Raja Untuk Ellena

Raja Untuk Ellena
Bab 9


__ADS_3

“Buka!”


Elena refleks mundur selangkah menjauh, memasang tangan berbentuk sulang didepan dadanya sebagai perisai.


“Sekarang?”


Raja berdehem. “Hem sekarang.”


Ellena melirik kesegala sisi kamar, memang hanya ada mereka berdua dan ini adalah malam pertamanya tapi, apakah secepat ini melakukan ritual pengantin baru?


“Kamu yakin.”


“Ya.”


“Aku tau ini malam pertama kita, tapi apa tidak sebaiknya ditunda. bukankan sebelum melakukannya kita harus saling mengenal dulu?”


Raja mengenyerit tidak habis pikir dengan pemikiran Ellena yang absurd. “Hey… maksud gue pakaian lo. Lo nggak mau ganti? Nggak gerah apa pake baju kayak gitu? Lagian Mana mungkin gue juga minta itu sama lo dan jangan pernah berharap gue ngelakuinnya.”


Ellena tersenyum legah. “Aku setuju, kita jangan pernah melakukannya.”


“Maaf”


“Aku terlalu cepat nyumpulinnya.” Gadis itu kemudian berusaha meraih resleting yang ada dipunggungnya tapi tiba-tiba…


“Hey… Stop nggak!” Raja kembali berteriak.


“Kenapa lagi?”


“Mau ngapain lo?”


“Ganti baju. Kan kamu suruh tadi.”


Raja tampak berdemik termangu, laki-laki itu tidak menyangka. Dibalik wajahnya yang polos ternyata gadis yang dia nikahi sedikit gila, sepertinya kali ini Raja harus memiliki tenaga ekstra menghadapi Ellena.


“Didepan gue?”


Ellena tersadar. “Ouh!!! Ouh iya. Sorry, lupa.” kemudian segera berlari setelah mengambil paper back ditangan suaminya. “Seharusnya di kamar mandi ya ganti bajunya.”


“Yakin nggak boleh disini?” Gadis itu kembali merayu suaminya.


“Masuk nggak lo?” Sorot mata laki-laki itu seolah menembakkan laser ke arah Ellena.


“Iya… becanda, tapi aku…”


“ELLENA.”


Setelah tiga puluh menit menenggelamkan dirinya dikamar mandi, Ellena baru keluar dengan rambut yang masih basah. Baju piama tidur berbahan satin yang panjangnya sebatas paha berhasil membuat Raja menelan ludah. Kali ini Raja tidak bisa mengelak jika istrinya sangat cantik meski tanpa sepolespun alat rias apapun diwajahnya.


Ellena sempat melirik Raja disebuah meja pada sudut ruangan memainkan sebuah leptop membuat Ellena teringat akan sesuatu hal yang berhasil memberi debaran dahsyat dijantungnya.

__ADS_1


Ellena melangkah kecil menuju meja kecil dimana di sudut rungan dimana. dia menyimpan tasnya lalu mengambil ponsel, matanya membola sempurna saat melihat semua panggilan tak terjawab dari Aksel dan Bagas. Namun, itu tidaklah teralalu penting. Ellena mulai membuka satu persatu akun sosial media, mencari apapun yang berkaitan dengan pernikahannya hari ini.


”Aku mohon, apapun itu jangan sampai muka aku ada di artikel hari ini.” Ellena terus me-scrol layar ponselnya hingga suara Raja membuat gadis itu langsung mengadah, menatap wajah tampan suaminya.


“Gue mau ngomong!”


Pertanyaan itu membuat Ellena mengenyerit, Raja menatapnya dingin dengan sorot mata mengitimidasi.


Gadis itu meletakkan ponselnya diatas meja. “Tentang?”


“Hubungan kita.”


“Memang apa lagi yang mau diperjalas, kita udah nikah. Aku istri kamu dan kamu adalah suami aku.”


Raja tersenyum sinis. “Okey, gue jelasin sekarang sebelum lo salah paham sama hubungan pernikahan ini.” Ucapan Raja membuat Ellena terdiam. “Gue setuju nikah sama lo bukan karena cinta.” Ucap Raja. Ellena masih menatapnya dalam diam. “Dan lo tau kan alasannya, karena ayah gue ngerencanain semua ini. Nggak ada setitik pun terbesit dibenak gue untuk suka sama lo. Jadi, selama pernikahan kita jangan sekali melewati batas untuk ikut campur dengan urusan dan mengusik privasi gue. Soal hak, gue bakal kasi lo hanya sebatas materi, selebihnya jangan pernah lo ngeharapin apapun.” Lanjutnya


Ellena merasakan nafasnya tercekal, gadis itu terdiam dalam waktu yang lama saat laki-laki itu berbicara soal hak, memang Ellena mengharapakan apa darinya?


“Apa semua yang kamu katakan juga berlaku untuk kedua bela pihak?”


Raja mengangguk.


“Tidak saling mencapuri urusan masing, masing?”


“Ya.”


Raja berdehem. “Ya!”


“Oke deal.” Ellena bangun penuh semangat dari tempatnya duduk, mengulurkan tangan mungil kearah suaminya dengan wajah bahagia. “Aku setuju. Sangat setuju.”


Raja membalasnya sebagai tanda kesepakatanan. “Lo juga Jangan sekali lo ngeharapin cinta dari gue, karena itu nggak akan pernah terjadi.”


“Tenang aja aku nggak bakal ngenuntut cinta sama kamu kok.” Ucap Ellena saat melepaskan tangannya. “Takutnya kamu yang akan jatuh cinta sama aku nanti.”


Raja tertawa geli. “Gue? Nggak akan pernah?”


“Yakin? Tidak bakal jatuh cinta sama aku? Aku cantik lo, pinter, inceran om-om juga.”


Laki-laki itu melangkahkan kakinya lebih dekat pada Ellena. Jantung gadis itu berdegub kencang, sangat takut ketika sorot mata suaminya begitu tajam namun Ellena tidak mau terlihat lemah didepan laki-laki itu. Dia sedikit mundur saat Raja dengan tubuhnya yang tinggi berdiri tepat didepannya.


Raja Oliver menaruh telunjuk kirinya dibawah dagu Ellena. Dia mengangkat wajah angkuh itu untuk mendalami wajah Ellena dari dekat “Gue Nggak peduli sama kecantikan lo. Bagi gue lo hanya cewek asing yang tiba-tiba masuk kedalam hidup gue. Dan itu membuat gue risih.” Sial, laki-laki itu menghinanya dengan cara yang seksi dan menggoda.


Ellena yang tidak mau kalah dengan suaminya menarik senyum smirik di ujung bibirnya. “Ya udah kita liat aja nanti. Kamu atau aku yang kalah.” Ucap Ellena dengan sedikit menantang Raja, kemudian gadis menepis tangan Raja.


“Lalu kedepannya bagaimana? Mau diapakan pernikahan ini? Kamu tidak menyukaiku, dan tidak mungkin kan kita selamanya seperti ini?” setelah pertanyaan itu lolos dari mulutnya, Ellena sedikit risau. Bagaimana jika Raja menceraikannya seblum 24jam pernikahnnya kan tidak lucu. Sejarah akan mencatat sebagai pernikahan tersingkat abad ini.


“Untuk sementara biar seperti ini, gue akan akhiri pernikahan ini sampai gue dapat apa yang gue mau.”


Entah seprti apa hatinya kini tapi kata-kata Raja seperti menggambarkan bahwa dia hanya gadis sekali pakai, Ellena tau jika pernikahan ini terjadi karena perjodohan tapi apa tidak ada sedikit saja rasa peduli Raja padanya. Dia juga tidak menyukai pernikahan ini

__ADS_1


“Jadi pihak yang diuntungkan hanya kamu, lalu bagaimana denganku? Apa yang aku dapat dari pernikahan ini.”


“Terserah lo. Tinggal bilang gue kabulin.” Balasnya enteng


.


.


.


Drrtt


Drrtt


Drrtt


“Ehmm Halo!!!”


“El lo dimana? Lo baik-baik aja kan?” Teriakan seseorang dari sambungan telepon refleks membuat gadis itu bangun setelah kesadarannya kembali utuh. Sejakali lagi Ellena melihat nama yang sedang melakukan panggilan dengannya. Bagas.


“Iya ini aku. Kenapa?” Berusaha menutup tirai yang menyilaukan.


“Seharusnya gue yang nanya? Lo kenapa? Tiba-tiba menghilang. Nggak masuk kampus, nggak ke markas, Lo Ada masalah?”


“Besok ya, aku ada acara keluarga.”


“Apaan abang lo nikah? Kok gue nggak diundang El? Jahat lo.”


“Hmm bukan kak Vano tapi…” Ellena tiba-tiba membungkam mulutnya, seketika ia teringat akan sesuatu.


“Tapi apa?”


“Hemmm… nggak! kenapa nelpon pagi-pagi.” Tanyanya mengalihkan topik pembicaraan mereka.


Bagas tersenyum lepas. “Mau ikut balapan nggak?”


“Hadiah-nya apaan? Males kalau nggak seru”


“Duit.”


Ellena terdiam. Selama ini gadis itu akan menolak jika taruhannya adalah uang tapi, kalau dipikir-pikir lumayan untuk memenuhi kebutuhannya setelah menikah. Setidaknya sampai gadis itu mendapat pekerjaan, tidak mungkin Ellana masih bergantung pada orang tuanya setelah menikah dan jauh lebih tidak mungkin lagi kalau dia meminta pada suaminya.


“Oke. Besok kita ketemu, aku juga adah kuliah.”


“Wah serius? Tumben lo terima? Bangkrut?”


“Ouh ya udah gue nggk…”


“El… becanda.” Potongnya cepat, “Ya uduah besok tempat biasa gue tu….” Ellena mengakhiri panggilannya bahkan sebelum Bagas menyelesaikan kata-katanya.

__ADS_1


__ADS_2