
“Mia???”
Gadis itu menatapnya datar
“Ada apa?”
Bukannya menjawab, dua orang gadis tiba-tiba muncul kemudian mendekati Ellena. Suara langkanya begitu jelas saat keadaan kampus sedang sepi.
“Ini Lo kan lagi sama Raja?” Kemudian ia mengangkat ponsel hingga layarnya dapat Ellena lihat, gadis itu sontak membulatkan mata ketika melihat gambar dirinya bersama seorang laki-laki disebuah hotel dan orang itu adalah Raja, meski wajah suaminya tidak terlihat jelas namun Mia tetap tahu jika itu adalah Raja.
“Bukan, itu bukan Raja.” Elaknya. Namun foto kedua berhasil membuat Ellena membungkan, pada sudut berbeda menampakkan wajah Raja yang tengah tersenyum padanya. Kini gadis itu tidak bisa lagi mengelak.
“Lo mau nipu siapa? Sehelai rambutnya pun gue tau kalau itu Raja.”
“Mia…”
Kemudian Mia menoleh pada kedua gadis berkulit eksotis itu, menunjuk ke arah Ellena dengan lirikan mata. “Bawa!!!”
Kedua gadis itu mendekati Ellena, mencengkram pergelangannya begitu kuat sehingga Ellena sulit bergerak. “Awww… Sakit anji*ng Mau kalian apa ha? Aku nggak kenal kalian lepasin atau…”
“Atau apa? Lo mau teriak. Percuma, kampus udah kosong.” Potong Mia. Detik berikutnya Mia dengan kasar menarik rambut Ellena menyeretnya ke gudang tempat penyimpanan. “Kalian berdua ambil perlengkapan, kita dapat mangsa.” Kedua gadis itu mengangguk lalu tersenyum senang.
•••
Raja terlihat gelisah didalam mobil, berkali-kali ia melirik keluar melalui jendela mobil, menatap gedung fakultas Ellena. Ini sudah sejam beralalu setelah perkuliahan selesai namun istri kecilnya belum juga keluar. Berkali-kali Raja berusaha menghbunginya namun tak ada jawaban. Ponsel Ellena mati bahkan ada puluhan pesan yang Raja kirimkan namun tidak ada balasan.
Kekawatiran Raja mulai muncul. Laki-laki itu langsung keluar dari mobil untuk menyusul Ellena ketika tiba-tiba saja Bagas datang dengan motornya. Raja spontan menolah, mengerutkan kening saat Raja mendekatinya dengan nafas yang memburu.
“Ellena mana? Dia nggak bisa dihubungi.”
Raja berdecak. “Ngapain lo nyari ist… pacar gue? Dia kuliah dan gue dari tadi nungguin dia dimobil tapi…”
__ADS_1
“Ponselnya mati?” Potong Bagas. “Katanya lo pacarnya, perkuliahan dari tadi udah kelar dan lo masih disini nggak cari cewek lo yang udah ilang kontak.” Perasaan Raja semakin tidak karuan. “Lo belum liat posntingan di sosial media? Foto kalian kesebar di area balap dan itu udah dilihat semua anak kampus. Lo taukan apa maksud gue?”
Raja terdiam dan dia sangat tahu itu.
Dari sekian banyak gadis yang mengejernya hanya ada satu nama gadis yang terlintas dibenak Raja dan itu membuatnya benar-benar tidak tenang. Dia takut jika seseorang membuat hal yang membuat Ellena celaka.
“Ngapain lo diam? Nggak mau nyari Ellena?” Teriakan Bagas menghancurkan lamuan Raja, laki-laki itu ikut berlari memasuki gedung fakultas
•••
“Kamu nggak waras Mia, kamu sadar apa yang kamu lakukan ini salah?”
Senyum psikopat yang gadis itu tunjukkan sejujurnya membuat Ellena takut yang tengah terikat di sebuah kursi tua dalam gudang penyimpanan yang lumayan dingin namun gadis itu masih berusaha tenang. Mia mendekat dengan sebuah pisau di tangannya, memutar-mutar l, memainka diujung jari tengah.
“Yang gue lakuin ini udah benner Ellena, gue bahkan nyesel kenapa nggak dari awal gue ngelakuin ini sama lo.” Ucapnya terkekeh seolah ada yang lucu. “Bertahun-tahun gue ngejar Raja, ngorbangin harga diri gue demi dapat perhatian dia, nolak semua cowok yang berusaha deketin gue berharap bisa dapetin dia tapi apa? Lo datang dengan gampangnya dapetin Raja, meluk dia bahkan lo ngajak dia kehotel. Gue nggak pernah nyangka lo semurahan itu.”
Mia bangun lalu merebut balok dari tangan salah satu rekannya. “Siapapun yang ngedektin Raja adalah taget gue, dan sekarang lo adalah taget selanjutnya. Meski ada Axelio di belakang lo gue nggak peduli.”
“Gue bisa ngelakuin apa aja untuk dapatin Raja, termaksud nyingkirin lo Ellena.”
Ellena menghelai nafasnya panjang, demi apapun dia terus menyebut nama Raja dalam hatinya berharap laki-laki itu datang menolongnya. Yang perlu Ellena lakukan adalah mengulur waktu dan tidak memprofokasi gadis dihadapannya.
“Lo tenang aja, gue nggak bakal nyiksa lo lebih lama kok.” Mia melangkah mendekat, masih memegang balok kayu disalah satu tangannya. Jarak mereka semakin terkikis membuat Ellena ketakutan.
“Kalau kamu ngapa-ngapain aku Raja akan tau Mia, kamu nggak maukan kalau dia benci kamu?” Tatapan gadis itu berubah 180 drajat, dia ketakutan. Bibirnya juga tangannya bergetar hebat. “Raja nggak suka kekerasan, jadi aku mohon hentikan…”
“Mia jangan dengerin! Hajar aja!” Teriak salah satu rekannya
“Aku pastikan dia akan maafin kamu Mia, aku mohon…”
“Akhhh kelamaan lo!” Salah satu reknnya maju kemudian merebut balok itu dari tangan Mia dan
__ADS_1
Bukkk…
“Akhh…” Ellena meringis, menjerit kuat tepat ketika balok itu mendarat di punggungnya. Ellena tersungkur diatas lantai, tak terasa air matanyanya menetes
Bukkk…
Ellena kembali menjerit keras untuk kedua kalinya. Kali ini Mia sendiri yang memukul lengan Ellena dengan sebuah balok, padangannya mulai buram, ia terpaksa mendomgak ketika Mia menjabak rambutnya.
Plak!!!
Plak!!!
“Gue hampi tertipu, memang siapa yang mau datang nyelamatin lo Ellena. Lo hanya butiran debu yang nggak berguna, apa dengan nyerahin tubuh lo sama Raja dia bakal datang? Nggak Ellena. Lo nggak tau cinta Raja untuk siapa, dan gue nggak bakal biarin siapapun milikin dia.” Bisik gadis itu.
Ellena menggeleng. “Apa setelah kamu ngebunuh aku disini apa Raja akan tinggal diam?” Gumam Ellena meski dengan suaranya yang mulai melemah. Perlahan gadis itu bangun meski tubuhnya amat terasa sakit. “Apa kalian akan baik-baik saja.” Ellena mendongak satu persatu wajah gadis dihadapannya yang mulai katakutan.
Plakk…
“Akhh…” Ringis Ellena. “Raja nggak bakal ngelepasin kalian sampai mati.
Plak
“Akhhh….”
“Mia hentikan!” Teriak salah satu rekannya. “Kata dia benar, lo juga tau itu kan? Raja punya kuasa, kita bisa beli hukum dinegara ini tapi hukuman seorang Raja lebih menakutkan Mia.”
“Benar Mia, apa lagi Raja udah bilang kalau cewek ini pacar dia. nggak mungkin dia diam aja bisa jadi saat ini Raja sudah tau kalau pacaranya udah hilang” Mia terdiam, menimbang kata-kata kedua rekannya. Lalu melirik Ellena yang sudah hampir kehilangan kesadaran dibawah lantai.
“Ya udah kita cabut.”
“Terus gimana sama dia?” Tunjuknya pada Ellena. “Dia bakal membeku kalau kita tinggal disini.”
__ADS_1
“Biarin, itu bukan urusan lo.” Ucap Mia sembari keluar dari gudang itu, meninggalkan Ellena dalam kegelapan.