
Ellena mengedarkan pandangannya kesegala sisi kamar miliknya yang tidak terlalu luas, namun ia tidak menemui laki-laki yang paling menyabelakan abad ini dimana pun. Gadis itu kemudian meletakkan sepasang pakaian yang baru saja dia ambil dari kamar Elvano-kakaknya untuk Raja, namun tiba-tiba…
“Kyaaaaa…” Jerit Ellena, Raja yang tiba-tiba keluar dari kamar mandi hanya mengenakan sehelai handuk. Tubuh bagian atasanya dengan otot-otot **** mampu menggoda iman gadis manapun
“Suaranya bisa dikencengin lagi? Supaya mama dan semua orang di rumah ini denger kalau gue lagi membuat proyek penting.” Ellena melangkah, menajuh sejauh mingkin dari laki-laki super cabul itu.
“Kamu…” Tunjuk Ellena, lidah gadis itu tiba-tiba keluh. Sorot matanya tidak bisa berbohong jika pemadangan didepannya sungguh indah. “Sial, kok cantik.” Gumam gadis itu.
“Kamu ngapain? Kamu tidak malu hanya memakai handuk dikamar seorang gadis ha?” Raja tersenyum geli ketika mendapati Ellena diam-diam mencuri pandangan kearahnya. Dengan segala keisengennya, laki-laki itu mendekati Ellena. Menangkat dagu gadis itu dengan telunjuknya.
“Kalau mau liat, liat aja. Ini punya lo kok, jangan kan hanya dada yang lain aja gue bukain kalau lo mau.” Ellena terbungkam dengan mata membola penuh.
Bukk
Ellena mendorong tubuh Raja lali dengan cepat menjauh. “Pakaian gantinya ada diatas kasur. Mama nunggu dimeja makan.” Setelah mengatakan hal itu Ellena berlari cepat meninggalkan sang suami yang tersenyum dengan seringai tipis yang mematikan.
Hanin mengenyerit begitu putrinya turun dengan kedua tanganyannya menangkup wajah memerah. Benar-benar merah.
“El, kamu kenapa sayang? Sakit?”
Ellena langsung mengadah, lalu menggeleng cepat. “Nggak ma, Lena baik-baik aja kok.” Ucapnya.
“Muka kamu merah El, kamu demam.”
Gadis itu langsung menghindar, tepat sebelum tangan ibunya menyentuh jidatnya. “Ma, Lena nggak papa. Serius”
“Ya udah. Tapi, kok turun sendiri? Suami kamu mana?”
“Masih diatas, sebentar lagi dat…”
“Kenapa ditinggal?” Entah sejak kapan laki-laki itu kini berada disisi Ellena, merangkul pundaknya mesrah. Gadis itu bahkan tidak bisa bahkan untuk sekedar berekdip. “Ma, maaf Raja terlambat. Soalnya ada sesuatu hal yang Raja haru selesaikan dulu. Iyakan sayang?”
Sayang? Dia sudah sangat pantas memenangkan piala oscar tahun ini.
Ellena terpaku ditempanya duduk menatap Raja dengan wajah frustasi, jantungnya masih berdebar setelah kejadian tadi di kamar dan sekarang laki-laki itu lancangnya merangkul Ellena didepan ibunya.
__ADS_1
“Iya, mama sama papa waktu muda dulu juga kayak gitu. kok.”
“Ma?”
“Udah El! Kamu ambilkan nasi dan lauk untuk suamimu nak!” Kali ini tidak ada penolakan atau sepatah kata pun dari Ellena, gadis itu mulai mengambilkan nasi yang cukup banyak untuk suaminya.
“Ellena, ini terlalu banyak.”
Ellena menggeleng cepat. “Kamu agak kurusan mungkin karena mempersiapkan pernikahan kita. Jadi, harus makan yang bayak.”
“Tapi Ini..”
“Kamu mau lauk yang mana?” Tanya Ellena. “Akhhh… Ayam, itu bagus untuk menambah nutrisi.” Merasa cukup Ellena kemudian menggeser piring dengan beberapa menu didepan suaminya. “Kalau kurang, kamu tinggal bilang, aku akan ambilkan semua apapun diatas meja ini suamiku.” Raja seperti melihat kepribadian lain dari istrinya, gadis itu berubah sangat ramah bahkan nada bicaranya terdengar sangat menakutkan.
Raja menatap sepiring penuh makanan didepannya, bahkan melihatnya saja dia sudah sangat kenyang.
“Kenapa tidak dimakan? Tidak suka?”
Hanin yang sementara menyantap makanannya mengadah. “Apa mau mama buatkan yang lain Raja.”
“Kalau gitu kamu makan ya! Nanti makananya dingin kan nggak enak.”
“Dasar bocah tengil.” Batinnya
Ellena tersenyum penuh kemenangan, bahkan gadis itu sekali lagi menambahkan lauk diatas piring suaminya. “Makan yang banyak suamiku.”
“Ellena.”
•••
Diatas kasur Raja hanya bisa pasrah dengan hidupnya, ia terlentang menatap langit-langit memegangi perutnya, menghitung jumlah otot-otot berbentuk roti sobek apa masih utuh. Matanya hampir saja menutup namun ia teringat sesuatu, lalu bangun terduduk diatas kasur.
“Kemana dia? Setelah buat gue hampir pingsan dia menghilang.” Gerutu Raja kemudian ia bangun melangkah menuju balkon.
Ini malam yang dingin, angin berhembus kencang sepertinya sebentar lagi hujan akan turun. Raja merogoh saku celana yang terbuat dari katun lembut kemudian mengeluarkan kotak rokok lalu membakarnya. Cukup lama Raja menatap kosong rumah kaca yang ada didepannya kemudian sorot matanya tak sengaja menemukan sesuatu yang menarik
__ADS_1
Disinilah Raja didepan sebuah garasi dengan pintu yang sedikit terbuka, tampa pikir panjang laki-laki itu mendorong pintu bermaterial kayu didepannya. Raja melempar kekaguman pada sebuah motor hitam yang sengaja di modifikasi, ia mendekat tanpa ragu, meneyentuhnya pelan.
“Hem?” Suara Ellena membuat Raja mengangkat pandangannya. “Kenapa kesini ? Kamu butuh sesuatu?” Tanya Ellena sembari mendekat pada suaminya.
“Nggak, ini motor siapa?” Tunjuknya
“Motor aku.”
“Kamu?”
Ellena berdehem. “Hem, satu-satunya yang suka motor dirumah ini hanya aku. Makanya kak Vano buatin garasi khusus, soalnya papa nggak pernah suka hobi aku.”
Raja mengngguk, laki-laki itu tidak menyangka istrinya yang terlihat kalem juga sangat feminim ternyata memiliki hobi yang lumayan unik dibanding gadis pada umumnya.
“AEROX, lo bagian dari mereka?”
Ellena terdiam, jantungya sedikit berdegub lebih kencang dari biasanya saat sorot mata Raja seolah menghunuskan sebilah pedang ke jantungnya.
Tes
Tes
Tes
Hujan tiba-tiba turun dengan lebat, Ellena langsung berlari memutuskan kontak mata keduanya, ia kemudian menarik pintu lalu menutupnya rapat.
“Nanti hujannya masuk kalau pintu nggak ditutup.”
Ellena memutar badannya, betapa terkejudnya gadis itu saat Raja tiba-tiba berada didepannya dengan jarak hanya beberapa inci didepannya. Bolan mata indah dengan bulu mata super lebat dan lentik, bahkan hhidung sangt mancung, bibir yang berisi semerah ceri tertutup rapat. Ellena bisa merasakan aroma wangi khas dari tubuh suaminya, gadis itu benar-benar bisa gila jika seperti ini.
“Gue bertanya tapi, kenapa lo ngehindar?” Tanya Raja dengan suara yang serak dan ****.
Ellena kalah.
__ADS_1