
“Kak, Bella ke kamar dulu!!!” Ucap gadis itu begitu tiba dirumah.
Suasana tiba-tiba hening mencekam, rumah yang setara dengan istana itu tampak sepi. Mungkin karena sudah larut, semua pelayan sudah beristirahat di paviliun belakang.
“Ehmmm… Kamu sudah makan?” Ucap Ellena berusaha memecah keheningan namun Raja terus berjalan menaiki anak tangga tanpa memperdulikan Ellena yang masih mengikutinya di belakang. Langkah laki-laki itu sangat cepat hingga membuat Ellena sedikit kesusahan menyamai posisinya. “Mau aku buatin sesuatu?” Lagi-lagi Raja tak menjawab.
Sampai dikamar, Raja melepas kasar stelan jasnya satu persatu. Tanpa diduga, laki-laki itu juga melepas baju kaos putih yang dia pakai sebagai dalaman, hingga kemudian bertelanjang dada. Ellena yang ada diambang pintu langsung mengambil langkah mundur, memalingkan muka. Menghelai nafasnya agar sedikit lega, pipinya mulai memerah dan terasa panas.
“Dia siapa?” Ujar Raja tiba-tiba
“Hemm?” Ellena memutar badannya, langsung menunduk. Menatap Raja dengan ber-telanjang dada membuatnya sedikit tidak nyaman. “Dia? Siapa maksud kamu?”
“Angkat muka lo!!!” Pintanya dingin. Namun Ellena masih dengan pendiriannya. “ANGKAT ELLENA!” Ucap Raja penuh penekanan, perlahan gadis itu mengadah. Menatap langsung wajah suaminya, gadis itu bisa melihat saat ini emosi Raja itu meluap. “Gue tanya, cowok itu siapa?”
“Namanya Bagas, dia temen aku.”
Raja tertawa sinis. “Temen?”
“Iya, dia teman aku. Kita juga sekampus kok sam dia.”
“Temen? Sampai rapaiin rambut lo, perhatian sama lo. Itu dibilang temen. Lo yakin!”
Ellena menaikkan satu alis, bersidekap dada. Gadis itu bahkan bersandar, sedangkan Raja masih berdiri menghalanginya masuk. “Kamu marah, Gara-gara itu?”
Raja diam
Ellena menghelai nafasnya panjang. “Dia rapiin rambut aku hanya karena aku lupa bawa karet gelang dan situasi saat itu aku mau pake helm, terus kamu bilang soal dia perhatian. Nggak, dia hanya merasa bersalah karena dia aku dalam situasi yang sulit.” Jelas Ellena.
“Siapa yang marah, itu hanya opini kamu.”
Beebrapa detik kemudian gadis itu menyadari sesuatu. “Tunggu, bagaimana kamu bisa tau kalau Bagas rapiin rambut aku. Situasi saat itu aku udah mau tanding”
__ADS_1
Raja memalingkan wajahnya. “Udah lupain, mulai sekarang gue nggak mau lo deket-dekat sama dia.”
Ellena menggeleng. “Kamu lupa peraturan yang kamu buat sendiri? Selama pernikahan ini. Kita nggak saling ikut campur privasi masing-masing, kamu yang buat perturan itu tapi kamu juga yang ngelanggar.”
“Gue cuman nggak mau lo deket sama laki-laki lain. Lo mau ngerusak nama baik gue sebagai suami lo ha?”
“Raja, aku sama Bagas cuman temen kok nggak lebih, kalau kamu khawatir aku berbuat macem-macem dan buat nama baik kamu rusak. Nggak usah khawatir aku tau batasannya kok, aku tetap inget kalau gadis beranama Ellena ini adalah istri Raja Oliver yang sah dimata hukum dan agama. Kamu suami aku dan faktanya adalah itu.”
Raja terdiam, diam-diam hatinya menghangat ketika Ellena menyebutnya sebagai seorang suami.
“Tapi tetep aja hubungan kian sebatas teman udah kelewatan.”
“Kelewatannya dimana? Lo aja yang nanggepinnya aneh.”
“Nyalahin gue?”
“Terus…”
“Dasar aneh.” Gumam Ellena sambil mencepol rambutnya, membuat baju yang gadis itu kenangkan terangkat naik.
Tanpa sengaja, Raja melihat ke arah istrinya. Tepat dimana Ellena mengangkat tangannya saat mencepol rambut. Sialan, ia baru menyadari ini, kaos top crop yang gadis itu gunakan terangkat memperlihatkan perutnya yang mulus. Untuk sejenak Raja memalingkan wajahnya, pendingin ruangan yang menyala, namun tiba-tina Raja merasa gerah. Tidak nyaman
Sialan. Raja memang tidak menyukai Ellena, namun sepertinya gadis itu lupa jika Dia juga laki-laki normal.
“Shit..”
Ellena yang baru saja selesai mencepol rambutnya mengerutkan kening. “Kenapa lagi?” Tanyanya dengan raut tanpa dosa, Raja sudah seperti ingin mencekik gadis itu dakin kesalnya.
“Setiap keluar lo peke kayak gini? Gak dingin?”
Ellena melirik ke arah pakaiannya yang Raja tunjuk. kemudian menggeleng polos. “Nggak, biasa aja. Lagian ini masih sewajarnya kok.”
__ADS_1
“Emang ngeliatin lekuk tubuh sama cowok lain itu wajar?”
Ellena cengoh. “Aku nggak ngeliatin sama cowok lain. Ini untuk diri aku sendiri.”
“Eman kalau keluar dari rumah nggak ada cowok yang liat?”
“Ya ada tap…”
“Udah nggak ada alesan lagi! Mulai hari ini kalau lo keluar rumah jangan pake kayak gitu. Sakit mata gue liat lo.”
“Terus aku mau pake kayak gimana? Ya biasanya aku gini, lagian salahnya dimana Raja?”
“Ya terserah lo kenapa nanya gue?”
“Kenapa, sih, kamu? Kayaknyanya marah-marah terus dari tadi.”
Raja mendesisi kesal. “Itu karena lo sebego itu. Masa ia pakean aja gue ajarin.”
Ellena menghembuskan nafasnya pelan. “Aku capek. Kalau mau marah besok lagi ya, aku mau tidur.”
“Lo boleh tidur asal ganti baju. Lo ambil baju gue di lemari.”
Ellena kembali mengerjab bingung. “Baju kamu? Aku punya baju.”
“Baju lo kebanyakan aneh, gue juga nggak mau lo sakit karena masuk angin. Entar gue yang repot sendiri.”
Ellena menatap Raja tak percaya, mengabaikan alasan yang sangat tidak masuk akal itu. Walaupun Ellena tidak akan masuk angin hanya karena baju yang ia kenakan saat ini terlebih gadis itu pasti akan memakai selimut jika saat tidur.
*
*
__ADS_1