
Drap!
Drap!
Drap!
Langkah Raja menggema diseluruh bagian perusahaan, sontak seluruh karyawan beserta bodyguard menyambut Raja dengan keramahan. Namun, ada yang aneh hari ini, setiap hari laki-laki dengan wajah dingin mendominan tersenyum bahagia.
“Wah ini pertama kalinya dia tersenyum pada kita.”
“Ada apa dengannya? Seperti ada yang berubah, apa ya? Apa potongan rambutnya?
“Itu tidak penting. Bukan kah ini adalah pemandangan yang sangat indah?”
“Dia setampan itu, kenapa tidak tersenyum ramah sejak awal?”
”Aku yang sudah setua perusahaan ini, baru pertama kali melihatnya tersenyum seperti itu.”
.
.
.
“Selamat pagi tuan.”
“Hemm… Selamat pagi semuanya.”
.
.
.
Dan dalam sejarah Raja memimpin Athena, tidak pernah sakalipun laki-laki itu tersenyum ataupun membalas sapaan para karyawan kecuali hari ini. Dia terus tersenyum berbeda dari sebelumnya yang datang dengan wajah menyeramkan.
Raja masuk diruangannya sebelum bertemu dengan tuang Rudolft, mencati sesuatu yang seharusnya ada diatas meja.
“Maaf tuan, apa anda kehilangan sesuatu?”
__ADS_1
“Hemm… Leo, kau tidak lihat kontrak kerja sama dengan tuan Rudolft yang kusimpan diatas sini?” Raja masih mengobrak abrik semua berkasnya, bahkan sampai mencatinya kekolom meja.
”Ahh, map coklat tempo hari?”
”Ya itu.”
“Bukannya anda bawa pulang?”
Raja menutup matanya, bagaimana bisa dia melupakan hal itu?
“Aku ingat, aku menyimpannya diatas meja kerjaku dirumah.”
Diam -diam Leo menyembunyikan senyumannya. ‘Ternyata cinta membuat anda jadi pikun tuan.’ Batin laki-laki itu.
“Hubungi Munir, suruh dia membawa berkas itu kekantor.” Titah Raja.
......................
“Pak Munir? Mau kemana?”
Ellena yang baru selesai siap-siap hendak kekampus menadapati supirnya buru-buru keluar, pria paru baya itu menoleh sedikit membungkuk.
“Ya udah aku ikut ya pak, sekalian antar aku kekampus!”
“Tapi Nyonya, tuan berpesan kepada saya agar tidak mengantar anda kekampus hari ini.”
Ellena tersenyum simpul, dia tahu bagaimana segannya semua pelayan dirumah ini pada suaminya. “Tidak apa-apa pak Munir, lagian kita mau kekantornya dulu kan. Nanti aku minta izin.”
”Biak nyonya, kalau begitu saya tunggu dimobil.” Katanya sambil menyerahkan berkas yang Raja maksud.
***
Tiga puluh menit kemudian mobil yang Ellena tumpangi tiba di Athena, perusahaan milik suaminya. Gadis itu melangkah masuk sedikit munduk, ini bukan pertama kalinya dia ke perusahaan milik Raja namun entah mengapa, gadis itu masih malu.
Tanpa bertanya atau menunggu lagi, Ellena naik menggunakan lift menuju ruangan suamnya. Tepat didepan ruangan Raja, Ellena melangkah pelan mendekati puntu ruangan suaminya yang sedikit terbuka, gadis itu hendak mendorong pintunya namun tiba-tiba terhenti.
“Kalau memang kamu sudah tidak cinta sama aku, kenapa sampai detik ini kamu masih marah Raja? Aku kembali sekarang, aku masih sangat mencintaimu dan aku tau kamu juga merasakan hal yang sama kan? Maaf karena kebodohan ku Raja, kamu benar seharusnya aku hanya perlu minta izin dan tidak pergi begitu saja. Iya aku salah, sekarang aku disini, aku kembali sama kamu. Jadi aku mohon maafkan aku dan kita kembali bersama kayak dulu.” Jennie memohon, air matanya mulai merembes kepipi tapi sengaja tidak dia seka.
“He…” Laki-laki itu tertawa kecil. “Jen, lo percaya diri banget ya.”
__ADS_1
Nyali Jennie mencuit, namun gadis itu berusaha terlihat tenang.
“Apa aku salah? Aku percaya perasaan kamu tidak akan pernah berubah.” Kembali merayu laki-laki itu dengan kata-kata yang menyentuh. “Aku memang pergi tapi aku sudah kembali masih dengan cinta yang sama seperti dulu.”
Tidak ada pilihan lain Jennie dengan beraninya memeluk Raja saat hendak bersua. Menangis sejadi-jadinya dalam pelukan laki-laki itu. “Aku mohon Raja, kita sudah ngelaluin banyak hal. Sekarang aku disini, gadis yang sangat kamu cintai kembali. Kita mulai dari awal, hem?”
Suasana tiba-tiba hening, Diluar sana hanya ada Ellena seoarang diri, dia mengenggam erat map coklat ditangannya. Sampai pada akhirnya, sekertaris Olivia yang baru saja kembali dari masa cuti lahirannya datang dari arah berlawanan.
“Nyonya Ellena, kenapa anda tidak masuk.” Wanita itu benar-benar tidak tahu jika didalam sana ada Jennie. Ellena hanya tersenyum, memberikan map coklat milik suaminya.
“Raja ada tamu, dia nyuruh bawa berkas penting ini.”
“Tamu? Tuan?” Gumam sekertaris itu masih menatap punggung Ellena yang semakin menjauh kemudian menghilang dari balik lift.
‘Pada akhirnya Raja kembali pada cinta pertamanya.’ Batinnya. Ellena mengadah guna melihat sekarang dia berada dilantai berapa, namun nyatanya gadis itu berusaha menahan cairan bening yang sejak tadi menganak di pelupuk matanya. Sungguh memalukan jika dia harus mengangis karena cinta… Tapi, akhh sudah lah..
***
Tak…
Raja melepaskan pelukan Jennie, lalu mendorong tubuh gadis itu menjauh.
“Pergi dari sini sebelum gue panggil security.”
“Raja.” Tangan gadis itu kembali menyentuh tangan Raja. “Hemm, kita coba lagi dari awal, aku akan jadi gadis penurut.”
“Aku sudah menikah.”
”Raja. Stop pakai alasan gila itu, aku tau kamu nikahin dia bukan karena cinta, bocah kampung kayak dia bukan tipe kamu kan. Kamu hanya mau manas-manasain aku dan bikin aku cemburukan. Kalau itu tujuan kamu, ya kamu berhasil. Sekarang cerain dia dan kembali sama aku.”
“Hahaha”
Raja melangkah pelan mendekati Jennie yang terhenyak mendengar tawa yang menggelegar.
“Siapa yang ngizinin lo ngehina istri gue?” Raja menyentuh leher Jennie, sedikit menekannya, tatapan laki-laki itu berubah menakutkan. “Terus gimana kalau gue beneran jatuh cinta sama bocah kampung jelek itu? Lo mau apa?”
“Rra… Raja kau menyakitiku.”
Raja melepaskan cengkaramannya dileher Jennie. “Kalau lo masih mau hidup jaga mulut lo! Jangan sekali-kali lo ngehina istri gue.” Raja mengatakannya begitu pelan namun menakutkan. “Pergi dari sini sebelum gue panggil orang buat seret lo dari sini” Lanjutnya.
__ADS_1