
“Kamu cowok jahat Raja.”
Raja menaikkan alis, bersedekap dada, menatap seorang gadis yang sengaja berdandang cantik untuk menemuinya. Tatapannya mengimitidasi, tak perduli dengan air mata yang kini dikeluarkan gadis itu, sembari menatapnya seolah begitu terluka. Raja menyeringai miris.
“Selama ini aku menunggu mu tapi… tapi kamu lebih memilih perempuan murah…”
“Diam Mia!” Balas Raja dengan bentakan, membuat gadiis itu menutup mulutnya rapat. Meski begitu air matanya tetap jatuh. “Sekali lagi gue denger lo merendakan Ellena, gue nggak akan segan lagi Mia.” Raja memajukan sedikit tubuhnya. “Andai bukan karena Ellena gue pastiin lo nggak akn duduk tenang kayak gini.”
Mia memelas, menatap penuh sendu wajah laki-laki yang sangat dia cintai. “Sebenarnya apa yang udah aku lakukan sampai kamu sangat membenciku.”
“Selama ini gue nggak perduli gangguan lo ke gue tapi…” Raja menjeda ucapannya. “Tapi, kali ini gue nggak bisa. Dia adalah orang paling gue cintai dan lo udah berani ngusik dia.”
Kata-kata Raja seakan membuat nafas Mia tercekat, seperti sebuah bom yang meledak detik itu juga. Gadis itu terkejut, sangat. Sebelumnya Raja tidak sekalipun mengatakan apapun ketika laki-laki itu masih bersama mantan kekasihnya namun kali ini sangat berbeda, Raja seolah menekankan jika Ellena adalah miliknya. Matanya berkaca-kaca menatap Raja lurus, detik berikutnya, Mia menggeleng lirih. “Nggak lo bohong.”
Raja mengepalkan tangannya. “Dan itu faktanya.”
“Nggak mungkin, lo masih cinta sama Jennie. Makanya sampai sekarang lo nggak nikah sama siapaun iya kan.”
“Jangan sekali-kali sebut nama cewek itu didepan gue! Antara gue dan dia udah lama selesai.” Ucap Raja sambil menggeser kursinya untuk berdiri. “Andai bukan karena Ellena, lo udah gue hancurin detik ini juga. Gue nggak ngelakuin meski gue mau ngebunuh lo. Tapi, nggak adil kalau gue ngelepasin lo gitu aja, perlahan-lahan gue bakal buat lo menderita. Jadi, nikmati aja! Sekali lagi lo nyakitin Ellena. Gue nggak akan segan-segan lagi.”
Raja yang hendak pergi kembali menghentikan langkahnya setelah satu pertanyaan lagi lolos dari mulut Mia. “Siapa Dia?! Seberapa penting dia buat kamu. Sebelumnya kamu tidak pernah ngelakuin ini. Apa dia…”
__ADS_1
“Ya, dia istri gue.”
Dunia Mia benar-benar runtuh, tatapannya tiba-tiba kosong menatap punggung Raja kian menghilang dari balik pintu.
***
“Darimana aja?”
Raja yang baru masuk rumah mengenyerit ketika melihat Ellena mengangkat vas bunga lalu memindahkannya ke atas meja. “Etsss… lo gila? Punggung sama bahu lo masih sakit El. Seharusnya minta bantuan bibi atau nungguin gue pulang. Terus Bella mana? Tu anak kalau dimintai tolong ngilang mulu.”
Ellena menghelai nafasnya. “Nggak ingat bibi pulang kampung. Bella kusuruh pulang juga, kasian dia pasti capek.” Kemudian Raja lebih dibuat terkejud saat Ellena melangkah, sontak laki-lakii itu mendekat, menarik pinggang Ellena untuk membantunya. “Aku bisa sendiri.”
Ellena memghentikan langkahnya, kemudian memutar tubuhnya menghadap Raja. “Jawab dengan jujur! Kamu dari mana?”
“Kantor, tadi ada kerjaan sedikit yang harus gue selesaiin.” Jawabnya, tentu itu adalah kebohongan. Raja tidak pernah menginjakkan kaki ke perushaaan, setelah membuat Ellena tertidur laki-laki itu langsung menemui Mia.
“Boleh aku nanya lagi?”
“Hem…”
Ellena meraih ponselnya dari balik saku celana, kemudian mengarahkan layarnya pada Raja. Laki-laki itu hanya teridam setelah membaca sesuatu didalam sana. “Udah tau kalau Mia di DO? Kamu yang lakuin?”
__ADS_1
Tentu Raja terdia untuk sesaat, laki-laki itu juga tidak berani menatap Ellena barang sedetik. Namun gadis itu tidak menyerah, dia masih menuntut jawaban. Akan tetapi Ellena hanya mendapat gelengan kecil. “Bukan gue.”
Ellena mengangguk, gadis itu kembali membuka ponselnya lalu memperlihatkan sebuah grafik perusahaan. Raja kembali memalingkan wajahnya. “Aku nggak ngerti soal ginian, tapi aku tau kalau ini nggak baik. Ini perusahaan ayah Mia kan?l
“Udah gue bilang bukan gue.”
Ellena menatap Raja datar. “Bohong, aku tau itu kamu.”
Raja menghebuskan nafas kasar. “Kalau emang itu ulah gue lo mau gimana? Dia udah keterlaluan, kenapa lo nggak terima cewek sialan itu dapat balasan yang setimpal? Dia udah nyakitin lo El, nyiksa lo dan gue nggak terima itu.”
Untuk sesaat Ellena terdiam menatap suaminya yang sedikit emosional. “Memang benar dia udah keterlaluan tapi kamu taukan konsekunsinya kalau seseorang DO di Athena? Itu artinya Mia tidak akan diterima dikampus manapun, secara tidak langsung kamu udah ngehancurin masa depannya. Tidak hanya itu, kamu juga udah buat perusahaan mereka diambang kebangkrutan. Gak gitu caranya Raja.”
“Tindakan gue udah benner. Andai bukan karena lo jug, gue udah ratain semuanya. Satu lagi, jangan merasa bersalah sama temen lo itu. Karena semua yang terjadi itu ulah gue bukan lo, gue yang akan tanggung jawab semua. Bukan lo.”
Ellena terdiam menatap Raja dengan sorot mata yang sulit diartikan, sedangkan laki-laki itu terlihat santai dan hendak meninggalkan Ellena di ruang keluarga.
“Kenapa? Kenapa kamu ngelakuin itu? Yang sakit aku, yang terluka juga aku, bukan kamu.”
Langakah laki-laki itu tiba-tiba terhenti, lalu menoleh. Sorot matanya benar-benar sukit diartikan saat menatap Ellena. Detik selanjutnya Raja kembali mendekati Ellena, tanpa aba-aba atau kesiapan gadis itu. Tangannya menyusup diantara rambut istrinya, perlahan Raja menurunkan kepalanya memangut bibir Ellena sangat lembut melum*** seperti seorang profesional, Raja Memegang kendali atas kecupannya. Ellena benar-benar dibuat berdebar untuk kesekian kalinya karena ulah sang suami.
“Karena lo istri gue, lo milik gue Ellena.” Gadis itu bisa merasakan deru bafas Raja yang menghembus ujung hidungnya. “Gue nggak suka kalau sesuatu yang udah jadi milik gue disentuh bahkan disakiti seperti ini. Paham?” Ucapnya dengan suara yang serak dan berat
__ADS_1