
Ellena menatap gedung kampus menjulang tinggi dari kaca jendela, ia kemudian mengedarkan padangannya di area parkir. Masih memastikan jika tidak ada siapapun yang melihatnya keluar dari mobil Raja.
“Kenapa? Lo lupa sesuatu?”
Ellena menggelang wajahnya benar-benar pucat. “Cuman mastiin kalau nggak ada yang liat aku turun dari mobil kamu.”
“Lo masih mikirin itu?”
Ellena tidak membalas pertanyaan suaminya, gadis itu kemudian melepas sabuk pengaman yang terpasang ditubuhnya. Lalu menoleh kearah samping, ke arah dimana Raja duduk di kursi kemudi.
“Benneran nggak papa? Muka lo pucet banget El.”
“Ini udah mendingan kok, lagian nggak bakal lama kuliahnya.”
“Berapa lama?”
“Mungkin dua jam.”
Raja mengangguk. “Ya udah, gue juga mau ketemu Mr. Lois sekalian gue tungguin.”
“Nggak papa kalau urusan kamu sama Mr. Lois selesai pulang aja aku takutnya kamu nunggu lama.”
“Gue tungguin.” Ucapnya singkat
“Aku bisa naik taksi Raja, kamu nggak usah nunggu.”
Sorot mata laki-laki itu terangkat setelah beberapa detik menatap layar ponselnya. Tatapannya begitu tajam, Ellena hanya bisa menelan slivanya diam-diam. “Kalau gue udah bilang nunggu, itu artinya gue nunggu. Nggak ada penawaran, ini pertintan Ellena Roselyn.”
Ellena menghelai nafasnya dan hendak membuka pintu mobil langsung terurungkan ketika Raja menahan pergelangannya.
“Axelio, sama cowok di kantor polisi juga ada didalam.”
“Bagas? Dia juga kuliah karena kota seangkatan kalau Axel aku nggak tau. Tapi seharusnya dia juga masuk matkul ini.”
Dada Raja serasa terbakar. “Jangan dekat-dekat mereka, terutama sama Axelio.”
“Kenapa?”
__ADS_1
“Nggak usah nanya, nurut aja kenapa!”
Ellena menghelai nafasnya. “Iya. Aku masuk dulu!”
•••
“El.”
Ellena Refleks menoleh, menatap sahabatnya yang baru saja duduk tanpa permisi disampingnya. Gadis itu kembali merapikan buku-bukunya.
“Lo sakit? Dari tadi gue perhatiin Muka lo pucet banget.”
Ellena hanya membalas dengan gelengan kecil pertanyaan Bagas.
“El..”
“Aku nggak papa Bagas, cuman nggak enak badan aja.”
“Ya tetap aja itu artinya lo sakit.”
Bukan. Kali ini bukan Bagas yang mengatakan hal itu melainkan Axelio. Ellena mengyerit penuh tanya, sejak kapan Axelio ada disampingnya? Setau Ellena laki-laki itu tidk mengukuti mata kuliah sore ini.
Betapa terkejudnya Ellena ketika Axelio mengulurkan tangannya, hendak menyentuh jidat Ellena namun gadis itu dengan cepat menghidar. Raut kekecewaan begitu jelas diwajahnya.
“Aku udah bilang nggak papa kok.”
“Ya udah kita ke uks aja, sekalian lo istirahat.” Tukas Bagas sambil meraih tas juga beberapa buku milik Ellena.
Beberapa langkah menuju pintu keluar, pandangan Ellena mulai memburam. Rasa peningnya yang mulai membabibuta, untuk kali ini Ellena tidak bisa kuat menahannya seperti tadi pagi. Tubuhnya melemah, bahkan kakinya hampir tidak lagi sanggup menopang tubuh, tatapannya mulai sayu dan…
Brukk!!!
“Ellena”
“Ellena”
•
__ADS_1
•
•
•
Brakkk!!!
Kedua laki-laki beda generasi yang sedang asik berbincang di ruang rektor langsung menoleh kearah pintu, mereka melirik Azka yang sudah tergelatak di lantai karena terpeleset.
“Azka tidak bisa kamu mengetuk pintu dulu sebelum masuk?” Tanya pria yang yang sudah berkepala empat itu. Albian Argantara rektor Athena, juga om dari kedua laki-laki itu.
“Maaf om Bian, Azka nggak sempat.” Laki-laki itu mendekat ke arah Raja. “Ja, Ellena.” Kening Raja mengenyerit penuh tanya.
“Ellena?”
“Iya.” Bahkan sebelum mengatakan masalahnya Raja langsung berlari keluar dikuti Azka, dadanya memompa begitu cepat. Sesekali dia berlari menuruni setiap tangga menuju lantai bawah.
“Raja, sebelah sini.” Teriak Azka ketika Raja salah jalan. “Kakak Ipar udah di UKS.”
Begitu tiba didepan pintu UKS, tanpa pikir panjang Raja langsung masuk diikuti Azka dibelakangnya. Bau obat-obatan menyeruak di ruangan serba putih itu, lutut Raja tiba-tiba melemah ketika melihat sang istri tengah berbaring lemah diatas kasur dengan waja begitu pucut.
“Siapa yang menyuruh mu masuk?” Ucap Mis Clara tegas. Wanita itu adalah dokter yang bertugas dikampus Athena. “Silahkan keluar sebelum saya pa…” Kata-kata wanita itu terpotong begitu melihat Pak Bian di abang pintu. Bodoh jika Mis Clara tidak tau siapa pria itu.
“Bagaimana keadaannya? Apa begitu parah?” Tanyanya pelan.
“Hanya demam biasa dan sepertinya dia alergi sesuatu.”
Pelan-pelan Raja mendekat pada sisi ranjang dimana Ellena tebaring, hanya mampu terdiam dengan tatapan kosong. Dia bungkam, karena dirinya benar-benar salah. Bagaiman bisa dia lupa jika istrinya alergi pada makanan seefood sedangkan tadi pagi dia malah memesankan Ellena nasi goreng seefood.
“Kalian boleh keluar, meski ini dikampus saya tetap memperlakukan hanya keluarga Ellena yang boleh ada disini.”
“Saya suaminya.”
“Apa?” Mis Clara menoleh cepat begitupun Raja.
“Apa alasan itu sudah cukup agar saya tetap disini menemaninya.”
__ADS_1
Wanita cantik itu kembali menarik tatapannya pada Bian, solah bertanya apa kah ini benar? Anggukan kecil dari kepala pria itu menjawab keraguan Mis Clara.