminya, dia tetap berjalan membiarkan Raja mengekor dibelakangnya. Untung saja Ellena mengambil jalan alternatif dimana tidak ada keramaian mahasiswa disana.


“Lena, lo masih marah soal tadi?”


Tak


Ellena menghentikan langkahnya lalu memutar badan hingga mereka berdua saling berhadapan di taman belakang kampus yang sangat jarang dikunjungin mahasiswa lain.


“Menurut kamu? Katanya mau rahasiain hubungan ini, sampai-sampai nurunin aku di jalan. Terus tadi itu apa? Ngapain manggil aku di kantin? Untung aja lagi sepi-sepinya. Kalau nggak, seisi kampus bisa heboh karena kamu.”


Saat ini Raja, masih berdiri dengan jarak yang lumayan jauh dengan istrinya. Memandangi gadis polos yang sedang meluapkan emosinya,


“Masalahnya dimana? Gue cuman manggil lo itu pun dengan sebutan bocah tengil.” Bela Raja dengan wajahnya yang sok polos.


“Bocah tengil aku?” Ulang Ellena kesal. “Kamu yang cowok aneh. Cowok aneh yang aku temui selama hidup aku. Baru aja tadi pagi kamu nyium aku, terus nurunin aku ditengah jalan karena tidak mau ada yang tau tentang hubungan kita dan barusan kamu manggil aku dengan sebutan bocah tengil. Mau kamu apa Raja?” Lanjutnya


Raja terdiam dalam waktu lama, membalas tatapan Ellena yang menatapnya tajam. Benar kata Azka jika istrinya sangat cantik, siapapun pasti ingin memilikinya. Ellena memiliki wajah yang cantik dengan rambut hitam lurus mendekati pinggang, kulitnya putih bersih namun tidak mengurangi ciri khas gadis Asia. Matanya yang bulat dengan bulu mata lentik, bibir tipis berbentuk love semerah ceri. Entah ini sihir atau apa, tidak tersenyum saja Ellena sudah terlihat sangat mempesona. Tidak heran jika Axelio begitu menginginkannya


“Kenapa senyum-senyum, kamu kira aku bicara seperti ini lagi bercanda ha?” Teriak Ellena semakin keras


“Udah marahnya?”


“Belom.” Jawabnya ketus sambil memalingkan wajahnya.


“Seharusnya gue yang marah sama lo.” Sial lagi-lagi Raja mengeluarkan suara **** yang terdengar menggoda seiring dengan langkahnya kian mendekat pada Ellena, kemudian laki-laki itu sedikit menunduk menyatarakan posisinya dengan wajah Ellena. “Siapa yang izinin lo pelukan didepan gue?“


Ellena dibuat membeku ketika wajah Raja hanya berjarak beberapa centi darinya, aroma nafas segar mint menyapu penciuman gadis itu. Untuk sesaat Ellena sampai menahan nafas, sedikit memundurkan tubuhnya. “Ssss…. Siapa yang pelukan? Nggak ada tu.”


“Dia pacar lo?”


Ellena langsung menangkap apa yang Raja katakan barusan. “Lupa dengan kata-kata kamu? Kita sudah sepakat Nggak saling menganggu atau mengusik privasi masing-masing.” Ucap Ellena seraya berlalu dari hadapan Raja, laki-laki itu hanya bisa terdiam menatap punggung istrinya kian menghilang dari balik tembok.


__ADS_1



__ADS_2